RI Siapkan Strategi Redam Serangan Trump
Menjelang diberlakukannya tarif timbal balik sebesar 32% oleh Amerika Serikat terhadap produk Indonesia mulai 9 April, pemerintah Indonesia bergerak cepat menyusun strategi negosiasi. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto memimpin rapat maraton dengan kementerian terkait dan asosiasi pelaku usaha untuk menyusun paket negosiasi yang terdiri dari tiga langkah utama: deregulasi kebijakan nontarif (seperti pelonggaran TKDN dan percepatan sertifikasi halal), peningkatan impor dan investasi dari AS, serta pemberian insentif fiskal dan nonfiskal.
Dalam pernyataannya, Airlangga menegaskan bahwa Indonesia akan meningkatkan impor dari AS, termasuk migas dan pangan strategis, untuk mengurangi defisit perdagangan AS yang mencapai US$18 miliar. Ketua Umum Apindo, Shinta W. Kamdani, menegaskan bahwa impor ini tidak akan mengganggu industri dalam negeri, karena difokuskan pada komoditas yang memang dibutuhkan.
Dari sisi diplomasi, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan bahwa Indonesia akan mengambil langkah diplomatik dan menjaga prinsip resiprokal dalam setiap negosiasi. Ia menegaskan keinginan Indonesia untuk menjalin hubungan yang adil dan setara dengan Amerika Serikat.
Untuk memperkuat posisi, tiga menteri akan dikirim ke AS: Airlangga Hartarto, Menteri Luar Negeri Sugiono, dan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Langkah ini dikoordinasikan langsung oleh Presiden dan difokuskan untuk meredam dampak tarif sekaligus mencari solusi jangka panjang.
Selain fokus pada AS, pemerintah juga mempercepat diversifikasi pasar ekspor, terutama dengan menyelesaikan negosiasi IEU-CEPA (Indonesia–EU Comprehensive Economic Partnership Agreement) yang telah berlangsung sembilan tahun. Menteri Perdagangan Budi Santoso menargetkan penyelesaian negosiasi ini pada semester pertama 2025.
Dalam konteks komoditas strategis, seperti CPO (minyak sawit mentah), Ketua Gapki Eddy Martono menegaskan pentingnya diversifikasi pasar untuk mengurangi ketergantungan pada AS. Ekonom Wijayanto Samirin pun mengingatkan bahwa Indonesia berisiko lebih besar dibanding Malaysia karena tarif AS terhadap produk CPO Indonesia jauh lebih tinggi.
Sense of Crisis Elite Pemerintah Diuji
Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong memperingatkan bahwa kebijakan tarif baru Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump menandai berakhirnya era globalisasi dan menjadi ancaman serius bagi tatanan perdagangan dunia. Dalam pidatonya yang disiarkan lewat YouTube, Wong menilai langkah proteksionis dan sepihak AS merupakan bentuk penolakan terhadap sistem multilateral seperti WTO, dan dapat mendorong dunia ke arah yang lebih arbitrer dan penuh ketidakpastian—terutama bagi negara kecil dan terbuka seperti Singapura.
Meskipun tarif terhadap Singapura hanya sebesar 10%, Wong menyoroti konsekuensi jangka panjang yang jauh lebih mengkhawatirkan, termasuk risiko perang dagang global dan potensi resesi. Ia menegaskan bahwa Singapura tidak akan membalas tarif tersebut, tetapi mengingatkan bahwa negara lain bisa bertindak berbeda, sehingga meningkatkan ketegangan internasional.
Pernyataan Wong mendapat apresiasi dari negara-negara kawasan, termasuk Indonesia, yang saat ini justru terkena tarif tertinggi sebesar 32%. Malaysia melalui PM Anwar Ibrahim juga mengecam keras kebijakan Trump, meskipun hanya dikenai tarif 24%.
Sementara itu, Pemerintah Indonesia dinilai lamban merespons krisis ini. Meski Presiden Prabowo Subianto telah berkoordinasi dengan para pemimpin ASEAN, pernyataan resmi dari Indonesia baru akan disampaikan hari ini, setelah pasar keuangan dibuka. Keterlambatan ini dianggap sebagai kegagalan memanfaatkan jeda waktu akibat libur panjang untuk memberikan kepastian kepada pasar dan pelaku usaha, yang kini menghadapi ancaman PHK massal, terutama di sektor tekstil dan alas kaki.
Situasi ini menjadi ujian penting bagi pemerintah dalam menunjukkan sense of crisis dan kemampuan kepemimpinan menghadapi krisis global yang sedang berkembang.
Pariwisata Jadi Pilar Pertumbuhan Baru
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menekankan bahwa sektor pariwisata dapat menjadi alat pertahanan ekonomi nasional di tengah tekanan kebijakan tarif dagang Amerika Serikat. Berbeda dengan ekspor barang yang terkena tarif tinggi, pariwisata sebagai bentuk ekspor jasa tidak terdampak langsung, sehingga memiliki potensi besar sebagai sumber devisa utama.
Widiyanti menargetkan peningkatan jumlah wisatawan mancanegara (wisman) dengan fokus pada pengalaman wisata berkualitas, yang cenderung lebih tahan terhadap fluktuasi harga global. Kementerian Pariwisata juga aktif mengembangkan desa wisata dan mendukung aktivitas ekonomi lokal berbasis pariwisata, sebagai strategi untuk mendistribusikan pertumbuhan ekonomi secara merata dan mengurangi ketergantungan pada sektor manufaktur.
Senada dengan itu, anggota DPR Novita Hardini melihat kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump sebagai peluang untuk memperkuat pariwisata domestik. Ia menilai kenaikan biaya ke luar negeri akibat tekanan nilai tukar bisa mendorong pergeseran arus wisata ke destinasi lokal, yang perlu dijadikan prioritas nasional. Novita juga mendorong pemerintah untuk memberikan insentif dan memperkuat kebijakan fiskal di sektor ini guna menjaga kepercayaan investor.
Melalui pengembangan terintegrasi antara destinasi, produk wisata, dan promosi, sektor pariwisata diharapkan mampu menjadi penopang ekonomi yang stabil di tengah dinamika global.
Presiden Targetkan Pembentukan 80 Ribu Koperasi
Pemerintah, melalui Presiden Prabowo Subianto, menargetkan pendirian 80.000 koperasi desa sebagai langkah strategis untuk memperkuat ekonomi pedesaan dan membangun jaringan koperasi nasional. Dalam acara panen raya di Majalengka (7/4), Prabowo menyampaikan bahwa koperasi tersebut akan dilengkapi armada distribusi seperti truk untuk mempermudah pengiriman hasil pertanian ke pasar, sekaligus mengurangi ketergantungan petani pada tengkulak.
Selain itu, Prabowo juga menekankan pentingnya efisiensi distribusi pupuk, yang akan dilakukan langsung melalui koperasi agar petani dapat mengaksesnya dengan lebih cepat dan murah, sehingga menurunkan biaya produksi.
Tak hanya fokus pada sektor ekonomi, pemerintah juga merencanakan pembangunan apotek desa yang menyediakan obat generik berkualitas dengan harga jauh lebih terjangkau dibandingkan di kota. Menurut Prabowo, walau kemasan obat di desa sederhana, kualitasnya tetap setara dengan obat di apotek kota.
Langkah-langkah ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa secara menyeluruh, baik dari segi ekonomi maupun akses kesehatan.
RI Terpukul, Hadapi Tarif AS Tanpa Daya Tawar
Pemerintah Rancang Paket Diplomasi Ekonomi
Efisiensi Energi Jadi Senjata Utama
Saham Bank Diprediksi Melemah Pasca Libur Panjang
Menyangga Dampak Tarif Trump dengan Konsumsi
Tarif resiprokal AS diumumkan tanggal 2 April dengan pengecualian baja, aluminium, otomotif dan suku cadang tertentu, tembaga, farmasi, semi konduktor, emas batangan, energi, serta mineral tertentu yang strategis untuk rantai pasok manufaktur AS. Sebagai respons, lembaga keuangan Moody meningkatkan probabilitas resesi AS dari 15 ke 40 %. Indonesia terkena tarif 32 %, dampaknya akan terlihat pada industri padat karya yang berorientasi ekspor, lalu akan bermuara pada pertumbuhan ekonomi. Peluang untuk memitigasi dampak tarif adalah mencari pasar baru, fokus pada potensi ekspor produk tidak terkena tarif, dan konsumsi dalam negeri. Negara-negara berpenduduk besar, seperti Indonesia, memiliki ruang gerak untuk menggunakan pasar dalam negerinya. Dalam hal ini, konsumsi dalam negeri merupakan penyangga seraya bernegosiasi mencari kompromi dan alternatif pasar yang baru.
Situasi global berbeda akibat pandemi ataupun geopolitik. Harga barang dan jasa lebih mahal, walau inflasi sudah turun drastis. Akibatnya, rumah tangga menekankan pada minimisasi pengeluaran. Jika ada kendala anggaran, menabung dan menunda pengeluaran menjadi cara memupuk dana. Pengeluaran mudik versus kebutuhan lain bersaing di anggaran rumah tangga yang menimbulkan perubahan pola konsumsi. Di sini, pengamatan pada average propensity to consume (APC) yang dipublikasikan BI menjadi penting. Kenaikan APC berimplikasi ke penurunan APS (average propensity to save), menunjukkan lebih banyak pendapatan dibelanjakan. Memasuki 2024, peningkatan ketidakpastian akibat PHK di berbagai sektor menyebabkan masyarakat kian hati-hati. Lebaran 2025 jatuh pada tanggal muda,31 Maret-1 April. APC Februari 2025, yaitu 74,7, lebih tinggi dari pada Januari sebesar 73,6 serta individu bulanan di 2024.
Tampaknya konsumen mengambil napas sejenak, memupuk dana untuk konsumsi yang akan datang. Pada saat sama, angka PMI sudah tiga bulan di zona ekspansi. PMI mencapai 53,6 di Februari, tertinggi dalam 11 bulan terakhir. Maret kembali menurun ke 52,4, menunjukkan sudah ada penyeimbangan kembali dengan adanya mudik. Terkait APC bulan Maret ada dua kemungkinan. Siklus mudik yang tiba bersamaan dengan siklus belanja barang tahan lama membuatnya lebih kompleks. Jika konsumsi Februari 2025 tidak berlebihan, APC Maret akan tetap tinggi. Agar konsumsi dapat menjadi penyangga dampak tarif, ke depan perlu mengisi gap itu dengan penguatan daya beli. Kebijakan tidak dapat lagi semata pada bantuan kas. Kebijakan juga mesti meliputi usaha untuk memperbesar ruang anggaran rumah tangga, seperti diskon pada waktu tertentu untuk listrik, liburan sekolah, dan cuti bersama hari kejepit (Yoga)
Rancang Ulang Portofolio akibat Tarif Trump
Pasar saham dalam negeri dipastikan akan kembali mengalami volatilitas harga karena kondisi investasi yang terguncang pascakebijakan tarif baru Presiden AS, Donald Trump. Investor dapat mengatur ulang portofolio saham mereka untuk mencegah kerugian lebih dalam hingga jangka menengah. Pasar saham RI dijadwalkan kembali buka pada Selasa (8/4) setelah libur panjang sejak 28 Maret 2025. Di tengah masa libur Lebaran itu, pasar saham di seluruh dunia diguncang pengumuman Trump mengenai penerapan tarif tinggi impor barang terhadap negara-negara mitra dagang AS, termasuk Indonesia. Dua hari pasca pengumuman kebijakan itu pada 2 April 2025, bursa saham AS, seperti Nasdaq, anjlok 11,4 %, Indeks Small Cap 2000 turun 10,7 %, S&P 500 melemah 10,5 % dan Dow Jones terkoreksi 9,3 %.
Tren ini merambat ke bursa saham negara maju lainnya dan negara berkembang. Bursa saham global longsor sepanjang Senin (7/4). Indeks Nikkei-225 di Bursa Tokyo, Jepang, ditutup turun 7,83 %. ”Saham anjlok karena kebijakan tarif tak masuk akal Pemerintah AS di bawah Donald Trump. Keriuhan di pasar tak akan reda sampai kebijakan direvisi,” kata ekonom kepala Sony Financial Group, Hiroshi Watanabe, dikutip Kyodonews. Indeks yang terjun bebas memaksa manajemen bursa Tokyo menghentikan perdagangan sementara pada Senin. Manajemen bursa berusaha mengendalikan kepanikan para investor yang berlomba melepas saham di tengah kekhawatiran pada prospek suram kinerja perekonomian.
Analis pasar modal dari PT Infovesta Utama, Wawan Hendrayana, mengatakan, ”Pasar bersiap untuk tarif berlaku. Volatilitas akan tinggi karena sebagian investor memilih melepas terlebih dahulu saham mereka dan masuk ke (saham) yang dipandang lebih aman,” ujarnya, Senin. ”IHSG kemungkinan besar akan dibuka dengan koreksi meski berharap tidak sampai trading halt,” kata Wawan. Kendati demikian, proyeksi koreksi ini dapat dimanfaatkan oleh investor jangka panjang untuk mengakumulasi pembelian saat harga terkoreksi. ”Untuk investor jangka pendek, lebih aman untuk sementara beralih ke instrumen yang risikonya rendah, seperti reksa dana pasar uang,” kata Wawan. (Yoga)









