Harga Batubara Tembus 215 Dollar AS Per Ton
Harga batubara acuan (HBA) di Indonesia tercatat 215,01 dollar AS per ton pada November 2021. Dengan demikian,terjadi kenaikan sebesar 33 persen dari Oktober lalu yang tercatat 161,63 dollar AS per ton. Kenaikan ini dipengaruhi datangnya musim dingin di sejumlah negara dan krisis batubara yang dialami China sehingga berimbas pada harga batubara global
Para Pebisnis Optimistis Visi COP26 Jadi Kenyataan
Para eksekutif perusahaan dan analis keuangan optimis bahwa pembicaraan pada konferensi tingkat tinggi iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau COP26 di Glaslow, Scotlandia bakal mengarah ke perubahan-perubahan yang diperlukan bagi bisnis untuk memainkan peran yang lebih besar dalam mengatasi perubahan iklim. Para pengamat bisnis menunjukkan beberapa langkah dari para pemimpin dunia yang mereka katakan bahwa meningkatkan bisnis berkelanjutan, dan upaya investasi untuk memobilisasi sejumlah besar uang yang dibutuhkan guna melepaskan ketergantungan dunia pada bahan bakar fosil.
Menurut Direktur Pelaksana Jefferies Aniket Shah, meskipun banyak dari langkah-langkah tersebut tidak memulai janji khusus, mereka menunjukkan bahwa pembentukan konvensi global untuk mengatasi perubahan iklim akan memudahkan para investor swasta dan pemerintah dalam memasukkan uang dan upaya."Ada kekuatan-kekuatan tertentu yang menandakan niatan yang tidak diabaikan disini," ujar Shah, yang dikutip Reuters, Senin (8/11). Dia menyebutkan tujuan yang yang ditetapkan oleh Perdana Menteri India, Narenda Modi pada 1 November agara negaranya mencapai emisi karbon nol bersih pada 2070.
Sedangkan Peter Lacy-seorang pemimpin layanan keberlanjutan global Accentur- menuturkan bahwa bagi kalangan investor dan perusahaan,langkah paling signifikan di konferensi tersebut adalah pembentukan Dewan Standar Keberlanjutan atau International Sustainable Standards Board (ISSB) pada 3 November , yang dimaksud membuat dasar bagi perusahaan untuk menggambarkan dampak iklim mereka. Lacy menyebutkan sebagai moment seismik untuk bisnis dan ini sejalan dengan harapan para COO Accenture yang disurvei menjelang dampak iklim mereka. (Yetede)
PBB: Jumlah Orang di Ambang Kelaparan Meningkat Tajam
Badan Pangan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau WFP pada Senin (8/11) menyatakan jumlah orang yang berada diambang kelaparan di 43 negara telah meningkat menjadi 45 juta jiwa. Angka tersebut dilaporkan saat kelaparan akut melonjak di seluruh dunia. Lonjakan dari 42 juta orang diawal tahun sebagian besar oleh penilaian ketahanan pangan yang mendapati tiga juta orang lainnya menghadapi kelaparan di Afganistan. "Puluhan juta orang menatap kedalam jurang. Kita menghadapi konflik, perubahan iklim, dan Covid-19 menaikkan jumlah orang yang sangat lapar," Kata Direktur Exkecutif WFP David Beasley, Senin (8/11)
Data terbaru sekarang menunjukkan ada lebih dari 45 juta orang berbaris menuju ambang kelaparan. Beasley mengatakan, setelah perjalanan ke Afganistan, WFP meningkatkan dukungan untuk hampir 23 juta orang. "Biaya bahan bakar, harga pangan melonjak, pupuk lebih mahal,dan semua ini menjadi sumber krisis baru seperti yang terjadi sekarang di Afganistan, serta keberadaan darurat yang sudah berlangsung lama seperti Yaman dan Suriah," tambahnya.
WFP mengatakan biaya untuk mencegah kelaparan secara global sekarang mencapai US$7 miliar. Naik dari US$6,6 miliar diawal tahun. Tetapi ia mengingatkan bahwa aliran pendanaan tradisional terlalu berlebihan. Keluarga yang mengalami kerawanan pangan dipaksa untuk membuat pilihan yang menghancurkan, katanya menikahkan anak-anak lebih awal, menarik mereka keluar dari sekolah atau memberi mereka makan belalang, daun liar, atau kaktus. (Yetede)
Merosot di Investasi Teknologi, SoftBank Catat Rugi Bersih
SoftBank pada Senin (8/11) mengumumkan rugi bersih kuartalan pertama pada 18 bulan, karena penindasan pada perusahaan teknologi di Tiongkok dan kerugian investasi lainnya menghantam portfolio Vision Fund. Perusahaan telekomunikasi yang berubah menjadi raksasa investasi itu juga mengumumkan pembelian kembali saham senilai satu triliun (US$ 8,8), dilaporkan dibawah tekanan dari pemegang saham yang frustasi dengan harga sahamnya yang turun. SoftBank Group telah menggelontorkan ke beberapa nama terbesar di dunia teknologi dan usaha baru, termasuk raksasa e-Commerce Tiongkok Alibaba dan perusahaan jasa tumpangan Didi Chuxing, melalui US 100 miliar Vision Fund.
Tetapi strategi CEO Masayoshi Son untuk menargetkan perusahaan teknologi dan perusahaan rintisan untuk mencari unicorn telah kontroversial dan menyebabkan rollercoaster pendapatan dalam beberapa tahun terakhir. Perusahaan mencatat kerugian bersih 397,9 miliar yen (setara US$ 3,5 miliar pada Juli-September 2021). Itu sangat terpukul oleh penurunan nilai Alibaba, juga memukul perusahaan-perusahaan di negara lain. Perusahaan e-commerce Korea Selatan Coupang, dengan laba bersih semenster pertama turun lebih dari 80% sejak awal tahun.
Secara total Softbank mengatakan kerugian investasi selama kuartal tersebut sebesar 1,66 triliun yen termasuk yang ditimbulkan oleh operasional Vision Fund. "Kami tidak bangga dengan itu. Indikator terpenting kami, nilai aset bersih, turun enam triliun yen. Hanya dalam tiga bulan, ini masalah besar," kata Son, Senin (8/11). Son mengatakan hasilnya dapat diringkas menjadi satu faktor kunci dalam satu kata, yakni Alibaba. Setelah kuartal pertama April-Juni 2021, Son mengatakan, dirinya akan mengambil pendekatan yang hati-hati terhadap investasi di Tiongkok karena mengakui tantangan berat. (Yetede)
Bandara Syndey Siap Dijual Senilai US$ 3Triliun
Bandara Sydney pada Senin (8/11) mengumumkan telah menyetujui tawaran pengambilalihan senilai US$ 17 miliar oleh konsorsium investor Australia, hanya beberapa hari setelah dibuka kembali untuk perjalanan internasional. Dewan bandara dengan suara bulat telah menyetujui penjualan ke Sydney Aviation Alliance, sebuah konsorsium dari investor infrastruktur dan dana pensiun Australia. Pihaknya merekomondasikan para pemegang saham untuk memilih. Alliance tersebut menawarkan Aus$ 8,75 per saham Aus$ 23,6 miliar (US$ 17,5 miliar), setelah penawaran sebelumnya beberapa bulan lalu ditolak karena terlalu rendah. "Pengumuman hari ini adalah puncak dari bulan keterlibatan antara semua pihak. Anggota Dewan Sydney Airport yakin hasilnya mencerminkan nilai jangka panjang yang sesuai untuk bandara," kata Kepala Bandara Sydney David Ginski dalam sebuah pernyataan, Senin (8/11). Pengumuman itu muncul setelah perbatasan internasional Sydney dibuka kembali sebagian, hampir 600 hari setelah salah satu penutupan perbatasan pandemi terberat di dunia dimulai. Warga Australia yang divaksinasi yang bepergian melalui Sydney dan Melbourn sekarang dapat datang datang dan pergi tanpa karantina atau mendapat pengecualian resmi. Kebijakan tersebut dinilai sebagai langkah pertama negara itu dalam memulai kembali aktivitas perjalanan secara bertahap. Penjualan bandara tetap tunduk pada persyaratan, termasuk pada evaluasi ahli independen. (Yetede)
Impor Batu Bara Tiongkok Naik 2 Kali Lipat
Data bea cukai yang dirilis Minggu (7/11) menunjukkan bahwa Tiongkok pada bulan lalu telah mengimpor batu bara hampir dua kali lebih banyak dibandingkan Oktober tahun lalu. Padahal tanda-tanda krisis listrik di Negeri Tirai Bambu itu mulai berkurang. Menurut data yang diakses melalui Wind Information, catatan pembelian batu bara mencapai 26,9 juta ton pada September menjadi 18,2%. Pihak berwenang Tiongkok sendiri disebut-sebut telah bergegas untuk mengatasi kekurangan batu bara di negara itu, sejak akhir September pasca banyak pabrik yang terpaksa memangkas produksi.
Commonwealth Bank of Australi melaporkan, pada pertengahan Oktober, jumlah provinsi Tiongkok yang mengalami krisis listrik yang signifikan mengalami penurunan menjadi dua provinsi, turun dari 18 provinsi pada awal bulan. Pada Minggu, perusahaan listrik Tiongkok State Gird mengatakan bahwa pasokan dan permintaan listrik pelat merah itu tetap memperingatkan tantangan yang bakal dibulan-bulan musim dingin mendatang. Disisi lain, Amerika Serikat (AS) masih menjadi mitra dagang terbesar Tiongkok dengan basis satu negara. Tapi impor dari AS melambat tajam menjadi sekitar 4,6% year-on-year (yoy) pada Oktober.
Data bea cukai lebih lanjut menunjukkan, catatan impor dari Australia. yang pernah menjadi sumber batu bara terbesar Tiongkok- merosot ketingkat pertumbuhan 24,3% yoy pada Oktober , sementara ekspor ke AS masih mempertahankan laju pertumbuhan tinggi hampir 22,7%. Demikian menurut data bea cukai Tiongkok.Ekspornya juga hanya tumbuh sebesar 22,3% atau turun sedikit dari 23,8% pada September. Menurut kantor berita Reuters ,impor keseluruhan Tiongkok tumbuh sebesar 20%, pada Oktober atau meleset dari ekspektasi pertumbuhan 25%, ekspor Tiongkok juga naik 27,1% melampaui prediksi Reuters 24%-24,5% (Yetede)
Jalan Mulus Menuju Pemulihan Ekonomi
Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja mengeluarkan data terkini bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III-2021 tetap berada di zona pertumbuhan positif, yaitu 3,51 (yoy). Angka pertumbuhan ini meningkat 1,55% (qtq) dibandingkan dengan triwulan II-2021. Meskipun angka ini masih lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi pada triwulan II-2021 yang mencapai 7,07% (yoy), kita tetap bersyukur bahwa momentum pertumbuhan yang positif masih tetap terjaga.
Penurunan angka pertumbuhan ekonomi pada triwulan III-2021 tersebut memang tidak terlepas dari adanya gangguan meningkatnya penularan Covid-19 pada bulan Juli-Agustus yang lalu. Munculnya gelombang kedua pebularan Covid-19 yang terjadi pada bulan tersebut telah memaksa pemerintah melakukan pengetatan mobilitas manusia. Akibatnya tingkat konsumsi masyarakat yang selama ini menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi mengalami penurunan. Fakta tersebut pada akhirnya diikuti dengan menurunnya berbagai kegiatan usaha disektor ekonomi.
Keberhasilan Indonesia mempertahankan momentum pertumbuhan yang positif tersebut tentunya merupakan keberhasilan dari pemerintah serta dukungan dari semua pemangku kepentingan. Keberanian pemerintah untuk melakukan PPKM secara ketat dan terukur selama bulan Juli-Agustus 2021, disuatu sisi merupakan pilihan yang sangat sulit. Namun di sisi lain telah berhasil menekan angka penyebaran Covid-19 secara efektif.
Pertumbuhan posiitif pada triwulan III-2021 tersebut ditopang oleh kinerja ekspor yang mengalami pertumbuhan tinggi sebesar 29,16%. Namun demikian ada beberapa faktor lain yang bisa menjadi indikator pertumbuhan positif tersebut. Pertama indeks keyakinan konsumen. Kedua, pembiayaan kegiatan usaha di sektor ekonomi juga mengalami peningkatan walaupun angkanya masih relatif kecil. Ketiga, kinerja mesin-mesin manufaktur terlihat menggeliat kembali pada bulan September 2021. (Yetede)
Kontribusi BUMN ke Penerima Pajak Capai Rp1.709,8 Triliun
Kementerian Keuangan (KeMenkeu) mencatat kontribusi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terhadap penerimaan pajak dalam kurun waktu satu dekade (2010 hingga 2020) mencapai Rp 1.709.8 triliun. Menteri Keuangan SRi Mulyani Indrawati mengatakan, perusahaan pelat merah memiliki kontribusi untuk menambah pundi-pundi penerimaan negara, walau di sisi lain beberapa diantaranya juga menerima dana suntikan modal dalam bentuk Penyertaan Modal Negara (PMN). Adanya pernyataan yang disetorkan BUMN berasal dari Dividen untuk meyokong penerimaan negara bukan pajak ((PNBP) dan pajak. "Selama periode ini kontribusi dari penerimaan pajak mencapai Rp1.709,8 triliun, "Tutur dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI, Senin (8/11). Adapun dalam bahan paparannya, kontribusi BUMN terhadap penerimaan pajak mengalami tern meningkat, yang sejak 2010 kontribusinya hanya Rp76 triliun, hingga 2016 mencapai Rp 197 triliun. Namun, setoran pajak dari BUMN sempat mengalami penurunan ke level Rp 165 triliun pada 2017, kemudian 2018 meningkat kembali menjadi Rp 193 triliun. Di 2019 kembali alami penurunan Rp 189 triliun, namaun pada 2020 setoran pajak dari BUMN kembali naik menjadi Rp 191 triliun. Selanjutnya, selama kurun waktu 2010-2020, setoran BUMN dalam bentuk dividen BUMN juga mengalami fluktuatif. (Yetede)
Menkeu Proyek KA Cepat Dapat PMN Rp 4,3 Triliun
Pemerintah telah memberikan penyertaan modal negara (PMN) di proyek Kereta Api (KA) Cepat Jakarta-Bandung senilai 4,3 triliun. PMN ini berasal dari saldo anggaran lebih (SAL) 2021. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, dana SAL akan mengalir dalam bentuk penyertaan modal negara kepada PT Kereta Api Indonesia (KAI) yang kini menjadi pimpinan konsorsium BUMN di proyek KA Cepat. "Untuk kebutuhan KA Cepat, untuk pemenuhan base equity sebesar Rp 4,3 triliun," kata Menkeu Sri Mulyani dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI, Senin (8/11).
Sekedar informasi, semula proyek KA Cepat ini dipatok senilai US$ 7,9 miliar atau Rp113,1 triliun. Menkeu juga menjelaskan, proyek KA Cepat semula bersifat business to business yang dipegang oleh PT KAI, namun dampak pandemi Covid-19 ikut menekan kondisi keuangan KAI sehingga pemerintah harus terlibat dalam pendanaan. Sebelumnya Direktur PT Kereta Cepat Indonesia China Dwiyana Slamet Riyadi mengatakan, masuknya investasi pemerintah melalui PMN akan mempercepat penelesaian KA Cepat.
Menurut Dwiyana struktur pembiayaan KA Cepat adalah 75% dari mulai proyek dibiayai oleh CDB dan 25% ekuitas tersebut sebesar 60% berasal dari konsorsium Indonesia karena menjadi pemegang saham mayoritas. Dengan demikian, pendanaan dari konsosium dari Indonesia ini sekitar 15% dari proyek , sedangkan sisanya sebesar 85% dibiayai dari eksuitas dan pinjaman pihak Tiongkok, tanpa adanya jaminan dari pemerintah Indonesia. (Yetede)
Garuda dan Lessor Belum Sepakati Pengembalian 18 Pesawat Bombardier
Maskapai Garuda Indonesia dan Lessor (penyedia jasa sewa pesawat) belum menyepakati pengembalian 18 pesawat Bombardier CRJ1000. Namun, proses negosiasi masih terus dilakukan oleh operator penerbangan pelat merah itu. "Kami masih berdiskusi terus (terkait pengembali 18 pesawat Bombardier CRJ1000) kata Direktur Utama Garuda Irfan Setiaputra ) saat dihubungi Investor Daily, Senin (8/11). Ketika ditanya apakah Garuda masih membayar biaya sewa armada Bombardier CRJ1000, mengingat saat ini semua pesawat masih berada di Garuda Indonesia, Irfan menjelaskan, pembayaran akan dilanjutkan apabila sudah ada kesepakatan dengan Lessor.
Namun demikian Irfan tidak menyebut status 18 armada Bombardier CRJ1000 apakah masih digunakan ataukah tidak. Adapun dalam keterbukaan informasi publik yang disampaikan kepada Bursa Efek Jakarta (BEI) managemen Garuda Indonesia menyatakan bahwa saat ini masih menguasai total 119 pesawat sewa dan memiliki enam armada. "Saat ini pesawat terus melakukan negoisasi sewa pesawat kepada Lessor sebagai bagian dari upaya restrukturisasi perseroan." ungkap managemen Garuda dalam keterbukaan informasi publik yang dikutip Senin (8/11).
Pada bagian lain maskapai nasional Garuda Indonesia dan Emirates sepakat untuk bekerjasama dalam memperluas jaringan penerbangan kedua maskapai. Kerjasama ini diharapkan berlaku efektif mulai 2 Januari 2022. Kesepakatan tersebut dilaksanakan melalui penandatanganan MoU oleh Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra. Melalui kerjasama ini, penumpang Garuda Indonesia akan mendapatkan kemudahan akses ke berbagai destinasi yang dioperasikan oleh Emirates diantaranya Dubai, Bahrain, Moskow, Johannessburg , Kairo, London, dan Menchester. (Yetede)









