Merger Nobu dan MNC Bank Tetap Terwujud
RI Bidik Pasar Timur Tengah
Kemenhub Pacu Penggunaan Bus Listrik
7 Startup Indonesia Masuk Daftar Unicorn Global
Sebanyak tujuh usaha rintisan berbasis teknologi (startup) asal Indonesia yang punya valuasi minimal US$ 1 miliar (unicorn) masuk dalam daftar global yang disusun oleh CB Insights, berdasarkan data hingga Maret 2024. Jumlah tersebut berkurang satu dibandingkan delapan startup pada September 2023. Di tengah masa sulitnya pendanaan, mereka terus berusaha untuk berinovasi dan mengembangkan bisnisnya agar tetap tumbuh berkelanjutan.
Tujuh startup yang bertahan pada daftar CB Insight hingga akhir kuartal 1 tahun ini terdiri atas Traveloka (financial services), eFishery (indsutrial agritech), DANA (financial), Kopi Kenangan (cosumer & retail beverage), Ajaib (financial services), dan Xendit (finansial). Semua startup tersebut mempunyai nilai/valuasi perusahaan sekitar US$ 10,43 miliar. Terjadi penurunan valuasi cukup dalam karena pada September 2023 masih US$ 32,43 miliar. Penyebabnya, J&T Express/J&T Forwarder's (HK) Cp Ltd telah dikeluarkan dari daftar. (Yetede)
Pengangguran Kalangan Gen Z Ancam Penerimaan Pajak
Tingginya jumlah pengangguran dari kalangan muda dikhawatirkan akan memberikan dampak penurunan penerimaan pajak. Di sisi lain, masalah tersebut juga tidak terlepas dari belum sesuainya kompetensi tenaga kerja dengan industri yang ada di Tanah Air. Berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2023 tercatat ada juta orang dengan rentang usia 15-24 tahun tidak bersekolah, tidak kerja, dan tidak sedang mengikuti pelatihan. "Memang generasi ini generasi yang beda, mereka suka pakai handphone dan bekerja dari sana.
Sementara itu, sektor ekonomi kita belum siap untuk memberikan pekerjaan yang seperti 'permanen' tetapi bekerja dari rumah." kata Tim Asisten Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Raden Pardede. Raden mengungkapkan, untuk menyerap tenaga kerja maka sektor ekonomi harus diperkuat dengan teknologi. Langkah tersebut dilakukan agar industri bisa menyesuaikan dengan langkah generasi muda saat ini yang kerap menjalankan gaya bekerja secara remote atau tanpa harus ke kantor. (Yetede)
Pemda Terlibat Awasi Distribusi BBM Subsidi
Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah dalam pengawasan distribusi bahan bakar minyak (BBM) subsidi dan BBM penugasan. Kedua jenis BBM disalurkan untuk nelayan, petani, transportasi umum, layanan sosial, serta UMKM. BBM subsidi yakin Solar dan Minyak Tanah. Sedangkan BBM penugasan yakni Pertalite. Kepala BPH Migas Erika Retnowati mengatakan kegiatan pengawasan membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk Pemda agar BBM tersebut dinikmati oleh masyarakat yang berhak. "Pemerintah daerah mempunyai peran yang sangat penting dalam membantu BPH Migas melakukan pengawasan penyaluran BBM subsidi dan BBM kompensasi, mengingat pemerintah daerah tentu yang paling mengetahui situasi dan kondisi, serta siapa saja konsumen pengguna yang berada di wilayahnya masing-masing," kata Erika. (Yetede)
Smelter Ceria Gunakan Pembangkit Ramah Lingkungan
Hapus HET Perlu Buffer Stock untuk kontrol Harga Gula
Bulog Lanjutkan Program Jemput Gabah Petani
Perum Bulog tetap akan mengadakan atau melakukan program jemput gabah petani meski minim peminat. Selama ini, yang terjadi adalah petani akan menjual gabah mereka ke penggilingan kecil ataupun pengepul dengan kadar air sekitar 25-30%, lalu para penggilingan kecil ataupun pengepul itu akan menjual ke Sentra Penggilingan Padi (SPP) Bulog. "Untuk jemput gabah/beras yang dilakukan Bulog ternyata tidak banyak yang memanfaatkan fasilitas itu. Tetapi, apakah program itu akan hilangkan? Tidak, tetap ada, kita stand-by saja," kata Bayu.
Bayu menuturkan, program jemput gabah minim diminati petani karena mereka sudah berhubungan baik dan terikat dengan para penggilingan kecil di daerahnya masing-masing. Hubungan dengan para pengepul dan penggilingan kecil itu juga sudah berlangsung lama. "Petani akan menjual gabah mereka ke pengepul para penggiling atau pengepul ini pun akan menjual ke SPP Bulog. Petani pun berhitung, apakah masuk, dapat untung atau enggak? Ternyata itu masih bisa, Jadi dengan relaksasi harganya masih bisa masuk, akhirnya mereka (petani) tidak memilih program tadi, tidak menggunakan jemput gabah," ungkap bayu. (Yetede)
Kearifan Lokal, Alternatif Atasi Problem Air
Budaya dan kearifan lokal dinilai bisa menjadi ”penawar” atau solusi alternatif mengatasi persoalan air. Sayangnya, upaya mempertahankan kearifan lokal dan segala pengetahuan tersebut seperti jalan panjang nan berbatu. Hal itu mengemuka dalam diskusi internasional bertajuk ”Subak dan Jalur Rempah, Kearifan Lokal Pengelolaan Air” dalam rangkaian Forum Air Sedunia (World Water Forum) Ke-10 di Bali International Convention Center, Nusa Dua, Bali, Selasa (21/5). Secara global, menurut Laporan Pembangunan Air Dunia PBB 2023 oleh UNESCO, 2 miliar orang atau 26 % populasi dunia tidak memiliki air minum yang aman. Selain itu, 3,6 miliar orang atau 46 % populasi tidak memiliki akses sanitasi yang dikelola dengan aman.
Data lainnya, 2 miliar-3 miliar orang kekurangan air setidaknya satu bulan dalam setahun sehingga menimbulkan risiko besar terhadap mata pencarian, terutama ketahanan pangan dan akses listrik. Populasi perkotaan global yang menghadapi kelangkaan air diperkirakan meningkat dua kali lipat dari 930 juta pada 2016 menjadi 1,7 miliar-2,4 miliar orang pada 2050. Meningkatnya kejadian kekeringan ekstrem dan berkepanjangan juga memberi tekanan pada ekosistem dengan konsekuensi yang mengerikan bagi spesies tumbuhan dan hewan.Indonesia sudah membuktikan bahwa kearifan lokal dan pengetahuan tradisional mampu menjaga pengelolaan air secara berkelanjutan. Contohnya subak yang telah ditetapkan menjadi warisan dunia oleh UNESCO.
Subak tak hanya menyangkut sistem irigasi, tetapi juga bertaut erat dengan filosofi kehidupan masyarakat Bali. Selain subak di Bali, ada Komunitas Adat Ciptagelar di Jabar yang bisa jadi contoh. Komunitas ini membagi kawasan hutannya menjadi tiga zona, salah satunya khusus untuk perlindungan atau konservasi air. Masyarakat Ciptagelar juga menerapkan sistem tata kelola air yang diatur secara khusus oleh lembaga dan struktur adat. Secara umum, penggunaan air dialokasikan oleh masyarakat Ciptagelar pada tiga fungsi utama, yakni untuk irigasi sawah, kebutuhan rumah tangga, dan menghasilkan listrik melalui pembangkit listrik tenaga mikrohidro.
Pengetahuan itu hanya sebagian dari kekayaan atas kearifan lokal yang berkaitan dengan pengelolaan air di Nusantara. ”Indonesia itu seperti perpustakaan peradaban dunia yang seharusnya masuk dalam percakapan global sehingga (budaya) tak sekadar jadi tradisi masa lalu. Seperti cara masyarakat kita bertahan di Nusantara selama ribuan tahun mengelola air sebagai sumber kehidupan yang patut dipelajari,” kata Dirjen Kebudayaan Kemendikbudristek, Hilmar Farid. engamat budaya dari Universitas Udayana, Bali, sekaligus pengurus Pura Ulun Danu Batur, I Ketut Eriadi Ariana menyebut, ”Keruntuhan manusia di Bali bisa terjadi saat danau tercemar, hutan-hutannya hilang, dan laut tercemar. Begitu juga subak yang saat ini sudah jadi warisan budaya untuk dunia, tetapi banyak lahannya dipakai untuk pembangunan vila, hotel, dan sebagainya. Harusnya (lahan subak) dijaga,” kata Eriadi. (Yoga)









