Tugas Berat Tim Strategis Danantara
Setelah penantian panjang, susunan pengurus lengkap Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara akhirnya resmi diumumkan pada 24 Maret 2025, menandai dimulainya langkah konkret Danantara dalam menjalankan mandatnya sebagai pengelola aset negara. Dalam langkah awal, pemerintah mengalihkan saham Seri B beberapa emiten BUMN besar ke PT Biro Klasifikasi Indonesia (BKI), yang akan menjadi perpanjangan tangan Danantara dalam mengelola holding operasional.
CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, memastikan bahwa penunjukan pengurus Danantara telah dilakukan secara selektif dan bebas dari kepentingan politis, serta menegaskan komitmen Danantara untuk membangun tata kelola yang profesional. CIO Danantara, Pandu Patria Sjahrir, menyatakan kesiapan Danantara untuk bekerja cepat mengoptimalkan aset negara, dengan fokus pada sektor-sektor strategis seperti keamanan pangan, energi, hilirisasi, dan infrastruktur digital, serta mengedepankan investasi jangka panjang yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan manajemen risiko.
Shinta W. Kamdani, Ketua Umum Apindo, menyambut positif penunjukan pengurus Danantara, yang dinilai memiliki pengalaman dan kompetensi di bidang usaha, investasi, serta pengelolaan aset. Ia juga menekankan pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam bekerja. Harry Su, Managing Director Samuel Sekuritas Indonesia, mengingatkan bahwa langkah investasi Danantara, terutama dalam proyek pertama, akan menentukan citra dan kredibilitasnya di pasar.
Namun, ada kekhawatiran yang diungkapkan oleh Ekky Topan, Investment Analyst Info-vesta Kapital Advisori, terkait dengan independensi dan profesionalisme Danantara, terutama karena beberapa anggotanya memiliki latar belakang politik atau birokrasi. Untuk mendapatkan kepercayaan investor global, tata kelola yang baik dan transparansi dalam pengelolaan aset BUMN harus menjadi prioritas utama. Sementara itu, Iman Rachman, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), menilai bahwa kenaikan IHSG pasca pengumuman pengurus Danantara menunjukkan sinyal positif bagi pasar.
Secara keseluruhan, pengumuman pengurus Danantara dan langkah-langkah awal yang diambil mencerminkan komitmen untuk membangun investasi yang profesional dan berkelanjutan, meskipun tantangan dalam hal tata kelola dan transparansi masih perlu mendapat perhatian khusus.
Menjaga Stabilitas di Tengah Konsolidasi Aset
Pemerintah Indonesia telah mengumumkan susunan pengurus Danantara sebagai entitas baru yang diharapkan dapat mengelola kekayaan negara dan konsolidasi saham BUMN, langkah ini justru memicu ketidakpastian di pasar saham. Hal ini terlihat dari fluktuasi tajam IHSG yang terjadi setelah pengumuman tersebut. Pemerintah melalui Danantara bertujuan untuk mewujudkan efisiensi lintas BUMN, namun ada beberapa kekhawatiran terkait dengan struktur dan kapabilitas pengelolaannya, terutama terkait dengan fokus bisnis PT Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) yang sempit, serta mekanisme inbreng saham yang belum jelas.
Selain itu, susunan pengurus Danantara juga mendapat sorotan terkait rekam jejak, independensi, dan potensi konflik kepentingan, terutama terkait dengan keterlibatan non-WNI dalam posisi strategis. Publik menuntut adanya urgensi nasionalisme korporat dalam pengelolaan aset negara yang tetap profesional dan modern. Meskipun konsolidasi aset diperlukan, proses ini harus dilakukan dengan transparansi, akuntabilitas, dan tata kelola yang kuat agar tidak memperumit sistem yang ada. Pemerintah diharapkan menyusun roadmap yang jelas dan terbuka terkait Danantara untuk mengurangi ketidakpastian dan memastikan efisiensi yang diinginkan tidak berubah menjadi kompleksitas baru yang justru merugikan.
Penting bagi pemerintah untuk memberikan penjelasan substansial dan berkala kepada publik, pasar, dan pelaku usaha agar proyek ini dapat berjalan dengan baik dan tidak menambah beban pada stabilitas keuangan nasional.
Lonjakan Penerbangan Ekstra Sambut Lebaran
Posko Nasional Angkutan Lebaran 2025, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melaporkan bahwa maskapai nasional dan asing telah merealisasikan 93 penerbangan, dengan 90 penerbangan domestik dan 3 penerbangan internasional. Penerbangan tambahan untuk rute domestik pada 24 Maret 2025 tercatat 12 kali dari rencana 45 penerbangan ekstra, dengan rute favorit seperti Pontianak-Ketapang dan Yogyakarta-Bangka Belitung. Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik (BKIP) Kemenhub, Budi Rahardjo, menyebutkan peningkatan jumlah penumpang pesawat udara yang tercatat sejak H-10 Lebaran, mencapai 183.312 orang pada 21 Maret 2025.
Prediksi peningkatan penumpang pesawat pada Angkutan Lebaran 2025 adalah sekitar 12%, dengan total 6,18 juta orang, lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Plt. Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, Lukman F. Laisa, memprediksi puncak arus mudik pada 28 Maret 2025 dan puncak arus balik pada 6 April 2025. Di Bandara SSK II Pekanbaru, permintaan ekstra penerbangan mencapai 125 permohonan, dengan dukungan operasional yang maksimal.
Terkait dengan maskapai Garuda Indonesia, Head Corporate Communication Garuda, Dicky Irchamsyah, melaporkan bahwa hampir seluruh tiket untuk Lebaran 2025 telah terjual, dengan tingkat keterisian mencapai 50%-60%. Garuda menyediakan 1,9 juta kursi, termasuk penerbangan domestik dan internasional, dengan rute populer seperti Bali, Medan, Makassar, dan Singapura. Garuda juga menawarkan diskon hingga Rp1 juta untuk pemesanan tiket yang dilakukan pada Maret 2025.
Whoosh Berikan Diskon 20% untuk Penumpang
PT Kereta Cepat Indonesia (KCIC) menawarkan program tarif khusus sebesar Rp200.000 untuk perjalanan kereta cepat Whoosh rute Jakarta-Bandung dengan menggunakan kartu langganan Frequent Whoosher Card jenis Jaban Gold. Tarif ini lebih hemat dibandingkan tarif reguler yang bersifat dinamis dan bisa mencapai Rp225.000 pada periode tertentu, seperti saat peak season Lebaran. Selain itu, KCIC juga menyediakan kartu langganan untuk rute lainnya seperti Jakarta-Karawang dan Karawang-Bandung dengan tarif mulai dari Rp50.000. Pengguna juga bisa mendapatkan diskon 10%-20% jika melakukan perjalanan rombongan dengan minimal 10 orang hingga 31 Maret 2025. Eva Chairunisa, General Manager Corporate Secretary KCIC, menambahkan bahwa 800 personel petugas di stasiun selalu siap memberikan pelayanan prima kepada penumpang.
Harapan Baru: Danantara dan Pemulihan Ekonomi
Menjangkau Pajak dari Sektor Informal
Gelombang Merger Bawa Optimisme Baru
THR Lebaran: BRI Siapkan Rp 51,74 Triliun
Peraruhan untuk Stempel Layak Investasi
Investor menilai
potensi keuntungan berinvestasi di Indonesia semakin menurun. Tanpa perbaikan
struktural dan pendekatan teknokratis dalam kebijakan pemerintah, berbagai
risiko baru bisa muncul. Status layak investasi atau investment grade, jadi taruhan. Demikian pesan dan aspirasi yang mengemuka pada
Kompas Collaboration Forum (KCF) di Jakarta, Jumat(21/3). Komisaris Utama PT
Pan Brothers Tbk Benny Soetrisno dan pengajar di Universitas Katolik Indonesia
Atma Jaya Jakarta, A Prasetyantoko, menjadi narasumber dalam acara bertema ”Ada
Apa dengan Perekonomian Nasional?” tersebut. Prasetyantoko mengatakan, kondisi
pasar keuanga domestik, terutama pasar saham, dalam beberapa waktu terakhir
mengalami koreksi yang cukup dalam. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Maret
2025 turun hingga ke level 6.270 atau terkoreksi 21 % dibanding level tertingginya,
7.900 pada September 2024.
Hal itu
terjadi karena, penurunan peringkat saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital
International (MSCI) dan Goldman Sachs, revisi ke bawah pertumbuhan ekonomi
Indonesia 2025 oleh Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD),
dari 5 % menjadi 4,9 %. Lembaga pemeringkat tersebut memperkirakan
profitabilitas emiten di Indonesia akan turun seiring outlook pertumbuhan ekonomi
yang lebih rendah. Selain itu, kebijakan pemerintah, seperti efisiensi
anggaran, Danantara, dan program tiga juta rumah, dipandang dapat berdampak
pada keberlanjutan fiskal ke depan. Alhasil, aliran modal asing di pasar
keuangan domestic selama 17-20 Maret 2025 tercatat jual neto sebesar Rp 4,25
triliun, yang menekan nilai tukar rupiah yang cenderung bergerak dalam kisaran
Rp 16.300-Rp 16.500 per USD.
Di sisi
lain, investor asing masih menaruh keyakinan pada pasar obligasi negara,
mengingat peringkat kredit atau sovereign credit rating Indonesia masih
dipertahankan pada level investment grade alias layak investasi. ”Sudah bunyi,
sinyal di equitymarket (pasar saham). Perlu
dijaga jangan sampai merembet memengaruhi soverign rating-nya. Kalau itu sampai
terjadi, kemungkinan terjadinya krisis yang lebih kompleks akan lebih besar,” kata
Prasetyantoko. Apabila peringkat kredit Indonesia turun, likuiditas akan
semakin mengetat dan berpotensi memicu krisis ekonomi. Dengan kata lain,
perkembangan dinamika di pasar keuangan akan mendahului sektor riil. (Yoga)
Menabung Emas untuk Semua Kalangan
Bagi Sari
Indrayati (39) orangtua remaja berusia 16 tahun di Tangsel, Banten, menabung
emas adalah prioritas bulanan yang tak bisa ditinggal. Sari bukanlah pegawai
swasta atau ASN yang setiap bulan mendapat kepastian gaji, bonus, dan THR
menjelang Idul Fitri. Ia sehari-hari menerima pesanan katering sembari membuka
kios kecil di depan rumahnya yang menjual seblak dan bakso aci. Sari juga
menerima panggilan untuk sejumlah layanan kesehatan tradisional berbasis keterampilan,
seperti akupunktur, refleksi, dan bekam. ”Penghasilan saya pas-pasan, apalagi
harga kebutuhan pokok terus naik. Tapi, saya tetap menyisihkan sedikit untuk
membeli emas tiap bulan walau 0,5 gram atau 0,1 gram,” ujar Sari, (22/3). Meski
penghasilannya tak menentu, Sari rutin menabung emas sejak tujuh tahun lalu.
Bagi banyak keluarga kelas menengah, emas adalah tabungan yang mudah dicairkan
saat dibutuhkan.
Dian
Lestari (34) pegawai administrasi perusahaan swasta di Bekasi, Jabar,
mengatakan rutin membeli emas setiap beberapa bulan sebagai bentuk investasi
jangka panjang. ”Dulu saya membeli emas hanya untuk dipakai, tapi sekarang juga
investasi. Jika butuh dana mendadak, emas lebih mudah dijual ketimbang aset
lain,” ujarnya. Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang diolah
lembaga publikasi riset Next Indonesia Center menunjukkan, pada 2023, warga
kelas menengah berpenghasilan Rp 1,9 juta hingga Rp 9,4 juta per kapita per
bulan menjadi kelompok yang paling banyak menyimpan emas, minimal 10 gram. Dari
15,19 juta rumah tangga kelas menengah di Indonesia, 6,16 juta rumah tangga
atau 41 % menyimpan emas minimal 10 gram. Dari 439.620 rumah tangga kelas atas
di Indonesia, 316.417 rumah tangga atau 71 % menyimpan minimal 10 gram emas.
Berdasarkan
survei yang sama, emas bukan komoditas eksklusif bagi kelompok rumah tangga
menengah dan kaya. Semua lapisan ekonomi di Indonesia, hingga yang berstatus
rentan dan miskin, menyimpan emas minimal 10 gram. Dari total 36,83 juta rumah tangga
calon kelas menengah, 6 juta rumah tangga atau 16,3 % menyimpan 10 gram emas. Sebanyak
1 juta rumah tangga atau 7 % dari total 15 juta rumah tangga rentan menyimpan
emas. Adapun 217.789 kelompok rumah tangga atau 3,9 % dari 5,5 juta rumah
tangga miskin juga memiliki 10 gram emas. Direktur Eksekutif Next Indonesia Center
Christiantoko menjelaskan, kelas menengah menjadi kelompok terbanyak yang
menyimpan emas. Dalam kondisi ekonomi melemah, konsumsi menurun, sebagian
pendapatan dialihkan ke aset seperti emas, karena dianggap aman, mudah diakses,
dan likuid ketimbang instrumen lain, seperti saham atau obligasi. (Yoga)









