Semester I-2024, Laba Bersih Barito Pacific Tumbuh Positif
Hati-hati Daya Beli Melemah
Pertumbuhan Perbankan Melesat
Kekuatan Dana Segar
Kebijakan The Fed
LUNTUR OPTIMISME MANUFAKTUR
Menurunnya optimisme pelaku industri manufaktur di Indonesia, yang terlihat dari penurunan Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia ke zona kontraksi pada Juli 2024, setelah hampir tiga tahun berada di zona ekspansif. Kondisi ini menjadi peringatan bagi perekonomian nasional karena manufaktur merupakan pilar penting dalam pertumbuhan produk domestik bruto (PDB).
Penurunan PMI Manufaktur Indonesia pada Juli 2024 menjadi alarm bagi perekonomian nasional. Beberapa faktor, seperti penurunan permintaan domestik, tantangan eksternal, dan kebijakan impor, berkontribusi pada kondisi ini. Tokoh seperti Paul Smith dari S&P Global, Wakil Ketua Umum Kadin Yukki Nugrahawan Hanafi, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, semuanya menekankan pentingnya sinergi kebijakan pemerintah dan penguatan koordinasi untuk mengatasi pelemahan di sektor manufaktur.
Realisasi Penyaluran Kredit Bank Mandiri Kuartal II/2024 Tembus Rp1.532 Triliun
Bank Mandiri mencatatkan realisasi penyaluran kredit konsolidasi sebesar Rp1.532 triliun pada kuartal II/2024, meningkat 20,5% secara year-on-year (YoY). Pencapaian ini melampaui pertumbuhan industri perbankan nasional yang sebesar 12,36% YoY pada periode yang sama. Direktur Utama Bank Mandiri, Darmawan Junaidi, menyatakan bahwa hasil ini didukung oleh stabilitas ekonomi Indonesia di tengah tantangan global, serta fokus Bank Mandiri pada perluasan ekosistem dan optimalisasi potensi wilayah.
Bank Mandiri berhasil mencatat pertumbuhan kredit yang signifikan hingga mencapai Rp1.532 triliun pada kuartal II/2024, berkat strategi perluasan ekosistem dan pengelolaan risiko yang disiplin. Pertumbuhan kredit ini juga berkontribusi pada peningkatan laba bersih dan kualitas aset, dengan posisi non-performing loan (NPL) yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Darmawan Junaidi menegaskan bahwa kinerja positif ini merupakan hasil dari inisiatif yang prudent dan konservatif dalam menjaga kualitas aset di tengah dinamika ekonomi global.
Memperkuat Ketahanan Energi Nasional
Persoalan mengawal ketahanan energi dan keterjangkauan harga komoditas selalu menjadi prioritas pemerintah di seluruh dunia. Krisis gas yang melanda Eropa akibat konflik geopolitik antara Rusia dan Ukraina mengajarkan betapa pentingnya menjaga kedua hal tersebut, terutama di tengah transisi energi baru terbarukan (EBT) yang masih belum optimal.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks, Indonesia terus berupaya menjaga ketahanan energi melalui berbagai strategi, termasuk pengembangan energi fosil dan EBT. Meskipun lifting migas belum mencapai target, penerimaan negara dari sektor ini tetap signifikan, menunjukkan pentingnya industri hulu migas. Pemerintah juga terus berupaya menarik investasi untuk mempercepat akselerasi industri hulu migas nasional. Namun, dengan potensi cadangan energi yang besar, tantangan tetap ada dalam menjaga iklim investasi agar tetap kompetitif di tengah persaingan global.
SERBUAN BARANG IMPOR : UMKM Perlu Naikkan Kualitas
Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop UKM) mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk meningkatkan kualitas produk lokal agar dapat bersaing dengan produk impor yang lebih murah. Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Menkop UKM) Teten Masduki menegaskan bahwa model bisnis UMKM harus efisien dan kompetitif dibandingkan dengan produk luar negeri.
Pemerintah melalui Kemenkop UKM dan berbagai ahli menekankan pentingnya meningkatkan kualitas dan daya saing produk UMKM di tengah gempuran produk impor. Selain itu, pengawasan terhadap jalur masuk barang ilegal, termasuk pelabuhan kecil atau "pelabuhan tikus," harus diperketat untuk melindungi produk lokal dari persaingan yang tidak sehat.
Sorak Sorai di Bulan Kemerdekaan
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi bergerak positif sepanjang bulan Agustus ini. Secara historis, IHSG cenderung memberi return positif pada bulan kemerdekaan. Di akhir bulan Juli ini, IHSG ditutup naik 0,19% ke posisi 7.255,76, Rabu (31/7). Dalam sebulan terakhir, IHSG menanjak 1,63%. IHSG berpeluang bertahan di atas level psikologis 7.000 sepanjang bulan Agustus 2024 ini. Pasar saham dalam negeri diramal akan mendapatkan sentimen positif dari pemangkasan suku bunga. Research Analyst Phintraco Sekuritas, Aditya Prayoga menjelaskan, ada beberapa sentimen penting yang berpotensi mempengaruhi pergerakan IHSG bulan ini. Salah satunya adalah rilis laporan keuangan kuartal kedua emiten. Selain itu, data produk domestik bruto (PDB) Indonesia yang dijadwalkan rilis pada 5 Agustus mendatang akan sangat mempengaruhi pergerakan pasar. Jika PDB Indonesia berada di atas ekspektasi, IHSG akan bergerak positif dan sebaliknya.
"Jika terealisasi, ini tentu akan memberikan dampak positif bagi IHSG. Kebijakan moneter yang lebih longgar di AS berpotensi meningkatkan minat terhadap aset berisiko di emerging market," kata Aditya, Rabu (31/7). Nafan Aji Gusta, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas mengatakan, secara historis pergerakan IHSG di Agustus cenderung sideways, tetapi relatif positif. Dalam 10 tahun terakhir, IHSG hanya memerah 3 kali di bulan Agustus. Secara teknikal, Nafan mencermati IHSG memiliki rentang terdekat berdasarkan minor parallel channel pada 7.199-7.354. Selama masih bertahan di atas 7.199, IHSG berpotensi menguji resistance 7.354. Tapi, jika IHSG breakdown dari 7.199, terdapat 61,8% retracement support di level 7.104 yang kemungkinan akan diuji. Aditya merekomendasikan saham INDF dengan nilai wajar Rp 7.842, TOWR di Rp 860 dan CTRA di Rp 1.390. Sedang Nafan menjagokan ACES, AKRA, ANTM, ASII, BBCA, BBNI, BBRI, BMRI, BSDE, CPIN, CTRA, ERRA, INDF, INDY, ITMG, MAPI, MDKA dan TLKM.









