;

Merespons Ketidakpastian Global, BI Naikkan Suku Bunga Acuan

Yoga 20 Oct 2023 Kompas (H)

Sebagai langkah penyesuaian atas ketidakpastian global, BI memutuskan menaikkan tingkat suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 6 %. Keputusan ini diambil sebagai upaya stabilisasi nilai tukar rupiah dan mitigasi inflasi barang impor di tengah sentimen ketidakpastian global yang meningkat. Dalam konferensi pers Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Oktober 2023 di Jakarta, Kamis (19/10) BI turut menaikkan suku bunga deposit facility dan suku bunga lending facility sebesar 25 basis poin (bps) sehingga masing-masing menjadi 5,25 % dan 6,75 %. Dengan demikian, kenaikan suku bunga acuan BI-7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) terjadi setelah BI mempertahankannya selama 10 bulan berturut-turut.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, situasi perekonomian global saat ini bergerak begitu cepat dan penuh dengan ketidakpastian. Oleh sebab itu, perlu dilakukan penyesuaian kebijakan moneter untuk melindungi perekonomian domestik dari ketidakpastian global yang terus meningkat. ”Kenaikan ini untuk memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak tingginya ketidakpastian global serta sebagai langkah pre-emptive (penangkalan) dan forward looking (prediksi di masa depan) untuk memitigasi dampaknya terhadap inflasi barang impor (imported inflation) sehingga inflasi tetap terkendali dalam sasaran 2-4 % pada 2023 dan 1,5-2,5 % pada 2024,” katanya. (Yoga)

Jaga Fokus Ekonomi

Yuniati Turjandini 20 Oct 2023 Investor Daily (H)
JAKARTA,ID-Sembari memastikan penyelenggaraan Pemilu 2024  berlangsung sukses, Presiden Jokowi diminta tidak kehilangan fokus dalam pembangunan ekonomi selama setahun terakhir masa pemerintahannya. Terbelahnya sejumlah anggota kabinet dalam beberapa koalisi partai politik yang berbeda, tidak boleh menyebabkan kinerja ekonomi menyusut, terlebih ditengah ketidakpastian global yang justru kian tingggi. Pemerintah harus menjaga kinerja yang telah diraih, seperti pencapaian di sektor infrastruktur dan makroekonomi, serta melanjutkan dan menuntaskan sejumlah program ekonomi diatas 5% lebih bisa dipastikan terus dijaga, sehingga memberi pondasi yang kuat bagi pemerintah selanjutnya. "Tentu saja, bagaimana Pemilu bisa dijalankan dengan jujur dan adil, sehingga stabilitas sosial dan ekonomi tetap terjaga. Ini penting unutk menciptakan stabilitas makroekonomi agar mampu bertahan dari faktor ekonomi global yang rendah," kata Ketua Umum Asoiasi Pengusaha (Apindo) Shinta Widjaya Kamdani kepada Investor Daily. (Yetede)

Stabilkan Rupiah, Suku Bunga Acuan Naik

Yuniati Turjandini 20 Oct 2023 Investor Daily (H)
JAKARTA,ID-Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI), 18-19 Oktober 2023, memutuskan menaikkan suku bunga acuan, BI 7-Day Reserve Repo Rate (BI7DRR), sebesar 25 basis points (bps) menjadi 6%, suku bunga deposit fasility sebesar 25 bps menjadi 5,25%, dan suku  bunga lending facility sebesar 25 bps menjadi 6,75%. Meski di luar dugaan, kalangan ekonomi menilai kebijakan itu tepat. Alasannya, penaikan suku bunga bisa menjaga stabilitasi rupiah, yang belakangan ini tertekan, menyusul kembali munculnya sikap hawkins bank Sentral Amerika Serikat, The Fed. Sejumlah kalangan memprediksi The Fed masih mempertahankan suku bunga acuan Federal Funds rate (FFR) di level tinggi dalam jangka waktu lama. Imbasnya, mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah tertekan sentimen eksternal. "Penaikan suku bunga acuan akan berkontribusi terhadap penguatan nilai tukar rupiah menjelang akhir tahun," tutur Iman Faiz kepada Investor Daily di jakarta, kamis (19/10/2023). (Yetede)

Instrumen Baru Memperdalam 'Danau' Pasar Keuangan Domestik

Yuniati Turjandini 20 Oct 2023 Investor Daily (H)
JAKARTA,ID-Bank Indonesia (BI) segera mengeluarkan instrumen baru untuk meningkatkan aliran modal asing dan memperdalam pasar keuangan domestik. Instrumen tersebut adalah Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI) dan Sukuk Bunga Bank Indonesia (SUVBI). Hal ini menarik minat investor dalam memperdalam pasar keuangan domestik. Intrusmen SVBI dan SUVBI bisa diperdagangkan di pasar sekunder dan diperdagangkan terhadap investor asing.  Dengan demikian, ini akan menarik bagi pasar dan mendorong aliran modal asing masuk portfolio. SVBI merupakan surat berharga dalam valuta asing yang diterbitkan  oleh BI sebagai penguatan utang berjangka waktu pendek, yaitu kurang satu tahun dengan menggunakan underlying aset berupa surat berharga dalam valuta asing milik BI. SUVBI merupakan sukuk dalam valuta asing yang diterbitkan oleh BI dengan menggunakan underlying aset berupa surat berharga dalam valuta asing berdasarkan prinsip syariah milik BI. (Yetede)

Kuartal III, BCA Kantongi Laba Bersih Rp 36,44 Triliun

Yuniati Turjandini 20 Oct 2023 Investor Daily (H)
JAKARTA,ID-PT Bank Central Asia Tbk (BCA) dan entitas anak mencetak laba bersih sebesar Rp36,44 trliun pada sembilan bulan pertama tahun ini, tumbuh 25,78% secara tahunan (year on year/yoy). Pertumbuhan laba yang tinggi utamanya didukung dari volume kredit yang meningkat pada kuartal III-2023. Dari sisi profitabilitas, selama sembilan bulan pertama 2023, BCA membukukan kenaikan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) sebesar 21,3%  (yoy) menjadi Rp18,3 triliun, ditopang kenaikan pendapatan fee dan komisi sebesar 7,7% (yoy). Secara total, pendapatan operasional tercatat sebesar Rp74,2 triliun atau naik 18,2% (yoy). "Seiring dengan peningkatan kualitas aset, biaya provisi tercatat turun Rp1,6 triliun dibandingkan taun sebelumnya. Secara keseluruhan, laba bersih tumbuh 25,8% (yoy) menjadi Rp36,4 triliun," ujar Presiden Direktur BCA Jahja Setiatmadja. (Yetede)

Sembilan Bulan Menahan Bunga Acuan

Yuniati Turjandini 20 Oct 2023 Tempo
JAKARTA – Bank Indonesia mempertahankan tingkat suku bunga acuan Bank Indonesia 7-Day Reverse Repo Rate di level 5,75 persen selama sembilan bulan sebelum akhirnya mengereknya ke level 6 persen, kemarin. Bank sentral selama ini dianggap bekerja keras menampik kenaikan suku bunga demi menjaga momentum pemulihan perekonomian pasca-pandemi Covid-19. “Harapannya suku bunga dijaga tidak naik agar masyarakat dan dunia usaha mengambil kredit untuk konsumsi dan berekspansi,” ujar Direktur Center of Economic and Law Studies Bhima Yudhistira Adhinegara kepada Tempo, kemarin.

Mulanya kebijakan itu cukup efektif mengembalikan kepercayaan diri masyarakat untuk kembali melakukan konsumsi dan mendorong geliat dunia usaha. Terbukti, pada kuartal pertama 2023, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat sebesar 5,03 persen, kemudian meningkat pada kuartal kedua menjadi 5,17 persen. Namun, seiring dengan dinamika perekonomian global, khususnya tren inflasi di berbagai negara di dunia yang melemahkan permintaan dan mendorong kenaikan harga-harga, pemulihan ekonomi melambat. Bhima berujar, indikator utamanya tampak dari kinerja neraca perdagangan yang surplus, tapi bukan surplus yang sehat. “Impor bahan baku dan barang modal turun. Ekspor, khususnya komoditas unggulan, juga turun,” ucapnya. (Yetede)

Upaya Ekstra untuk Menahan Rupiah

Hairul Rizal 20 Oct 2023 Kontan (H)
Bank Indonesia (BI) kewalahan meredam penguatan dolar Amerika Serikat (AS). Secara mengejutkan, bank sentral mengerek suku bunga dalam Rapat Dewan Gubernur Oktober 2023. Suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) naik 25 basis poin (bps) ke level 6% pada Kamis (19/10). BI juga bersiap merilis instrumen Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI) dan Sukuk Valas Bank Indonesia (SUVBI) pada November mendatang. Mengutip Bloomberg, kemarin, kurs rupiah di pasar spot secara harian melemah 0,54% ke level Rp 15.815 per dollar AS. Sementara rupiah Jisdor BI melemah 0,68% ke level Rp 15.838 per dollar AS. Senior Economist KB Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana melihat, pelemahan rupiah disebabkan sentimen risk off di pasar global yang telah membuat Indeks Dollar AS lebih perkasa. Permintaan dollar terus meningkat akhir-akhir ini akibat perang Israel-Palestina mengalami eskalasi yang menyebabkan banyak investor masuk ke instrumen dollar AS untuk mencari perlindungan, termasuk perpindahan dari US Treasury. Fikri berujar, langkah BI dilatarbelakangi pula oleh belum efektifnya instrumen maupun kebijakan yang telah diterbitkan BI sebelumnya seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan peraturan Devisa Hasil Ekspor (DHE). Alhasil, menaikkan suku bunga menjadi pilihan terakhir BI. Pengamat Mata Uang, Lukman Leong mencermati, pelemahan kurs rupiah terjadi karena sentimen eksternal yang dipicu kekhawatiran pasar akan prospek kenaikan suku bunga Bank Sentral AS alias Federal Reserve The Fed. Ketakutan itu telah membawa imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun mendekati level 5%, tertinggi sejak 2007. Sedangkan Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede menilai, hingga akhir Oktober 2023, kurs rupiah masih akan berada dalam tekanan terutama karena banyaknya tekanan global. Joshua memperkirakan nilai tukar rupiah sampai akhir Oktober 2023 dapat berada di rentang 15.700 hingga 15.900 per dollar AS. Sedang menurut Lukman, rupiah hampir pasti menyentuh Rp 16.000 per dollar AS.

Kebijakan DHE Gagal Membentengi Rupiah

Hairul Rizal 20 Oct 2023 Kontan
Devisa hasil ekspor (DHE) yang masuk ke dalam negeri nyatanya belum mampu memperkuat otot rupiah. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat melanjutkan tren pelemahan. Bank Indonesia (BI) mencatat, transaksi term deposit valuta asing (TD Valas) devisa hasil ekspor (DHE) telah mencapai US$ 1,85 miliar per akhir September 2023. Jumlah itu naik tipis bila dibanding posisi per akhir Agustus yang sebesar US$ 1,3 miliar. Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menyiratkan, penyerapan DHE pada instrumen tersebut belum maksimal. Mengingat kenaikan yang masih tipis. Namun, "slowly but sure (perlahan tapi pasti), akan meningkat. Jadi kami akan mengoptimalkan," tegas Destry dalam konferensi pers, Kamis (19/10). Gubernur BI Perry Warjiyo menambahkan, angka yang disebutkan Destry merupakan DHE SDA yang diteruskan oleh perbankan ke BI. Dengan demikian, angka itu belum mencakup DHE SDA yang ditempatkan oleh para eksportir ke rekening khusus maupun rekening lain. Pada Kamis (19/10), nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup pada level Rp 15.815 per dolar Amerika Serikat (AS). Level itu melemah 85 poin atau 0,54% dari penutupan sebelumnya. Sementara cadangan devisa per akhir September 2023, di level US$ 134,9 miliar. Dibanding posisi tertinggi tahun ini yang sebesar US$ 145,2 miliar pada akhir Maret, berarti cadangan devisa akhir telah tergerus US$ 10,3 miliar. Kepala Ekonom BCA David Sumual melihat, tekanan  nilai tukar rupiah lantaran DHE yang masuk masih di bawah ekspektasi sejak kebijakan baru DHE diluncurkan 1 Agustus 2023. Sementara, arus modal asing telah keluar sejak Agustus 2023. Pelaksana Tugas (Plt) Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Ferry Irawan mengatakan, evaluasi atas aturan DHE SDA tersebut akan dilakukan dalam waktu tiga bulan setelah berlaku.

Emiten Menyerbu Bisnis Nikel

Hairul Rizal 20 Oct 2023 Kontan
Komoditas nikel masih menarik perhatian sejumlah emiten. Ini terlihat dari aksi sejumlah emiten merambah bisnis komoditas tersebut, termasuk emiten tambang batubara. Sebut saja, PT United Tractors Tbk (UNTR) yang kembali mengakuisisi perusahaan nikel, yakni PT Anugerah Surya Pacific Resources.Sebelumnya, UNTR mengambilalih 857 juta saham biasa baru Nickel Industries Limited baru pada 21 September 2023 lalu. Total nilai transaksi tersebut mencapai US$ 942,7 juta. Selain UNTR, ada PT Harum Energy Tbk (HRUM) yang sudah lebih dulu masuk ke bisnis tambang. Bahkan, kini HRUM menjadi pengendali penuh atas PT Infei Metal Industry. Ini adalah perusahaan yang bergerak di bidang pemurnian dan pengolahan nikel.  PT Infei Metal Industry memiliki dan mengoperasikan pabrik pengolahan alias smelter nikel di Indonesia Weda Bay Industrial, Maluku Utara. Di sektor tambang logam, ada PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) yang merambah bisnis nikel melalui anak usahanya, yakni PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA). Analis Panin Sekuritas, Felix Darmawan menilai, tambang nikel menjadi salah satu lini bisnis yang memiliki prospek cerah. Pesona nikel ditopang khususnya dari sisi industrialisasi baterai kendaraan listrik di Indonesia. Hal inilah yang menarik sejumlah emiten merangsek masuk ke bisnis nikel. Selain itu, faktor diversifikasi bisnis juga menjadi pendorong emiten  mengakuisisi aset nikel. Mengingat sektor batubara relatif cukup fluktuatif dan harga saat ini sudah mengalami normalisasi. Hasan Barakwan, Analis BRI Danareksa Sekuritas mengestimasikan, harga nikel kelas 1 seperti (MHP) dan nikel matte serta nikel kelas 2 akan stabil pada sisa tahun ini, di tengah ekspektasi peningkatan permintaan baja anti karat dan prekursor baterai listrik. Maka Hasan menjagokan emiten yang punya prospek peningkatan pertumbuhan volume produksi, yakni MBMA dan PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL). Ia  rekomendasi beli saham MBMA dengan target harga Rp 1.000. 

Bunga Naik, Properti Makin Babak Belur

Hairul Rizal 20 Oct 2023 Kontan
Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) menjadi 6% bakal kembali membebani kinerja emiten properti. Terutama yang banyak bergerak di bisnis rumah tapak atau apartemen. Nasib sial menimpa emiten properti yang tidak memiliki pendapatan berulang. Kemungkinan kinerja mereka. tidak terlalu baik di kuartal IV 2023 ini. Analis Henan Putihrai, Jono Syafei mengatakan, kenaikan suku bunga BI berpotensi melemahkan daya beli masyarakat. Maka, banyak emiten yang mulai mengandalkan segmen pendapatan berulang atau recurring income. Hal tersebut juga sudah terlihat dari kinerja laporan keuangan semester I-2023, yang menunjukkan kalau emiten properti masih bergantung dari pendapatan berulang atau recurring income. Misalnya, PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) mencatatkan sektor mall dan ritei dari pihak ketiga mencapai Rp 743 miliar di semester I 2023. Naik dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 619,29 miliar. Kontribusi sektor mall dan ritel  SMRA dari pihak-pihak berelasi tercatat Rp 23,5 miliar di semester I 2023, meningkat dari periode sama tahun lalu sebesar Rp 15,55 miliar. Sedangkan PT Ciputra Development Tbk (CTRA) pada semester I 2023 mencatatkan pendapatan usaha Rp 966,03 miliar. Terdiri dari pusat niaga dan kawasan komersial, pelayanan kesehatan, hotel, sewa kantor, lapangan golf, dan lain-lain. Angka itu naik 9,6% dari raihan pendapatan usaha di semester I 2022. Technical Analyst Kanaka Hita Solvera, Andhika Cipta Labora mengatakan,  emiten yang memiliki pendapatan berulang memiliki potensi yang lebih baik pada kuartal IV 2023. Sebab, kunjungan mall akan meningkat di akhir tahun, mengingat banyak tenant yang akan memberikan diskon.

Pilihan Editor