;

Pemerintah Telah Menarik Utang Sebesar Rp 438,6 Triliun

Yuniati Turjandini 13 Dec 2024 Investor Daily (H)
Pemerintah telah menarik utang sebesar Rp 438,6 triliun per 30 November 2024. Pola pembiayaan pemerintah pada  tahun ini diperkirakan masih tetap fleksibel dan tidak seluruhnya bergantung pada penerbitan Surat Berharga Negara (SBN). Hal ini karena tren penerimaan negara yang  mengalami peningkatan menjelang akhir tahun. Fleksibilitas dalam mengelola  pendanaan pemerintah dan kombinasi antara  penerimaan pajak, penerimaan negara bukan pajak, dan pendanaan non-utang akan menjadi strategi penting dalam menghadapi dinamika ekonomi dan geopolitik yang terus berubah. Jika dirinci, pembiayaan utang pemerintah sebesar Rp483,6 triliun  terbagi dalam SBN sebesar Ro 46,4 triliun. Sedangkan pembiayaan non-utang sebesar Rp 54,8 triliun. Sedangkan realisasi pendapataan negara hingga akhir November 2024 mencapai Rpp 2.492,7 trilium atau 89% dari target dalam pagu pendapatan negara 2024. Jika dibandingkan dengan periode  yang sama penerimaan negara tumbuh tipis 1,3%. (Yetede)

Bank dan Fintech Berkolaborasi untuk Mendukung Perekonomain Global

Yuniati Turjandini 13 Dec 2024 Investor Daily (H)
Kolaborasi PT Bank CIMB Niaga Tbk (CIMB Niaga) mendukung over event Bulan Fintech Nasional (BFN) yang telah digelar sebulan penuh untuk mendorong  pertumbuhan ekonomi digital dan mengakselerasi sektor keuangan. CIMB Niaga merupakan anggota baru dari Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) dan berkomitmen mendorong inovasi dan kolaborasi antara bank dan fintech dalam membangun ekosistem keuangan yang inklusif dan mendorong pertumbuhan ekonomi digital. Kolaborasi ini diharapkan dapat menghasilkan layanan yang lebih beragam dan inklusif, meningkatkan literasi keuangan digital, serta membangun digital trust. Head of Digital Economy CIMB Niaga Dedy Sahat mengatakan, partisipasi CIMB Niaga dalam BFN 2024 merupakan wujud komitmen untuk terus memperkuat kerja sama antara perbankan dan fintech sehingga dapat berkembang bersama-sama dan saling melengkapi sesuai kebutuhan masing-masing. (Yetede)

Dilema Pemerintah atas Emisi Obligasi

Hairul Rizal 12 Dec 2024 Bisnis Indonesia (H)

Penerbitan surat utang oleh Pemerintah Indonesia pada tahun depan akan menghadapi situasi yang dilematis. Di satu sisi, ada peluang untuk penurunan yield seiring dengan turunnya inflasi global dan kemungkinan pelonggaran moneter. Namun, tantangan utama adalah likuiditas yang terbatas dan risiko over-supply surat utang. PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memproyeksikan yield SUN tenor 10 tahun pada 2025 berada di kisaran 6,31%-6,69%, lebih rendah dibandingkan dengan proyeksi tahun 2024. Namun, pemerintah menargetkan yield di level 7%, yang mencerminkan tantangan besar terkait tingginya pasokan surat utang dan terbatasnya daya serap domestik.

Pemerintah menghadapi beban jatuh tempo yang signifikan pada 2025, dengan defisit anggaran yang diperkirakan meningkat. Selain itu, proyeksi penerbitan obligasi korporasi juga menambah tekanan kelebihan pasokan di pasar obligasi. Tantangan lainnya termasuk keterbatasan likuiditas yang disebabkan oleh lesunya pertumbuhan dana pihak ketiga perbankan, serta persaingan dengan instrumen investasi lain seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Risiko eksternal, seperti pelemahan rupiah akibat kebijakan Donald Trump dan stimulus ekonomi China, juga dapat memengaruhi daya tarik SUN Indonesia di pasar global. Meskipun demikian, beberapa riset optimis bahwa pasar modal akan tetap melampaui kinerjanya pada 2024 dengan adanya ruang penurunan suku bunga. Pemerintah berusaha menjaga stabilitas dan kondusivitas pasar melalui kebijakan ekonomi makro yang stabil dan diversifikasi instrumen serta basis investor.


Surat Utang dan Sikap Hati-Hati di Tahun Mendatang

Hairul Rizal 12 Dec 2024 Bisnis Indonesia

Pada 2025, pasar surat utang Indonesia diproyeksikan menghadapi tantangan yang kompleks. Meskipun inflasi global yang melandai dan kemungkinan pelonggaran kebijakan moneter memberikan peluang untuk penurunan yield, faktor-faktor seperti likuiditas yang terbatas dan risiko over-supply akan menjadi hambatan besar. Pasar surat utang harus beradaptasi dengan meningkatnya kebutuhan pendanaan pemerintah, tingginya pasokan obligasi, serta lemahnya daya serap investor domestik.

Yield Surat Utang Negara (SUN) 10 tahun diperkirakan akan berada di kisaran 6,31% hingga 6,69%, lebih rendah dibandingkan proyeksi 2024. Namun, proyeksi yield sebesar 7,1% dalam RAPBN 2025 mengindikasikan tantangan besar terkait penawaran tinggi dan tekanan likuiditas. Kebutuhan anggaran yang meningkat, baik untuk belanja pemerintah maupun pembiayaan utang, memperburuk situasi ini. Selain itu, proyeksi penerbitan obligasi korporasi yang besar juga menambah risiko over-supply di pasar.

Kondisi likuiditas domestik yang stagnan dan dominasi instrumen seperti SRBI juga membatasi ruang bagi pemerintah untuk menerbitkan Surat Berharga Negara (SBN). Di sisi eksternal, faktor-faktor seperti pelemahan rupiah dan ketidakpastian global, termasuk risiko proteksionisme, dapat mempengaruhi aliran modal asing ke pasar obligasi Indonesia.

Untuk menghadapi tantangan ini, strategi investasi yang adaptif sangat diperlukan, dengan fokus pada instrumen tenor pendek hingga menengah dan diversifikasi ke sektor yang lebih tahan terhadap volatilitas global. Pemerintah juga harus mengoptimalkan pasar sekunder dan memperkuat kerja sama dengan investor domestik untuk meningkatkan daya serap SBN baru.

Secara keseluruhan, 2025 akan menjadi tahun yang menuntut kehati-hatian dan kerja sama antara pemerintah, otoritas moneter, dan pelaku pasar untuk menjaga stabilitas pasar surat utang Indonesia.




Indonesia Kolaborasi Internasional untuk PLTN

Hairul Rizal 12 Dec 2024 Bisnis Indonesia

Indonesia serius dalam upaya mengembangkan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) dengan menggandeng berbagai negara untuk mendapatkan teknologi terbaik. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan bahwa PT PLN (Persero) telah menjalin kerja sama dengan perusahaan asal Amerika Serikat (AS) dan Jepang untuk pengembangan teknologi reaktor modular kecil (small modular reactor). Teknologi ini diharapkan dapat menyediakan energi nuklir yang efisien dan hemat biaya. Selain AS dan Jepang, negara-negara lain seperti China, Rusia, Korea Selatan, dan Perancis juga menunjukkan minat untuk berinvestasi dalam pengembangan PLTN di Indonesia. Indonesia berencana untuk mulai mengoperasikan PLTN pada tahun 2036 sebagai upaya mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Deputi Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Alam, Vivi Yulaswati, menegaskan bahwa Indonesia terbuka untuk menjalin kerja sama dengan berbagai pihak dalam pengembangan teknologi nuklir, baik yang menggunakan reaktor modular kecil maupun teknologi nuklir konvensional.



Impor Sapi Hidup Jadi Tren Baru

Hairul Rizal 12 Dec 2024 Bisnis Indonesia

211 perusahaan telah berkomitmen untuk mendatangkan sapi hidup ke Indonesia dalam rangka mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang akan dilaksanakan pada 2025. Komitmen tersebut terdiri dari 141 perusahaan yang berencana mengimpor sapi perah sebanyak 1,2 juta ekor selama lima tahun, dan 70 perusahaan lainnya berkomitmen untuk mengimpor sapi pedaging sebanyak 800.000 ekor. Secara total, hampir 2 juta ekor sapi hidup akan didatangkan dalam kurun waktu 2025-2029. Perusahaan-perusahaan ini berasal dari dalam dan luar negeri, termasuk negara-negara seperti Vietnam, Malaysia, Australia, Qatar, Uni Emirat Arab, dan China. Pemerintah Indonesia juga telah merevisi Peraturan Pemerintah No.4/2016 untuk mempercepat realisasi impor sapi hidup, yang ditandatangani oleh Presiden Prabowo Subianto.


Persaingan Industri Telekomunikasi Makin Sengit

Hairul Rizal 12 Dec 2024 Kontan (H)

Industri telekomunikasi Indonesia akan mengalami perubahan signifikan dengan merger antara PT XL Axiata Tbk (EXCL), PT Smartfren Telecom Tbk (FREN), dan PT Smart Telecom (SmarTel) menjadi entitas baru bernama PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (XLSmart). Merger ini akan mengurangi jumlah operator telekomunikasi utama menjadi tiga: XLSmart, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), dan PT Indosat Tbk (ISAT).

Vivek Sood, Grup CEO & Managing Director Axiata, menyatakan merger ini akan memperkuat skala bisnis dan kekuatan komersial EXCL. XLSmart diproyeksikan memiliki sekitar 94,5 juta pelanggan, setara dengan 27% pangsa pasar. Langkah ini juga bertujuan mentransformasi sektor telekomunikasi Indonesia menjadi pasar dengan tiga pemain besar.

Menurut Niko Margaronis, Equity Research Analyst BRI Danareksa Sekuritas, merger ini dapat memberikan manfaat skala ekonomi, seperti efisiensi biaya operasional dan pengeluaran modal, serupa dengan hasil merger Indosat Ooredoo Hutchinson sebelumnya, yang meningkatkan margin EBITDA ISAT hingga 733 basis poin sejak kuartal IV-2021.

Paulus Jimmy, Deputi Head of Research Sucor Sekuritas, menilai konsolidasi ini akan memperbaiki iklim persaingan industri telekomunikasi, dengan XLSmart berfokus pada pertumbuhan yang menguntungkan. Namun, Sukarno Alatas, Head of Research Kiwoom Sekuritas, mencatat bahwa XLSmart masih belum mampu menyaingi TLKM dalam hal pendapatan, laba, jumlah menara, dan pelanggan, meskipun jumlah pelanggan XLSmart hampir mendekati ISAT.

Bagi investor, merger ini membuka peluang investasi menarik. Sukarno merekomendasikan saham TLKM dan EXCL untuk pembelian, dengan target harga masing-masing Rp 3.200 dan Rp 2.600. Sementara Jimmy memilih ISAT dan EXCL untuk potensi pertumbuhan jangka panjang, sedangkan TLKM direkomendasikan untuk mereka yang mencari dividen.

Tantangan Pemerintah Tingkatkan Penerimaan Pajak

Hairul Rizal 12 Dec 2024 Kontan
Pemerintah menghadapi risiko shortfall penerimaan pajak pada akhir 2024, dengan perkiraan realisasi sebesar Rp 1.886,79 triliun atau kurang Rp 102,11 triliun dari target APBN 2024. Hingga akhir November 2024, penerimaan pajak tercatat Rp 1.688,93 triliun atau 84,92% dari target, dengan pertumbuhan neto hanya 1,05% year-on-year. Penurunan setoran PPh migas dan nonmigas masing-masing sebesar 8,04% dan 2,03% turut berkontribusi pada lambannya pencapaian.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan pemerintah sedang menghitung dampak kenaikan tarif PPN 12% yang hanya diberlakukan untuk barang mewah, serta mempertimbangkan strategi optimalisasi penerimaan pajak. Ia menekankan bahwa banyak barang dan jasa seperti bahan pangan, pendidikan, dan kesehatan yang tidak dikenai PPN, sehingga berpotensi mengurangi penerimaan hingga Rp 265 triliun.

Suryo Utomo, Dirjen Pajak, menyatakan akan mengintensifkan pengawasan sektor ekonomi potensial seperti pertambangan dan perdagangan, serta meningkatkan kepatuhan pajak melalui uji komprehensif pada 2023 dan 2024.

Namun, Pengamat Pajak CITA Fajry Akbar memperkirakan shortfall bisa mencapai Rp 127,5 triliun pada 2024, menyoroti tantangan besar dalam mencapai target pajak 2025 yang naik 10,08% menjadi Rp 2.189,30 triliun. Fajry menekankan pentingnya terobosan baru, mengingat target tambahan Rp 327,57 triliun pada 2025 jauh lebih besar dibandingkan rata-rata kenaikan pajak tahunan sebelum pandemi, yaitu Rp 68,62 triliun.

Pemerintah membutuhkan strategi yang lebih inovatif untuk memastikan target pajak tercapai, mengingat tekanan ekonomi, kebutuhan belanja tinggi, dan keterbatasan waktu.

Merger EXCL dan Sinar Mas Membentuk Raksasa Baru

Hairul Rizal 12 Dec 2024 Kontan
Merger antara PT XL Axiata Tbk (EXCL), PT Smartfren Telecom Tbk (FREN), dan PT Smart Telecom telah resmi disepakati dengan nilai gabungan pra-sinergi mencapai Rp 104 triliun atau US$ 6,5 miliar. Entitas baru bernama PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (XLSmart) ini akan efektif beroperasi pada 15 April 2025, dengan Axiata Group Berhad dan Sinar Mas sebagai pemegang saham pengendali bersama, masing-masing memegang 34,8% saham.

Vivek Sood, Grup CEO Axiata, menyatakan bahwa merger ini diharapkan menghasilkan sinergi biaya signifikan, dengan estimasi manfaat sebelum pajak sebesar US$ 300–400 juta. XLSmart diproyeksikan memiliki 94,51 juta pelanggan, pangsa pasar 27%, dan pendapatan proforma Rp 45,4 triliun dengan EBITDA lebih dari Rp 22,4 triliun.

Niko Margaronis, Research Analyst BRI Danareksa Sekuritas, menilai merger ini memberikan keuntungan seperti peningkatan kapasitas spektrum, optimalisasi titik menara, dan peluang ekspansi di luar Jawa. Namun, dalam jangka pendek, dampaknya terhadap harga saham EXCL dan FREN masih terbatas.

Jimmy Paulus, Deputi Head of Research Sucor Sekuritas, menilai merger ini akan mendukung pertumbuhan jangka panjang XL Axiata dengan skala ekonomi yang lebih besar dan efisiensi operasional. Sucor Sekuritas tetap optimistis terhadap prospek EXCL dan XLSmart. Meskipun dampak bagi pemegang saham minoritas EXCL masih terbatas dalam waktu dekat, merger ini diyakini akan meningkatkan profitabilitas di masa depan.

Biaya Operasional yang Tinggi Membatasi Profitabilitas

Hairul Rizal 12 Dec 2024 Kontan
Tingginya suku bunga acuan di level 6% menyebabkan cost of fund (CoF) perbankan meningkat, sehingga menekan profitabilitas hingga akhir tahun 2024. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per September 2024, bank KBMI 4 mencatat kenaikan CoF tertinggi sebesar 39,8% secara tahunan, diikuti KBMI 2 (25%), KBMI 3 (23,7%), dan KBMI 1 (9,3%).

Direktur Utama Bank BJB, Yuddy Renaldi, menyatakan bahwa permintaan special rate dari nasabah korporasi untuk dana besar menjadi salah satu penyebab kenaikan CoF. Yuddy optimistis profitabilitas BJB dapat dijaga dengan mendorong pertumbuhan dana murah (CASA) dan memacu pendapatan berbasis komisi.

Antonius Kunto Widyatmaka, SVP Strategy & Performance Management Bank Mandiri, juga mengakui tingginya CoF akibat likuiditas yang ketat di pasar. Namun, ia optimistis Bank Mandiri dapat menjaga profitabilitas dengan fokus pada aset produktif yang memiliki margin tinggi dan meningkatkan pendapatan non-bunga.

Di sisi lain, Jasmin, Direktur Distribution and Funding Bank BTN, menyebutkan bahwa produk deposito yang sensitif terhadap bunga menjadi penyumbang utama tingginya CoF. Sementara itu, Direktur Bisnis Bank J Trust Indonesia, Widjaja Hendra, mengungkapkan bahwa banknya menjaga laba dengan menyalurkan kredit ke segmen potensial dan tepat sasaran.

Secara keseluruhan, meskipun beban bunga yang tinggi menjadi tantangan besar, bank-bank besar berupaya menjaga profitabilitas melalui strategi efisiensi, diversifikasi pendapatan, dan pengelolaan aset berkualitas.

Pilihan Editor