;
Tags

Ekonomi Makro

( 699 )

Dorongan Ekonomi Berisiko Perbesar Defisit Transaksi Berjalan

HR1 22 Nov 2024 Kontan
Defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) Indonesia mencatat perbaikan sementara pada kuartal III-2024, turun menjadi US$ 2,2 miliar (0,6% dari PDB) dibandingkan US$ 3,2 miliar (0,9% dari PDB) di kuartal sebelumnya. Penurunan ini didukung surplus neraca perdagangan barang, penyempitan defisit neraca jasa, dan penurunan defisit neraca pendapatan primer. Faktor musiman seperti penurunan pembayaran imbal hasil investasi juga berkontribusi pada perbaikan ini.

Namun, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memperkirakan CAD akan kembali melebar di kuartal mendatang, dengan proyeksi sepanjang 2024 berada di kisaran 0,1%-0,9% dari PDB. Prospek ini sejalan dengan faktor pembayaran bunga utang dan pelemahan surplus perdagangan akibat penurunan harga komoditas serta melambatnya permintaan global, terutama dari China.

Kepala Ekonom BCA David Sumual memproyeksikan CAD 2024 di level 0,7% dari PDB, sementara Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memperkirakan pelebaran lebih besar, hingga 1,22% pada 2025, didorong oleh normalisasi harga komoditas dan percepatan agenda ekonomi pemerintah.

Meski begitu, surplus transaksi modal dan finansial yang mencapai US$ 6,6 miliar di kuartal III-2024 menunjukkan perbaikan signifikan, terutama dari investasi langsung di sektor pengolahan dan jasa. Hal ini membuat Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) berbalik surplus sebesar US$ 5,9 miliar, setelah sebelumnya defisit.

Menurut Perry, aliran masuk modal asing di berbagai instrumen investasi akan menjaga NPI positif, didukung oleh upaya hilirisasi ekonomi. Inisiatif ini diharapkan mengurangi ketergantungan pada ekspor komoditas mentah dan membatasi pelebaran CAD dalam jangka panjang, meskipun tantangan global tetap menjadi perhatian utama.

Belanja Awal 2024 Dibiayai Lewat Sukuk Global

HR1 20 Nov 2024 Kontan
Pemerintah Indonesia menerbitkan surat berharga syariah negara (SBSN) berdenominasi dolar AS atau sukuk global senilai US$ 2,75 miliar (sekitar Rp 43,57 triliun) untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan awal tahun 2025 (prefunding). Ini adalah penerbitan sukuk global kedua pada tahun 2024, setelah yang pertama pada Juni senilai US$ 2,35 miliar. Deni Surjantoro, Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan, mengonfirmasi bahwa sukuk ini bertujuan untuk mendanai program-program pemerintah, terutama yang berkaitan dengan belanja rutin dan program populis, seperti Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang telah dialokasikan anggaran sebesar Rp 71 triliun pada APBN 2025.

Myrdal Gunarto, Global Market Economist Maybank Indonesia, menilai bahwa penerbitan sukuk global ini cukup untuk menutupi pengeluaran rutin pemerintah, termasuk gaji pegawai dan subsidi. Dengan belanja negara yang diperkirakan mencapai Rp 3.600 triliun pada 2025, sukuk ini dapat membantu memenuhi kebutuhan pendanaan di awal tahun, termasuk untuk pembayaran bunga utang dan belanja modal.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati telah mempertimbangkan strategi prefunding ini untuk menjaga stabilitas APBN dan memastikan kesiapan instrumen utang. Meskipun demikian, pemerintah masih memiliki opsi untuk melaksanakan lelang rutin surat utang domestik untuk menutupi sisa kebutuhan pembiayaan.

Menakar Dampak Periode Kedua Trump Perekonomian Indonesia

KT1 19 Nov 2024 Investor Daily (H)
Dalam artikel sebelumnya, "Bagaimana Kepresidenan Kedua Trump Akan Mempengaruhi Ekonomi ASEAN?" (Investor Daily, 18 November 2024), kami membahas bahwa kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih kemungkinan  besar akan menghidupkan kembali kebijakan "America Firts". Kebijakan ini berfokus pada pemulangan lapangan kerja, pengurangan defisit perdagangan, dan pengetatan kebijakan imigrasi, yang berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap ekonomi masing-masing negara ASEAN, termasuk Indonesia. Dalam tulisan ini, kami akan membahas lebih lanjut bagaimana kebijakan-kebijakan ekonomi Trump dapat memengaruhi Indonesia selama periode 2024-2029, melalui empat saluran utama: tarif dan defisit perdagangan, sistem preferensi umum (GSP), perubahan rantai pasok global, serta investasi asing langsung (FDI). (Yetede)

Program Nutrisi Gratis Angkat Sektor Terkait

HR1 19 Nov 2024 Kontan
Program makan bergizi gratis yang diusung oleh Presiden Prabowo Subianto melibatkan sejumlah perusahaan BUMN yang mendapatkan mandat untuk mendukung kelancaran program tersebut. Lima emiten BUMN yang terlibat adalah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS). Setiap perusahaan memiliki peran spesifik, seperti penyediaan pinjaman untuk pemasok gizi, pengembangan ekosistem digital, serta penyediaan infrastruktur energi untuk mendukung pelayanan gizi di masyarakat.

Fajriyah Usman, Corporate Secretary PGAS, menyatakan komitmennya dalam menyediakan jaringan gas untuk mendukung proses penyediaan makanan bergizi. Sementara itu, Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, melihat program ini sebagai bentuk tanggung jawab sosial korporat yang dapat berdampak positif pada kinerja keuangan emiten BUMN. Keterlibatan ini diharapkan dapat meningkatkan permintaan kredit dan memberikan dampak positif bagi sektor energi, terutama PGAS yang berfokus pada pengembangan infrastruktur gas.

Namun, Sukarno Alatas, Head of Research Kiwoom Sekuritas, mengingatkan adanya tantangan dalam koordinasi dan kualitas logistik program, yang dapat memengaruhi dampak jangka panjang terhadap pendapatan emiten. Meski begitu, Nafan merekomendasikan akumulasi beli saham BBNI, BBRI, BMRI, dan TLKM, dengan target harga masing-masing yang optimis, mengingat potensi dukungan ekonomi dari program tersebut.

Stabilitas Pasar Meski Ada Peluang Penurunan

HR1 19 Nov 2024 Kontan
Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya (BI-Rate) di level 6% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan November ini. Banjaran Surya Indrastowo, Chief Economist Bank Syariah Indonesia, menjelaskan bahwa BI-Rate kemungkinan tetap karena adanya capital outflow yang masih berlangsung dan tekanan pada nilai tukar rupiah. Hal ini sesuai dengan kebijakan BI untuk menjaga stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian global yang tinggi.

Namun, Myrdal Gunarto, Global Market Economist Maybank Indonesia, sepakat bahwa meski BI kemungkinan menahan suku bunga pada bulan ini, ruang untuk penurunan suku bunga masih terbuka pada bulan Desember 2024. Proyeksi keduanya adalah pemangkasan 25 basis poin pada akhir tahun untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, Hosianna Evalia Situmorang, Ekonom Bank Danamon, berpendapat bahwa BI akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan November untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, mengingat posisi cadangan devisa yang cukup stabil dan potensi pemangkasan suku bunga oleh The Fed.

Dengan kondisi ekonomi global yang tidak menentu dan kebutuhan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi domestik, BI harus berhati-hati dalam mengambil langkah kebijakan moneter. Meski demikian, langkah penurunan suku bunga di bulan Desember masih dipandang sebagai pilihan yang mungkin untuk mendorong perekonomian lebih lanjut.

Bagaimana Kepresidenan Kedua Trump Akan Mempengaruhi Ekonomi Asean

KT1 18 Nov 2024 Investor Daily (H)

Kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih pada 20 Januari 2025, kebijakan "America First" akan kembali menjadi pusat perhatian. Kebijakan ini, yang menekankan pemulangan lapangan kerja, pengurangan difisit perdagangan, dan pengetatan kebijakan imigrasi, memiliki dampak besar terhadap ekonomi negara berkembang. Artikel ini menganalisa dampak yang diantisipasi dari kebijakan ekonomi Trump terhadap ekonomi Asia Tengara (yang dikelompokkan sebagai Asean), terutama mengingatkan Asean telah menjadi sumber alternatif impor dan tujuan potensial relokasi investasi di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan antara AS dam China.

Analisis ini berfokus pada empat aspek utama: tarif dan desifit perdagangan, sistem prefensi umum (General System of Prference/GSP), reorientasi rantai pasok global, dan investasi langsung asing (FDI). Pada masa jabatan sebelumnya, Trump secara agresif memberlakukan tarif untuk mengurani defisit perdagangan AS, khususnya pada impor dari China. Dalam masa jabatan keduanya, dia telah mengisyaratkan niat untuk memberlakukan tarif setinggi 60% pada impor dari China, dengan potensi tarif 10-20% pada impor dari negara lain (dan hingga 200% pada kendaraan listrik, terutama dari China dan Meksiko). (Yetede)

Hilirisasi sebagai fondasi bari Ekonomi Nasional

KT3 15 Nov 2024 Kompas

Ambisi pemerintah menjadikan hilirisasi sebagai fondasi baru ekonomi nasional mesti disertai kesadaran korporasi untuk menjalani prinsip keberlanjutan. Upaya perusahaan mengintegrasikan bisnis utama dengan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola, atau ESG penting bagi keberlangsungan usaha dalam jangka panjang. Hal tersebut disampaikan Chairperson of ESG Task Force Kadin Indonesia, Maria Rosaline Nindita Radyati, dalam diskusi terbatas CEO Connect dengan tema ”Indonesia Emas 2045: Optimalisasi Hilirisasi dan Kolaborasi Industri dalam Meningkatkan Penerapan ESG di Indonesia” yang digelar harian Kompas dan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) di Jakarta, Rabu (13/11). Maria menekankan, berdasarkan prinsip ESG, risiko keberlanjutan yang dihadapi industri dalam menjalankan program hilirisasi tidak hanya datang dari aspek lingkungan dan tata kelola, tetapi juga aspek sosial.

Ia menyoroti pentingnya perusahaan menghormati HAM, mmastikan kesejahteraan karyawan, dan berkontribusi terhadap masyarakat. ”Dalam melakukan hilirisasi, perusahaan harus mempersiapkan aspek sosial seoptimal mungkin. Bukan hanya terhadap karyawan, konsumen, atau supplier, melainkan juga dari calon mitra bisnis, serta komunitas masyarakat yang terdampak jalannya bisnis,” ujarnya. Dalam rezim ekonomi global saat ini, kata Maria, ESG bukan sekadar tanggung jawab moral perusahaan terhadap aspek keberlanjutan, tetapi juga kunci daya tarik investasi. Rating ESG yang rendah dapat menghambat minat investor berinvestasi sehingga dapat mengganggu jalannya program hilirisasi. (Yoga)


Menguak Potensi Ekonomi di Sektor Informal

HR1 15 Nov 2024 Kontan
Pemerintah berkomitmen menggali potensi pajak dari aktivitas ekonomi yang tidak terdeteksi (underground economy) untuk meningkatkan penerimaan negara dan rasio pajak (tax ratio). Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan bahwa pemerintah akan memetakan berbagai aktivitas ekonomi, termasuk kegiatan ilegal seperti perjudian online, serta sektor informal dan usaha kecil. Koordinasi antar-kementerian dan penyusunan roadmap menjadi kunci pelaksanaan rencana ini.

Wakil Menteri Keuangan, Anggito Abimanyu, menambahkan bahwa roadmap tersebut akan mencakup baseline, buoyancy, serta dampak implementasi Coretax Administration System (CTAS) untuk meningkatkan kepatuhan wajib pajak. Teknologi seperti kecerdasan buatan dalam CTAS akan memperkuat deteksi transaksi ekonomi informal, sejalan dengan dorongan Bank Indonesia untuk memperluas transaksi nontunai.

Menurut pengamat pajak Fajry Akbar dari CITA, sektor yang berpotensi besar untuk dimanfaatkan adalah underground production, yakni aktivitas legal yang tidak terlapor karena penghindaran pajak. Namun, ia menyoroti bahwa sektor informal sulit dipajaki tanpa terobosan administrasi yang efisien. Data pihak ketiga dan dukungan Badan Intelijen Keuangan dinilai penting untuk memaksimalkan penerimaan pajak dari sektor ini.

Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin memperkirakan aktivitas underground economy mencapai 15%-20% dari PDB Indonesia, setara Rp 3.600 triliun. Dengan tax ratio 10,4%, potensi penerimaan pajaknya mencapai Rp 375 triliun.

Sementara itu, Prianto Budi Saptono, Direktur Eksekutif Pratama-Kreston Tax Research Institute, menyebut penerapan CTAS mulai tahun depan akan mengintegrasikan transaksi ekonomi ke dalam sistem resmi. Dengan teknologi dan dukungan kebijakan pemerintah, potensi penerimaan dari sektor ini diyakini dapat dimaksimalkan.

Meski demikian, tantangan tetap ada, terutama dalam memajaki sektor ilegal yang tidak berkelanjutan tanpa legalisasi, serta tingginya biaya administrasi di sektor informal.

Strategi Mengatasi Lemahnya Daya Beli

HR1 14 Nov 2024 Kontan
Kondisi perekonomian Indonesia pada kuartal III-2024 menunjukkan perlambatan, dengan pertumbuhan hanya 4,95% year-on-year (yoy). Lemahnya daya beli masyarakat, penurunan Indeks Penjualan Riil (IPR), dan penurunan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) semakin menggarisbawahi tantangan yang dihadapi. Menanggapi situasi ini, kalangan ekonom dan pengusaha mendesak pemerintah mengeluarkan kebijakan yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat, terutama kelas menengah.

Wijayanto Samirin, ekonom Universitas Paramadina, menilai pemerintah perlu efisiensi dalam pengelolaan APBN. Langkah ini mencakup menghentikan proyek-proyek boros anggaran, memberikan insentif pajak kepada kelompok menengah bawah, serta melanjutkan kebijakan Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) untuk produk perumahan sederhana dan kendaraan murah. Menurutnya, kebijakan ini penting karena ruang fiskal pemerintah terbatas akibat stagnasi penerimaan pajak dan tingginya biaya pembayaran utang.

Chandra Wahjudi, Wakil Ketua Apindo, menegaskan perlunya fokus pada penguatan daya beli kelas menengah yang saat ini menjadi motor utama perekonomian domestik. Salah satu usulan adalah menaikkan batas penghasilan tidak kena pajak (PTKP) guna meningkatkan konsumsi domestik dan mempercepat pemulihan ekonomi. Ia juga menilai insentif pajak dapat menjadi solusi untuk mengurangi beban kelas menengah sambil mendorong pertumbuhan.

Ferry Irawan, Deputi Ekonomi Makro Kemenko Perekonomian, menambahkan bahwa pemerintah sedang mempersiapkan insentif tambahan, termasuk PPN DTP di sektor perumahan untuk 2025. Kebijakan ini bertujuan menciptakan lapangan kerja di ekosistem perumahan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Langkah ini diharapkan dapat menjaga stabilitas ekonomi, memulihkan daya beli, dan mendorong konsumsi sebagai fondasi pemulihan ekonomi nasional.

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Melambat

HR1 04 Nov 2024 Kontan
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2024 diperkirakan stagnan di kisaran 4,75%-5,05%, melambat dibanding kuartal sebelumnya yang mencapai 5,05%. Para ekonom mengidentifikasi beberapa faktor penyebab kondisi ini, termasuk minimnya katalis ekonomi baru, stagnasi harga komoditas, dan penurunan daya beli masyarakat.

David Sumual, Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi masih terhambat karena tidak ada pendorong signifikan dan harga komoditas yang belum bergerak. Ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi sepanjang 2024 akan mencapai 5,03%, lebih rendah dari target APBN sebesar 5,2%.

Hosianna Evalia Situmorang, Ekonom Bank Danamon, lebih optimistis dengan mencatat surplus perdagangan akumulatif dan kenaikan nilai ekspor beberapa komoditas sebagai faktor pendukung. Ia juga melihat realisasi belanja pemerintah, yang tumbuh 12% secara tahunan, sebagai pendorong positif.

Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata, menyoroti konsumsi rumah tangga sebagai faktor utama yang mendukung pertumbuhan, dengan pertumbuhan konsumsi pada kuartal III mencapai 5,03%, naik dari kuartal sebelumnya. Penurunan inflasi juga memperkuat daya beli masyarakat.

Namun, Wijayanto Samirin, Ekonom Universitas Paramadina, mengingatkan adanya tanda-tanda pelemahan ekonomi, seperti deflasi selama kuartal III yang menunjukkan penurunan daya beli, serta penurunan aktivitas sektor manufaktur dan ritel yang menyebabkan peningkatan PHK. Ia optimistis bahwa di kuartal IV, berbagai program bansos dan kepastian kebijakan dari pemerintahan baru akan memberikan stimulus positif bagi konsumsi dan pertumbuhan ekonomi. Indikasi ini ditandai oleh inflasi yang mulai muncul pada Oktober 2024.

Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi kuartal III-2024 diperkirakan tetap di level moderat, dengan tantangan utama pada daya beli dan investasi, namun prospek membaik di kuartal IV berkat dukungan kebijakan pemerintah dan program sosial.