Lingkungan Hidup
( 5813 )Pemerintah Menjamin Stok Makanan Cukup
Erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, NTT,
memasuki hari ke-13 pada Kamis (4/1/2024). Demi keselamatan warga, perkampungan
di dekat puncak gunung berketinggian 1.584 meter di atas permukaan laut itu
diminta agar dikosongkan sementara. Jumlah pengungsi lebih dari 3.000 orang
tersebar di sejumlah titik. Pemerintah menjamin ketersediaan makanan bagi para
pengungsi. Bantuan dari berbagai pihak juga terus berdatangan. Ketua Pos
Pemantauan Gunung Lewotobi Laki-laki Herman Yosef mengatakan, asap masih
terlihat keluar dari kawah gunung. ”Asap condong ke barat dan barat daya,”
katanya, kemarin. Dibandingkan erupsi pertama pada 23 Desember 2023 dan 2
Januari 2024, sebaran abu semakin berkurang.
Namun, gempa vulkanik yang terus terjadi membuka peluang
erupsi masih akan berlanjut. Gempa vulkanik juga terjadi di Gunung Lewotobi
Perempuan yang disebut kembaran dari Gunung Lewotobi Laki-laki, yang terpaut
jarak kurang dari satu kilometer.” Bupati Flores Timur Doris Alexander Rihi
mengatakan, “Jumlah pengungsi lebih dari 3.000 orang,” mereka berasal dari dua kecamatan,
yakni Wulanggitang dan Ile Bura. Mereka mengungsi ke sejumlah kantor pemerintah
dan gedung sekolah. Tim penanggulangan bencana, lanjut Doris, mendirikan dapur
umum untuk para pengungsi. Sebanyak 100 ton beras milik pemerintah tersedia untuk
kebutuhan makanan. ”Untuk bahan makanan, tidak perlu khawatir. Pemerintah akan
berupaya memenuhi kebutuhan pengungsi. Mari mengungsi ke tempat yang aman,”
ucapnya. (Yoga)
Industri Migas Siap Hadapi Era Transisi Energi
Pemerintah Impor Gula 5,4 Juta Ton
Prospek Suram Pencapaian Bauran EBT
Pemerintah Indonesia menargetkan net zero emissions pada 2060. Pilar utama untuk mencapai ini dalam jangka panjang adalah pemanfaatan energi terbarukan yang lebih tinggi dan penggunaan energi fosil yang lebih rendah. Menurut Kementerian ESDM, kapasitas terpasang pembangkit Listrik di Indonesia hingga semester I/ 2023 adalah 84,8 GW (gigawatt) dengan kontribusi energi terbarukan (EBT) 12,7 GW atau 15% dengan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) sebagai kontributor terbesar yaitu 6,7 GW. Bauran EBT ini ditargetkan mencapai 23% di 2025 dan 29% di 2030. Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2021—2030 juga dinyatakan, dalam periode 10 tahun (2021—2030) akan terdapat tambahan 20,9 GW kapasitas baru EBT. Dalam rangka pengembangan ini, sektor swasta diharapkan memberikan kontribusi sebesar 11,8 GW atau 56,3% dari kapasitas baru EBT. Tahun depan kita akan memasuki tahun 2025 dan tahun 2030 tinggal 6 tahun lagi. Dari berbagai jenis pembangkit EBT, yang dapat dibangun dan dioperasikan dalam waktu singkat adalah Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Namun, kedua jenis pembangkit ini memiliki karakteristik intermittent yaitu hanya dapat beroperasi pada waktu tertentu, kecuali bila menggunakan baterai. Sedangkan PLTA dan Pembangkit Listrik Panas Bumi/geotermal (PLTP) membutuhkan waktu yang lebih panjang yaitu sekitar 5 tahun untuk predevelopment dan konstruksi sampai dapat beroperasi secara komersial. Dari target EBT 20,9 GW, sebesar 3,3 GW direncanakan berasal dari PLTP dan 9,3 GW dari PLTA. Hingga saat ini, banyak pihak tetap bersikeras sektor kelistrikan Indonesia masih menghadapi excess supply. Ini khususnya terjadi karena perlambatan pertumbuhan ekonomi yang disebabkan pandemi Covid tahun 2020-2022. Karena itu pemerintah sempat menghentikan penerbitan Izin Usaha Pembangkit Tenaga Listrik (IUPTL). Nyatanya excess supply tenaga listrik itu hanya untuk energi fosil.
Sedangkan untuk tenaga Listrik EBT terjadi sebaliknya yaitu pasokan masih kurang alias shortage of supply. Mengacu pada target pengembangan dan pemanfaatan EBT yang telah ditetapkan, angka dan data yang diterbitkan pemerintah sendiri menunjukkan akan segera terjadi kegagalan pencapaian target EBT. Studi Asian Development Bank pernah mengupas mengapa Indonesia akan gagal memenuhi target pengembangan EBT tersebut. Dari berbagai temuan dan analisa yang dilakukan, faktor-faktor utama yang menghambat pengembangan EBT di Indonesia mencakup (i) penetapan harga tertinggi pembelian listrik yang lebih rendah dari biaya proyek EBT, (ii) ketidakmampuan untuk mengintegrasikan EBT dan tidak memadainya panduan perencanaan mengenai lokasi dengan jumlah EBT yang dibutuhkan, dan (iii) biaya dan risiko EBT yang lebih tinggi di Indonesia. Belum lagi pertimbangan posisi PLN yang monopoli sekaligus monopsoni (pembeli tunggal) dan pada saat yang sama juga produsen 70% listrik di Indonesia. Isu lain, sebagai BUMN, PLN wajib tunduk pada UU BUMN yang mengamanatkannya untuk mengejar keuntungan guna meningkatkan nilai perseroan sekaligus ditugaskan untuk berperan sebagai penyelenggara public service obligation (PSO). Agar dapat untung, perusahaan perlu meningkatkan penerimaan dan menurunkan biaya, baik biaya operasi maupun biaya produksi (harga beli input). Untuk meningkatkan penerimaan, PLN dibatasi Tarif Dasar Listrik (TDL) yang ditetapkan pemerintah dan besaran subsidi listrik yang diberikan APBN. Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 112 Tahun 2022 tentang Percepatan Pengembangan Energi Terbarukan untuk Penyediaan Tenaga Listrik yang di dalamnya mengatur Harga Patokan Tertinggi (HPT) bagi setiap jenis pembangkit EBT menurut kapasitas tertentu.
Perpres itu juga menyebutkan HPT PLTA dari tahun 11—30 akan turun 37,5% dari HPT tahun 1—10, HPT PLTS akan turun 40%, PLTB juga turun 40%, PLTBm (Biomassa) diturunkan 20%, dan PLTP (geotermal) diturunkan 15%. Mungkin saja pemerintah beranggapan bahwa dalam 10 tahun pertama, IPP telah mendapatkan biaya pengembalian investasi sehingga mulai tahun ke-11 tarif bisa diturunkan. Padahal dengan pendanaan dari bank, IPP harus menanggung bunga bank sehingga baru dapat menikmati hasil investasi setelah pinjaman lunas. Sayangnya ketika itu tiba, tarif diturunkan secara signifikan. Sementara biaya operasi terus meningkat. Dengan asumsi inflasi 4% p.a., dalam 10 tahun biaya operasi akan naik 48% secara compounding dan menjadi 3 kali lipat lebih (324%) dalam 30 tahun. Namun, tarif per kwh yang diterima di tahun 30 oleh IPP PLTA dengan kapasitas 20 MW misalnya, hanya 5,68 sen dolar AS. Nilai sekarang dari 5,68 sen dolar AS dalam 30 tahun ini cuma 0,19 sen dolar AS. Ironi lainnya dari Perpres No. 112/2022 itu HPT tarif dari PLTA Ekspansi ditetapkan 30% lebih rendah daripada tarif untuk PLTA baru. Ini tentunya menjadi pertanyaan mengingat tenaga listrik yang dihasilkan PLTA Ekspansi tidak berbeda kualitasnya dengan tenaga listrik yang dihasilkan PLTA Baru. Global warming dan perubahan iklim adalah ancaman nyata yang dihadapi dunia. Peran EBT dalam menjaga sustainable development adalah mutlak dan tidak dapat dinafikan.
RENCANA KERJA DAN ANGGARAN BIAYA : Upaya Serius Amankan Sumber Daya Mineral
Plt. Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Bambang Suswantono mengatakan proses pembahasan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) perusahaan mineral membutuhkan waktu lebih lama ketimbang badan usaha pertambangan batu bara. Bambang menjelaskan ada sejumlah hal yang harus diverifikasi langsung oleh Kementerian ESDM terhadap perusahaan pertambangan mineral, sebelum persetujuan RKAB dikeluarkan. Apalagi, saat ini pemerintah juga sedang memacu pembangunan smelter sebagai bagian dari upaya penghiliran terhadap sumber daya mineral. Alasan yang sama, kata dia, membuat pemerintah hingga kini belum bisa menyelesaikan kajian dan memberi persetujuan terhadap RKAB yang diajukan oleh PT Freeport Indonesia. RKAB sendiri menjadi penting bagi badan usaha pertambangan, karena menjadi acuan dalam melaksanakan operasionalnya di lapangan, mulai dari kegiatan eksplorasi, target produksi, hingga penjualan. Di sisi lain, Freeport Indonesia sebelumnya menyatakan bakal memangkas produksinya hingga 40% dari capaian pada tahun lalu dalam RKAB yang diajukan ke pemerintah. Hal itu dilakukan lantaran perusahaan sudah tidak bisa lagi melakukan ekspor konsentrat tembaga, sedangkan smelter yang dibangunnnya belum mencapai kapasitas maksimal.
Waspadai Defisit Beras pada Januari-Februari 2024
Indonesia akan mengalami defisit beras pada Januari-Februari 2024. Defisit
itu berpotensi menyebabkan harga beras naik kembali. Untuk itu, pemerintah perlu
mewaspadai dan mengantisipasinya pada saat Indonesia mengalami tiga kondisi
cuaca yang berbeda pada awal tahun ini. Hal itu mengemuka dalam Rapat
Pengendalian Inflasi Daerah yang digelar Kemendagri secara hibrida di Jakarta,
Rabu (3/1/2024). dipimpin Mendagri Tito Karnavian. Plt Kepala BPS Amalia
Adininggar Widysanti, Rabu (3/1), mengatakan, inflasi beras dari waktu ke waktu
terus turun. Tingkat inflasi beras tertinggi terjadi pada September 2023, yakni
5,61 %.
Pada Desember 2023, tingkat inflasi beras itu turun menjadi 0,28 persen.
Hal itu mengindikasikan harga beras relatif terkendali berkat program
Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang digulirkan pemerintah pusat dan
daerah. Di sisi lain, kata Amalia, Indonesia memang masih meng- alami surplus
beras sebanyak 270.000 ton pada Januari-Desember 2023 meskipun terdampak La
Nina dan El Nino. Namun, yang perlu diwaspadai adalah Indonesia bakal mengalami
defisit beras pada Januari-Februari 2024. ”Defisit beras pada Januari 2024
diperkirakan 1,61 juta ton dan pada Februari 2024 mencapai 1,22 juta ton. Hal
ini perlu diantisipasi agar harga beras tetap terkendali atau tidak naik kembali,”
ujarnya. (Yoga)
Langkah DKI Menjaga Stok dan Distribusi Bahan Pokok Lancar
Barito Renewables Tuntaskan Akuisisi 51% Saham PLTB Sukabumi dan Lombok
Nilai Tukar Petani Maluku Utara Turun
Limbah Nikel Kini Kaya Manfaat di Desa Kawasi
Deretan rumah di kawasan
Ecovillage Kawasi, Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara, Jumat
(24/11/2023) terlihat rapi dengan warna pastel nan teduh. Rumah di permukiman
itu ternyata bukan dibangun dari bahan material seperti batako atau batu bata merah.
Bangunan dan jalan di kompleks itu seluruhnya dibangun dari slag nikel atau sisa
produksi dari peleburan nikel yang menggunakan teknologi atau proses pirometalurgi.
Wujudnya berbentuk butiran kasar menyerupai pasir dengan massa jenis lebih besar
daripada pasir biasa. Kompleks perumahan Ecovillage Kawasi dibangun oleh Harita
Nickel, salah satu pemegang izin usaha pertambangan (IUP) di Pulau Obi. Kawasan
seluas 102 hektar itu diperuntukkan bagi warga Desa Kawasi yang akan direlokasi
dalam waktu dekat.
Ada 259 rumah di kompleks
Ecovillage Kawasi yang jika dilihat dari atas membentuk formasi angka delapan,
sebagian besar memanfaatkan limbah hasil produksi nikel. Bata yang digunakan
terbuat dari slag nikel. Slag nikel terlebih dahulu dicampur semen, bottom ash
(abu sisa hasil pembakaran batubara), mortar, dan sampah anorganik. Onny
Mulyono, Supervisor Project Tempat Pengolahan SampahTerpadu (TPST) Harita Nickel,
mengatakan,”Bata dari slag ini lebih kuat dari batako atau bata biasa karena
materialnya memang lebih bagus. Untuk bangunan jadi lebih kuat,” ujarnya.
Pembuatan bata dari slag nikel juga mengurangi sampah atau limbah dari hasil
produksi nikel. Sejumlah jalan menuju lokasi tambang dan smelter Harita Nickel
di Pulau Obi kini juga dibangun menggunakan slag nikel.
Gorong-gorong atau box
culvert di kawasan tambang juga dibuat dari slag nikel. Harita Nickel mampu memproduksi
sampai 1 juta bata slag nikel per bulan. Bahkan, belum lama ini mereka menerima
pesanan bata dari pemda setempat untuk membangun jalur pedestrian di Bacan. ”Kami
kirim setengah juta bata ke Bacan dengan
kapal. Di sana, bata dari slag nikel ini dipakai untuk membangun tempat
pelelangan ikan (TPI) dan jalur pedestrian,” tutur Onny. Bata slag nikel dijual
Rp 3.000 per biji, lebih murah daripada batako yang dihargai Rp 3.500 per biji.
Namun, kata Onny, sulit untuk memasarkan bata slag nikel ke luar daerah, bahkan
keluar pulau, karena mahalnya biaya pengiriman. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023








