Paman Sayur dan Lumbung Pangan Kalimantan
10 tahun terakhir, banyak ladang warga Kalteng ditinggalkan
setelah muncul larangan membakar lahan. Imbasnya, warga yang dulu mandiri kini
bergantung kepada ”paman sayur” atau penjual sayur keliling. Kemandirian di
daerah yang dulu merupakan lumbung pangan pun terancam. Rabu (7/2) pagi, Suwanto
(37) sudah memacu kencang sepeda motor tuanya ke rumah Deni Irmanto (32),
petani di Kalampangan, Kota Palangkaraya, Kalteng. Sudah dua tahun Suwanto melakukan
aktivitas serupa. Setiap pagi, dia selalu mengisi keranjang di jok sepeda motornya
dengan semua sayuran yang dipanen Deni, perantau asal Ngawi, Jatim. ”Ada cabai
rawit, bayam, sawi, mentimun, tomat, hingga bawang merah,” katanya. Seperti
Deni, Suwanto juga berasal dari Ngawi. Minim kesempatan kerja di daerah asal, dia
datang menggunakan kapal laut lima tahun lalu ke Palangkaraya, menjadi ”paman” (penjual
keliling) untuk beragam jenis pekerjaan.
Ia pernah menjadi paman pentol (makanan seperti bakso), berkeliling
SD-SD di Palangkaraya menjajakan jualannya demi bayaran Rp 100.000 per hari. Jika
dagangan ludes dalam sehari, dia mendapat bonus 10 %. ”Biasanya jual 500-1.000
pentol per hari. Harganya Rp 1.000-Rp 5.000 per biji, bergantung ukuran,”
ucapnya. Tiga tahun jadi paman pentol, dia mencoba jadi paman lainnya. Merasa
bisa meraup untung lebih besar, pilihannya jatuh menjadi penjual sayur keliling.
Tabungan milik dia dan istrinya, Rp 8 juta digunakan untuk membuat keranjang
sayur. Usahanya membuahkan hasil. ”Sekarang, sehari bisa bawa Rp 500.000,
untung bersihnya lebih dari Rp 200.000,” ujarnya. Keuntungan Suwanto setara
dengan perjalanan jauh yang mesti ia tempuh sejauh 85 km. Sasarannya adalah
pelanggan di desa-desa sekitar Kabupaten Pulang Pisau, bahkan Kabupaten Kapuas.
Di sana, kehadiran Suwanto dan paman pentol lainnya sangat
ditunggu warga. ”Saya pernah sampai ke Kalumpang di Kabupaten Kapuas. Jaraknya
120 km dari Kota Palangkaraya. Semua sayurnya berasal dari Deni,” katanya.
Sanyo (54), warga Kalumpang, Kapuas, salah satu tempat Suwanto berjualan sayur
adalah salah satu peladang yang rindu berladang lagi. Kini, Sanyo merasakan rumitnya
harus membeli semua kebutuhan pangannya, baik beras maupun sayuran. ”Jadi,
karena sekarang sudah tidak ke ladang, tidak ada padi dan tidak ada sayur. Ujungnya,
kami beli di paman sayur. Setiap bulan bisa habis Rp 1 juta. Dulu, uang hanya untuk
menabung,” tutur Sanyo yang kini hanya menjaga kios di desanya sambil berharap
tas anyaman rotan istrinya laku. Penghasilannya tak menentu, ditambah kini ia
sakit-sakitan. ”Ada yang bekerja di perkebunan sawit hingga tambang ilegal.
Semua karena larangan membakar,” katanya. (Yoga)
China Kelola Warga Senior
China tengah berupaya mengelola penduduk yang berusia tua. Pemerintah
China selama empat tahun belakangan berulang kali mengutarakan gagasan bahwa
usia pensiun pekerja di negara itu akan ditambah, walau disambut negatif masyarakat,
baik tua maupun muda. Data terbaru mengenai pertumbuhan ekonomi China di tengah
terus menurunnya angka kelahiran memungkinan penaikan usia pensiun semakin
tidak terelakkan. Laporan terkini itu diterbitkan oleh Economist Intelligence Unit(EIU),
divisi analisis dan riset majalah The Economist, Rabu (31/1). Mereka menganalisis
penurunan angka kelahiran dengan beban ekonomi, termasuk beban pensiun yang akan
ditanggung oleh China per tahun 2035 (Kompas.id, 7/2/2024). China mau tak mau
harus segera menaikkan umur pensiun agar sistem pensiun di negara itu tetap
berkelanjutan.
Dengan umur pensiun saat ini, laki-laki 60 tahun dan
perempuan 55 tahun, akan memunculkan beban fiskal. Sebab, dana pensiun di
negara itu ditanggung tiga pihak, yaitu negara, perusahaan, dan karyawan atau
pegawai. Pada saat yang sama, China ingin mengelola warga senior sehingga tetap
produktif dan bekerja ditengah angka kelahiran yang menurun. Proporsi kelompok
senior yang besar diharapkan bisa tetap bekerja di berbagai bidang. Bila usia
pensiun dinaikkan, akan mengurangi beban fiskal 20 %. Melihat langkah yang
ditempuh China, akan ada beberapa akibat. Beban pada fiskal akan
berkurang,tetapi akan menghasilkan tekanan baru, yaitu kelompok senior yang
seharusnya menikmati dana pensiunnya terpaksa harus menanti beberapa tahun lagi
untuk mengakses dana pensiun.
Mereka harus tetap bekerja. Otomatis akan memunculkan masalah
kesejahteraan atau kualitas hidup warga senior. Dampak lainnya adalah tekanan
dari warga berusia muda. Kaum muda berpendapat bahwa peningkatan jumlah pekerja
yang lebih tua akan mengurangi kesempatan kerja mereka. Kemarahan mereka terpantau
dalam berbagai unggahan media sosial di negara itu. China sudah membuat
percontohan perpanjangan usia pensiun di Provinsi Jiangsu. Secara sukarela
orang boleh mengusulkan untuk menunda usia pensiun. Provinsi lain menunggu uji
coba di Jiangsu. (Yoga)
Antisipasi Kerawanan Pemilu di Luar Negeri
Pemungutan suara di mayoritas tempat pemungutan suara luar
negeri (TPSLN) telah dimulai sejak Kamis (8/2) dan akan berlangsung hingga 14
Februari mendatang. Potensi kerawanan, seperti membeludaknya pemilih saat pemungutan
suara hingga adanya pemilih yang tak terdaftar dalam daftar pemilih, perlu
diantisipasi oleh penyelenggara pemilu. Mengacu Keputusan KPU No 122 Tahun 2024
tentang Hari dan Tanggal Pemungutan Suara di TPSLN pada Perwakilan RI di Luar
Negeri untuk Pemilu 2024, pemungutan suara di 125 dari 128 perwakilan RI di
luar negeri berlangsung pada 8-14 Februari 2024. Sementara di tiga perwakilan
RI lainnya telah memulai lebih dulu, yakni Hanoi dan Ho Chi Minh di Vietnam
pada 5 Februari dan di Panama pada 6 Februari 2024. TPSLN biasanya didirikan di
kantor perwakilan kedutaan, konjen, wisma duta, dan sekolah Indonesia.
Selain dengan metode pemungutan suara di TPSLN, pemungutan
suara di luar negeri juga dilakukan dengan dua metode lainnya, yaitu metode pos
dan metode kotak suara keliling (KSK). Untuk metode pos, surat suara sudah
dikirimkan oleh Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) ke pemilih, 2-11 Januari 2024.
Sementara metode KSK telah dimulai pada 4 Februari. Berdasarkan data KPU, total
ada 1,75 juta pemilih luar negeri yang masuk daftar pemilih tetap. Terkait
pemungutan suara di luar negeri, Migrant Care, organisasi masyarakat sipil yang
fokus pada advokasi isu pekerja migran Indonesia, mengingatkan, penyelenggara
pemilu untuk mengantisipasi kemungkinan banyaknya pekerja migran yang tak masuk
daftar pemilih.
”Ini terjadi karena kualitas DPTLN (daftar pemilih tetap luar
negeri) tidak akurat. Misalnya, jumlah pekerja migran kita 6,5 juta, tetapi
DPTLN hanya 1,7 juta. Akibatnya, banyak pekerja migran atau warga negara Indonesia
di luar negeri, yang harusnya punya hak pilih, tak masuk DPTLN,” kata Direktur
Eksekutif Migrant Care Wahyu Susilo, Kamis (8/2). Masalah lain yang perlu diantisipasi
karena lazim ditemui di Timur Tengah adalah para pekerja rumah tangga yang
kerap tidak mendapat izin majikan untuk menggunakan hak pilihnya. Anggota Dewan
Pembina Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), Titi Anggraini,
mengingatkan, pemungutan suara dengan metode KSK dan pos kerap menjadi sumber kecurangan
akibat status dan alamat pemilih yang tak bisa dipastikan validitasnya secara pasti.
Belum lagi adanya makelar suara yang sering beroperasi memanfaatkan kelemahan
metode KSK dan pos. (Yoga)









