;
Tags

Ekonomi Makro

( 699 )

Pendanaan 3 Juta Rumah: Optimalkan Sumber Beragam

HR1 07 Dec 2024 Kontan
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menghadapi tantangan besar dalam merealisasikan target program 3 juta rumah per tahun, terutama terkait pendanaan. Menteri PKP Maruarar Sirait menyatakan bahwa anggaran yang dimiliki Kementerian PKP saat ini hanya sebesar Rp 5,27 triliun, jauh dari kebutuhan Rp 53,6 triliun. Alokasi ini berasal dari pecahan anggaran Kementerian PUPR yang totalnya mencapai Rp 116,22 triliun untuk 2025. Dengan demikian, terdapat kekurangan anggaran sebesar Rp 48,33 triliun untuk memenuhi target tersebut.

Bonny Z. Minang, anggota Satgas Perumahan, menjelaskan bahwa pembangunan akan difokuskan pada 1 juta unit rumah susun di perkotaan dan 2 juta unit rumah di pedesaan, dengan 26 unit rumah per desa di 75.000 desa. Untuk tahap awal, pemerintah telah menyiapkan anggaran Rp 21,6 triliun sebagai cicilan untuk pembangunan rumah di pedesaan. Selain APBN, pendanaan juga direncanakan berasal dari berbagai sumber, seperti BPJS Ketenagakerjaan, Taspen, dana pensiun, asuransi, dan program TJSL BUMN serta swasta.

Pengamat infrastruktur Nirwono Yoga menyarankan pemerintah memanfaatkan aset daerah dan menggalakkan gotong royong di desa untuk mengatasi kendala anggaran dan lahan. Strategi ini diharapkan membantu pemerintah mencapai target ambisiusnya dalam mengentaskan kemiskinan melalui penyediaan perumahan yang layak.

Ekonomi Indonesia Masih Tertinggal dari Vietnam

HR1 06 Dec 2024 Kontan
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 diproyeksikan berada di kisaran 5%-5,3%, meskipun dihadapkan pada sejumlah tantangan eksternal seperti perlambatan permintaan global, penurunan harga komoditas, dan ketidakpastian geopolitik. Menurut Enrico Tanuwidjaja, ASEAN Economist UOB Indonesia, perekonomian Indonesia akan tetap bertumbuh positif dengan proyeksi 5,3%, didukung pemulihan perdagangan elektronik, arus investasi asing, dan sektor pariwisata. Namun, pertumbuhan ini masih lebih rendah dibandingkan Vietnam (6,6%) dan Filipina (6,5%).

Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata, menyoroti risiko eksternal seperti kebijakan proteksionis AS dan penurunan harga komoditas utama Indonesia, seperti minyak mentah, batubara, dan CPO. Ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia di level 5,15% pada 2025, yang masih akan didorong konsumsi rumah tangga dan investasi.

Kedua ekonom sepakat bahwa pemerintah perlu mengambil langkah strategis untuk meningkatkan kepercayaan konsumen dan investor. Hal ini bisa dilakukan melalui kebijakan fiskal yang proaktif, penguatan diversifikasi ekspor, serta upaya menarik investasi asing demi menjaga stabilitas ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global.

Belanja Besar di Tahun Perdana Pemerintahan Prabowo

HR1 05 Dec 2024 Kontan (H)
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto berupaya menggenjot pertumbuhan ekonomi hingga 8% per tahun dengan meningkatkan belanja negara yang signifikan. Dalam APBN 2025, pendapatan negara ditargetkan mencapai Rp 3.005,13 triliun, termasuk penerimaan PPN sebesar Rp 917,79 triliun, yang naik 18,24% dengan rencana kenaikan tarif PPN menjadi 12%. Sementara itu, belanja negara dipatok lebih tinggi, yakni Rp 3.621,31 triliun, termasuk untuk tujuh program prioritas seperti program makan bergizi gratis dan renovasi sekolah.

Namun, sejumlah ekonom seperti Bhima Yudhistira dari Celios dan Esther Sri Astuti dari Indef menilai kebijakan tersebut kontradiktif dengan tujuan pertumbuhan ekonomi. Bhima mencatat kenaikan tarif PPN dapat menekan konsumsi rumah tangga, yang selama ini menjadi penyumbang terbesar PDB. Sementara itu, lonjakan penerbitan surat berharga negara (SBN) sebesar Rp 642,56 triliun dinilai berisiko terhadap likuiditas perbankan. Bhima memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya akan mencapai 4,6%–4,8% di tahun pertama pemerintahan Prabowo.

Esther Sri Astuti menambahkan bahwa kenaikan PPN dapat meningkatkan biaya produksi dan melemahkan daya beli, yang pada akhirnya menghambat pertumbuhan ekonomi. Sementara itu, Yusuf Rendy Manilet dari Core Indonesia menggarisbawahi bahwa belanja pemerintah perlu lebih efektif dan efisien untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi. Dengan kebijakan yang ada saat ini, ambisi mencapai pertumbuhan 8% dianggap sangat sulit terwujud.

Presiden Prabowo sendiri telah menginstruksikan penghematan melalui pemangkasan perjalanan dinas hingga 50%, yang diharapkan dapat menghemat anggaran Rp 15 triliun. Langkah ini mencerminkan komitmen untuk efisiensi, namun tantangan utama tetap pada realisasi kebijakan yang dapat mendorong konsumsi dan investasi secara optimal.

Efektivitas Insentif BI bagi Bank dalam Sorotan

HR1 04 Dec 2024 Kontan
Tantangan likuiditas masih menjadi isu utama perbankan hingga tahun 2025, mengingat melambatnya pertumbuhan simpanan dan tipisnya peluang penurunan suku bunga acuan. Untuk mengatasi hal ini, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menjanjikan insentif kebijakan likuiditas makroprudensial (KLM) senilai Rp 283 triliun pada tahun depan. Insentif ini diberikan melalui pengurangan giro wajib minimum (GWM) bagi bank yang menyalurkan kredit ke sektor-sektor prioritas seperti UMKM, ekonomi hijau, pariwisata, dan perumahan rakyat.

Namun, respons bank terhadap insentif ini beragam. Direktur Utama BNI, Royke Tumilaar, menegaskan bahwa bank tetap menyalurkan kredit sesuai dengan risk appetite-nya, dengan fokus utama BNI di segmen korporasi. Royke berharap insentif dapat lebih fleksibel, seperti penurunan GWM secara menyeluruh.

Sementara itu, Presiden Direktur Krom Bank, Anton Hermawan, menyebut pihaknya lebih memprioritaskan kredit ke sektor ritel dan memenuhi kewajiban rasio pembiayaan inklusif makroprudensial (RPIM) dengan fokus pada UMKM. Rustarti Suri Pertiwi, Direktur Keuangan Bank Raya Indonesia, menilai insentif KLM mampu menjaga likuiditas sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi, meskipun implementasinya tetap tergantung kebijakan masing-masing bank.

BEI Atur Ulang Batas Auto Rejection untuk Waran

HR1 04 Dec 2024 Kontan
Bursa Efek Indonesia (BEI) akan menerapkan aturan baru mengenai auto rejection untuk waran dan waran terstruktur dalam Perubahan Peraturan Bursa No II-A. Aturan ini membagi pembatasan harga waran ke dalam beberapa rentang berdasarkan acuan harga, bertujuan untuk mengendalikan volatilitas harga dan mencegah manipulasi transaksi.

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota BEI, Irvan Susandy, menjelaskan bahwa meskipun transaksi waran tidak ramai, ketentuan ini tetap diperlukan untuk mengatasi perilaku spekulatif yang sering terjadi. Selama 2024, transaksi waran mencapai 4,53 juta kali dengan nilai Rp 3,34 triliun.

Pengamat Pasar Modal Hans Kwee mendukung pembatasan ini, menilai bahwa langkah tersebut penting untuk melindungi investor dari pergerakan harga waran yang tidak wajar, terutama yang sering lebih volatil dibanding saham induknya. Ia menyoroti kasus pergerakan harga waran PT Zyrexindo Mandiri Buana Tbk (ZYRZ-W) pada 27 Maret 2023 sebagai contoh manipulasi harga yang berujung laporan kepolisian.

Aturan baru ini diharapkan mampu menciptakan pasar yang lebih adil dan aman bagi investor, khususnya individu.

Peluang Pendanaan Global Mulai Terbuka

HR1 04 Dec 2024 Kontan
Pemerintah menghadapi tantangan besar dalam mengelola pembiayaan utang di tengah risiko pengetatan likuiditas domestik. Posisi utang pemerintah mencapai Rp 8.560,35 triliun per akhir Oktober 2024, dengan 88,21% didominasi oleh Surat Berharga Negara (SBN). Namun, potensi persaingan likuiditas dengan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi, bisa mempersulit pencapaian target pembiayaan domestik.

Faisal Rachman, Head of Macroeconomic and Financial Market Research Bank Permata, menyarankan pemerintah mempercepat belanja negara melalui strategi front loading di semester I-2025 untuk meningkatkan likuiditas domestik dan mendorong multiplier effect terhadap ekonomi. Ia juga merekomendasikan agar hasil penerbitan SBN segera dialokasikan ke sektor riil untuk menjaga likuiditas pasar.

Myrdal Gunarto, Staf Bidang Ekonomi dan Global Markets Bank Maybank Indonesia, menilai penerbitan SBN dengan tenor lebih dari satu tahun sebagai strategi penting karena menawarkan keunggulan dibandingkan SRBI yang bertenor pendek. Ia juga mengusulkan perluasan obligasi berbasis syariah ke pasar internasional, seperti Malaysia dan Timur Tengah, untuk mengurangi ketergantungan pada pembiayaan domestik.

Diversifikasi sumber pembiayaan, termasuk memanfaatkan pasar internasional yang mulai menurunkan suku bunga, terutama di Eropa, juga menjadi strategi yang disarankan untuk mengurangi eksposur ke AS yang masih mempertahankan suku bunga tinggi. Strategi ini dinilai dapat menjaga stabilitas pembiayaan dan mendukung pertumbuhan ekonomi.

Optimistis Ditengah Gejolak Ekonomi Global

KT1 30 Nov 2024 Investor Daily (H)
Kondisi global diprediksi masih menghadapi gejolak,  menyusul kebijakan Donald Trump yang diperkirakan akan menjalankan kebijakan yang akan berdampak pada tarif tinggi, perang dagang, ketegangan geopolitik, hingga disrupsi rantai pasok dagang. Namun demikian, kondisi Indonesia diyakini masih memiliki sejumlah kondisi positif. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan pada tahun 2025 ada lima tantangan yang dihadapi perekonomian dunia. Pertama, yaitu terjadinya slower and  divergent growth dimana pertumbuhan ekonomi dunia menurun pada 2025 dan 2026. Kedua, yaitu kondisi reemergence of inflation pressure, dimana terjadi penurunan inflasi dunia akan melambat bahkan berisiko naik pada tahun 2026. Ketiga, yaitu terjadinya ketidakpastian suku bunga  The Fed diperkirakan akan menurun, menjadi lebih rendah tetapi yield US treasure akan naik tinggi menjadi 4,7% pada tahun 2025 dan 2026. Keempat, yaitu terjadinya penguatan mata uang dolar AS. Perry mengatakan indeks dolar Amerika menguat dari 101 ke 107. Kelima, yaitu muncul anggapan  investor asing untuk menanamkan modal di AS. Persepsi tersebut, menyebabkan  modal asing keluar dari negara berkembang dan kembali ke AS lantaran tingginya  suku  bunga dan kuatnya dolar. (Yetede)

Butuh Peran Swasta untuk mencapai Target 8 Persen

KT3 27 Nov 2024 Kompas

Pertumbuhan ekonomi 8 % sebagaimana ditargetkan oleh pemerintahan Presiden Prabowo membutuhkan kerja sama dari berbagai pihak, terutama sektor swasta. Upaya tersebut membutuhkan keselarasan antara arah kebijakan pemerintah dan kebutuhan pelaku bisnis. Hal ini mengemuka dalam diskusi Kompas100 CEO Forum Powered by PLN 2024 di Jakarta, Selasa (26/11). Diskusi tersebut mengangkat tema ”Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi 8 %: Sinergi Infrastruktur dan Teknologi Inovatif untuk Keberlanjutan Ekonomi”. Hadir sebagai pembicara Direktur Perencanaan dan Pengembangan Proyek Infrastruktur Prioritas Nasional Kementerian PPN/Bappenas, Sumedi Andono Mulyo, Dirut PT PLN Indonesia Power, Edwin Nugraha, serta Ketua Umum Indonesian Mining Association Rachmat Makkasau.

Wakil Menteri PPN/Bappenas Febrian Alphyanto Ruddyard dalam sambutannya mengatakan, pemerintah tengah mendorong perekonomian rakyat dengan target pertumbuhan ekonomi 8 %, sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045 yang dituangkan dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045. RPJPN tersebut memiliki lima sasaran, mulai dari pendapatan per kapita Indonesia etara dengan negara maju, kemiskinan turun 0,5-0,8 %, hingga peran dan pengaruh di dunia internasional meningkat. Kemudian, peningkatan kualitas daya saing SDM serta penurunan intensitas emisi gas rumah kaca hingga menuju net zero emission. ”Dalam lima tahun ke depan, fondasi pembangunan nasional melalui pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan semakin diperkuat. Karena itu, saya rasa semua pihak perlu berkolaborasi serta berkomitmen untuk berkontribusi dan berbagi peran dalam mewujudkan perencanaan tersebut dengan didukung oleh kapasitas dan alternatif pendanaan yang kuat,” katanya. (Yoga)


Melambatnya Peredaran Uang, Tanda Konsumsi Melemah

HR1 23 Nov 2024 Kontan
Perlambatan pertumbuhan likuiditas ekonomi Indonesia di akhir tahun 2024 menjadi lampu kuning bagi pemerintah dan Bank Indonesia (BI). Data BI menunjukkan, jumlah uang beredar (M2) pada Oktober 2024 mencapai Rp 9.078,6 triliun, tumbuh 6,7% year-on-year (yoy). Namun, pertumbuhan ini melambat dibandingkan bulan sebelumnya, yang mencatatkan pertumbuhan 7,2% yoy. Menurut Ramdan Denny Prakoso, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, penurunan ini dipengaruhi oleh pertumbuhan kredit yang stabil (10,4% yoy) dan kontraksi tagihan bersih kepada pemerintah pusat sebesar 0,1% yoy.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, mengingatkan bahwa perlambatan ini bisa menurunkan konsumsi, investasi, dan pertumbuhan ekonomi jika sektor riil tidak mampu menyerap likuiditas. Ia juga menyoroti risiko tekanan likuiditas perbankan jika dana pihak ketiga (DPK) tumbuh lebih lambat dari kredit, yang dapat mengganggu efisiensi intermediasi perbankan.

Awalil Rizky, Ekonom Senior Bright Institute, menambahkan bahwa pertumbuhan M2 sepanjang 2024 diperkirakan hanya bertahan di kisaran 7% yoy, jauh di bawah pertumbuhan pada 2020-2022. Ia juga mencatat bahwa kredit UMKM tumbuh lebih lambat dibanding kredit korporasi, sementara simpanan nasabah besar (di atas Rp 1 miliar) mendominasi pertumbuhan DPK.

Ke depan, Awalil menyarankan pemerintah, BI, dan OJK untuk mendorong aliran likuiditas ke sektor riil dan masyarakat bawah, terutama melalui peningkatan kredit UMKM. Langkah ini penting untuk menjaga stabilitas ekonomi, meningkatkan konsumsi, dan mendukung pertumbuhan yang inklusif di tengah tekanan likuiditas yang mengering.

Strategi Ketat Jaga Likuiditas Ekonomi

HR1 23 Nov 2024 Bisnis Indonesia (H)

Bank-bank di Indonesia tengah mempersiapkan strategi untuk menghadapi tekanan likuiditas yang semakin kompleks, di tengah upaya Bank Indonesia (BI) untuk mengoptimalkan Sekuritas Rupiah BI (SRBI) guna menarik modal asing dan memperkuat rupiah. Kebijakan SRBI yang menawarkan bunga tinggi membuat bank-bank harus bersaing dalam menarik dana pihak ketiga (DPK) dan mempertahankan suku bunga simpanan yang kompetitif. Hal ini juga berdampak pada ketidakmampuan bank untuk menurunkan suku bunga kredit dalam waktu dekat.

Beberapa bank, seperti PT Bank Negara Indonesia (BNI) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., berfokus pada penyelarasan pertumbuhan kredit dengan DPK dan menjaga likuiditas dengan memanfaatkan instrumen treasury. Di sisi lain, PT Bank Central Asia (BCA) mengandalkan dana murah (CASA) untuk mendukung ekspansi kredit yang sehat.

Sementara itu, bank asing seperti Citibank Indonesia memilih strategi wait and see karena ketidakpastian yang disebabkan oleh proteksionisme AS. Pengamat perbankan menekankan pentingnya bank dalam menciptakan daya tarik nasabah selain hanya mengandalkan bunga tinggi, untuk memastikan kecukupan likuiditas dalam mendukung ekspansi kredit.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyatakan bahwa BI tetap optimistis dengan stabilitas rupiah, yang didukung oleh kebijakan BI, inflasi yang rendah, dan prospek pertumbuhan ekonomi yang baik.