Banyaknya Jumlah Perokok Anak yang Harus di Turunkan
Kekacauan Reforma Agraria di Masa Pemerintahan Jokowi
Kenaikan Cukai Rokok yang Sangat Diharapkan
Merevitalisasi Terminal, Membenahi Transportasi
Perbankan Nasional Hingga Juli Tahun ini Membukukan Laba Bersih Rp149,62 triliun
2025, Pemerintah Buka Peluang Perpanjangan Relaksasi Izin Ekspor Konsentrat Tembaga
Asing, Masuk IKN Tanam Investasi
Group Astra Mengguyur Pasar Modal dengan Pembagian Dividen Interim
Group Astra bakal mengguyur pasar modal dengan pembagian dividen interim tahun buku 2024. PT Astra Agro Lestari Tbl (AALI) menjadi yang pertama dalam mengumumkan pembagian diividen interim, dan diyakini segera diikuti perusahaan Group Astra lainnya seperti PT Astra Internasional Tbk (ASII), PT United Tractors Tbk (UNTR), PT Astra Otoparts Tbk (AUTO), serta PT Astra Graphia Tbk (ASGR). "Pembagian dividen ini menunjukkan implementasi good corporate governance (GC) yang bagus dari grup Astra. Aksi ini juga menunjukkan bahwa mereka memperhatikan kepentingan pemegang saham kecil," kata Head of Investment Nawasena Abhipraya Investama Kiswoyo Adi Joe kepada Investor Daily.
Kiswoyo meyakini, semua emiten Grup Astra akan membagikan dividen interim tahun buku 2024, sama seperti yang telah dilakukan di tahun-tahun sebelumnya. Emiten Group Astra seperti ASII, UNTR, AALI, AUTO, dan ASGR tercatat rutin membagikan dividen interim setiap tahunnya, bahkan saat pandemi Covid-19. "Selama mencatatkan profit, mereka selalu konsisten membagikan dividen. Dan dividen yang dibagikan dividen," ujar Kiswoyo. Menurut Kiswoyo, pembagian dividen interim saat ini menjadi pemanis bagi saham Grup Astra, untuk selanjutnya bakal dilanjutkan pembagian dividen final pada penutupan kinerja keuangan full year 2024. (Yetede)
Investor Asing Semakin Tertarik pada Proyek IKN
Pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara mendapatkan dorongan signifikan dengan masuknya investasi asing, yang menunjukkan kepercayaan global terhadap proyek ini. Dalam acara groundbreaking, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengumumkan proyek investasi dari Delonix Group asal China senilai Rp500 miliar, serta proyek dari Australia dan Rusia, menjadikan total investasi yang diumumkan mencapai Rp1,07 triliun. Jokowi menegaskan bahwa kehadiran investor asing di IKN akan menarik lebih banyak investor lainnya dan menciptakan ekosistem yang positif.
Untuk mendukung percepatan investasi, pemerintah telah membentuk Satuan Tugas Percepatan Investasi IKN, yang bertugas merealisasikan target investasi sebesar Rp100 triliun sepanjang tahun ini. Optimisme terhadap sektor properti juga disampaikan oleh Bambang Eka Jaya, Wakil Ketua Umum DPP REI, yang melihat komitmen asing sebagai sinyal positif bagi prospek pembangunan IKN. Selain itu, Budihardjo Iduansjah dari Hippindo menekankan pentingnya pembangunan sarana retail untuk menarik populasi ke Nusantara.
Secara keseluruhan, masuknya investor asing dan domestik di IKN menunjukkan bahwa Nusantara sudah menjadi tempat yang menarik untuk investasi, dengan dukungan dari berbagai regulasi dan keringanan yang dijanjikan pemerintah untuk memfasilitasi para investor.
Upaya Mengurangi Pemborosan Pangan
Keterbuangan pangan, yang terdiri dari food loss dan food waste, merupakan masalah signifikan yang perlu mendapat perhatian serius di Indonesia. Menurut data dari Badan Pangan Nasional, kerugian ekonomi akibat kedua bentuk keterbuangan pangan ini mencapai antara Rp213 triliun hingga Rp551 triliun per tahun, setara dengan 4%-5% dari produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Petinggi Bapanas menekankan bahwa jika masalah ini dapat diatasi, Indonesia berpotensi tidak perlu melakukan impor pangan.
Food loss biasanya terjadi pada tahap awal rantai pasokan, disebabkan oleh masalah teknis dan infrastruktur yang tidak memadai, sedangkan food waste lebih berkaitan dengan perilaku manusia di tingkat konsumen, seperti pembelian berlebih dan penyimpanan yang salah. Data menunjukkan bahwa sisa makanan menyumbang 40,91% dari total sampah, melebihi sampah plastik yang hanya 19,18%.
Pemerintah Indonesia telah menargetkan pengurangan susut pangan sebesar 3% per tahun dan sisa pangan 3%-5% per tahun dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, meskipun angka tersebut masih terbilang kecil. Oleh karena itu, dorongan untuk memperhatikan dan menangani masalah ini menjadi sangat penting. Diperlukan regulasi yang lebih ketat, peningkatan infrastruktur, serta edukasi bagi produsen dan konsumen untuk meminimalisir kerugian.
Dalam konteks ini, penekanan pada perbaikan komprehensif untuk mencapai ketahanan pangan dan swasembada pangan menjadi kunci.









