Asing Masih Terus Curi Ikan di Indonesia
Kapal-kapal ikan asing masih terus mengincar sumber daya ikan Indonesia. Aparat pengawasan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pada akhir pekan lalu menggagalkan pencurian ikan oleh kapal ikan berbendera Filipina di perairan Laut Sulawesi. Dirjen Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) KKP, Laksda Adin Nurawaluddin dalam keterangan pers, Rabu (18/10) mengemukakan, kapal ikan FB SL asal Filipina tertangkap saat melakukan penangkapan illegal di Laut Sulawesi, di koordinat 04°26.386’N-124°01.980’E. Kapal itu ditangkap oleh kapal pengawasan KKP Hiu 015. Operasi penangkapan itu merupakan bentuk sistem pengawasan terintegrasi yang tengah dikembangkan KKP.
”Ini merupakan bentuk komitmen KKP dalam rangka menindak tegas para pencuri ikan,” kata Adin. Dari data KKP, sejak Januari hingga pertengahan Oktober 2023, kapal pengawas KKP tercatat telah menangkap 15 kapal ikan asing yang menangkap ikan secara ilegal di perairan Indonesia. Pencurian ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik (WPPNRI) 716 itu awalnya diketahui dari pantauan citra satelit Command Center KKP. Informasi itu ditindaklanjuti kapal pengawas perikanan KKP Hiu 015 dengan melakukan penghentian, pemeriksaan, dan penahanan terhadap kapal ikan ilegal asal Filipina itu, akhir pekan lalu. Dari hasil pemeriksaan, kapal itu memuat ikan lemadang kering, cakalang kering, cumi kering dan layang kering. Kapal tersebut diawaki nakhoda Filipina dan 14 ABK berkebangsaan Filipina. (Yoga)
Tony Blair Institute Investasi Riset di IKN
Stagnan, Tawaran Gaji di Iklan Lowongan Pekerjaan
Tawaran gaji di iklan lowongan pekerjaan di JobStreet sepanjang 2023 stagnan. Mayoritas industri yang memasang iklan di platform ketenagakerjaan itu tidak mencantumkan perubahan penawaran nominal gaji dibandingkan 2022. Berdasarkan laporan riset ”Paduan Gaji 2023” yang dirilis oleh JobStreet by Seek (JobStreet) akhir September 2023, 95,7 % industri yang memasang iklan lowongan pekerjaan di platform JobStreet menunjukkan tidak ada perubahan tawaran rata-rata gaji yang signifikan pada tahun ini dibandingkan 2022. Sebanyak 1,3 % industri memasang tawaran kenaikan gaji dan 1,4 % industri menunjukkan penawaran nominal gaji yang turun.
JobStreet menggunakan data gaji dari iklan lowongan pekerjaan yang dipasang oleh perusahaan di laman JobStreet Indonesia pada periode April 2022-Maret 2023. Tujuan laporan adalah menganalisis dan melihat tren gaji yang ditawarkan di pasar tenaga kerja. ”Beberapa waktu lalu sempat terjadi fenomena PHK yang besar-besaran karena sejumlah perusahaan mematok nominal gaji yang tinggi dan ini memberatkan operasional perusahaan. Kalau sekarang (2023), mayoritas industri memasang tawaran gaji yang stabil, artinya (mungkin) mereka menginginkan bisnis tumbuh berkelanjutan,” ujar Country Marketing Manager JobStreet by SEEK untuk Indonesia (JobStreet) Sawitri saat temu media, Rabu (18/10) di Jakarta. (Yoga)
Lumbung Pangan Menjawab Tantangan
Memasuki usia ke-354 tahun, Sulsel berupaya mempertahankan posisi sebagai salah satu lumbung pangan nasional. Problem alih fungsi lahan yang rata-rata 6 % per tahun menggerus produksi padi di daerah ini, sekaligus mengubah wajah lanskap daerah dan kehidupan masyarakatnya. Data Sulawesi Dalam Angka 2023 yang dirilis BPS Sulsel menyebutkan, luas panen tanaman padi di Sulsel tahun 2022 adalah 1.042.107,35 hektar dengan produksi padi 5.341.020,84 ton. Kabupaten Bone merupakan kabupaten dengan produksi padi tertinggi, yakni 894.709,77 ton. Dengan produksi padi 5,3 juta ton, Sulsel relatif surplus. Data Dinas Pertanian Sulsel menyebutkan, kebutuhan konsumsi padi untuk wilayah Sulsel sekitar 1 juta ton. Artinya, ada kelebihan produksi 2 juta ton yang dapat dikirim ke daerah-daerah.
Dibandingkan dengan 2021, produksi padi Sulsel membaik. Pada 2021, luas panen padi Sulsel seluas 991.935,52 ha dengan produksi 5.152.871,43 ton. Namun, jika dibandingkan dengan produksi lima tahun lalu (2018) yang mencapai 5,7 juta ton, angka itu turun. Persoalan alih fungsi lahan dan rendahnya minat generasi muda bertani, antara lain, terlihat jelas di Kabupaten Gowa. Di wilayah itu, banyak areal sawah yang berganti rupa menjadi permukiman. Kota Makassar yang sudah kian padat menyebabkan kawasan-kawasan pertumbuhan baru beralih ke Kabupaten Gowa dan Maros. Kadis Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Sulsel Imran Jausi mengatakan, “Kami sudah buat regulasi untuk menekan alih fungsi lahan. Misalnya, untuk sawah kelas 1 atau yang beririgasi, jika dialihfungsikan, harus diganti rugi tiga kali lipat. Kami belum bisa memberi insentif untuk mempertahankan lahan,tetapi kami berupaya menerapkan sanksi tegas,” katanya. (Yoga)
Mengolah Kolope dari Umbi Beracun di Pulau Muna
Di bawah tajuk pohon jati, di tanah Pulau Muna yang kering berbatu, umbi-umbian kolope itu tetap bisa tumbuh subur. Racun sianida yang terkandung di umbi ini secara alami melindunginya dari babi hutan dan rusa liar. Namun, secara turun-temurun orang Muna telah memiliki pengetahuan untuk mengolah umbi ini menjadi makanan pokok yang lezat dan menyehatkan. Kolope merupakan salah satu tanaman endemik yang ditemukan di hampir semua wilayah kepulauan Indonesia dengan variasi nama lokal yang beda. Dahulu, tanaman umbi-umbian ini juga merupakan salah satu sumber karbohidrat penting di Jawa dengan nama gadung (Dioscorea hispida Dennst). Catatan sejarah Pieter Creutzberg dan JTM van Laanen (Sejarah Statistik Ekonomi Indonesia Diarsipkan, 2023) menyebutkan, saat Jakarta (Batavia) dikepung tentara Sultan Agung dari Mataram pada 1628, masyarakat kebanyakan makan singkong dan umbi gadung.
Bagi Apiti, menjaga pengetahuan tentang teknik menghilangkan racun di kolope hingga mengolahnya sebagai makanan pokok yang aman dikonsumsi adalah tradisi turun-temurun. Tak ingin pengetahuan itu hilang begitu saja, ia kerap membawa anaknya ikut mengolah umbi ini. Pagi di akhir Agustus 2023, La Apiti bersiap mencari umbi kolope, dengan anaknya, Ambila (20), di bawah tajuk pohon jati, Apiti menemukan sulur kolope yang telah menguning, tanda siap dipanen. Umbi kolope berwarna coklat kehitaman. Bentuknya bulat sedikit lonjong dipenuhi serabut. Dari satu batang tanaman itu La Apiti bisa memanen 20 umbi berdiameter 5-10 cm. ”Kolope ini masih banyak tumbuh liar di hutan. Babi-babi dan rusa liar tidak berani makan karena beracun. Tapi nanti kalau sudah jadi nasi enak sekali,” kata Apiti.
Kulit umbi dikupas, kemudian di iris tipis, lalu direndam dalam air garam di panic, untuk menghilangkan getahnya. Setelah beberapa jam, irisan tipis kolope ditiriskan dan dimasukkan dalam karung, lalu diperam empat hari hingga kering. ”Setelah itu, direndam di air yang mengalir semalam. Baru bisa diolah untuk dimakan,” tuturnya. Sebelum diolah, lembaran tipis kolope yang telah dihilangkan racunnya itu dicuci dengan air bersih lalu dicacah dan dimasak 10 menit lalu siap disajikan. Aromanya harum dengan warna putih kekuningan, sepintas mirip nasi singkong. Saat ini, ia melanjutkan tradisi mengolah kolope sembari menjual di pasar yang buka setiap tiga hari sekali. Hasil penjualannya dipakai untuk kebutuhan sehari-hari,terutama untuk pendidikan anak-anaknya. (Yoga)
Pisang, Tradisi dan Harapan Baru Sulsel
Sepanjang perjalanan di Kabupaten Gowa, Sulsel, sejauh mata memandang, tanaman pisang mudah ditemui di halaman rumah warga atau di kebun-kebun mereka. ”Saya sudah puluhan tahun menanam pisang. Menanamnya mudah, ongkos pemeliharaan minim, tapi hasilnya lumayan. Dari daun, buah, hingga jantung pisang, semua bisa dijual,” kata Daeng Tuppu (63), petani pisang di Kelurahan Romang Polong, Kecamatan Somba Opu, Gowa, Kamis (12/10). Ia memiliki ratusan pohon pisang di kebunnya. Sembari menunggu pisang berbuah, Daeng Tuppu mengambil daun yang sudah bisa dijual. Tiga kali sebulan, pembeli daun pisang datang ke kebunnya. Selembar daun pisang dihargai Rp 2.500. Dia hanya mengizinkan paling banyak dua lembar daun per pohon. Dari menjual daun saja, sedikitnya dia mendapatkan Rp 1,5 juta per bulan. Tak terpikir dalam benak petani pisang di Gowa bahwa pisang bisa diekspor. ”Kalau ada hasilnya dijual ke pasar atau kadang diambil pedagang. Daunnya juga menghasilkan. Padahal biasanya hanya dibiarkan begitu saja,” ujar Narang (54), petani di Kecamatan Parangloe.
Pj Gubernur Sulsel Bahtiar Baharuddin menjadikan budidaya pisang sebagai salah satu fokus programnya. Budidaya pisang dilihat menjadi solusi atas persoalan tengkes, kemiskinan, hingga pengangguran di Sulsel. ”Ini sudah diawali penanaman bibit pisang Cavendish di Kecamatan Mare, Kabupaten Bone. Selanjutnya ke kabupaten lain. Kita berharap akan tumbuh hingga ke pasar ekspor,” kata Bahtiar, Senin (9/10), yang menganggarkan Rp 1 triliun untuk budidaya pisang. Ia menargetkan penanaman 1 miliar pohon secara bertahap di lahan seluas 500.000 hektar. Menurut Bahtiar, di tengah tanaman pangan utama, yakni padi dan jagung yang tak menunjukkan peningkatan signifikan, pisang bisa menjadi alternatif pendapatan baru, terlebih lagi, pisang adalah bagian dari tradisi dan budaya yang tak terpisahkan dari orang Sulsel. Banyak sekali makanan khas Sulsel yang berbahan dasar pisang, seperti Barongko, roko-roko uti, es pisang ijo, es pallubutung, sanggara blanda, dan pisang epe. (Yoga)
Bioenergi Saatnya Unjuk Gigi
Ketangguhan Indonesia Hadapi Tantangan Global
Tingkatkan Hilirisasi untuk Maksimalkan Potensi FDI
JAKARTA,ID- Indonesia perlu terus fokus meningkatkan hilirisasi sektor industri. Hal ini untuk memaksimalkan potensi foreign direct investment (investasi asing langsung/FDI) yang dimiliki berupa keragaman dan sumber daya alam yang melimpah. Hal ini berkaitan dengan kunjungan kerja Presiden Jokowi ke China untuk menghadiri Belt and Road International Cooperation ke-3, serta ke Riyadh, Arab Saudi, untuk melakukan pertemuan dengan Putera Mahkota Arab Saudi dan memimpin KTT pertama Asean-Gulf Cooperation Organization (GCC) mampu menggali potensi FDI. Selain itu, Presiden Jokowi juga memimpin KTT ke-1 Asean-GCC (Gulf Cooperation Council) terlebih dahulu sebelum kembali ke Indonesia pada 21 Oktober 2023. "Pemerintah Indonesia harus terus berfokus pada hilirisasi sektor industri untuk komoditas-komoditas seperti nikel, tembaga, dan timah, sektor kesehatan, sektor ketahanan pangan, dan pembangunan IKN," jelas Pakar Hukum Bisnis dan Perdagangan Internasional Ariawan Gunadi. (Yetede)









