Aliran Pembiayaan Sektor Batubara Masih Panas
PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA ATAP : KEANDALAN SISTEM PLN DIUJI
Pemerintah memerintahkan PT PLN (Persero) untuk meningkatkan fleksibilitas sistem dan subsistem kelistrikannya untuk mengantisipasi masuknya tenaga listrik dari pembangkit listrik tenaga surya atau PLTS atap.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengaku sedang mengkaji keandalan sistem dan subsistem PLN untuk memastikan listrik dari PLTS atap yang bersifat intermiten tidak mengganggu jaringan kelistrikan yang sudah ada. Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Jisman P. Hutajulu mengatakan, pemerintah berupaya agar persoalan intermiten dari pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan (EBT), termasuk PLTS atap bisa diselesaikan. Caranya, bisa dengan menggabungkan listrik dari PLTS atap dengan pembangkit listrik berbasis EBT lainnya, sehingga bisa saling melengkapi.
Padahal, PLTS atap diharapkan dapat mengerek produksi modul surya dalam negeri. Dengan target 1 GW PLTS atap yang terhubung jaringan PLN, dan 0,5 GW dari non-PLN setiap tahun, dan asumsi kapasitas 1 modul surya 450 Wp, maka diperlukan produksi sekitar 3,3 juta panel surya.
Sementara itu, Direktur Retail dan Niaga PLN Edi Srimulyati mengatakan bahwa perseroan saat ini masih mematangkan kajian ihwal sifat intermiten dari PLTS mendatang pada sistem dan subsistem perseroan.
PLN pun tengah memetakan beban puncak siang dan kebutuhan pembangkitan minimum pada sistem milik perusahaan. Selain itu, perseroan turut mengkaji perencanaan pengembangan pembangkit listrik yang telah ada dalam RUPTL 2021—2030.
PLN, kata dia, bakal menyampaikan kuota pemasangan PLTS atap sesuai dengan amanat Peraturan Menteri ESDM No. 2/2024. Setelah usulan kuota diterima, maka PLN bakal melakukan clustering terkait dengan kuota pemasangannya. Clustering itu bakal dibuat 10 hari setelah penetapan kuota disetujui oleh Kementerian ESDM. “Setelah ada penetapan, maka kami akan hitung per klaster. Setiap klasternya itu per-UP3 selevel kotamadya atau kabupaten,” jelasnya. Adapun, Institute for Essential Services Reform (IESR) menyayangkan revisi peraturan Menteri ESDM terkait dengan pemanfaatan PLTS atap yang cenderung berpihak kepada kepentingan PLN.
Tanpa net-metering, kata Fabby, biaya investasi per satuan kilowatt-peak bakal menjadi tinggi. Konsekuensinya, keekonomian sistem PLTS atap khususnya pada sektor rumah tangga dan bisnis kecil menjadi tidak menguntungkan.
Industri yang memiliki kebutuhan listrik lebih stabil pada siang dan malam hari menjadi incaran baru, karena dinilai cocok dengan sifat PLTS atap dan skema baru dalam Permen ESDM No. 2/2024. Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Dadan Kusdiana mengakui bahwa Peraturan Menteri ESDM No. 2/2024 membuat pengembangan salah satu fasilitas produksi listrik bersih itu menjadi kurang menarik bagi rumah tangga.
“Memang PLTS atap agak sulit untuk rumah tangga, karena tidak ada ekspor-impor listrik, dan tidak ada titip [listrik]. Kalau dulu bisa dititipkan di PLN, lalu dipakai malam. Rumah tinggal itu menggunakan listriknya malam, sedangkan matahari adanya siang. Ini kurang match di situ, kecuali jika menggunakan baterai untuk menyimpan listrik,” katanya beberapa waktu lalu.Untuk mengompensasi kehilangan potensi dari rumah tangga, pemerintah bakal mendorong pemanfaatan PLTS atap untuk sektor industri, mengingat konsumsi listrik industri relatif stabil. Selain itu, langkah itu dinilai cocok untuk mengejar target pemasangan PLTS atap sebesar 3,6 gigawatt (GW) pada 2025.
Bea Masuk Netflix Cs Ditunda Hingga 2026
Ekonomi Indonesia Masih Akan Terjebak di Level 5%
Inilah Jejaring Bisnis Keluarga Calon Presiden
Australia Luncurkan Investasi Rp 20,4 Triliun bagi Asia Tenggara
Pemerintah Australia meluncurkan pendanaan investasi senilai
2 miliar dollar Australia atau Rp 20,4 triliun untuk meningkatkan investasi di Asia
Tenggara. Pendanaan itu merupakan bagian dari serangkaian inisiatif ekonomi yang
diumumkan pada KTT Khusus ASEAN-Australia 2024 di Melbourne, Australia, Selasa (5/3).
”Pemerintahan yang saya pimpin telah mengambil keputusan yang jelas. Melebihi kawasan
lain, Asia Tenggara adalah masa depan Australia,” kata PM Australia Anthony
Albanese pada Forum 100 CEO Australia dan Asia Tenggara. Australia terus
memperluas hubungan ekonomi dengan beragam mitra dagang selain mitra dagang
utama mereka, China. Langkah itu diambil menyusul berbagai perselisihan dengan
Beijing. Kawasan ASEAN, dengan pertumbuhan penduduk yang cepat, dipandang
sebagai kekuatan ekonomi yang terus berkembang. Dengan banyaknya cadangan
mineral penting dan kebutuhan tinggi pada listrik, Asia Tenggara bakal memegang
peran utama dalam upaya global mendorong penggunaan energi bersih.
”Dengan senang saya mengumumkan keputusan kami untuk
mendirikan Fasilitas Pembiayaan Investasi Asia Tenggara senilai 2 miliar dollar
(Australia), yang dikelola oleh Pembiayaan Ekspor Australia,” lanjutnya. Menurut
Albanese, pendanaan ini menunjukkan nilai tambah yang dapat diberikan Australia
kepada ASEAN. Pembiayaan ini dimaksudkan untuk meningkatkan perdagangan dan
investasi Australia di Asia Tenggara, terutama untuk transisi energi ramah
lingkungan dan pembangunan infrastruktur. Program pendanaan tersebut kelanjutan
dari bantuan teknis infrastruktur untuk ASEAN, khususnya Program Kemitraan
untuk Infrastruktur. Dalam program itu, Australia memberikan tambahan dana 140
juta dollar Australia. Pendanaan tersebut dimulai tahun 2021, untuk mendukung
upaya ASEAN meningkatkan pembangunan infrastruktur. Beberapa infrastruktur yang
telah dibangun dengan dana tersebut, meliputi jalan raya, infrastruktur
transisi energi ramah lingkungan, dan telekomunikasi. (Yoga)
Menahan Pertambahan Petani Gurem
Nasib petani di negeri ini tampaknya tidak pernah enak, ibarat
roti tumpuk yang ditekan dari berbagai sisi. Padahal, sebagai negara agraris,
sektor pertanian menjadi penopang ekonomi nasional yang cukup penting. Kontribusinya
terhadap kue perekonomian Indonesia cukup besar, kedua setelah industri
pengolahan. Sebagian besar penduduk Indonesia masih menggantungkan hidupnya di sektor
pertanian. BPS mencatat, dari jumlah penduduk bekerja di Indonesia yang
mencapai 139,85 juta orang pada Agustus 2023, sebanyak 28,21 % bekerja di
sektor pertanian, lebih tinggi dibandingkan penyerapan pekerja di sektor perdagangan
(18,99 %) dan industri (13,83 %). Namun, kesejahteraan petani hingga kini masih
jauh dari yang diharapkan. Rata-rata pendapatan bersih mereka yang memiliki
usaha pertanian Rp 1,59 juta per bulan pada Agustus 2023. Sedang upah buruh di sektor
pertanian Rp 2,37 juta per bulan, terendah kedua setelah sektor jasa lain dan
berada di bawah rata-rata nasional yang mencapai Rp 3,18 juta per bulan.
Nominal upah buruh tani sebenarnya meningkat. Namun, upah riil
yang diterima, setelah disesuaikan dengan tingkat konsumsi petani, justru kian turun.
Disparitas upah nominal dan upah riil mendorong lebih banyak buruh tani ke
dalam kemiskinan. Petani gurem BPS dalam survei pertanian antar sensus tahun
2023 mengklasifikasi delapan jenis rumah tangga usaha pertanian (RTUP) berdasar
luas lahan yang dimiliki petani. Dimulai dengan kepemilikan lahan kurang dari
0,50 hektar hingga lebih dari 10 hektar. Petani gurem, yaitu petani yang
menguasai lahan, baik milik, sewa, maupun bagi hasil, kurang dari 0,5 hektar,
merupakan yang terbanyak jumlahnya. Dalam enam dekade terakhir, jumlah petani
gurem meningkat dari 5,3 juta rumah tangga tahun 1963 menjadi 14,25 juta tahun
2003 dan terakhir 17,24 juta pada 2023. Persentase RTUP gurem terhadap total
RTUP pengguna lahan di Indonesia meningkat dari 55,33 % pada 2013 menjadi 60,84
% pada 2023. Di Pulau Jawa, persentase petani gurem paling besar di DI
Yogyakarta (87,75 %).
Terus terperangkapnya petani gurem dalam kemiskinan menjadi
potret terus dianaktirikannya sektor yang menjadi tumpuan 40 % angkatan kerja
nasional ini. Keberpihakan negara menjadi salah satu kunci meningkatkan taraf
hidup dan kesejahteraan petani. Dengan pertumbuhan jumlah petani gurem, program
pertanian yang seharusnya dikembangkan, menurut BPS, tidak lagi berkaitan dengan
penambahan lahan, tetapi lebih pada peningkatan produktivitas petani. Mereka
juga perlu diberikan subsidi, mulai dari bantuan pupuk, benih, hingga pembangunan
infrastruktur untuk kelancaran pengolahan lahan serta berbagai subsidi lain
yang mengangkat kehidupan mereka ke tingkat yang lebih tinggi. Kebijakan yang
mendukung peningkatan kelayakan hidup petani juga mutlak diberikan agar
pertanian tetap menjadi pekerjaan menarik di masa depan, khususnya bagi
generasi muda. Perlindungan terhadap petani dari produk impor, permainan tengkulak,
serta ketertinggalan teknologi juga perlu dilakukan. (Yoga)
China Pasang Target Ambisius 5 Persen
China menetapkan target pertumbuhan 5 % untuk 2024. Di tengah
kondisi ekonomi China yang lesu, target ini terbilang ambisius. Presiden China
Xi Jinping dan pemerintahannya menyadari hal ini. Kini, tantangan China adalah menemukan
jalan baru untuk memulihkan perekonomian. Salah satunya, membangun industri
yang penting bagi daya saing masa depan, antara lain kecerdasan buatan hingga eksplorasi
ruang angkasa. China juga menawarkan pembukaan akses ke sektor manufaktur dan
beberapa macam jasa untuk membendung mundurnya investor asing. Pesannya jelas,
China ingin swasembada dan terbuka untuk bisnis selama hal itu sesuai dengan keinginan
mereka.
Perdana Menteri China Li Qiang mengumumkan target pertumbuhan
ekonomi itu dalam Kongres Rakyat Nasional (NPC) tahunan China yang dimulai
Selasa (5/3) di Beijing. Ia juga memaparkan keseluruhan anggaran dan kebijakan
utama pemerintah untuk 2024. ”Fondasi bagi pemulihan dan pertumbuhan ekonomi
China yang berkelanjutan tidak cukup kokoh. Upaya mencapai target tahun ini
tidak akan mudah,” kata Li kepada ribuan delegasi dan anggota Partai Komunis China
(PKC). Agenda itu dinilai penting bagi para pemimpin untuk mengomunikasikan
kebijakan yang menjadi prioritas kepada rakyat. Li menjanjikan pemerintah akan
mengubah model pembangunan China dan mengurangi risiko yang dipicu pengembang properti
yang bangkrut dan kota-kota yang terlilit utang. Target pertumbuhan 5 % itu mempertimbangkan
kebutuhan untuk meningkatkan lapangan pekerjaan dan pendapatan serta mencegah
atau mengurangi risiko.
Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan pertumbuhan
China pada 2024 sebesar 4,6 % dan turun menuju 3,5 % pada 2028. Pertumbuhan
yang tidak merata tahun lalu menunjukkan ketidakseimbangan struktural yang
mendalam di China. Ini terlihat dari lemahnya konsumsi rumah tangga hingga
semakin rendahnya tingkat pengembalian investasi. Karena itulah, China perlu
model pertumbuhan baru. China mengawali tahun ini dengan kemerosotan pasar saham
dan deflasi pada tingkat yang belum pernah terjadi sejak krisis keuangan global
pada 2008-2009. Krisis properti dan permasalahan utang pemerintah daerah terus
berlanjut. Jika pemerintah tidak ber- gerak cepat, para ahli khawatir keajaiban
ekonomi China akan memudar dengan cepat. Pemerintah didesak melakukan reformasi
propasar dan meningkatkan pendapatan penduduk. (Yoga)
Menjinakkan Inflasi Pangan
Lonjakan harga pangan tak hanya membuat target inflasi 2024
sebesar 1,5-3,5 persen semakin berat, tetapi juga merampok daya beli kelompok
miskin dan menengah. Inflasi pangan yang bersumber dari komponen harga pangan bergejolak
(volatile food) menjadi penyumbang terbesar angka inflasi nasional beberapa
tahun terakhir. Kenaikan inflasi pangan 3-4 tahun terakhir bahkan melampaui
rata-rata kenaikan upah minimum regional (UMR) dan gaji ASN (Kompas, 4/3/2024).
Ini menggambarkan betapa kenaikan harga pangan menggerus kesejahteraan masyarakat
bawah dan menengah. Bahkan, kenaikan UMR dan gaji ASN tak mampu mengejar laju
kenaikan harga pangan. Beras, menurut BPS, adalah komoditas penyumbang terbesar
garis kemiskinan, baik di perkotaan maupun perdesaan. Sekitar 60-75 %
pengeluaran penduduk miskin kita adalah untuk pangan.
Akibatnya, kenaikan harga beras yang diikuti pangan lain akan
langsung memukul daya beli mereka. Lonjakan harga beras dipastikan juga tak
dinikmati petani kita yang sebagian besar petani gurem dan konsumen neto beras.
Apalagi dengan kian dekatnya Ramadhan dan Lebaran, yang biasanya ditandai
dengan kenaikan harga kebutuhan pokok. Sejauh ini, operasi pasar, kucuran
bansos, dan berbagai kebijakan lain belum mampu menjinakkan harga beras yang
sudah naik di atas 20 % dari tahun lalu. Antrean warga yang memburu beras murah
masih terjadi di sejumlah daerah. Kemelut beras selama ini menunjukkan ada masalah
dalam tata kelola pangan kita. Produksi dan produktivitas terus menurun di
tengah meningkatnya konsumsi.
Kita juga masih terus berkutat dengan problem terkait pupuk, benih,
alih fungsi lahan, dan lain-lain, yang tak kunjung selesai. Perum Bulog sering
kedodoran dalam stabilisasi. Berbagai instrumen pengendalian harga juga tak
sepenuhnya efektif. Belum lagi dampak perubahan iklim dan geopolitik global.
Pemerintah gagap mengantisipasi semua itu. Dalam jangka pendek, operasi pasar
dan penyaluran bansos secara agresif, yang mau tak mau harus ditopang impor
karena Perum Bulog kedodoran dalam mengamankan stok cadangan beras pemerintah yang
bisa diharapkan meredam lonjakan harga. Namun, dalam jangka panjang, tak ada
pilihan lain kecuali membenahi tata kelola pangan dari hulu hingga hilir,
khususnya produksi, produktivitas, dan distribusi, selain juga intervensi di
konsumsi (termasuk melalui diversifikasi pangan). (Yoga)
Jangan Tersandung di Negeri Sendiri
Dalam laporan Statistik Ekonomi Kreatif 2020 yang dirilis
Kemenparekraf disebutkan, sektor ekonomi kreatif (ekraf) mampu menyerap sekitar
19,2 juta tenaga kerja, setara 15,2 % tenaga kerja nasional. Perputaran ekonominya
terlihat dari kontribusi terhadap PDB yang mencapai Rp 1.153,4 triliun. Dalam
neraca ekspor nasional, kontribusi ekraf terhadap ekspor nasional sebesar 19,6
juta USD atau 11,9 % pada 2019. Sejak 2011, nilainya berfluktuasi pada kisaran
15,6 juta USD hingga 20,3 juta USD dengan besaran tertinggi pada 2018. Meski
berkontribusi besar, sektor ini dinilai belum cukup mendapat perhatian
pemerintah. Sebagai gambaran, anggaran definitif Kemenparekraf pada 2024 hanya
Rp 3,53 triliun, jauh lebih kecil dari sejumlah kementerian lainnya. Total alokasi
belanja kementerian/lembaga sebesar Rp 1.090,8 triliun. Padahal, efek pengganda
pada sektor ekraf terhitung besar.
Pendiri sekaligus CEO Naruna Ceramic Roy Wibisono, saat
dihubungi dari Jakarta, Selasa (5/3) menilai, potensi ekraf dengan perputaran ekonominya
tergolong besar. Naruna merasakan permintaan keramik di pasar begitu tinggi.
Kala pandemi Covid-19, Naruna yang memasok alat-alat makan buatan tangan justru
tumbuh pesat. Harga per barang dijual mulai Rp 70.000 hingga Rp 500.000. Naruna
bahkan berhasil mengekspor barang-barang keramiknya ke 16 negara, mulai dari
Singapura hingga AS. Selain desain yang unik, metode pemasaran juga menjadi
perhatian. Roy menggunakan beragam jalur penjualan, secara perorangan, melalui
pengecer (reseller), dan penjualan barang dari penyuplai ke konsumen
(dropshipper). ”Naruna itu memang riil ekraf. Bagaimana membuat sesuatu yang
biasa dengan sentuhan kreativitas sehingga harganya bisa jauh lebih kuat,” kata
Roy.
Di balik beragam potensinya, para pelaku usaha ekraf masih
bergulat dengan sejumlah hambatan. Salah satunya birokrasi yang berbelit menyulitkan
proses ekspor, yang menunjukkan minimnya keberpihakan pemerintah terhadap para
pelaku ekraf. Roy mengatakan, sertifikasi di dalam negeri juga jadi ”bumerang”
bagi keberlangsungan usaha ekraf. Banyak auditor negara lain membuat penilaian
menyesuaikan standar Indonesia, yang menyebabkan barang ditolak karena tak memenuhi
detail persyaratan standar dalam negeri ketimbang ketentuan negara calon
importir. ”Banyak sekali perizinan itu yang membuat industri di Indonesia tak
bisa bergerak dengan bebas. Saya pernah melihat perizinan untuk suatu industri
hampir 50 (unsur), seperti limbah, kebisingan, dan lain-lain. Itu semua ada masanya,
ada perpanjangan yang butuh duit juga,” kata Roy. (Yoga)









