Ekonomi Indonesia Timur Tumbuh Impresif
Pendapatan Menurun, Emiten Migas Group Laba Bakrie Catat Kenaikan Laba
PENCEMARAN LAUT, Ikan Sekarang ”Su” Lari Jauh
Untuk pertama kali setelah sebulan ”libur” karena cuaca
ekstrem, Sardi (36) kembali melaut, Selasa (5/9) malam. Bersama sembilan awak
lain, kapal bagang miliknya digerakkan belasan mil dari pesisir Teluk Buli di
Halmahera Timur, Maluku Utara. Tiba di lokasi, 60 lampu yang dipasang
mengelilingi empat sisi bagang langsung dinyalakan. Kapal harus terlihat paling
mencolok untuk mengalahkan terangnya pertambangan nikel di pesisir teluk agar
ikan mendekat. ”Ikan-ikan itu dulu di tepi pantai, dekat bakau, sekarang tidak ada lagi. Nelayan harus pergi
lebih jauh untuk mendapatkan ikan,” ucap Sardi. Perairan yang berjarak hingga 5
mil dari pantai tak lagi menjadi tempat hidup ikan karena diduga tercemar tambang.
Lumpur limbah tambang sering memenuhi jaring sehingga terasa lebih berat saat
diangkat.
”Ini, kan, jaringnya hitam jadi kecoklatan. Itu limbah,” ujarnya
setelah menarik jaring yang ditebarnya. Dari jaring yang dipasang selama tiga
jam itu, Sardi mendapatkan ikan kembung dan teri tak sampai 100 kg. Sejak lima
tahun terakhir, hanya dua jenis itu yang masih bisa ditangkap nelayan setempat.
Padahal, sebelum tambang beroperasi tahun 2003, Sardi bisa menangkap tongkol
dan cakalang hingga 16 ton sekali menjaring. Namun, menjaring jenis ikan itu
kini tinggal cerita. ”Ikan menghilang sejak ada tambang. Memang tidak serentak
hilang, tetapi perlahan,” ujar pria yang menjadi nelayan sejak 20 tahun lalu
ini. Indikasi pencemaran di pesisir teluk tampak pula saat Kompas menyusuri
perairan dekat Moronopo, Desa Soa Sangaji, Maba, Halmahera Timur. Sejauh mata
memandang, Selasa (5/9) siang, air laut keruh kecoklatan. Areal tempat bakau
berada pun tertutup sedimen yang tebal. Padahal, menurut Fakir Batawi (50),
nelayan Soa Sangaji, area itu semula merupakan wilayah tangkapan ikan nelayan. Fakir
yang baru pulang dari melaut menunjukkan buktinya. Melaut setengah hari, Fakir
hanya memperoleh ikan-ikan kecil yang jumlahnya tak sampai 50 ekor. (Yoga)
Merana di Lumbung Ikan
Para nelayan di pesisir lumbung ikan Indonesia timur mengeluhkan
tangkapan yang semakin berkurang. Saatnya pemerintah meninjau kebijakan. Harian
Kompas edisi Senin (6/11) melaporkan hasil liputan khusus Jelajah Laut Papua
dan Maluku. Jelajah dilakukan sepanjang Juni hingga September 2023. Kawasan yang
ditelusuri adalah wilayah yang oleh pemerintah disebut sebagai wilayah
pengelolaan perikanan (WPP). Ketentuan tentang WPP tertuang dalam Kepmen
Kelautan dan Perikanan No 19 Tahun 2022 tentang Estimasi Potensi Sumber Daya
Ikan, Jumlah Tangkapan Ikan yang Diperbolehkan, dan Tingkat Pemanfaatan Sumber
Daya Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia. Ada 11
WPP di Indonesia, lima di antaranya didatangi tim peliput. Kelima WPP tersebut
adalah WPP 714, 715, 716, 717, dan 718 yang berada di Maluku, Maluku Utara, Papua,
Papua Barat, dan Papua Barat Daya.
Temuan utamanya, gejala penangkapan ikan berlebih mencuat di
sejumlah lumbung ikan di kawasan timur Indonesia. Akibatnya, nelayan kecil di
pesisir lumbung ikan menjadi pihak yang paling terpukul, tergambar dari pengalaman
Umar Waymese (45), nelayan di Desa Kawa, Kecamatan Seram Bagian Barat, Maluku,
yang ditemui tim peliput pada Senin (4/9). Umar sudah melaut 15 jam sebelumnya
di laut yang masuk dalam WPP 715, hanya mendapat puluhan ekor cakalang dan tuna
kecil yang beratnya 3 kg per ekor. Padahal, lima tahun sebelumnya, ia dapat
mengait dua hingga tiga tuna dengan berat puluhan kilogram sekali melaut beberapa
jam. Semua berubah sejak kapal-kapal berukuran 90 gros ton (GT) dari luar
Maluku hilir mudik di perairan Seram. Perahu Umar dengan bobot 0,5 GT jelas
bukan tandingan kapal-kapal besar itu. (Yoga)
Masa Depan Lumbung Ikan Terancam
Hampir separuh potensi perikanan tangkap nasional berada di
wilayah timur, khususnya di region Papua dan Kepulauan Maluku. Namun,
keberlanjutan sumber daya itu terancam akibat eksploitasi berlebihan. Nelayan
kecil menjadi pihak yang paling terpukul. Penelusuran Tim Harian Kompas dalam
liputan khusus Jelajah Laut Papua Maluku bekerja sama dengan Yayasan Eco Nusa
sepanjang Juni hingga September 2023 menemukan, gejala overfishing, atau
penangkapan ikan berlebih, mencuat di kawasan timur Indonesia. Penelusuran
dilakukan di sejumlah daerah ”lumbung” ikan di kawasan timur, yakni Sorong
(Papua Barat Daya); Kaimana (Papua Barat); Biak (Papua); Ambon, Seram, Buru,
Banda, Kei, dan Aru (Maluku); serta Ternate, Halmahera, dan Morotai (Maluku
Utara). Lampiran Kepmen KP No 19 Tahun 2022 menunjukkan potensi perikanan nasional
sebanyak 12.011.125 ton. Dari jumlah tersebut, hampir separuhnya atau 5.437.584
ton berada di lima WPP kawasan timur.
Namun, berdasarkan lampiran kepmen KP itu pula diketahui
tingkat pemanfaatan sejumlah kelompok ikan di lima WPP tersebut sudah berstatus
tereksploitasi penuh dan overeksploitasi. Kelompok ikan yang masuk kategori
tersebut adalah cumi-cumi, ikan karang, pelagis besar, lobster, rajungan, dan
udang penaeid. Nelayan kecil dan tradisional sangat merasakan dampak persoalan
ini. Mereka harus melaut lebih jauh dan mengeluarkan ongkos lebih besar untuk
mencari ikan. Meski begitu, upaya tersebut tetap tak menjamin tangkapan
berlimpah. Penghasilan para nelayan pun anjlok. Harun Bakar (50), nelayan di Desa
Jambula, Kota Ternate, Maluku Utara, saat ditemui pertengahan September lalu, mengatakan,
sejak 1990-an, tangkapan di pesisir berangsur berkurang. Jika sebelum masa itu
nelayan bisa menangkap hingga ribuan ikan hanya dalam hitungan dua jam, saat
ini dalam rentang waktu yang sama hanya bisa ditangkap maksimal empat ekor
ikan. ”Bahkan tidak jarang harus pulang kosong, tidak membawa hasil,” ujarnya. Jenis
ikan yang ditangkap pun hanya ikan demersal atau ikan dasar seperti bobara (kuwe).
Padahal, semula, ikan-ikan pelagis
seperti cakalang, tongkol, dan baby tuna masih mudah diperoleh. (Yoga)
Kebijakan Fiskal Bakal Lebih Ekspansif
Sampai akhir September 2023, realisasi APBN masih mencatatkan surplus sebesar Rp 67,7 triliun. Namun, semakin mendekati momen pemilu, kebijakan fiskal diproyeksikan lebih ekspansif. Selain realisasi belanja perlindungan social yang naik, belanja juga akan terdorong oleh kebutuhan pembayaran rutin di akhir tahun. Berdasarkan kajian Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI (LPEM FEB UI) yang tertuang dalam laporan terbaru Indonesia Economic Outlook 2024, menjelang perhelatan pemilu, kebijakan fiskal cenderung akan lebih ekspansif, ditandai dengan peningkatan nilai belanja negara dan pengurangan target pajak. Tren itu salah satunya terlihat dari realisasi belanja bantuan sosial (bansos) dan subsidi pada APBN dan APBN Perubahan dari tahun ke tahun. Menjelang Pemilu 2014 dan 2019, realisasi belanja bantuan sosial terpantau lebih tinggi dari target yang dipasang di APBN dan APBN Perubahan.
Peneliti Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI, Teuku Riefky, Minggu (5/11) mengatakan, biasanya rasio realisasi belanja bansos selalu lebih rendah dari target atau di bawah 100 % di tahun-tahun nonpemilu. Namun, di tahun pemilu, belanja bansos tercatat melonjak. Pada 2013, jelang Pemilu 2014, realisasi belanja bansos naik menjadi 111,7 % dan pada 2014 mencapai 101,31 % dari target. Tren serupa terlihat pada 2018 dan 2019. Saat itu, realisasi belanja bansos tercatat naik menjadi 103,71 % pada 2018 dan 110,21 % dari target pada 2019. ”Motivasi politik untuk memenangi pemilu atau bertindak demi kepentingan memilih biasanya menjadi alasan munculnya tren ini. Untuk tahun ini, gelagatnya sudah mulai terlihat meski belum terlalu ekspansif karena sejauh ini APBN masih mencatat surplus,” tutur Riefky. Indikasi APBN yang akan lebih ekspansif itu mulai terlihat dengan dirilisnya paket kebijakan pemerintah untuk bantalan ekonomi dan daya beli masyarakat, yang akan dikucurkan mulai akhir tahun 2023 sampai awal tahun 2024. Paket kebijakan ekonomi yang baru diumumkan pekan lalu itu memakan tambahan anggaran sekitar Rp 13,62 triliun. (Yoga)
Untung Rugi Integrasi Sektor Aviasi
Rencana pemerintah mengintegrasikan bisnis maskapai anak
usaha PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, Citilink Indonesia, dengan maskapai
milik PT Pertamina (Persero), Pelita Air, ke dalam satu subholding aviasi masih
belum final. Banyak hal yang perlu dipertimbangkan untuk melakukan aksi
korporasi ini, salah satunya pembengkakan beban operasional. Rencana peleburan
bisnis Citilink Indonesia dan Pelita Air sebelumnya telah diungkap Menteri BUMN
Erick Thohir saat menyampaikan enam strategi BUMN di tahun 2024, akhir Agustus
lalu. Peleburan bertujuan untuk menekan biaya logistik sehingga sektor aviasi
bisa mengejar kekurangan armada pesawat nasional.
Minggu (5/11) Dirut PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Irfan
Setiaputra mengatakan, belum ada keputusan final terkait skema pengintegrasian
bisnis antara Citilink Indonesia dan Pelita Air. Pada dasarnya, Garuda Indonesia
mendukung gagasan pemerintah, selaku pemegang saham terbesar perseroan, untuk
memajukan sektor aviasi nasional. ”Manajemen akan mengeksekusi aspirasi
pemegang saham walaupun diskusinya panjang antara pemegang saham dan seluruh
pihak,” kata Irfan. Seusai acara CEO Talks ASEAN Connect yang diadakan INACA di
Jakarta, Kamis (2/11) CEO Citilink Indonesia Dewa Rai menjelaskan, Kementerian
BUMN berencana memasukkan maskapai-maskapai pelat merah menjadi subholding
maskapai penerbangan pada holding BUMN aviasi dan pariwisata, InJourney.
Dirut Pelita Air Dendy Kurniawan belum banyak berkomentar terkait
dengan perkembangan proses integrasi Garuda Indonesia, Citilink, dan Pelita Air
ke dalam holding InJourney. Namun, ia menilai pengintegrasian ketiga maskapai akan
menghasilkan keuntungan, yakni ketersediaan harga yang terjangkau untuk masyarakat,
memastikan konektivitas udara untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, serta
mendorong kinerja bisnis masing-masing maskapai agar semakin sehat. (Yoga)
Tuna yang Sudah ”Mati” di Laut Kami
Para nelayan kecil di
kawasantimur Indonesia harus melaut lebih jauh, lebih lama, dengan biaya lebih.
Itu pun tanpa jaminan hasil yang sepadan. Setelah melaut lebih dari 15 jam,
Umar Waymese (45) akhirnya bersandar di pesisir Desa Kawa, Kecamatan Seram
Barat, Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku, Senin (4/9) petang. Istri, anak,
dan kerabat lain menantinya dengan senyum. Mereka berharap Umar membawa banyak tuna,
ikan incaran utama nelayan di desa tersebut. Namun, angan itu pupus. Lelaki
tersebut hanya membawa peluh di wajah, bau terik matahari di pakaiannya, serta
puluhan ekor ikan cakalang dan tuna kecil (baby tuna) yang beratnya berkisar 3
kg per ekor, yang hanya cukup untuk menutup biaya pembelian 60 liter pertamax
sebagai bahan bakar perahunya. Artinya, tidak ada uang lebih untuk memenuhi kebutuhan
lain, kecuali sebagian ikan yang tak dijual untuk dimakan sendiri.
”Sekarang, ikan tuna sudah ’mati’. Ikan kecil juga ’mati’,”
ucapnya. Umar memakai kiasan itu untuk
menggambarkan kondisi susahnya mendapatkan tuna di Laut Seram kini. Dia tidak
tahu pasti mengapa ikan pelagis besar itu seolah menghilang. Padahal, lima
tahun lalu, ia masih kerap mengait tuna dengan berat puluhan kilogram di sana. ”Kadang
dua atau tiga ekor tuna sekali melaut,” ungkapnya. Jaraknya juga kurang dari 20
km dari pesisir dengan kebutuhan bensin maksimal 30 liter. Semua berubah sejak
kapal-kapal raksasa berukuran 90 gros ton (GT) marak hilir mudik di perairan Seram.
Kapal-kapal ikan itu berasal dari luar Maluku. Perahu nelayan setempat yang panjangnya
hanya 7 meter dan lebar 1,2 meter dengan bobot 0,5 GT jelas bukan tandingannya.
Umar menduga kapal-kapal itu juga menjaring tuna di area kurang dari 12 mil
laut (sekitar 22 km) dari pantai. Padahal, Permen KP No 58 Tahun 2020 tentang Usaha
Perikanan Tangkap melarang kapal ukuran di atas 30 GT beroperasi di laut lepas
di bawah 12 mil laut. (Yoga)
Jalan Mundur Lumbung Ikan Nasional
Perahu-perahu nelayan berukuran maksimal 3 gros ton berjejer
di pesisir kampung-kampung nelayan di Pulau Morotai, Maluku Utara. Berada di
bibir SamudraPasifik, perairan itu kerap diterjang gelombang tinggi. Al Hadar
(52), warga Desa BereBere, Kecamatan Morotai Utara, Kabupaten Pulau Morotai,
terpaksa menepikan perahunya. Angin bertiup kencang dan tinggi gelombang lebih
dari 3 meter tak mungkin bisa ditaklukkan perahunya yang berukuran kurang dari
3 gros ton (GT). ”Hanya perahu berukuran lebih dari 30 GT yang bisa menaklukkan
ombak itu, seperti kapal-kapal nelayan dari Bitung (Sulut). Mereka tetap bisa
mencari ikan di dekat Morotai meski ombak sedang tak bersahabat,” tuturnya.
Menurut data Koperasi Nelayan Tuna Pasifik di Sangowo, Morotai Utara, dari 60 nelayan
yang terdaftar sebagai anggota, semuanya memiliki perahu berukuran 1,5 GT dan 3
GT. Perahu seperti itu berisiko tenggelam ketika tinggi gelombang melampaui 1
meter.
Selain armada tangkap, nelayan kerap kesulitan memperoleh BBM
yang pasokannya terbatas. Saat musim ikan, mereka terpaksa membeli Pertamax
dengan har-ga Rp 17.000 per liter, lebih mahal daripada harga semestinya Rp 1%
dari total APBD Morotai sebesar Rp 800 miliar yang habis menopang sarana dan
prasarana perikanan. Dia mengatakan, sempat datang bantuan kapal-kapal berukuran
besar dari pemerintah pusat. Namun, desain sejumlah kapal di bawah standar. ”Kapalnya
akan dioperasikan di Samudra Pasifik,tetapi kapal yang diberikan seperti yang
beroperasi di teluk,” katanya. Nelayan membutuhkan kapal berukuran minimal 28
GT. Problem sektor perikanan tangkap juga dialami nelayan di Kecamatan Banda
Naira, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku. Senin (18/9) dini hari, kapal pemburu
ikan pelagis kecil berukuran 80 GT yang dinakhodai Ramli Lestaluhu (61) tiba di
rumpon, rumah ikan buatan, 30 menit setelah ditebar, jaring kembali ditarik ke
kapal.
Perlahan-lahan sejumlah ikan momar atau ikan layang (Decapterus)
yang terjebak di dalamnya. Jumlah ikan 387 kilogram. Kendati tangkapan melimpah,
rezeki nelayan di Banda tak pernah pasti. Belum tentu tangkapan mereka laku
terjual di pasaran mengingat minimnya pembeli. Ketika tangkapan melimpah,
terutama pada September hingga Desember, tempat penampungan atau pengolahan
ikan kewalahan lantaran tempat pembekuan ikan (cold storage) terbatas.
Penampung tak berani membeli banyak, harga ikan pun merosot. Terpaksa sejumlah
nelayan membuang tangkapan ke laut. Jumlahnya mencapai ratusan ton. ”Saat musim
panen, bahkan kami libur. Ikan yang dibeli perusahaan kadang hanya dari nelayan
yang sudah bermitra dengan mereka,” kata
Maarif (56), nelayan di Pulau Run, sekitar satu jam perjalanan dari Naira. (Yoga)









