Bertumpu pada Pinjaman Mikro
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mencetak kinerja solid di tahun 2023. Strategi yang berfokus pada penyaluran kredit dengan imbal hasil tinggi mendorong laba bersih BBRI. Emiten bank pelat merah itu mencetak pertumbuhan laba bersih 17,5% year on year (yoy) di tahun lalu menjadi Rp 60,1 triliun. Meskipun terdapat dampak kenaikan biaya dana atau cost of fund (CoF), net interest margin (NIM) BBRI meningkat 10 basis poin yoy menjadi 7,95%. Raihan ini didorong oleh perluasan basis aset produktif dan pergeseran komposisi portofolio mikro yang didukung oleh pertumbuhan laa operasional pra-pencadangan (PPOP) sebesar 16,7%. Analis RHB Sekuritas Andrey Wijaya mengatakan, digitalisasi turut mengurangi biaya operasional. Pada 2023 lalu, inisiatif digitalisasi BBRI telah mendorong rasio biaya terhadap pendapatan (CIR) konsolidasi sebesar 298 bps menjadi 41,9% dari 44,9% pada tahun 2022. Hal ini disebabkan oleh peningkatan infrastruktur digital dan kapasitas agen perbankan. Karena itu, Andrey menilai wajar saja return on equity (ROE) Bank BRI meningkat. Dia menilai, metrik profitabilitas BBRI berada pada posisi yang baik karena ROE meningkat 232 bps yoy menjadi 19,9% pada tahun 2023. Analis Ciptadana Sekuritas Erni Marsella Siahaan juga bilang, kinerja BBRI tahun 2023 masih mengesankan.
Hal itu terlihat dari capaian laba bersih persis dengan estimasi Ciptadana Sekuritas untuk BBRI dan melampui perkiraan konsensus sebesar 102,5%. Pada tahun 2024 ini, Andrey menilai bahwa BBRI memiliki prospek yang masih menjanjikan. Meskipun ada ketidakpastian mengenai tahun pemilihan umum (pemilu), BBRI optimistis pebisnis UKM akan mendapat manfaat dari peningkatan pengeluaran pemerintah pada saat periode pesta demokrasi tersebut. Analis OCBC Sekuritas Budi Rustanto juga meyakini, NIM BBRI masih bisa berada di kisaran 8% tahun 2024, didorong oleh perbaikan bauran aset produktif dan CoF. Tapi, Budi mengantisipasi, BBRI kemungkinan akan berhati-hati terhadap biaya pendanaan di semester pertama 2024. Kepala Riset Aldiracita Sekuritas Agus Pramono menilai, tahun politik semestinya menjadi berkah untuk penyaluran kredit BBRI. Oleh karena itu, wajar jika BBRI menargetkan penyaluran dana Kredit Usaha Rakyat (KUR) senilai Rp 165 triliun di tahun 2024. "Belanja pemilu yang diharapkan dan insentif pemerintah untuk UMKM, yang diluncurkan selama masa kampanye, harusnya menguntungkan BBRI, kata Agus.
Kualitas Pertumbuhan Belum Beranjak Naik
Emiten Projogo Pangestu Masih Merajai Bursa
Minyak Dunia Naik, Subsidi BBM Aman
Kredit untuk Anak Usaha ENRG
WSKT Berharap Bisa Meraup Kontrak
POTENSI MIGAS : Menanti KelanjutanTemuan di Bekasi
PT Pertamina Hulu Energi menargetkan untuk melakukan pengeboran sumur kedua di Tambun Field untuk memastikan cadangan hidrokarbon yang ditemukan sebelumnya layak untuk dilanjutkan ke dalam proses bisnis selanjutnya.Direktur Eksplorasi Pertamina Hulu Energi Muharram Jaya Panguriseng mengatakan, hingga kini sub-holding upstream PT Pertamina (Persero) itu terus melakukan evaluasi terhadap temuan yang sempat membuat ramai, karena terletak di wilayah yang dekat dengan Jabodetabek.“Temuan di Bekasi kami akan upayakan untuk mempercepat proses bisnis berikutnya. Sedang dievaluasi apakah langsung di PSE [penentuan status eksplorasi] atau menambah [pengeboran] satu sumur lagi,” katanya dalam Media Gathering di Mandalika, Nusa Tenggara Barat, Selasa (6/2).
Meski begitu, Muharram meyakini bahwa penemuan migas di wilayah Bekasi tersebut cukup ekonomis untuk digarap. Bahkan, kawasan tersebut diproyeksi memiliki potensi yang lebih besar.“Itu [temuan] minyak dan gas di sana sekitar 43 juta barel minyak ekuivalen atau MMBOE, dominan minyak, tapi ada gasnya. Itu yang bisa diproduksi [43 juta MMBOE], tapi bisa lebih besar,” ujarnya.
Pengeboran sumur eksplorasi East Pondok Aren (EPN)-001 ditajak pada 18 Agustus 2023 menyasar target reservoir carbonate formasi lower Cibulakan, dan berhasil mengalirkan minyak dan gas pada DST kedua dengan rate minyak 402 barel minyak per hari (BOPD), dan 1,09 MMscfd) gas.
INDUSTRI PENGOLAHAN NONMIGAS : PERINGATAN DINI MANUFAKTUR NASIONAL
Performa kuat indeks manufaktur nasional selama lebih dari 20 bulan tidak serta-merta menjamin pertumbuhan industri pengolahan nonmigas domestik terus berada di jalur positif, seperti yang ditargetkan oleh pemerintah. Kinerja pertumbuhan industri pengolahan nonmigas sepanjang 2023 tercatat melambat dibandingkan dengan 2022, yakni menjadi 4,69% secara tahunan (year-on-year/YoY) dari sebelumnya 5,01% YoY. Capaian tersebut pun tidak dapat memenuhi target Kementerian Perindustrian yang mematok pertumbuhan industri pengolahan nonmigas sepanjang tahun lalu sebesar 4,81% YoY. Meski begitu, angka 4,69% YoY masih lebih baik ketimbang capaian pada 2021 ketika hantaman pandemi Covid-19 masih terasa sangat keras, yakni sebesar 3,67% Yo Y. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan industri pengolahan non-migas mencapai 4,69% pada 2023, ditopang oleh industri logam dasar yang naik 14,17%, dan industri barang galian bukan logam terapresiasi 14,11%. Selanjutnya, industri barang logam, komputer, barang elektronik, optik dan peralatan listrik tumbuh 13,67%; industri alat angkutan naik 7,63%; serta industri pengolahan tembakau bergerak positif 4,8%. Sementara itu, subsektor industri pengolahan nonmigas yang mengalami kontraksi pertumbuhan pada 2023 adalah industri karet, barang dari karet dan plastik yang melemah 3,63%; industri pengolahan lainnya minus 2,1%; industri furnitur turun 2,04%; industri tekstil dan pakaian jadi terperosok 1,98%; serta industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki bergerak negatif 0,34%.
Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri Kementerian Perindustrian Andi Rizaldi mengatakan bahwa masih ada berbagai tantangan internal dan eksternal yang mengadang kontribusi manufaktur terhadap perekonomian nasional.
Andi menjelaskan bahwa faktor konsumsi dari rumah tangga maupun pemerintah melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tampak mengalami pelemahan. Di sisi lain, faktor impor, ekspor, dan kinerja investasi juga memengaruhi produktivitas industri pengolahan, sehingga menurunkan kontribusi manufaktur terhadap PDB nasional.
Kementerian Perindustrian memang menargetkan pertumbuhan kinerja industri pengolahan atau manufaktur sebesar 5,80% pada tahun ini. Industri logam, mesin, alat transportasi, dan elektronika bakal menjadi sektor yang diandalkan untuk mendorong pertumbuhan tersebut.
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W. Kamdani mengatakan bahwa pertumbuhan industri manufaktur berada di bawah tingkat pertumbuhan PDB nasional dalam lebih dari 10 tahun ke belakang.
Gejala deindustrialisasi dini juga dapat dilihat dari berbagai faktor, salah satunya kontribusi manufaktur terhadap PDB nasional yang terus tergerus dalam 1 dekade terakhir.
Kekhawatiran yang sama disampaikan oleh Direktur Center for Economic and Law Studies Bhima Yudhistira yang mengatakan, proporsi manufaktur terhadap PDB masih kendur dibandingkan dengan 5 tahun lalu.
Atur Strategi Investasi
Para investor pasar modal mulai mengatur ulang belanja investasi memasuki musim laporan keuangan kinerja tahun lalu. Emiten berkinerja bagus dan rajin membagi dividen menjadi incaran para pemilik dana.Utak-atik portofolio saham dan instrumen investasi lainnya dilakukan sebagai upaya meminimalisir kerugian dan diharapkan mendatangkan keuntungan. Untuk itu, laporan keuangan emiten menjadi acuan dalam menentukan rencana investasi.Dari laporan ke Bursa Efek Indonesia, sejumlah emiten bank terlihat sudah menyampaikan kinerja keuangan dan hampir sebagian besar mencatatkan kinerja positif. Sebagai salah satu emiten paling rajin membagi keuntungan kepada investornya, beberapa saham bank pun merangkak naik dalam pekan ini.Sebut saja saham Bank Mandiri (BMRI) naik Rp175 dari Rp6.675 pada 31 Januari menjadi Rp6.850 pada 6 Februari. Kenaikan serupa juga dialami oleh saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI), naik dari Rp5.725 menjadi Rp5.825.Di lantai Bursa, IDX High Dividend 20 pada Senin (5/2) bergerak di teritori hijau sepanjang tahun berjalan 2024 dengan mencetak return 1,91%. Performa itu mengungguli kenaikan indeks bergengsi LQ45 dan IDX30 yang masing-masing naik tipis 0,51% dan 0,01% secara year-to-date (YtD).
Prospek IDX High Dividend 20 diyakini makin berwarna setelah rebalancing konstituen yang berlaku efektif mulai 5 Februari 2024 hingga 4 Februari 2025. Saham BRPT, ICBP, INKP, KLBF, SMGR, TPIA dan UNVR resmi masuk dalam IDX High Dividend 20 untuk menggantikan posisi BJBR, BJTM, BNGA, BSSR, HEXA, HMSP, dan MPMX.Aksi buru dividen para investor pun turut membuat indeks harga saham gabungan (IHSG) bergerak menguat.
Aksi bagi dividen dan laporan positif dari emiten diharapkan dapat menopang kinerja indeks di tengah langkah menunggu pemodal karena menjelang pemilihan presiden dan wakil presiden pada 14 Februari. Kestabilan pelaksanaan pemilihan umum sampai dengan pelantikan presiden baru menjadi tantangan gerak IHSG.
Kita tentu berharap indeks akan terus melaju sehingga para pemodal dapat menikmati keuntungan dari investasi yang ditanamkannya.
RAMUAN CUAN NAGA KAYU
Tahun baru Imlek 2575 yang jatuh pada 10 Februari 2024 menandai lembaran awal tahun bershio Naga Kayu. Meski diwarnai ketidakpastian dan gejolak, ramuan investasi yang fokus pada saham emiten dengan elemen api dan logam diramal bakal membawa cuan.Dari kacamata pakar fengsui, tahun Naga identik dengan berbagai ketidakpastaian dan gejolak. Pakar Fengsui Suhu Hong Xiang Yi menjelaskan tahun Naga menjadi momentum yang baik untuk berspekulasi. "Jadi, artinya yang penting adalah investor harus mengamati dengan baik dan bisa menangkap kesempatan dengan baik," ujar Xiang Yi saat berbincang dengan Bisnis, Selasa, (6/2). Secara sektoral, Xiang Yi memperkirakan saham yang terkait dengan elemen api akan menguat pada tahun Naga Kayu 2024. Selain itu, saham emiten di bidang usaha berelemen logam juga diproyeksi mengilap. Sebaliknya, Xiang Yi menilai saham emiten berelemen air seperti sektor transportasi, logistik, perkapalan, dan penerbangan kurang moncer pada tahun ini. Adapun, elemen kayu dan tanah yang meliputi emiten sektor kertas dan properti diprediksi relatif landai pertumbuhannya.
Setali tiga uang, Ahli Fengsui Master Ken Koh dalam riset yang dirilis oleh Maybank Investment Banking Group, juga mengungkapkan hal yang relatif sama. Menurutnya, gejolak konflik di Timur Tengah yang berdampak ke pasar diprediksi akan mereda dan berganti dengan potensi pemulihan ekonomi.
Dengan pendekatan fengsui, Ken Koh memperkirakan saham-saham di sektor emas, perbankan, pertambangan, dan otomotif, yang memiliki elemen logam, akan mendapat angin positif dan berpotensi mencetak cuan. Selanjutnya, saham emiten dengan elemen api di sektor teknologi, farmasi, hingga media juga dinilai moncer pada Tahun Naga Kayu. Prospek yang lebih baik juga disebut bakal menghampiri saham-saham di elemen tanah seperti properti.
Pendapat dua pakar fengsui itu diamini oleh Pengamat Pasar Modal sekaligus Co Founder Pasardana Hans Kwee. Dia menilai pasar saham dan reksa dana akan sangat fl uktuatif pada tahun Naga Kayu. Menurutnya, investor perlu mengatur waktu yang tepat untuk masuk ke tiap instrumen investasi tersebut.
Di sektor teknologi dan media, Hans merekomendasikan investor untuk mencermati saham GOTO, SCMA, BMTR, dan MNCN. Sementara itu, saham BSDE, DMAS, dan CTRA dinilai menarik untuk dilirik investor pada tahun Naga Kayu. "Sektor emas bisa pilih saham AMMN, MDKA, ANTM, UNTR, sedangkan perbankan ada BMRI, BBRI, BBNI, dan BBCA," katanya. Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menambahkan pendekatan investor dalam menentukan saham pilihan perlu diperkaya dengan analisis fundamental, tata kelola perusahaan, laporan keuangan, analisis teknikal dan likuiditas perdagangan.









