Penyesuaian Tarif Tol Beri Kepastian bagi Investor
Pemerintah secara bertahap akan menyesuaikan 13 tarif jalan tol pada kuartal I-2024. Kebijakan ini akan memberikan kepastian hukum bagi para investor, karena penyesuaian tarif jalan bebas hambatan sudah ditetapkan dalam Undang-Undang (UU) Nomor 2 Tahun 2022 tentang Perubahan Kedua atas UU Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan. Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PURP) mencatat kebutuhan investasi untuk mendukung pembangunan jalan tol saja di Indonesia selama periode 2020-2024 mencapai Rp500 triliun. Angka tersebut mengacu dalam publikasi rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN) 2020-2024. namun demikian, kemmapuan pembiayaan infrastruktur yang digelontorkan melalui APBN nilainya hanya sebesar Rp623 triliun atau sekitar 30% dari total kebutuhan investasi pembangunan infrastruktur seperti yang tertuang dalam RPJMN 2020-2024 yakni sebesar Rp2.058 triliun. Tercatat sejak tahun 1978 hingga pertengahan Januari 2024 ini total panjang jalan tol di Indonesia telah mencapai 2.816 Km yang terbagi di Pulau Jawa 1.782,47 Km, Pulau Sumatera 865,43 Km, Pulau Kalimantan 97,27 Km, Pulau Sulawesi 61,64 Km, dan Pulau Bali 10,07 Km. Sementara itu, jumlah tol beroperasi sebanyak 73 ruas, jumlah tol konstruksi 23 ruas. (Yetede)
Suku Bunga Turun di Semester II
laju inflasi dunia diyakini sudah terus turun dan tekanannya juga kian mereda. Pada saat yang sama, ekonomi global diakui lebih tangguh mengadapi rezim suku bunga tinggi yang diakibatkan inflasi tersebut. Tapi, bank sentral diingatkan untuk tidak terburu-buru memangkas suku bunga sekarang. Dana Moneter Internasional (IMF) mengharapkan, suku bunga baru turun di semester II nanti. Demikian benang merah pernyataan para ekonom dan pemimpin bisnis pada hari pertama Pertemuan Tahunan World Economic Forum di Davos, Swiss, Selasa (16/1/2024). IMF memperkirakan suku bunga turun pada paruh kedua tahun ini. Berbicara pada diskusi panel "The High rate Reality" CNBC di Davos Wakil Direktur Pelaksana Pertama IMF Gita Gopinath mengatakan, masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa bank-bank sentral dunia akan menurunkan suku bunga secara agresif tahun ini." Meskipun inflasi telah turun, tugas belum selesai. kami menyoroti ketatnya pasar tenaga kerja di AS dan Eropa," ujar Gopinath. (Yetede)
Menjaga Kinerja Pedagangan dari Dampak Ketidakpastian Global
Aktivitas ekonomi global masih menghadapi risiko dan ketidakpastian, sehingga akan memberikan pengaruh terhadap aktivitas perdagangan Indonesia pada tahun ini. Berkaitan itu, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) memperkuat sinergi kebijakan guna meningkatkan ketahanan eksternal dan mendukung pemulihan ekonomi nasional. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Febri Nathan Kacaribu menjelaskan, prognosa tersebut tercermin pada proyeksi perlambatan pertumbuhan ekonomi global oleh berbagai lembaga internasional yang juga diikuti oleh moderasi harga komoditas. " Pemerintah akan terus memantau dampak perlambatan global terhadap eskpor nasional, serta menyiapkan langkah antisipasi melalui dorongan terhadap keberlanjutan hilirisasi SDA ( sumber daya alam) peningkatan daya saing produk ekspor nasional, serta diverifikasi negara mitra dagang utama," jelas Febrio. Aktivitas perdagangan Indonesia pada tahun lalu terjaga, neraca perdagangan Indonesia secara total kembali mencatat surplus sebesar US$ 36,93. (Yetede)
Istana: Mundurnya Maruara Sirait Jangan Dihubungkan dengan Presiden Jokowi
Tiga Saham Emiten Prajogo Pangestu Kompak Melesat
Tiga saham emiten milik konglomerat Prajogo Pangestu yakni PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), kompak mengalami kenaikan pada penutupan perdagangan Selasa (16/1/2024). Ketiga saham ini bahkan menjadi penggerak utama indeks harga saham gabungan (IHSG), yang pada perdagangan kemarin menguat 18,78 poin (0,26%) ke posisi 7.242. Berdasarkan data RTI, saham BREN mencatat keniakan 450 poin atai 10,16% ke posisi Rp4.880. Saham emiten energi baru terbarukan (EBT) ini ditransaksikan sebanyak 30.340 kali dengan jumlah saham berpindah tangan 70,24 juta saham senilai Rp336,29 miliar. Kenaikan tinggi lainnya juga ditorehkan oleh saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA). Saham emiten kimia dan infrastruktur ini menguat 330 poin atau 10,22% ke level Rp3.560. Sepanjang perdagangan kemarin, saham berkode TPIA ini ditransaksikan sebanyak 13.831 kali dengan jumlah saham berpindah tangan 52,6 juta kembar dan total transaksi Rp 178,38 miliar. (Yetede)
Minat Milenial Membeli Rumah Pakai Skema KPR Cukup Besar
Pemanfaatan skema kredit pemilikan rumah (KPR) dinilai masih dominan dalam penjualan rumah tapak (landed house) pada 2024. tahun lalu, hingga kuartal ketiga 2023, pemanfaatan KPR mencapai 75,5% dari total skema pembayaran dalam memberi properti. Di sisi lain, pembeli rumah dari kalangan milenial yang memanfaatkan skema KPR cukup besar. "Saat ini, berkisar 70-80% pembelian properti memakai skema KPR, karena itu peran bank penting untuk menggerakkan sektor properti. Pemanfataan KPR akan terus meningkat karena rumah merupakan kebutuhan dasar manusia," ujar Ade Lukito, vice president Consumer Loan PT Bank Central Asia. Dari sisi konsumen, skema pembiayaan utama dalam pembelian rumah primer adalah KPR, dengan pangsa 75,50% dari total pembiayaan. Menurut Ade Lukito, saat ini pasar digerakkan oleh konsumen kalangan muda. Salah satu pemicunya adalah kemudahan informasi sehingga kaum muda terdorong membeli rumah. "Di sisi lain, tren generasi membeli rumah melalui KPR kian terasa dalam tiga tahun terakhir," katanya. (Yetede)
Pemilu 2024 dan Arah Perekonomian Kita
Pemilu biasanya berdampak positif bagi perekonomian melalui
peningkatan konsumsi masyarakat dan lembaga nonprofit rumah tangga. Namun, di
sisi lain, hajatan lima tahunan itu cenderung mengakibatkan penurunan investasi
sehingga mendorong perlambatan ekonomi. Semakin tinggi ketidakpastian (politik),
semakin besar koreksi investasi, dan semakin dalam pula risiko perlambatan
ekonomi. Pemilu 2024, khususnya pemilihan presiden, tingkat ketidakpastiannya
sangat tinggi. Ditambah situasi global yang makin rumit, investasi diperkirakan
akan merosot tahun ini sehingga pertumbuhan ekonomi pada tahun ini berpotensi
terkoreksi. BI memperkirakan pertumbuhan tahun 2024 berkisar 4,5-5,3 %. Selain
punya implikasi pada siklus ekonomi jangka pendek (cyclical effect), pemilu
juga punya potensi memengaruhi situasi struktural jangka panjang (structural effect).
Untuk itu, diperlukan evaluasi kebijakan pembangunan selama
ini serta identifikasi perbaikan kebijakan. Pemerintahan Presiden Jokowi selama
dua periode sangat fokus pada pembangunan infrastruktur. Tentu saja arah kebijakan
ini harus dilanjutkan dengan beberapa perbaikan. Pembangunan infrastruktur
adalah syarat perlu bagi pembangunan ekonomi dan industri (hilirisasi). Namun,
itu belum cukup. Masih diperlukan pilar kebijakan lain, terutama penguatan regulasi
dan institusi serta pengembangan sumber daya manusia. Ketiganya harus dilakukan
secara komprehensif dengan proporsi yang tepat. Merujuk studi Bappenas,faktor
paling menghambat pembangunan ekonomi di Indonesia adalah regulasi dan kelembagaan.
Siapa pun presiden terpilih nanti perlu fokus pada aspek ini.
Dengan demikian, terjadi penataan menyeluruh pada aspek tata kelola, proses
kerja, serta koordinasi antara kementerian dan lembaga, ataupun koordinasi
pemerintah pusat dan daerah dalam pembangunan. Melalui perbaikan regulasi dan
kelembagaan, anggaran pemerintah yang terbatas bisa lebih efektif dan efisien guna
mendorong produktivitas perekonomian. Dengan begitu, pemilu tidak sekadar
memengaruhi dinamika perekonomian jangka pendek, tetapi juga menentukan arah pembangunan
jangka panjang. Pemerintah ke depan perlu mengakui keberhasilan pembangunan
selama ini, tetapi juga harus berani memperbaiki berbagai hal mendasar yang
perlu perubahan (Yoga)
Yang Kaya Kian Kaya, yang Miskin Kian Merana
Sejak tahun 2020, kesenjangan ekonomi di dunia semakin lebar.
Lima orang terkaya di dunia, yakni CEO Tesla Elon Musk, Bernard Arnault dari
perusahaan mewah LVMH, pendiri Amazon Jeff Bezos, pendiri Oracle Larry Ellison,
dan pakar investasi Warren Buffett, menjadi lebih kaya dua kali lipat atau 114 %
sejak 2020, berkat lonjakan harga saham. Kekayaan mereka meningkat dari 405
miliar USD, sekitar Rp 6,3 ribu triliun atau kuadriliun pada 2020, menjadi 869
miliar USD atau Rp 13,5 kuadriliun pada 2022. Tapi, sejak 2020 pula, lima miliar
orang miskin di seluruh dunia menjadi semakin miskin. Dengan serentetan krisis
yang terjadi, perekonomian dunia runtuh akibat pandemi Covid-19. Laporan
tahunan mengenai kondisi kesenjangan di seluruh dunia dari lembaga amal Oxfam ini
dipublikasikan sebelum Forum Ekonomi Dunia dimulai di Davos, Swiss, Senin
(15/1). Untuk menghitung kekayaan lima miliarder terkaya, Oxfam menggunakan
angka dari Forbes per November 2023. Oxfam merupakan konfederasi internasional
yang terdiri atas 20 organisasi yang bekerja sama dengan 90 negara untuk
membangun masa depan yang bebas ketidakadilan akibat kemiskinan.
”Dunia sedang memasuki dekade perpecahan. Dalam waktu dekat,
kita perkirakan dalam satu dekade ke depan kita akan memiliki triliuner. Setidaknya
akan ada satu orang yang memiliki kekayaan sampai seribu miliar USD. Jika tren
ini terus meningkat, upaya memerangi kemiskinan di seluruh dunia baru bisa
tuntas 229 tahun lagi,” kata direktur eksekutif sementara Oxfam, Amitabh Behar,
di Swiss. Di sisi lain, ratusan juta orang di seluruh dunia kini harus bekerja
lebih keras, dengan jam kerja yang lebih lama dan upah yang rendah. Di 52
negara yang dianalisis, upah riil rata-rata dari hampir 800 juta pekerja turun.
Mereka kehilangan 1,5 triliun USD atau Rp 23 kuadriliun selama dua tahun
terakhir, atau setara dengan hilangnya gaji selama 25 hari untuk setiap
pekerja. Orang yang miskin akan bertambah lebih banyak lagi jika perang
Rusia-Ukraina dan Israel-Hamas terus terjadi. Akibat konflik, harga energi dan
pangan melonjak dan ini sangat berdampak pada negara-negara termiskin. Ironisnya,
keuntungan bisnis justru meningkat tajam. (Yoga)
Meningkatkan Anggaran Kesehatan
Komitmen negara dalam pembangunan kesehatan nasional masih
lemah, terlihat dari rendahnya alokasi anggaran belanja bidang tersebut. Padahal,
kualitas kesehatan masyarakat menentukan pencapaian tujuan pembangunan
berkelanjutan. Pengambilan keputusan politik bidang kesehatan berimplikasi pada
derajat kesehatan publik. Sesuai amanat konstitusi, negara bertanggung jawab
terhadap kesehatan seluruh rakyatnya. Data Bappenas yang diolah dari data Bank
Dunia dan Kemenkeu menunjukkan belanja negara untuk kesehatan di Indonesia
paling rendah dibandingkan dengan negara lain, yang hanya 6,9 %, jauh lebih rendah
dibandingkan dengan AS (38 %), China (27,5 %), Australia (21,9 %), Jerman (21,6
%), Jepang (20,4 %), Inggris (19,4 %), dan Korsel (19,5 %).
Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa, Jumat (12/1) menyatakan,
komposisi belanja pemerintah didominasi belanja tidak produktif dan tidak
berorientasi jangka panjang, yang meliputi, belanja barang, belanja bunga
utang, dan belanja subsidi (Kompas, 13/1). Perlu komitmen negara melalui
alokasi anggaran belanja bidang kesehatan guna mengatasi berbagai masalah kesehatan
warga secara menyeluruh. Angka kematian ibu di Indonesia tercatat 190 per
100.000 kelahiran hidup akibat anemia pada ibu hamil, paparan rokok tinggi, dan
kurang gizi. Persoalan kesehatan pada ibu hamil turut memicu tengkes atau
stunting pada bayi. Hasil survei Status Gizi Indonesia tahun 2022 menunjukkan
prevalensi tengkes secara nasional 21,6 %.
Indonesia juga menghadapi beban ganda penyakit. Selain penyakit
menular seperti tuberkulosis, warga menghadapi penyakit tidak menular seperti
jantung dan stroke. Namun, pencegahan dan penanganannya belum optimal karena
layanan kesehatan belum merata. Maka, alokasi belanja kesehatan mesti
ditingkatkan. Berdasarkan perhitungan Bappenas, kebutuhan anggaran penanganan
tengkes mencapai Rp 185,2 triliun, untuk bantuan gizi bagi anak balita dan ibu
hamil dari keluarga miskin dan rentan. Intervensi diperlukan untuk mencegah tengkes
pada 1.000 hari pertama kehidupan. Alokasi belanja kesehatan yang memadai juga
mendukung pembangunan sistem kesehatan di Indonesia. (Yoga)
Penertiban Subsidi Energi Terganjal Regulasi
Realisasi subsidi energi, yang meliputi BBM, elpiji, dan
listrik, pada 2023 mencapai Rp 159,6 triliun, lebih tinggi dari target yang Rp 143,5
triliun. Pada 2024, Kementerian ESDM memproyeksikan besaran subsidi energi
sebesar Rp 186,9 triliun. Upaya menertibkan subsidi energi agar tepat sasaran
masih terganjal regulasi. Menteri ESDM Arifin Tasrif, dalam konferensi pers capaian
sektor ESDM Tahun 2023, di Jakarta, Senin (15/1) mengatakan, ada tren
peningkatan permintaan energi di masyarakat. Selain itu, kenaikan harga bahan
baku BBM dan elpiji juga diantisipasi. Namun, ia memastikan subsidi energi akan
diteruskan, disertai sejumlah program agar penyalurannya tepat sasaran.
”Harus ada upaya,termasuk kebijakan pemerintah, (agar)
subsidi diterima dengan baik oleh masyarakat, tetapi juga lebih efisien (tepat
sasaran). Dengan mengoptimalkannya, (diharapkan) alokasi subsidi tidak sebesar yang
ditargetkan,” ujar Arifin. Program tepat sasaran itu di antaranya pada
transformasi penyaluran elpiji bersubsidi ukuran 3 kg, yang diatur dalam Kepmen
ESDM No 37 Tahun 2023 tentang Petunjuk Teknis Pendistribusian Isi Ulang
Liquefied Petroleum Gas Tertentu Tepat Sasaran. Juga Keputusan Direktur
Jenderal Minyak dan Gas Bumi No 99/2023 tentang Penahapan Wilayah dan Waktu Pelaksanaan
Pendistribusian Isi Ulang Liquefied Petroleum Gas Tertentu Tepat Sasaran, yang ditetapkan
pada Februari 2023.
Dalam Keputusan Dirjen Migas itu, pembelian elpiji tertentu
hanya dapat dilakukan konsumen dengan nomor induk kependudukan (NIK) yang
terdata dalam sistem berbasis web dan/atau aplikasi, terhitung sejak 1 Januari
2024. Adapun pendataan dan uji coba pelaksanaannya telah dimulai sejak 1 Maret
2023. Direktur Eksekutif Energy Watch Daymas Arangga ragu program subsidi tepat
sasaran, baik pada elpiji 3 kg maupun BBM, dan bisa berjalan optimal tanpa ada
regulasi yang jelas. Padahal, jika subsidi energi benar-benar tersalurkan
kepada warga yang berhak, anggaran bisa ditekan dan dimanfaatkan untuk
sektor-sektor lain yang juga penting. ”Harus ada landasan regulasi untuk lebih
tepat sasaran. Memang (kebijakan pembatasan subsidi) agak kurang populis, tetapi
negara dapat berhemat jika subsidi BBM dan elpiji ini lebih tepat sasaran,” kata
Daymas. (Yoga)









