;
Tags

Investasi Asing

( 264 )

Masih Tingginya Volatilitas Pasar Saham

KT1 17 Mar 2025 Investor Daily

Volatilitas pasar saham diperkirakan cukup tinggi pada pekan ini. Indeks harga saham gabungan (IHSG) diprediksi bergerak dalam rentang lebar di kisaran 6.370-6.630. "Pasar modal Indonesia tengah menghadapí periode volatilitas tinggi, setelah IHSG mengalami koreksi signifikan sebesar 1,98% ke level 6.515 pada akhir pekan lalu. Sejumlah faktor, baik eksternal maupun domestik, menjadi pemicu utama tekanan jual yang membuat investor semakin berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi," kata founder Stocknow.id Hendra Wardana, Minggu (16/3/2025). Dari sisi eksternal, pelemahan pasar saham global, khususnya S&P 500 yang telah kehilangan US$ 5,28 triliun dalam tiga minggu terakhir, turut memberikan dampak negatif terhadap pasar Asia, termasuk Indonesia.

Selain itu, ketidakpastian kebijakan The Fed terkait suku bunga semakin memperburuk sentimen investor. "Jika inflasi AS masih tinggi, ekspektasi pemangkasan suku bunga untuk memberi stimulus ekonomi, yang pada gilirannya bisa memperlambat pemulihan pasar saham, yang pada akhirnya berpotensi memperpanjang tekanan di pasar saham," ujar dia. Sementara dari dalam negeri, tekanan fiskal mulai terasa setelah pemerintah mencatat defisit APBN per Februari 2025 sebesar Rp 31,2triliun. Defisit ini dapat membatasi ruang gerak pemerintah. Di sisi lain, investor asing masih terus melakukan aksi jual bersih (netsell). Dalam satu pekan terakhir,net sell asing mencapai Rp1,77triliun. (Yetede)


IHSG Berpotensi Menguat

KT1 10 Mar 2025 Investor Daily (H)

Indeks hargasaham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) berpotensi menguat dan melanjutkan kenaikan menuju 6.700 setelah pekan lalu menguat signifikan hingga 5,77%. Meski pergerakannya masih sangat dipengaruhi ketegangan perang dagang Amerika Serikat (AS)-China, laju IHSG juga akan ditopang sentimen positif dari dalam negeri. Karena itu, semua pihak diminta menahan diri mengeluarkan pernyataan yang bisa menambah beban pasar. Pelaku pasar menilai, rencana Polri mengawasi pasar saham sebaiknya tidak dilakukan. Sebab, hal itu hanya akan menimbulkan guncangan hebat di pasar modal. Apalagi, net sell asing masih kencang, mencapai Rp 791 miliar pada Jumat pekan lalu. Artinya, kepercayaan asing belum sepenuhnya pulih.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), modal asing senilai Rp 8,99 triliun masuk ke pasar keuangan domestik pada periode 3-6 Maret 2025. Mayoritas modal asing masuk ke surat berharga negara (SBN), mencapai Rp 9,53 triliun, sedangkan disaham Rp 340 miliar. Secara kumulatif, 1 Januari sampai 6 Maret 2025, asing net sell Rp 20,12 triliun di pasar saham dan net buy Rp 19,01 triliun di pasar SBN serta Rp 6,11 triliun di SRBI. “IHSG mencatatkan penguatansignifikan di pekan lalu ke level6.636, dan memberikan harapan bagi pelaku pasar bahwa tren bearish yang menghantui sejak pertengahanSeptember 2024 mulai mereda. Secara teknikal, indeks berhasil breakout dari MA20 di level 6.628, yang menjadi indikasi positif bahwa IHSG berpotensi menguji kembali level psikologis 6.700 dalam waktu dekat," kata founder Stocknow.id Hendra Wardana, Minggu (9/3/2025). (Yetede)


Kerja Sama Pengelolaan Gas Metana dengan Investor China, Dijajaki Pemkab Sidoarjo

KT3 08 Mar 2025 Kompas

Pemkab Sidoarjo, Jatim, sedang menjajaki kerja sama pengelolaan gas metana dengan investor dari China. Gas yang dihasilkan dari timbulan sampah rumah tangga di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Griyo Mulyo, Jabon, itu diharapkan bisa dikelola secara optimal sehingga memiliki nilai ekonomi. Kadis Lingkungan Hidup dan Kebersihan (LHK) Sidoarjo, Bahrul Amig mengatakan telah bertemu China Water Industry (CWI) beberapa hari lalu, membahas pemanfaatan gas metana sebagai energi ramah lingkungan. ”Pertemuan dengan investor dari China ini baru tahap awal. Harapannya segera ada tindak lanjut seperti studi kelayakan untuk mengetahui berapa besar potensi gas metana yang dihasilkan TPA Griyo Mulyo ini,” ujar Amig, Jumat (7/3).

Dalam pertemuan itu, CWI mempresentasikan pengelolaan gas metana yang dihasilkan dari pemrosesan sampah berbasis sanitary landfill. Gas yang dihasilkan dari proses pembusukan sampah dikonversi menjadi listrik. Salah satu keunggulannya ialah mengurangi dampak negatif yang dipicu oleh timbulan sampah. Metodenya, dengan menutup tumpukan sampah menggunakan membran. Selanjutnya memasang pipa berlubang untuk menangkap gas metana. Proses ini dapat membantu menghilangkan polusi bau sampah, mempercepat degradasi limbah, dan mengoptimalkan pemanfaatan ruang di TPA. Di sisi lain, gas yang dikonversi menjadi energi listrik memiliki nilai ekonomi tinggi. (Yoga)


IHSG Jatuh ke Titik Terendah

KT1 01 Mar 2025 Investor Daily

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 3,31% di pengujung bulan Februari ke level 6.270, sekaligus menjadi level terendah d alam tiga tahun terakhir. IHSG bahkan terkoreksi tajam 11,43% sejak awal tahun 2025 hingga Jumat (28/2/2025). Investor asing telah mencatatkan aksi jual (net sell) hampir Rp 19 triliun di pasar saham sepanjang tahun ini. Phintraco Sekuritas mengungkapkan, akumulasi jual investor asing sebelumnya sudah pernah terjadi beberapa kali dalam 10 tahun terakhir. Nilai akumulasi net sell investor asing paling dekat adalah ditahun 2015 dengan posisi pelemahan IHSG sebesar 12,13%. “Dengan asumsi kembali terjadi net sell investor asing pada perdagangan Jumat (28/2/2025), nilai akumulasi jual asing sepanjang 1 Januari-28 Februari 2025 diperkirakan mencapai level yang sama dengan 2015.

Pelemahan IHSG sudah mencapai 11%, hampir sama dengan besarnya pelemahan di tahun 2015 tersebut," ungkap Phintraco Sekuritas dalam risetnya, Jumat sore (28/2/2025). Pada penutupan perdagangan Jumat (28/2/2025), IHSG terkoreksi 214,9 poin ke posisi 6.270, dengan volume transaksi 220 juta lot, frekuensi transaksi 1,3 juta kali, dan total nilai transaksi bursa sebesar Rp 20,6 triliun. Aksi jual bersih asing mencapai Rp 2,91 triliun, dengan lima saham yang paling banyak dilepas asing adalah BBRI Rp 879,3 miliar, MDKA Rp522,4 miliar, BBCA Rp 382,9 miliar, INKP Rp 261,6 miliar, dan BBNI Rp 233,6 miliar.

Dirut BEI, Iman Rachman menyoroti berbagai faktor global dan domestik yang berkontribusi terhadap tekanan pasar. Kebijakan ekonomi global, terutama terkait kebijakan tarif perdagangan dan suku bunga AS, menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi aliran dana asing ke pasar saham Indonesia. “Trump 2.0 tidak mudah. Sekitar 70% dana global tetap mengalir ke aset berkualitas tinggi di AS. Selain itu, ancaman tarif dagang terus muncul, seperti yang sebelumnya terjadi pada Meksiko dan Kanada, serta Uni Emirat Arab," jelas dia. Selain faktor tarif, kebijakan pajak pertambahan nilai (VAT) yang diharapkan menurun ternyata tidak sesuai ekspektasi. (Yetede)


Kemenperin Bersepakat dengan Apple Inc

KT3 27 Feb 2025 Kompas

Apple Inc dan Kemenperin telah menyetujui sejumlah kesepakatan, termasuk pembangunan pabrik serta pusat penelitian dan pengembangan oleh perusahaan asal AS itu di Indonesia. Dengan demikian, Apple Inc bisa memasarkan telepon seluler iPhone 16 di Indonesia. ”Kemenperin telah menyetujui investasi inovasi dari Apple untuk periode 2025-2028 dan telah menandatangani juga MoU dengan Apple untuk komitmen investasi pada periode 2023-2029,” ujar Mentperin Agus Gumiwang Kartasasmita melalui pesan yang disampaikan jubir, Febri Hendri Antoni Arief, Rabu (26/2). Dengan kesepakatan itu, merujuk kantor berita Reuters, Gumiwang mengatakan bahwa Apple akan segera memperoleh sertifikat konten lokal yang diperlukan untuk mengantongi izin penjualan ponsel di dalam negeri.

Apple, dalam keterangan resmi, Rabu malam, menyebut, pihaknya senang dapat memperluas investasi di Indonesia. Apple tidak sabar untuk membawa seluruh produk inovatif Apple, termasuk rangkaian iPhone 16, serta iPhone 16e yang terbaru, kepada konsumen Apple di Indonesia. Kesepakatan Apple Inc dan Kemenperin tersebut mengakhiri pertikaian antara kedua pihak yang dimulai sejak Oktober 2024. Apple awalnya bermaksud memasarkan produk iPhone 16 di Indonesia. Namun, Kemenperin melarang karena Apple Inc belum merealisasikan sisa komitmen investasi di Indonesia pada 2020-2023 senilai Rp 240 miliar dari total Rp 1,71 triliun. (Yoga)


Prospek Suram: Investor Asing Mulai Angkat Kaki

HR1 26 Feb 2025 Kontan (H)
Pasar saham Indonesia mengalami tekanan hebat, dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok -2,41% ke 6.587,09 pada 25 Februari 2025, mendekati level terendah tahun ini. Penurunan ini terjadi akibat aksi jual asing setelah Indeks MSCI Indonesia diturunkan bobotnya dari 2% menjadi 1,5% pada November 2024.

Selain itu, Morgan Stanley juga menurunkan peringkat MSCI Indonesia dari equal weight menjadi underweight karena prospek pertumbuhan ekonomi yang melemah serta penurunan return on equity (RoE) di sektor siklikal. Sebaliknya, MSCI China justru dinaikkan peringkatnya karena RoE yang lebih menarik. Hal ini mendorong investor asing untuk mengalihkan dananya, tercermin dari outflow asing sebesar Rp 13,1 triliun sejak awal 2025 dan kapitalisasi pasar Indonesia yang menguap lebih dari Rp 1.000 triliun dalam dua bulan.

Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, berharap ada perbaikan dalam review MSCI selanjutnya dan telah melakukan diskusi dengan MSCI serta emiten mengenai metodologi penilaian, termasuk faktor ESG.

Sementara itu, Kartika Sutandi, Founder & Chief Marketing Officer Jarvis Asset Management, menilai regulator perlu merumuskan kebijakan untuk menciptakan pasar saham yang lebih kondusif. Salah satu cara yang disarankan adalah mendorong dana pensiun (BPJS Ketenagakerjaan) untuk menginvestasikan 20% dananya di pasar saham, yang dapat membantu mengangkat indeks. Selain itu, kebijakan seperti full call auction (FCA) dan unusual market activity (UMA) juga perlu dikaji ulang agar pasar lebih stabil.

Oktavianus Audi, VP Marketing Strategy & Planning Kiwoom Sekuritas Indonesia, memperkirakan IHSG masih berada di rentang 6.500-6.600 sebagai area penopang utama. Namun, jika level ini tidak bertahan, IHSG berpotensi turun lebih dalam hingga 6.385.

Duo Hartono Ramaikan Serie A Italia

HR1 08 Feb 2025 Bisnis Indonesia

Pengeluaran klub-klub sepak bola pada bursa transfer awal 2025, dengan Manchester City tercatat sebagai klub paling boros dengan pengeluaran mencapai Rp3,78 triliun, mendatangkan delapan pemain, termasuk Omar Marmoush yang menjadi pemain termahal dari Eintracht Frankfurt dengan biaya Rp1,3 triliun. Meskipun klub-klub besar mendominasi, ada kejutan dari klub Serie A, Como 1907, yang menempati posisi kedelapan dengan belanja transfer sebesar Rp855,18 miliar, bahkan mengalahkan AC Milan yang hanya menghabiskan Rp843,01 miliar. Como 1907, yang baru promosi ke Serie A, membeli 14 pemain, dengan Maxence Caqueret sebagai pembelian termahal.

Di balik belanja besar ini, Como 1907, yang dimiliki oleh Hartono bersaudara dari Grup Djarum, berusaha memperbaiki performa tim agar tetap bertahan di Serie A setelah 21 tahun penantian untuk promosi kembali. Hartono bersaudara, yang tercatat sebagai pemilik klub terkaya di Italia, juga terlibat dalam revitalisasi klub melalui investasi dan dukungan keuangan sejak akuisisi mereka pada 2019.

Keberhasilan Como 1907 untuk kembali ke Serie A setelah melewati masa-masa sulit, termasuk kebangkrutan pada 2017, menunjukkan betapa pentingnya investasi yang mereka lakukan untuk membangun stabilitas keuangan dan daya saing di liga tertinggi Italia. Dengan pengelolaan yang cermat, diharapkan klub ini dapat terus berkembang meskipun saat ini berada di zona degradasi.

Dana Asing Pergi, IHSG Tergelincir

HR1 15 Jan 2025 Kontan (H)
Pada 14 Januari 2025, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah ke level 6.956,66, turun 0,86% dalam sehari dan 2,88% secara year-to-date. Ini adalah pertama kalinya IHSG berada di bawah 7.000 pada 2025, dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal dan aksi jual asing.

Faktor-faktor utama pelemahan IHSG,  Aksi jual asing Menurut Felix Darmawan dari Panin Sekuritas, asing melepas saham-saham big four perbankan (BBCA, BBRI, BMRI, BBNI) dengan total penjualan terbesar pada BBCA senilai Rp 286,4 miliar. Saham-saham big cap lain seperti BREN, AMMN, dan TLKM juga tertekan.

Kenaikan imbal hasil obligasi AS Mendorong arus modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Pelemahan kurs rupiah akibat tingginya kebutuhan dolar AS, dengan utang luar negeri jatuh tempo mencapai US$ 6,8 miliar pada Januari 2025. Kebijakan moneter dapat menyebabkan Pengetatan suku bunga oleh The Fed dan Bank Indonesia menimbulkan kekhawatiran terhadap likuiditas, terutama di sektor perbankan.

Kenaikan saham konstruksi BUMN, di tengah pelemahan IHSG, saham-saham konstruksi BUMN seperti WIKA (+14,02%), ADHI (+6,25%), dan PTPP (+6,06%) justru melejit. Daniel Agustinus dari Kanaka Hita Solvera menilai kenaikan ini tidak didorong fundamental, tetapi karena aksi jenuh jual.

Proyeksi ke depan menurut Oktavianus Audi dari Kiwoom Sekuritas memperkirakan tekanan IHSG akan mulai mereda seiring rilis kinerja emiten tahun buku 2024. Sukarno Alatas, Head of Research Kiwoom Sekuritas, menyatakan tekanan IHSG dapat bertahan hingga musim pembagian dividen kuartal I-2025, dengan potensi penurunan IHSG ke 6.698. Daniel Agustinus memproyeksikan IHSG berada di level 7.000–7.100 pada akhir Januari 2025, tergantung pada hasil kinerja emiten dan stabilitas ekonomi.

Investor disarankan berhati-hati dengan fluktuasi pasar hingga valuasi saham big cap mencapai harga ideal.

Polemik Investasi Apple Senilai 1 Miliar Dollar AS

KT3 14 Jan 2025 Kompas
Pemerintah Indonesia berpendapat bahwa kontribusi Apple dalam bentuk pengembangan perangkat lunak dan keterampilan digital melalui AppleAcademy belum cukup memenuhi aturan tentang tingkat komponen dalam negeri (TKDN). Setelah pelarangan, Apple mengajukan proposal investasi senilai 10 juta dollar AS, yang kemudian ditingkatkan menjadi 100 juta dollar AS. Terkini, Apple telah mengajukan proposal investasi senilai 1 miliar dollar AS untuk membangun pabrik AirTag di Batam. Namun, pemerintah masih tetap menolak proposal tersebut. Pemerintah menganggap bahwa AirTag bukanlah komponen dari produk handphone, komputer, dan tablet (HKT) dan oleh karena itu pemerintah belum bisa memberikan sertifikasi TKDN agar Apple bisa menjual produk di Indonesia. Di balik berbagai polemik ini ialah kebijakan TKDN yang mengharuskan penggunaan komponen lokal dalam produksi.

Kebijakan yang sudah dijalankan sekitar 10 tahun terakhir ini diharapkan bisa menciptakan permintaan untuk komponen dalam negeri dan mendorong dunia usaha untuk mengembangkan produksinya di Indonesia Namun, apakah kebijakan TKDN sudah memberikan hasil yang diharapkan untuk membangun industri komponen nasional? Apakah kebijakan tersebut sudah mendukung pembangunan industri Indonesia? Dampak ekonomi TKDN Sebenarnya kebijakan TKDN ini bukanlah hal baru dan telah lama diterapkan sebagai bagian dari strategi industri Pemerintah Indonesia. Kebijakan ini dahulu pernah dijalankan melalui berbagai inisiatif, seperti Program Benteng (1950-1957), Program Penghapusan (1974-1993), Program Mobil Nasional (1996), dan Program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri/P3DN (2009-saat ini). Pemerintah mengklaim bahwa kebijakan TKDN akan memperkuat kapasitas industri nasional, meningkatkan pertumbuhan ekonomi, mengurangi ketergantungan pada impor, menciptakan lapangan kerja, dan memberikan pelindungan dari guncangan eksternal.

Namun, bukti empiris malah menunjukkan bahwa kebijakan TKDN cenderung bertentangan dengan kepentingan dunia usaha dan pembangunan industri nasional. Thee (1997) serta Aswicahyono, Basri, dan Hill (2000) menunjukkan bahwa kebijakan TKDN berhasil mendorong perkembangan industri sepeda motor,tetapi tidak untuk kendaraan roda empat karena perbedaan struktur pasar, skala ekonomi, dan kompleksitas teknologi. Kedua studi tersebut juga menemukan bahwa kebijakan TKDN mengakibatkan biaya produksi dan harga konsumen yang tinggi, kemampuan R&D yang rendah, serta ekspor yang minim dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya. Lebih baru lagi, studi CSIS (2022)menemukan bahwa kebijakan TKDN berdampak negatif terhadap produktivitas, output, ekspor, tenaga kerja, dan nilai tambah perusahaan manufaktur di Indonesia. (Yoga)

Diversifikasi Investasi di Luar Tiongkok

HR1 09 Jan 2025 Kontan
Bergabungnya Indonesia dalam BRICS memberikan peluang besar untuk memperkuat kerja sama ekonomi dengan China, yang selama ini menjadi salah satu mitra utama Indonesia dalam perdagangan dan investasi. Presiden Prabowo Subianto berhasil membawa komitmen investasi sebesar US$10,07 miliar dari kunjungannya ke China pada November 2024, sementara Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Perkasa Roeslani juga mengamankan komitmen investasi tambahan sebesar US$7,46 miliar. Menurut Ronny P. Sasmita, Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution, masuknya investasi China penting untuk membuka lapangan kerja dan memanfaatkan surplus produksi barang modal China melalui program Belt and Road Initiative.

Namun, menurut M. Rizal Taufikurrahman, Kepala Center of Macroeconomics and Finance Indef, tantangan signifikan dapat muncul dari perlambatan ekonomi China yang diproyeksikan ke kisaran 4%-5%. Ketergantungan yang tinggi pada investasi China juga berisiko meningkatkan kerentanan ekonomi Indonesia terhadap dinamika ekonomi dan kebijakan China. Oleh karena itu, diversifikasi sumber FDI dari negara maju seperti AS, Uni Eropa, Jepang, Korea Selatan, dan India dinilai krusial untuk mendukung pertumbuhan berbasis teknologi, energi terbarukan, dan inovasi.

Untuk menarik lebih banyak investor global, Rizal menyarankan Indonesia meningkatkan daya saing dengan reformasi struktural dan penyederhanaan regulasi investasi. Hal ini akan membantu menciptakan stabilitas ekonomi jangka panjang sambil memanfaatkan peluang besar dari keanggotaan BRICS.