Jangan Asal Cepat di ”Sekuel” Kereta Cepat
Mulai Rabu (18/10) pekan ini, masyarakat sudah bisa menaiki Whoosh,
kereta cepat Jakarta-Bandung, dengan membayar tiket promo seharga Rp 300.000
untuk semua rute. Tak berlama-lama, Pemerintah RI bersiap memperpanjang rute
Whoosh hingga Surabaya melalui jalur selatan Jawa. Kerja sama dengan China melalui
Inisiatif Sabuk dan Jalan (Belt and Road Initiative/BRI) pun kembali dilirik.
Bertepatan pula, pekan ini sedang diadakan KTT BRI (BRI Summit) di Beijing,
China. Presiden Jokowi dijadwalkan menghadiri KTT BRI dan menegosiasikan kelanjutan
kerja sama pembangunan kereta cepat antara kedua negara. Menurut rencana, Indonesia
akan melobi Pemerintah China agar bersedia memperbaiki struktur kerja sama
serta memberikan bunga pinjaman yang lebih terjangkau untuk menggarap proyek sekuel
Whoosh itu.
Direktur Institute of International Affairs Renmin University
of China Wang Yiwei, yang bertindak sebagai anggota panel penasihat bagi Kementerian
Luar Negeri China, menilai, Indonesia perlu bertahap melakukan rencana pengembangan
kereta cepat Whoosh. ”Dua hari lagi (Rabu) akan ada penjualan tiket perdana untuk
Whoosh. Mari kita lihat dulu seperti apa itu berjalan. Pelajaran penting yang
kami dapat dari pengalaman mereformasi dan membuka diri ke dunia adalah
reformasi itu harus dilakukan bertahap,” katanya dalam jumpa pers Public Diplomacy
Advisory Panel of Foreign Affairs of China di Jakarta, Senin (16/10). Menurut
dia, Pemerintah China akan terlebih dahulu mengevaluasi berjalannya kereta
cepat Jakarta-Bandung selama satu tahun ke depan sebelum membahas potensi
melanjutkan proyek baru. (Yoga)
Batam Kian Diminati Industri Tenaga Surya
Perusahaan industri hilir tenaga surya asal AS, Atelier Solar, membangun pabrik di Kawasan Industri Wiraraja, Kota Batam, Kepulauan Riau. Kehadiran perusahaan itu menambah daftar panjang industri hilir tenaga surya yang berinvestasi di Batam setelah pemerintah berencana mengekspor listrik energi bersih ke Singapura. Presdir Kawasan Industri Wiraraja Akhmad Ma’ruf, Senin (16/10) mengatakan, Atelier Solar merupakan perusahaan pembuat panel surya dan baterai. Pada tahap pertama, perusahaan itu bakal mengucurkan investasi Rp 1 triliun untuk membangun pabrik seluas 2 hektar di Kawasan Industri Wiraraja.
”Tahap awal, Atelier baru akan memproduksi panel surya dan butuh lebih kurang 525 pekerja. Produk yang dihasilkan akan diekspor ke AS,” kata Ma’ruf yang juga menjabat Ketua Kadin Kepri. Selain Atelier, ada enam perusahaan industri hilir tenaga surya lain yang berinvestasi di Kawasan Industri Wiraraja, yaitu PT Jaya Electrical Energy, PT Marubeni Global Indonesia, PT Wiraraja Yunan International, PT Apolo Solar Indonesia, PT Alpha Solar, dan PT Tynergi Technology Indonesia. Menurut Ma’ruf, banyak perusahaan energi baru terbarukan asal AS, China, Jepang, dan Singapura yang berminat membangun pabrik di Batam. Hal ini karena lokasi Batam yang strategis di jalur pelayaran internasional. Selain itu, sebagai kawasan perdagangan bebas (free trade zone/FTZ), Batam juga menawarkan insentif fiskal kepada para investor. (Yoga)
Ekspor Benih Lobster demi Pembudidaya
Arik Hari Wibowo, Fungsional Utama Analis Aquakultur Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), di Cirebon, Jawa Barat, Senin (16/10/2023), mengatakan, Kementerian Kelautan dan Perikanan merancang regulasi untuk membuka lagi ekspor benih bening lobster. Dimana kebijakan itu dilakukan demi mengembangkan lobster dalam negeri dan memacu masyarakat untuk membudidayakannya. (Yoga)
Kalsel Panen Raya di Tengah Ancaman El Nino
Sejumlah daerah di Kalsel masih bisa melakukan panen raya
padi di tengah ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino. Bahkan, hasil panen
padi tahun ini diakui petani lebih bagus dari tahun-tahun sebelumnya. Pemda optimistis
produksi padi tahun ini akan meningkat hingga mencapai 1 juta ton. Untuk
kesekian kalinya di musim kemarau tahun ini, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan
Kalsel melaksanakan panen raya padi. Kali ini, panen raya dilaksanakan di
hamparan sawah milik petani di Desa Penggalaman, Kecamatan Martapura Barat,
Kabupaten Banjar, Senin (16/10). Bahrun (58), petani di Desa Penggalaman,
mengatakan, hasil panen padi tahun ini lebih bagus daripada hasil panen padi
tahun sebelumnya meski kemarau tahun ini lebih ekstrem. Faktor yang paling
menentukan adalah varietas padi yang ditanam.
”Sebelumnya, kami selalu menanam padi lokal. Tetapi, mulai
tahun ini kami menanam padi unggul. Kami dianjurkan untuk mengganti varietas setelah
dua tahun terakhir gagal panen akibat serangan tungro,” ujar petani dari
Kelompok Tani Karya Bersama itu di sela-sela acara syukuran panen raya padi di
Penggalaman. Bahrun mengungkapkan, tahun ini ia mendapat gabah sebanyak 600
kaleng dari sawah garapannya seluas 1 hektar (ha). Biasanya dari lahan 1 ha, dia
hanya mendapat padi sekitar 200 kaleng. Satu kaleng memuat sekitar 20 liter gabah.
”Kemarau sejauh ini tidak jadi persoalan di daerah kami karena irigasinya
bagus. Kami tetap bisa menggarap lahan karena air masih tersedia dan cukup
untuk mengairi sawah,” katanya. (Yoga)
Cuaca Panas Memicu Penurunan Produktivitas
Dampak meningkatnya suhu yang masih berlangsung hingga saat
ini tak hanya memicu penurunan tingkat produktivitas pekerja di luar ruangan.
Cuaca panas juga menurunkan produktivitas para karyawan yang bekerja di dalam
kantor dengan penyejuk ruangan. Meski bekerja di dalam ruangan dengan penyejuk
ruangan (AC), Raya Maulazahra (28), karyawan swasta di Jakpus, masih sering merasa
gerah dan mudah lelah saat bekerja. Dampak cuaca panas ini membuatnya kurang
bersemangat. Bahkan, pernah ia tidak mampu mengerjakan laporan tepat waktu sehingga
mendapat teguran dari atasan. ”Mata saya terasa panas dan mudah lelah, tetapi
harus menghadap komputer sepanjang waktu,” ujar Raya yang kerja di bagian
digital marketing, Senin (16/10). ”Bahkan, saya pernah tidak bisa tidur hingga
pagi hari karena gerah. Itu membuat saya mudah mengantuk saat bekerja, terlebih
saat jam siang. Hal itu mengganggu kinerja saya,” katanya.
Karyawan swasta di Jakarta Barat, Aisy Safiyah (25), juga kurang
fokus dalam bekerja akhir-akhir ini. Selain mudah lelah, ia juga gampang haus. Bekerja di dalam ruangan tak lantas membuat
Aisy terbebas dari panasnya cuaca di luar. Saat jam makan siang, ia terkadang
keluar membeli makan. Peralihan suhu dari ruangan ber-AC ke luar ruangan yang
panas membuat kulit Aisy menjadi lebih kering. Untuk meminimalkan tingkat
penurunan produktivitas karyawan, pihak kantornya menyiapkan sejumlah vitamin dan
selalu memastikan ketersediaan air putih. Para atasan juga rutin bertanya
kondisi kesehatan karyawan untuk mengetahui apakah mereka dalam keadaan fit
atau tidak. Hasil riset dari Universitas Exeter, Inggris, yang dipublikasikan
dalam jurnal Environmental and Resource Economics pada 30 Agustus 2023 menunjukkan,
meski kondisi suhu di dalam pabrik terkendali dengan adanya penyejuk ruangan,
produktivitas pekerja di dalamnya turun 0,83 % setiap peningkatan 1 derajat
celsius di luar ruangan. (Yoga)
Bergandengan Melepas Krisis Pangan
Instabilitas geopolitik dan perubahan iklim membuat hampir semua negara di dunia sampai hari ini terbelit oleh ancaman krisis pangan. Ironisnya, ini masih terjadi tepat pada peringatan Hari Pangan Sedunia, 16 Oktober. Peringatan yang tercetus dari Konferensi Organisasi Pangan Sedunia (Food and Agriculture Organization) Ke-20 pada November 1976 seharusnya bisa menjadi momentum untuk lebih mempererat penanganan masalah pangan di dunia internasional hingga ke level nasional dan regional. Sayangnya, solidaritas negara-negara di berbagai belahan dunia seakan-akan makin renggang untuk saling bergandengan tangan menuntaskan krisis pangan. Selain faktor ketegangan geopolitik di Afrika, Eurasia, Asia Timur, dan Timur Tengah, negara-negara lainnya sudah terbelit oleh aneka masalah internal ihwal manajemen pangan. Indonesia, misalnya, menjadi negara yang tersengat oleh dampak super El-Nino. Kemarau ekstrem disertai gelombang panas akhir-akhir ini menyebabkan produksi beras menurun dan berpengaruh pada penurunan stok beras nasional. Keadaan ini telah diikuti oleh kenaikan harga gabah dan beras yang merata di berbagai wilayah. Kenaikan harga beras sudah sangat dirasakan masyarakat. Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyebutkan harga beras medium di level pedagang eceran naik dari Rp13.190 per kg pada 6 Oktober, menjadi Rp13.210 per kg pada 13 Oktober. Adapun, harga beras premium pada tanggal yang sama naik menjadi Rp14.980 per kg dari sebelumnya Rp14.910 per kg. Kenaikan harga beras seakan-akan menjadi dalil tak terbantahkan karena komoditas ini diikuti oleh kenaikan variable cost lainnya seperti BBM, jasa distribusi, sewa lahan, dan upah HOK alias Hari Orang Kerja. Kendati cadangan beras di Badan Urusan Logistik (Bulog) mencapai 1,6 juta—1,7 juta ton, hal itu belum dirasa cukup mampu menjadi pelecut penurunan harga beras. Oleh karena itu, pemerintah bersiap membuka keran impor beras sebanyak 1,5 juta ton. Jika ditambah sisa penugasan carry over 2022 plus tahun ini, total impor penugasan kepada Bulog sebenarnya mencapai 2,3 juta ton. Harian ini menilai langkah impor beras untuk menutupi ancaman defisit beras menjadi hal paling mendesak dan harus lekas dituntaskan. Impor adalah jalan paling realistis di tengah manajemen pangan suatu negara yang masih semrawut.
KEBIJAKAN LARANGAN TERBATAS : SIAP-SIAP DWELLING TIME MELONJAK
Waktu inap peti kemas di pelabuhan atau dwelling time dikhawatirkan makin lama seiring dengan rencana pemerintah mengubah sistem pengawasan lalu lintas barang impor dari pengawasan di luar pabean menjadi di area pabean. Rencananya, pemerintah memperketat syarat teknis dan standardisasi produk impor antara lain mainan anak, elektronik, alas kaki, kosmetik, barang tekstil sudah jadi lainnya, obat tradisional dan suplemen kesehatan; pakaian jadi dan aksesori pakaian jadi, dan produk tas. Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Firman Bakrie mengatakan bahwa Aprisindo mengkhawatirkan lonjakan dwelling time saat pemerintah mengubah sistem lalu lintas barang impor dari pengawasan di luar kawasan pabean (post border) menjadi area pabean atau (border). Sejauh ini, produk alas kaki menjadi salah satu produk yang akan diperketat standardisasi terhadap syarat teknis masuknya barang impor ke pasar domestik. Bila pemerintah ingin menghambat produk impor tertentu, dia menyarankan mekanisme lain berupa memperketat Persetujuan Impor (PI). Kebijakan PI sudah cukup untuk menahan volume barang berdasarkan izin impor. Selama ini, dugaan impor ilegal marak terjadi sehingga pemerintah menempuh kebijakan perpindahan mekanisme pengawasan impor diubah dari post border menjadi border. Alasannya, kondisi banjir impor tak akan berhenti jika pengalihan pengawasan ke border ditujukan menghambat impor ilegal. Hal ini lantaran data selisih BPS dan ITC telah terjadi sejak pemeriksaan impor masih dijalankan dengan skema border pada beberapa tahun lalu. Oleh karena itu, Firman meminta pemerintah tidak hanya fokus pada masalah pengawasan, tetapi juga penegakan hukum. Bahkan, dia meminta perlunya dibentuk komisi independen pemberantasan tindak impor ilegal yang langsung bertanggung jawab kepada Presiden. Bila Aprisindo mengkhawatirkan lonjakan dwelling time di pelabuhan, Gabungan Pengusaha Elektronik (Gabel) justru merespons positif rencana larangan terbatas (lartas) impor barang lewat skema pengawasan border untuk melindungi pasar domestik dari banjir produk asing. Sekretaris Jenderal Gabel Daniel Suhardiman mengatakan aturan pembatasan impor bisa meningkatkan minat investasi, khususnya industri elektronik dalam negeri. Direktur Perdagangan Melalui Sistem Elektronik dan Perdagangan Jasa Kementerian Perdagangan (Kemendag) Rifan Ardianto menyampaikan rencana perubahan sistem lalu lintas barang merupakan salah satu upaya mencegah produk impor bebas ke Indonesia.
JELAJAH PELABUHAN 2023 : PRODUKTIVITAS PELINDO MENINGKAT
PT Pelabuhan Indonesia (Persero) mencatat peningkatan produktivitas di beberapa pelabuhan peti kemas setelah merger empat BUMN pelabuhan beroperasi lebih dari 2 tahun. Direktur Utama PT Pelindo Terminal Petikemas, subholding PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo), Muhammad Adji menjelaskan bahwa peningkatan produktivitas pelabuhan itu disampaikan perusahaan pelayaran yang menjadi pelanggan tetap BUMN itu. “Mereka punya level of service namanya weekly service. Nah, kalau weekly service bisa dipastikan . Itu efek dari transformasi Pelindo,” katanya kepada Bisnis, akhir pekan lalu. Dia memberikan contoh salah satu pelayaran yang memiliki layanan pengapalan dari Pelabuhan Belawan Medan hingga Pelabuhan Jayapura kini hanya membutuhkan waktu 36 hari. Padahal, pelayaran itu sebelumnya ada standardidasi layanan terminal peti kemas beroperasi di lintasan panjang dari Belawan menuju Jayapura selama 42 hari. “Itulah yang didapatkan pelanggan Pelindo setelah transformasi Pelindo,” paparnya. Pada 2020, dia mencatat tujuh pelabuhan strategis di Indonesia Timur yaitu Bitung, Makassar, Biak, Ambon, Sorong, Jayapura, dan Kupang membongkar 13,8 juta ton barang pada pelayaran domestik. Sebaliknya, dari tujuh pelabuhan itu hanya memuat 6,2 juta ton barang. Sejak September 2023, PT Pelindo mulai mengelola Pelabuhan Ternate (Maluku Utara) dan Merauke (Papua Selatan). Menyusul kemudian Nunukan (Kalimantan Timur) dan Tarakan (Kalimantan Utara). Secara keseluruhan, Kepala Pelindo Regional 4 Enriany Muis menambahkan tranformasi di wilayahnya dilakukan di 13 pelabuhan dan terminal. Hasilnya adalah produktivitas bongkar muat di Terminal Peti Kemas (TPK) Makassar dan TPK Ambon yang meningkat dari rata-rata 35 boks per jam per kapal menjadi rata-rata 50 boks per jam per kapal. Proses transformasi yang dilaksanakan pada pelabuhan di lingkungan PT Pelindo (Persero) meliputi standardisasi pola operasi, keterampilan pekerja, digitalisasi melalui berbagai aplikasi, penerapan perencanaan dan kontrol pada jasa pelayanan kapal, jasa pelayanan barang dan jasa pelayanan peti kemas melalui Integrated Control Room. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga mengatakan pembangunan nasional masih terfokus di Indonesia barat. Akibatnya, arus barang tidak seimbang antara Indonesia timur dan barat.
STABILITAS HARGA : MARATON AMANKAN PANGAN
Musim kemarau berkepanjangan yang melanda sejumlah wilayah Indonesia, berpengaruh terhadap pasokan bahan kebutuhan pokok terutama beras. Strategi impor ditempuh untuk mengendalikan harga beras agar tak mengalami lonjakan. Sebulan terakhir, isu pangan menyeruak. Istana secara maraton membahas persoalan pangan tersebut, terutama yang terkait dengan cadangan pangan serta upaya untuk menstabilkan harga. Presiden Joko Widodo menyempatkan diri untuk memantau dua kegiatan panen raya pada bulan ini. Pertama di Desa Ciasem Girang Kabupaten Subang pada Minggu (8/10). Di sana, Kepala Negara bicara upaya untuk menggelontorkan sebanyak-banyaknya beras di masyarakat untuk menurunkan harga. Kegiatan panen raya kedua yang dihadiri Presiden Jokowi dilakukan pada Jumat (13/10) pekan lalu yang berlangsung di Kecamatan Sukra, Kabupaten Indramayu. “Saya melihat ke bawah untuk memastikan bahwa produksi itu masih baik, tapi memang turun karena Super El Nino, tapi masih baik,” ujar Presiden Jokowi. Dari sisi produksi, Kepala Negara mengapresiasi hasil produksi di wilayah tersebut. Hasil produksi rata-rata mencapai 8,6 ton per hektare. Harga beras di tingkat konsumen cukup terasa kenaikannya. Berdasarkan data Badan Pangan Nasional (Bapanas), harga beras medium di level pedagang eceran tercatat naik dari Rp13.190 per kg pada 6 Oktober 2023 menjadi Rp13.210 per kg pada 13 Oktober 2023. “Cadangan di Bulog 1,7 dan akan datang lagi kira-kira 500.000—600.000 ton. Artinya cadangan pangan kita kondisinya aman, tapi memang kita tetap butuh beras ini juga untuk masuk ke pasar agar harga bisa turun sedikit demi sedikit,” kata Presiden Jokowi. Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi menyatakan stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang ada di Bulog masih terjaga. Sejak awal 2023, Arief yang juga menjabat Plt. Menteri Pertanian menuturkan sudah menghitung secara cermat berapa produksi dan kebutuhan nasional dengan mempertimbangkan dinamika dan perubahan lingkungan strategis. Dalam kesempatan berbeda, Sekretaris Perusahaan Perum Bulog Awaludin Iqbal menyatakan tugas utama Bulog yakni memberikan proteksi kepada petani agar mendapatkan harga yang wajar dengan menjaga stok dalam level tertentu.
Terjajah Pangan di Kepulauan
Inflasi harga pangan di dunia meningkatkan kerawanan global,
termasuk Indonesia yang pasokan pangan pokoknya bergantung pada impor.
Masyarakat di pulau-pulau kecil berada di garis depan yang paling rentan
terdampak krisis ini karena harus membayar pangan lebih mahal. Pada saat yang
sama, kualitas gizi anak dan kesehatan rata-rata mereka lebih rendah
dibandingkan dengan nasional. Dari Peliputan lapangan Kompas di tiga kepulauan,
yaitu NTT, Kepulauan Wakatobi di Sultra, dan Kepulauan Mentawai, Sumbar, pada Agustus
hingga awal Oktober 2023, terungkap implikasi sistem pangan nasional yang
cenderung mengabaikan keberagaman sumber pangan lokal. Wawancara dan analisis
data statistik menunjukkan terjadi pergeseran pola konsumsi yang menyebabkan
warga bergantung pada beras dan terigu.
Pergeseran pola konsumsi dari pangan lokal ke beras di
kepulauan tak diikuti peningkatan produksi. Sejumlah proyek cetak sawah dan
food estate (lumbung pangan) di kepulauan ini tidak menunjukkan hasil
signifikan. Bahkan, beberapa lokasi yang dikunjungi, seperti Konawe Selatan,
Flores Timur, dan Siberut, termasuk food estate jagung yang diresmikan Presiden
Jokowi pada Maret 2022 di Belu, menuai kegagalan. Data Dinas Pertanian dan
Ketahanan Pangan NTT menunjukkan, produksi beras di NTT pada 2022 hanya
430.948,5 ton, jauh di bawah konsumsi 642.367,53 ton. Defisit beras dipenuhi
dari luar, terutama Sulsel dan Jawa. Pergeseran pola konsumsi yang telah
menyebabkan tingginya kebutuhan beras salah satunya disebabkan anggapan bahwa
beras adalah makanan kelas satu. ”Jadi, kalau belum makan nasi dianggap belum
makan,” kata Kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT Lecky F Koli.
Defisit beras juga terjadi di Mentawai. Menurut Kabid
Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian
Kepulauan Mentawai Andre Kasianus, pada tahun 2021 jumlah produksi beras di Mentawai
1.005 ton, sedangkan kebutuhan beras tahun itu 9.678 ton. Di level provinsi,
selama dua tahun terakhir, Sultra masih surplus beras. Namun, pulau-pulau
kecilnya rata-rata defisit beras. Wakatobi, misalnya, sama sekali tak
menghasilkan beras, tetapi konsumsinya terus meningkat dari 9.169 ton pada 2019
menjadi 11.761 ton pada 2022. Direktur Penganekaragaman Konsumsi Pangan Bapanas
Rinna Syawal mengatakan, pergeseran pangan lokal ke beras dan terigu di Indonesia
mengkhawatirkan, karena keberagaman pangan merupakan kunci kemandirian pangan
nasional dan ketahanan pangan di daerah. (Yoga)









