;

Fokus Lagi ke Bursa Saham Usai Libur Lebaran

Hairul Rizal 26 Apr 2023 Kontan (H)

Langkah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) usai libur Lebaran mungkin masih akan berat. Jika dilihat beberapa tahun ke belakang, biasanya transaksi di pasar masih cenderung sepi di pekan pertama setelah libur panjang hari raya. Apalagi, usai libur Lebaran tahun ini, ada sejumlah data dan agenda penting yang bakal membuat investor mengambil sikap hati-hati. Salah satunya adalah agenda pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada awal Mei mendatang, yang akan memutuskan soal arah suku bunga The Fed. Sejumlah analis yang dihubungi KONTAN memperkirakan, sentimen rapat FOMC masih akan menahan laju kenaikan IHSG. Pelaku pasar juga masih akan merespons keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia 18 April lalu, yang menahan BI 7 day reverse repo rate (BI 7 -day- RR) di level 5,75%. Hans Kwee, Direktur Ekuator Swarna Investama, mengatakan, kemungkinan The Fed akan menaikkan suku bunga acuan lagi sekitar 25 basis poin. "Jadi, dampaknya ke pasar saham kemungkinan akan membuat cenderung tertekan," ujarnya kepada KONTAN, akhir pekan lalu. Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, aksi korporasi pembagian dividen emiten juga akan menjadi katalis penggerak IHSG. Untuk pekan pendek kali ini, Nafan memperkirakan IHSG masih akan bergerak fluktuatif dalam minor sideways di rentang 6.744-6.869.

Pesta Laba Jumbo Perbankan Berlanjut di Awal Tahun

Hairul Rizal 26 Apr 2023 Kontan (H)

Tak cuma masyarakat yang bahagia karena mendapat Tunjangan Hari Raya (THR) menjelang Lebaran. Senyum para bankir saat mendekati Lebaran bahkan mengembang lebih lebar. Industri perbankan memanen laba besar di kinerja kuartal I 2023.  Laba itu seiring kenaikan kredit yang menopang pertumbuhan pendapatan bunga bersih bank. Namun, penopang laba bukan melulu bercerita soal kinerja. Perbankan masih melanjutkan memangkas biaya pencadangan seiring perbaikan kualitas kredit. Nah, peningkatan laba diprediksi terus berlanjut, seiring optimisme regulator dan bankir terkait permintaan kredit di sepanjang tahun 2023. Bank Mandiri secara konsolidasi berhasil membukukan pertumbuhan laba bersih 25,2% secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi Rp 12,6 triliun pada kuartal pertama 2023. Direktur Utama Bank Mandiri, Darmawan Junaidi menyebut secara konsolidasi, kredit tumbuh 12,36% yoy, menjadi Rp 1.205 triliun. Bank Mandiri optimistis, sampai dengan akhir tahun 2023 pertumbuhan kredit  tumbuh antara 10%-12%. Penyaluran pembiayaan  mengedepankan prinsip kehati-hatian agar kualitas kredit tetap terjaga di level optimal. Tak mau kalah, Bank BNI mencatatkan pertumbuhan laba bersih secara konsolidasi 31,8% yoy menjadi Rp 5,2 triliun pada kuartal pertama 2023. Penyaluran kredit BNI tumbuh 7,2% yoy mencapai Rp 634,3 triliun. Wakil Direktur Utama BNI, Adi Sulistyowati menyampaikan, pencapaian pada kuartal I 2023 sejalan visi BNI tumbuh secara sehat dan berkelanjutan dalam jangka panjang.

Berharap Stabilitas Rupiah dari Dedolarisasi

Hairul Rizal 26 Apr 2023 Kontan

Dedolarisasi atau proses mengganti dollar Amerika Serikat (AS) sebagai mata uang untuk perdagangan dan investasi lintas negara tengah diupayakan oleh sejumlah negara di dunia. Langkah ini ditempuh guna mengurangi ketergantungan pada mata uang utama tersebut. Dedolarisasi baru-baru ini tengah dibicarakan organisasi dagang BRICS. Aliansi yang beranggotakan Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan tersebut mengutarakan niatnya untuk mengurangi transaksi yang menggunakan dollar AS. Selain untuk menekan biaya, juga untuk mengurangi ketergantungan dengan mata uang tersebut. Salah satu langkah yang ditempuh dalah melalui kerja sama penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan, investasi dan sistem pembayaran atau local currency transaction (LCT) yang sebelumnya dikenal sebagai local currency settlement (LCS) dengan sejumlah negara. Teranyar, Indonesia bakal meneken kerja sama LCT dengan Korea Selatan bulan depan. "Sebentar lagi, pada awal bulan Mei 2023 kami akan menandatangani kerja sama LCS dengan Korea Selatan," kata Gubernur BI Perry Warjiyo belum lama ini. Sejauh ini, transaksi penggunaan LCT Indonesia dengan keempat negara mitra itu meningkat cukup signifikan. Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengungkapkan, dalam dua bulan pertama tahun 2023, total nilai transaksi LCT sebesar ekuivalen US$ 957 juta. Artinya, rerata penggunaan LCT per bulan pada dua bulan pertama tahun ini sekitar US$ 450 juta. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai, upaya dedolarisasi yang dilakukan Indonesia dan sejumlah negara maju lainnya bakal berdampak positif. Terutama terhadap stabilitas rupiah.

Lebaran Dongkrak Penerimaan Pajak

Hairul Rizal 26 Apr 2023 Kontan

Moncernya penerimaan pajak diramal bakal berlanjut. Setidaknya hingga kuartal II-2023 nanti seiring adanya perayaan Idul Fitri. Pengamat Pajak Center of Inconesia Taxation Analysis (CITA) Fajry Akbar menyebut, ada dua jenis penerimaan pajak yang akan mendulang berkah dari momentum Lebaran. Pertama, penerimaan pajak yang sifatnya transaksional, baik pajak pertambahan nilai dalam negeri (PPN DN), PPN impor, maupun pajak penghasilan (PPh) Pasal 22 Impor. Dari catatan Kementerian Keuangan (Kemkeu), realisasi penerimaan PPN DN periode Januari-Maret 2023 tumbuh signifikan mencapai 67,1% year on year (yoy). Bahkan, pertumbuhannya lebih tinggi dibanding periode yang sama pada tahun lalu yang hanya 27% yoy. Kedua , PPh badan. "(Penerimaan) PPh badan juga akan meningkat karena batas akhir pelaporan surat pemberitahuan (SPT) PPh badan pada akhir bulan ini," kata Fajry kepada KONTAN, Selasa (25/4). Dari catatan Kemkeu, PPh badan pada tiga bulan pertama tahun ini tumbuh 69,6% yoy. Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menambahkan, penerimaan PPh pasal 23 dan 25 akan mendulang berkah yang dipengaruhi oleh penghasilan para pengusaha sepanjang momentum Lebaran. "Apalagi cuti diperpanjang sehingga sektor jasa perdagangan, transportasi dan pariwisata akan menyumbang penerimaan pajak secara signifikan," kata Bhima.

Harga Batubara Loyo, ADRO Kejar Efisiensi

Hairul Rizal 26 Apr 2023 Kontan

PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) akan fokus melakukan sejumlah efisiensi di tahun ini. Salah satunya menekan pengeluaran kontraktor untuk penambangan batubara. Maklum, kontraktor jadi salah satu penyumbang biaya terbesar operasional penambangan Adaro. Efisiensi ini juga perlu dilakukan ADRO seiring harga batubara yang sulit diprediksi. Terlebih, dibandingkan tahun 2022, harga batubara sejak awal tahun ini sudah cenderung melandai. Presiden Direktur Adaro Energy Garibaldi Thohir memperkirakan, harga batubara tahun ini tak sebagus tahun 2022. "Karena itu, kami terus melakukan efisiensi agar profitabilitas perseroan tetap menarik," ungkap pria yang lebih akrab disapa Boy Thohir ini, Rabu pekan lalu (19/4). Meski melakukan efisiensi, Boy memastikan, ADRO tidak akan mengubah target kinerja tahun ini. Pada 2023, ADRO menetapkan target penjualan batubara bisa berada di kisaran 62 juta ton sampai 64 juta ton. Analis UOB Kay Hian Sekurtas Limartha Adhiputra, menilai, dengan laba bersih tahun 2022 yang melonjak 167% secara tahunan, rasio pembayaran dividen final untuk tahun buku 2022 setidaknya bisa mencapai 60%. Pada tahun ini, Limartha memproyeksi kinerja ADRO akan terkoreksi. Estimasinya, pendapatan ADRO akan tergerus 25,7% secara tahunan menjadi US$ 6,02 miliar pada tahun ini. Laba bersih ADRO tahun ini juga diprediksi ikut terpangkas 41,1% secara tahunan.

Ditopang Segmen Pinjaman Mikro

Hairul Rizal 26 Apr 2023 Kontan

Kinerja PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) diprediksi masih akan tumbuh pada tahun ini. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh segmen pinjaman mikro. Analis NH Korindo Sekuritas Indonesia Leonardo Lijuwardi mengatakan, pertumbuhan kinerja BBRI sangat didorong oleh ekosistem ultra-mikro. Sepanjang tahun lalu, pendorong pertumbuhan pendanaan di BRI adalah current account savings account (CASA) atau dana murah. CASA BBRI tumbuh sebesar 22% secara tahunan menjadi Rp 872 triliun. Sementara, compounded annual growth rate (CAGR) BBRI tercatat sebesar 15% sejak 2019. Leonardo mengatakan, segmen pinjaman mikro berpeluang tumbuh 11%-13% di tahun 2023. Sedangkan pertumbuhan dari pinjaman nasabah BBRI diprediksi berkisar 10%-12% di tahun ini. Biaya kredit atau cost of credit (CoC) diprediksi akan bertengger di angka 2,2% - 2,4%. BBRI memperoleh kuota KUR sebesar Rp 270 triliun pada tahun 2023, meningkat 4,9% secara tahunan. Leonardo mengatakan, ada skema KUR terbaru yang menarik untuk diperhatikan dampaknya terhadap kinerja BBRI. Skema tersebut yaitu pemberlakuan kenaikan bunga berjenjang untuk perpindahan segmen kreditur dan pengajuan kredit baru. Untuk pengajuan pertama kali, suku bunga kredit ada di 6%, lalu meningkat menjadi 7%,8% dan 9% untuk perpanjangan pertama, kedua dan ketiga. "Ketentuan baru ini akan berdampak positif untuk menjaga dan meningkatkan level pendapatan BBRI walaupun ada keinginan pemerintah untuk memigrasi kreditur KUR ke Kupedes, ujar Leonardo. Dengan skema KUR yang terbaru dan Kupedes, pertumbuhan kredit BBRI bisa naik sampai 10%.

Menelaah Tawaran 10 Waran Terstruktur Baru dari RHB

Hairul Rizal 26 Apr 2023 Kontan

PT RHB Sekuritas kembali akan menawarkan produk waran terstruktur. Tak tanggung-tanggung, pada penawaran kedelapan ini, RHB akan merilis 10 waran terstruktur baru. Dari 10 seri baru tersebut, tiga di antaranya merupakan produk yang sama sekali baru. Sementara tujuh sisanya bisa dibilang muka lama. Kesepuluh produk baru yang akan RHB tawarkan antara lain ANTMDRCX3 dengan underlying asset alias aset dasar saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) alias Antam, BBRIDRCX3A dengan aset dasar saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) alias Bank BRI, dan BMRIDRCX3A dengan aset dasar saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). Kemudian HRUMDRCX3A dengan aset dasar saham PT Harum Energy Tbk (HRUM), INCODRXC3A dengan aset dasar saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO), MDKADRCX3A dengan aset dasar saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), dan UNVRDRCX3A dengan aset dasar saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR). Tiga seri baru lainnya adalah CPINDRCX3A dengan aset dasar saham PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), PTBADRCX3A dengan aset dasar saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA), dan UNTRDRCX3A dengan aset dasar saham PT United Tractors Tbk (UNTR). Penambahan tiga seri waran terstruktur dengan aset dasar yang baru ini tak lepas dari rencana RHB Sekuritas untuk menyediakan produk waran terstruktur dengan aset dasar seluruh penghuni indeks IDX30. Steinly Atmanagara, Head, Sales & Marketing Equity Derivative RHB Sekuritas, mengatakan, RHB Sekuritas ke depan akan menyediakan waran terstruktur pada seluruh emiten penghuni IDX30. Kesepuluh produk baru waran terstruktur RHB tersebut akan ditawarkan mulai 28 April hingga 4 Mei 2023 mendatang. Penjatahan dan penetapan harga dijadwalkan pada 5 Mei 2023. Distribusi waran pada 8 Mei 2023 sementara pencatatan di Bursa Efek Indonesia (BEI) akan digelar pada 9 Mei 2023.

PLN Gandeng IEA Jalankan Roadmap Transisi Energi

Hairul Rizal 26 Apr 2023 Kontan

PT PLN (Persero) menggandeng International Energy Agency (IEA) untuk mematangkan Just Energy Transition Partnership Investment and Policy Plan (JETP IPP) dalam mengakselerasi transisi energi Indonesia. Kerja sama ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara kedua belah pihak. DIrektur Utama PLN Darmawan Prasodjo menjelaskan, kerja sama kedua lembaga ini sudah terjalin lama dan kolaborasi kali ini khusus dalam mencapai target pengurangan emisi karbon dunia, PLN dan IEA memperkuat kerja sama. "Kami memiliki visi yang sama untuk menyongsong masa depan. Masa depan energi berkelanjutan, yang membawa kemakmuran dan kemuliaan bagi bangsa dan dunia." ujar Darmawan. Salah satu tantangannya adalah proyeksi pertumbuhan permintaan listrik dan juga kondisi demand di Indonesia yang dinamis. " PLN dan IEA akan menjadi plonir, menunujukkan kepada dunia bahwa roadmap transisi energi dapat dibangun melalui kolaborasi. Dapat dibangun secara komprehensif dari hulu ke hilir," tambah Darmawan.

EFEK DOMINO MUDIK LEBARAN

Hairul Rizal 26 Apr 2023 Bisnis Indonesia (H)

Dihapusnya pembatasan mobilitas masyarakat selama Idulfitri untuk pertama kalinya sejak pandemi Covid-19 mampu menjadi mesin baru yang mendorong laju ekonomi makin tinggi. Bank Indonesia (BI) mengestimasikan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) pada paruh pertama tahun ini berada pada level prapandemi seiring dengan konsumsi rumah tangga yang makin moncer. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan Ramadan dan Idul fitri akan memberikan efek positif pada dua kuartal sekaligus, mengingat masing-masing terjadi pada pengujung kuartal I/2023 dan awal kuartal II/2023. Sejalan dengan itu, bank sentral memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal I/2023 minimal di angka 5%, sementara pada kuartal II/2023 sedikitnya bisa mencapai 5,1%. "Pada kuartal I/2023, ekonomi sudah menggeliat dengan perkiraan tumbuh 5% lebih sedikit. Kuartal II/2023 dengan adanya momentum Ramadan bisa mencapai 5,1% atau lebih sedikit," katanya, Minggu (23/4). Hal ini tecermin dari membaiknya keyakinan konsumen dan meningkatnya daya beli seiring dengan penurunan inflasi hingga Maret tahun ini. Pada kuartal I/2023, Perry mengatakan ekspor mencatatkan kinerja yang tetap positif, didukung antara lain oleh ekspor batu bara, mesin listrik, dan kendaraan bermotor. Sementara itu, berdasarkan lapangan usaha, kinerja sektor industri pengolahan, perdagangan, serta informasi dan komunikasi diperkirakan tumbuh kuat. Kondisi ini sejalan dengan survei yang telah dilakukan oleh Data Indonesia bahwa aktivitas ekonomi Lebaran akan banyak mendorong konsumsi masyarakat terutama pengeluaran mudik, belanja, aktivitas wisata, serta pembelian makanan minuman dan oleh-oleh. Peningkatan aktivitas pariwisata di daerah juga tidak lepas dari jumlah pemudik yang melampaui diperkirakan. Presiden Joko Widodo pun menghimbau agar pemudik memundurkan jadwal kepulangan guna menghindari penumpukan di sejumlah titik.

Uji Kekuatan Ekonomi Lebaran

Hairul Rizal 26 Apr 2023 Bisnis Indonesia

Sudah menjadi tradisi tahunan, Lebaran selalu diwarnai hiruk-pikuk aktivitas mudik dan belanja masyarakat. Lebaran telah menjadi momen perayaan penting bukan hanya bagi kaum muslim. Bukan hanya bagi kalangan mampu, melainkan juga bagi mereka yang berpendapatan menengah ke bawah. Pada Lebaran tahun ini, diprediksi ada 123 juta pemudik meramaikan lalu-lintas antar wilayah dan antarkota di Indonesia. Bertambah 14% dibandingkan musim mudik lebaran tahun 2022. Pertanyaan yang mengemuka kemudian adalah apakah peningkatan jumlah pemudik benar-benar diikuti dengan lonjakan dorongan belanja? Pada momen Idulfitri, per-ekonomian biasanya mendapatkan daya dorong tambahan dari belanja masyarakat. Meskipun demikian, ada sejumlah fakta belanja masyarakat dalam beberapa bulan sebelum Lebaran yang penting untuk diperhatikan. Salah satu indikatornya adalah tingkat penjualan retail. Hasil survei Bank Indonesia menunjukkan bahwa indeks penjualan retail pada triwulan pertama tahun ini ternyata hanya tumbuh 1,6% secara tahunan. Sangat jauh di bawah pertumbuhan pada triwulan pertama 2022 yang mencapai 12,5%. Selain sektor retail, kredit pemilikan rumah dan kendaraan bermotor juga bergerak lebih lambat pada awal 2023. Ini memang tak lepas dari berakhirnya insentif pajak yang diberikan selama masa pandemi melalui program pemulihan ekonomi nasional (PEN). Kredit pemilikan rumah pada Januari tahun ini hanya tumbuh 0,16% secara tahunan, lebih lambat dibanding pertumbuhan rata-rata triwulan pertama 2022 yang mencapai 1,96%. Sementara pertumbuhan kredit kendaraan bermotor melemah dari 5,28% pada triwulan pertama tahun lalu menjadi 1,17% pada Januari tahun ini. Melihat indikasi melemahnya konsumsi masyarakat sejak awal tahun, wajar jika daya dorong belanja Lebaran tahun ini diperkirakan tidak sekuat tahun lalu kendati arus mudik tetap ramai. Setidaknya ada tiga faktor utama penyebab pelemahan tersebut. Pertama, lonjakan inflasi yang terjadi sepanjang tahun 2022 yang mengena terutama pada kebutuhan dasar, baik bahan pangan maupun energi, termasuk BBM bersubsidi. Kedua, scarring effect dari pandemi yang masih dirasakan oleh masyarakat berpendapatan menengah bawah dan sejumlah sektor. Ketiga, pelemahan ekono-mi global yang menekan sektor-sektor yang mengandalkan pasar ekspor.

Pilihan Editor