Ekonomi
( 40733 )Kerja Sama Pengelolaan Gas Metana dengan Investor China, Dijajaki Pemkab Sidoarjo
Pemkab Sidoarjo, Jatim, sedang menjajaki kerja sama pengelolaan gas metana dengan investor dari China. Gas yang dihasilkan dari timbulan sampah rumah tangga di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Griyo Mulyo, Jabon, itu diharapkan bisa dikelola secara optimal sehingga memiliki nilai ekonomi. Kadis Lingkungan Hidup dan Kebersihan (LHK) Sidoarjo, Bahrul Amig mengatakan telah bertemu China Water Industry (CWI) beberapa hari lalu, membahas pemanfaatan gas metana sebagai energi ramah lingkungan. ”Pertemuan dengan investor dari China ini baru tahap awal. Harapannya segera ada tindak lanjut seperti studi kelayakan untuk mengetahui berapa besar potensi gas metana yang dihasilkan TPA Griyo Mulyo ini,” ujar Amig, Jumat (7/3).
Dalam pertemuan itu, CWI mempresentasikan pengelolaan gas metana yang dihasilkan dari pemrosesan sampah berbasis sanitary landfill. Gas yang dihasilkan dari proses pembusukan sampah dikonversi menjadi listrik. Salah satu keunggulannya ialah mengurangi dampak negatif yang dipicu oleh timbulan sampah. Metodenya, dengan menutup tumpukan sampah menggunakan membran. Selanjutnya memasang pipa berlubang untuk menangkap gas metana. Proses ini dapat membantu menghilangkan polusi bau sampah, mempercepat degradasi limbah, dan mengoptimalkan pemanfaatan ruang di TPA. Di sisi lain, gas yang dikonversi menjadi energi listrik memiliki nilai ekonomi tinggi. (Yoga)
Dengan Properti Hijau, Sinar Mas Land Menggaet Pasar
Tahun ini menjadi pembuktian bagi pengembang untuk menawarkan produk terbaik demi menjaga pasar. Inisiasi produk property hijau, baik komersial maupun residensial, mulai digencarkan. Sejumlah subsektor property diprediksi belum akan pulih di tahun ini, seperti perkantoran dan apartemen. Tekanan juga melanda subsektor perhotelan sebagai dampak efisiensi anggaran pemerintah karena selama ini banyak diisi konvensi, kegiatan, dan promosi (MICE) dari pemerintah. Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto mengemukakan, Colliers memprediksi industri properti menghadapi tantangan di tengah perlambatan ekonomi.
Karena itu, pengembang harus jeli menerapkan strategi pasar dengan menghadirkan produk-produk yang lebih inovatif dan focus pada segmen pasar yang strategis. Di Jabodetabek, minat segmen pasar perumahan bergeser ke produk di kisaran harga Rp 1 miliar-Rp 2 miliar, karena ditunjang faktor lokasi dan fasilitas. Sementara itu, harga rumah di bawah Rp 1 miliar tetap paling banyak terjual karena kebutuhan pasar, tetapi umumnya semakin jauh dari pusat kota dan aksesibilitas publik. ”Produk favorit residensial saat ini di kisaran harga Rp 1 miliar-Rp 2 miliar. (Harga rumah) di bawah itu tetap paling banyak terjual, tetapi lebih karena konsumen di segmen itu tidak punya banyak pilihan,” ujar Ferry, Jumat (7/3).
Salah satu strategi mendorong pasar adalah menghadirkan produk properti yang lebih inovatif dan diminati pasar. Generasi Z dan milenial yang mendominasi pasar properti kini semakin peduli terhadap isu keberlanjutan dan ramah lingkungan. Karena itu, produk yang mengedepankan nilai tambah dan ramah lingkungan dinilai akan lebih bertahan di tengah tekanan ekonomi dan pasar. Inisiasi properti hijau semakin banyak diterapkan pada gedung-gedung perkantoran, seiring tuntutan perusahaan multinasional dan lokal untuk menyewa gedung perkantoran yang lebih ramah lingkungan. Meskipun gedung perkantoran bersertifikasi hijau memiliki tarif sewa lebih tinggi dibanding gedung konvensional,tingkat keterisian (okupansi) cenderung lebih tinggi.
”Di perumahan, belum banyak (pengembang) menerapkan produk bersertifikasi green property. Tetapi, arahnya semakin ke sini (properti hijau), seiring permintaan pasar,” ujar Ferry. Strategi menggarap property hijau, antara lain, dilakukan Sinar Mas Land. Grup pengembang dengan kode emiten BSDE yang masuk dalam emiten Kompas 100 itu menyatakan komitmen mengembangkan properti hijau sebagai salah satu pasar yang potensial. Peluncuran kluster hunian mewah The Armont, di BSD City, Tangerang, Februari 2025, menjadi salah satu inisiasi Sinar Mas Land dalam pengembangan kawasan hunian bersertifikasi hijau di Indonesia. (Yoga)
Tantangan Siap Dihadapi Agar Otomotif Bangkit
Pemerintah Memberikan Izin Ekspor 6 Bulan Bisa Diperpanjang 3 Bulan
Peningkatan Transaksi Investasi Awal Ramadhan
PT Bank Jago Tbk (ARTO) mencatat adanya peningkatan kecenderungan Jago mengungkapkan bahwa secara umum terdapat transaksi melalui aplikasi Jago, khususnya yang terkait dengan rekening dana nasabah (RDN) dan investasi. "Ada kenaikan transaksi di investasi, mungkin mereka lagi siap-siap buat nanti pakai hasil investasi pas Lebaran mungkin ya, atau karena spend rightly mereka nger-rem daripada konsumtif," kata Waasi. Dia menambahkan, transaksi investasi yang dilakukan platform Bibit menggunakan bank jago juga menunjukkan tren kenaikan dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Meski demikian, dia memandang saat ini masih terlalu awal untuk menyimpulkan bahwa investasi menjadi tren transaksi bagi para nasabah selama bulan Ramadan, mengingat saat ini baru memasuki hari keempat bulan Ramadan. Sementara itu, transaksi yang menggunakan wallet atau QRIS melalui aplikasi Jago relatif stabil dan tidak mengalami perubahan signifikan. Menyambut Puasa dan Lebaran, Bank Jago juga mengajak semua masyarakat untuk bijak mengelola keuangan pribadi dan usaha untuk melakukan serangkaian kegiatan edukasi keuangan yang melibatkan ribuan pengusaha lokal dari berbagai wilayah Indonesia. Edukasi keuangan dilakukan dalam beberapa sesi tatap muka (offline) dan online melalui platform media sosial. (Yetede)
Manufer Pertama Bank untuk Naik Kelas
RAJA Segera Menuntaskan Akusisi Dua Perusahaan Sekaligus
Meminimalkan Penurunan Cadangan Devisa di Tengah Gejolak Global
Tenaga Kerja Terampil Dukung Pertumbuhan Investasi
Sinyal Bahaya Hilirisasi Nikel, Apa Tantangannya?
Pemerintah Indonesia untuk melakukan penghiliran nikel menghadapi sejumlah tantangan yang cukup besar. Salah satu masalah yang muncul adalah kesulitan yang dihadapi oleh Jiangsu Delong Nickel Industry Co., induk perusahaan PT Gunbuster Nickel Industry (GNI), yang terjerat utang dan menghadapi masalah hukum, mengingat sebagian besar smelter di Indonesia beroperasi melalui kerja sama dengan perusahaan China. GNI, yang mengolah 20 juta ton bijih nikel per tahun, adalah salah satu smelter terbesar di Indonesia, namun masalah cadangan dan pasokan bijih nikel menjadi kendala. Impor bijih nikel, khususnya dari Filipina, juga mengalami peningkatan yang signifikan pada 2024, karena adanya perbedaan spesifikasi bijih nikel.
Selain itu, kebijakan pemerintah mengenai pembatasan produksi nikel dan pengelolaan cadangan mineral turut menambah ketidakpastian di kalangan pelaku industri smelter, yang khawatir akan mempengaruhi pasokan dan operasional mereka. Bisman Bachtiar, Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan, mengkritik kurangnya perencanaan yang matang dalam industri smelter nikel nasional, yang mengakibatkan tumbuhnya banyak smelter tanpa persiapan yang memadai, sehingga menyebabkan ketidaksehatan industri.
Untuk menghadapi masalah ini, beberapa tokoh, seperti Bisman Bachtiar dan Bhima Yudhistira, menyarankan agar pemerintah mempertimbangkan moratorium pembangunan smelter untuk mengevaluasi kesiapan pasokan mineral dan mengelola potensi pasokan dan harga secara lebih selektif. Meskipun demikian, pemerintah melalui Dirjen Minerba Kementerian ESDM, Tri Winarno, menegaskan bahwa moratorium pembangunan smelter nikel berbasis teknologi rotary kiln-electric furnace (RKEF) belum direncanakan. Pemerintah akan tetap mendorong penghiliran nikel dan memaksimalkan pemanfaatan produk turunan, sambil mengevaluasi kapasitas smelter yang berlebih.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









