Bursa Tetap Tenang di Pekan Pencoblosan
Pemerintah Baru Diwarisi Utang Jumbo Era Jokowi
Proyek IKN Pengaruhi Ekonomi Kalimantan
Merger GOTO Grab Berhembus Lagi
Vale Indonesia Cetak Laba US$ 274,33 Juta
PENANAMAN MODAL : INVESTOR RESOR & PERHOTELAN BIDIK PULAU DEWATA
Investasi resor dan perhotelan sebagai penunjang pariwisata Bali masih menjadi pemikat utama para pemilik modal baik asing maupun dalam negeri. Namun demikian, langkah pengendalian perlu dilakukan guna menekan laju alih fungsi lahan. Laju investasi di Provinsi Bali memang telah kembali bergeliat setelah sektor pariwisata pulih dengan masuknya wisatawan mancanegara dan nusantara. Kondisi ini memberikan efek positif bagi perekonomian wilayah ini yang mulai tumbuh, dan bahkan mampu menembus level 5,71% pada tahun lalu.Pulihnya sektor pariwisata juga memacu investasi di sektor akomodasi penunjang pariwisata seperti pembangunan hotel, vila hingga pusat perbelanjaan baru di sejumlah destinasi. Kencangnya laju investasi akomodasi ini tersebut tergambar dari penyaluran pembiayaan yang dikucurkan perbankan. Pasalnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa penyaluran kredit di wilayah ini pada 2023 mencapai Rp92,26 triliun atau tumbuh 6,27% secara tahunan (year-on-year/YoY), yang salah satunya didorong oleh tumbuhnya pembiayaan di sektor investasi.
Kepala OJK Provinsi Bali Kristrianti Puji Rahayu menjelaskan bahwa pertumbuhan penyaluran kredit secara tahunan ini selaras dengan meningkatnya aktivitas pariwisata serta sektor pendukung pariwisata di Bali. Dari pantauan Bisnis, sepanjang tahun lalu setidaknya lebih dari lima hotel berbintang baru yang muncul, yang salah satunya dibangun oleh salah satu konglomerat nasional. Bahkan pada 2022, Smitch Travel Research memperkirakan akan ada tambahahan kamar hotel baru sebanyak 7.522 kamar pada periode 2022—2023.Senada, Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Bali G.A Diah Utari menjelaskan bahwa dari sisi pengeluaran produk domestik regional bruto (PDRB), berlanjutnya pertumbuhan ekonomi wilayah ini bersumber dari terjaganya investasi didorong oleh peningkatan investasi bangunan untuk fasilitas penunjang pariwisata seperti hotel, vila, hingga restoran. KPw BI Bali mencatat bahwa investasi memberikan porsi hingga 29,28% terhadap ekonomi Bali. Hanya saja, investasi akomodasi bagaikan buah simalakama bagi Provinsi Bali.
Di satu sisi investasi akomodasi merupakan prospek yang paling menjanjikan. Akan tetapi hal tersebut terlihat kontraproduktif terhadap upaya Bali menahan laju alih fungsi lahan yang masif sebagai dampak dari pembangunan akomodasi.Bahkan, kondisi tersebut juga diakui oleh Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Bali I Wayan Wiasthana Ika Putra. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali juga telah berupaya melakukan diversifi kasi motor perekonomian melalui transformasi ekonomi Bali yang mendorong peranan tumbuhnya sektor primer seperti pertanian, perikanan hingga sektor sekunder seperti industri kecil dan menengah. Dalam upaya diversifi kasi ekonomi, Pemprov Bali berupaya memperkuat sektor primer dan sekunder dengan melakukan modernisasi pertanian, kelautan dan perikanan; penguatan industri pengolahan; penguatan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM); serta pengembangan ekonomi kreatif.
Namun demikian, masifnya investasi fasilitas pariwisata di Bali juga tidak lepas dari kebijakan pemerintah pusat yang menjadikan kawasan Bali selatan atau kawasan Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan (Sarbagita) sebagai pusat kegiatan nasional sekaligus sebagai kawasan strategis nasional. Kebijakan ini dipandang turut memantik kencangnya laju investasi akomodasi di selatan Bali. Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Provinsi Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati mengungkapkan bahwa pembangunan akomodasi di Bali perlu dikendalikan, jika tidak memungkinkan untuk di moratorium lantaran investasinya memang masih terbuka.
Langkah ini, imbuhnya, perlu upaya tersebut perlu sinergi antara pemerintah dan pihak asosiasi hotel di Pulau Dewata. Tjok Ace, sapaan akrabnya, menyebut bahwa saat ini jumlah kamar hotel di Bali sekitar 150.000 kamar. Akan tetapi, tidak semua hotel berada di bawah PHRI.
Tjok Ace memandang bahwa kurang terkendalinya pembangunan akomodasi di Bali tidak lepas dari dampak implementasi perizinan berbasis one single submission (OSS) yang masih memiliki kelemahan yang belum mencantumkan secara detail soal ketentuan arsitektur khas Bali.
Menimang Potensi Muka Baru LQ45
Inilah Bank Pemberi Cuan Paling Tinggi ke Investor
PERTARUHAN TRANSISI PEMERINTAHAN
Pesta demokrasi lima tahunan akan berlangsung pada Rabu, 14 Februari 2024. Momentum politik yang akan menandai babak baru pemerintahan Indonesia dalam kurun 5 tahun mendatang. Selama periode 10 tahun pemerintahan yang dipimpin oleh Presiden Joko Widodo, banyak agenda pembangunan yang tercapai. Namun, banyak pula program yang telah disusun dan dijanjikan, meleset dari target. Dengan sisa masa bakti sekitar 8 bulan lagi, Presiden Jokowi dan kabinetnya harus tetap fokus mengawal program-program pembangunan.
INOVASI BISNIS, Bahagia Itu Mahal
Singapura mengadakan konser Coldplay selama enam hari. Mereka
juga mengundang Taylor Swift untuk berkonser dengan jumlah hari yang sama.
Bruno Mars bakal tampil tiga hari di negara itu. Ekonomi konser dan acara lain
tumbuh luar biasa pascapandemi. Bisnis konser, olahraga, nonton film, dan lain-lain
menggerakkan ekonomi baru ini. Kini, ekonomi tak lagi digerakkan dengan
kepemilikan barang. Di satu sisi, semakin banyak orang yang tertarik mengeluarkan
uang untuk mendapatkan pengalaman langsung ketimbang kepemilikan barang-barang
mewah. Penjualan beberapa produk
tak lagi melonjak karena rasa memiliki barang sudah mulai berkurang di kalangan
konsumen usia muda. Akan tetapi, kita akan menemukan banyak orang mendatangi
tempat konser dan juga acara-acara olahraga. Mereka mulai menggeser pengeluaran
ke acara yang bisa dinikmati sebagai pengalaman langsung.
Anak-anak muda memilih menabung, menunda membeli barang
kebutuhan, dan tak sedikit meminjam uang untuk menonton berbagai pertunjukan. Mereka
tak hanya dari keluarga kaya, tetapi juga dari keluarga kebanyakan yang ketika
mengetahui ada acara yang diincar, berusaha mendapatkan uang
dengan berbagai cara agar bisa mendatangi acara itu. Kalangan ekonom
menyebutnya sebagai funflation. Kenaikan harga akibat permintaan aktivitas
untuk bersenang-senang yang meningkat. Istilah ekonomi terbaru yang beredar ini
mengacu pada tren konsumen lebih cenderung mengeluarkan uang untuk pengalaman
yang menyenangkan dibandingkan dengan produk yang biasanya dibeli untuk digunakan
di rumah, seperti televisi dan komputer. Kita juga bisa melihat fenomena ini di
Indonesia. Acara lari maraton laris manis. Penjualan tiket bisa ludes hanya dalam
waktu kurang dari satu jam. Berbagai perusahaan telah merasakan dampak ekonomi
dari acara-acara yang diadakan. Mereka juga melakukan riset untuk memastikan
besaran dampak ekonomi dari berbagai acara itu.
Laporan Business Insider menyebutkan, Bank of America
baru-baru ini merilis laporan penelitian yang menunjukkan bahwa Eras Tour milik
Taylor Swift memiliki dampak ekonomi yang serupa dengan kompetisi sepak bola AS,
Super Bowl, di kota-kota yang dikunjungi, seperti Pittsburgh, di mana rata-rata
pengeluaran rumah tangga untuk makan di restoran meningkat 77 USD selama bulan
konser Taylor Swift. Di Philadelphia, pendapatan hotel disana mencapai angka
tertinggi sejak pandemi pada Mei 2023 ketika dia tampil dalam tiga pertunjukan.
Mastercard juga merilis laporan serupa, dengan menggunakan frasa ”The Swift
Lift” yang menggambarkan peningkatan penjualan ke bisnis local yang dibawakan
Taylor Swift dengan penampilan tour miliknya. Studi tersebut menunjukkan bahwa dalam
radius 2,5 mil (4 km) dari stadion di kota-kota yang dikunjungi Taylor Swift,
pertumbuhan belanja di restoran meningkat 68 % per hari dan pertumbuhan belanja
di akomodasi meningkat 47 %. (Yoga)









