Tarif Donlad Trump Beban Rakyat US
CIMB Niaga Bagikan Dividen Senilai Rp 3,9 Triliun
PT PLN Masdar Kembangkan PLTS Terapung di RI
KPK Geledah Rumah Senator DPD La Nyalla di Kota Surabaya
Pariwisata Berkelanjutan Menunjukkan Pertumbuh yang Bagus
Para Pemudik Keluhkan Ketersediaan Tiket Pesawat dan Kereta
19 Miliar USD Produk AS Bakal Diborong RI
Indonesia akan mengajukan proposal pembelian produk AS senilai 19 miliar USD dalam rangkaian negosiasi dagang di Washington DC pekan depan. Rencana ini menjadi poin utama dalam upaya menekan tarif impor tinggi yang diberlakukan terhadap produk ekspor Indonesia. Hal itu disampaikan Menko Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto seusai memimpin Rakortas terkait persiapan negosiasi penetapan tariff resiprokal oleh AS terhadap Indonesia, di Jakarta, Senin (14/4).
Airlangga menyebut, penawaran pembelian produk dari AS bertujuan mengurangi defisit neraca perdagangan AS terhadap Indonesia dan akan menjadi salah satu poin utama dalam proposal negosiasi tariff impor yang dibawa ke Gedung Putih. ”Rencana Indonesia adalah mengompensasi selisih ekspor-impor yang besarnya di kisaran 18 miliar-19 miliar USD. Indonesia akan membeli barang dari AS sesuai kebutuhan dalam negeri dengan nilai mendekati angka tersebut,” ujar Airlangga. (Yoga)
Mempercepat Reformasi Ekonomi RI menurut Luhut
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan menguraikan berbagai latar belakang kebijakan pemerintah dan rekomendasi DEN kepada Presiden Prabowo dalam wawancara di ruang kerjanya di Jakarta, Kamis (10/4). Indonesia sakti, kita punya kekuatan besar. Jadi, kita tak pernah mengemis ke negara mana pun. Kita bisa selesaikan masalah kita sendiri, asal kompak. Seperti situasi pandemic Covid-19, kita menjadi salah satu negara yang bisa menyelesaikan Covid-19 dengan cepat. “Saya optimistis target pertumbuhan ekonomi nasional yang dicanangkan Presiden Prabowo sebesar 8 % bisa dicapai bahkan dalam dua atau tiga tahun ke depan. Pendapatan negara pada Maret 2025 sudah mulai tumbuh positif.
Defisit fiskal diperkirakan sesuai target 2,53 % pada 2025. PMI (Purchasing Managers’ Index) manufaktur berada pada tingkat ekspansif (52,4 pada Maret 2025). Konsumen masih pada tingkat optimistis. Dari data LPS, indeks kepercayaan konsumen kepada pemerintah mencapai tingkat tertinggi dalam sejarah. Kebijakan tarif resiprokal Trump pasti akan dirasakan. Namun, yang terpenting, dampak terhadap ekonomi Indonesia relatif terbatas. Terdapat sektor yang mengalami penurunan ekspor dan output cukup besar, yakni perikanan, pertanian lainnya, tekstil, produk makanan, elektronik, peralatan listrik, furnitur kayu dan karet, serta produk plastik. Sektor-sektor yang terdampak ini perlu mendapat bantuan dari pemerintah, terutama di masa transisi, terutama karena signifikansinya sebagai sektor padat karya.
Kita tak perlu khawatir berlebihan terhadap penurunan rupiah atau pasar saham selama volatilitasnya terjaga dan sejalan dengan yang terjadi di regional. Kalau rupiah sampai Rp 17.000 per USD juga masih baik. Pemerintah optimistis dengan kondisi ekonomi Indonesia. Tapi ada hal-hal yang perlu diantisipasi dan diperbaiki. Ini momentum untuk reformasi ekonomi kita. Untuk itu, Government Technology (GovTech) jadi penting. GovTech akan membantu banyak hal, termasuk dalam pengumpulan pajak, dan mencegah pelanggaran sehingga membuat semuanya tepat sasaran dan melahirkan kepastian untuk masyarakat dan pengusaha. Jika GovTech bisa dijalankan dengan baik, saya kira semua bantuan sosial dan subsidi bisa tepat sasaran dan langsung ke masyarakat.
GovTech sudah dilakukan di beberapa sektor, seperti batubaran dan terbukti penerimaannya naik. Jika, perusahaan tidak bayar royalti, tidak bisa ekspor dan secara otomatis berhenti. Saya semakin yakin dengan ekonomi kita karena dalam diskusi dengan Presiden Prabowo, meski ada kegelisahan, tapi makin kuat. Presiden selalu menekankan, pemerintah untuk rakyat, semua untuk rakyat. Ini jadi modal utama dan paling penting. Kepercayaan investor bisa dibangun dan ditambah ketika kita bisa menunjukkan hasil nyata, sebagaimana yang disampaikan Presiden di sarasehan ekonomi lalu. Presiden juga sudah sepakat untuk secara reguler bertemu dengan pelaku usaha, investor, ekonom, dan pemangku kepentingan terkait. Proses kebijakan akan lebih transparan dan semakin meningkatkan kepercayaan investor. (Yoga)
Harga iPhone Tidak Jadi Melonjak karena Tarif Trump Berubah Lagi
Tarif bea masuk impor AS terus berubah. Kali ini, mayoritas tarif untuk aneka produk elektronik dibatalkan. Harga iPhone sampai kartu grafis dan alas kaki batal melonjak lebih mahal. Indonesia pun berpeluang ikut diuntungkan. Perubahan terbaru itu diungkap Badan Perbatasan dan Cukai (CBP) AS, Sabtu (12/4) siang WIB. Informasi itu lalu beredar luas pada Minggu (13/4) dini hari WIB. ”(Donald) Trump berkedip (goyah) dengan pengecualian pada elektronik. Komputer jinjing, ponsel, dan lain-lain kini dikecualikan. Jadi, tarif Trump pada akhirnya terfokus pada sasaran tertentu. Karena harganya terlalu tinggi dan hasilnya tidak jelas,” kata Trinh Nguyen, ekonom pada bank investasi Natixis.
Ekonom pada bank Perancis itu menggunakan istilah lazim dalam permainan saling gertak dengan cara melotot. Orang yang pertama berkedip kalah. Trinh menyebut, bea masuk impor (BMI) sampai 145 % bisa membuat ekspor China ke AS ambruk. Masalahnya, bukan cuma China akan terdampak. Perekonomian AS bisa terpukul parah karena rantai pasok terguncang hebat dan tak ada periode peralihan untuk hal itu. Harga aneka produk juga melonjak jika tarif itu diterapkan. Harga iPhone, misalnya, akan naik, yaitu dari rata-rata di bawah 1.000 USD per unit menjadi mendekati 2.000 USD per unit. Hal serupa berlaku untuk mobil listrik hingga pisau dan panci dapur.
Ada 20 komoditas yang tarifnya dikembalikan menjadi sesuai ketentuan 5 April 2025. Dengan demikian, BMI untuk komoditas-komoditas itu antara 10 % dan 20 %. Dengan ketentuan baru itu, harga berbagai produk di pasar AS batal melonjak drastis. Sebelumnya, berbagai pihak khawatir harga aneka produk itu naik tinggi akibat BMI baru dari Trump. Pengecualian bagi 20 komoditas itu menjadi kelabilan terbaru tarif Trump. Seorang pejabat AS yang menolak identitasnya diungkap mengatakan, keputusan itu demi menjaga kelancaran rantai pasok. Maka, sasaran pengecualian diprioritaskan pada produk-produk yang penting bagi industri AS. (Yoga)
Atasi ”Virus” Tarif Trump dengan ”Ramuan” Indonesia
Dengan kebijakan tarif baru impor yang diterapkannya, Presiden AS, Donald Trump seolah tengah mengubrak-abrik tatanan global. Dengan jemawa ia mengatakan, para kepala negara pasti segera menghubunginya, meminta untuk bernegosiasi dan ia yakin Washington dengan mudah mendiktekan keinginannya. Awalnya, dunia bersikap sebagaimana yang Trump inginkan. Tapi, banyak pihak justru bersikap sebaliknya. Uni Eropa, China, dan Kanada membalas. Bahkan, China mengenakan tarif impor lebih dari 100 % pada produk asal AS. Situasi ini tentu tidak sehat. Banyak pihak telah menegaskan, perang dagang tidak memberikan keuntungan apa pun, kepada siapa pun.
Tatanan pasar bebas yang lebih kompetitif, adil, dan stabil dengan lahirnya WTO pada 1995, yaitu sebagai tindak tindak lanjut GATT, yang diprakarsai oleh AS malah ”direcoki” Trump dengan kebijakan yang cenderung mementingkan diri sendiri. Saat pandemi Covid-19 membatasi ruang gerak manusia, sejumlah negara sepakat membentuk ”ruang terbatas” bersama untuk menjaga perdagangan agar tetap berjalan dan merawat sikap saling percaya. Langkah awal itu berhasil menjaga rantai pasok global tetap beroperasi, kinerja ekonomi terjaga. Dunia pun perlahan pulih dari deraan pandemi. Indonesia yang pada 2022 mengampu keketuaan G20 sengaja menggelorakan semboyan ”Recover Together, Recover Stronger” sebagai tajuk presidensi.
Semboyan itu seolah ”melawan” kecenderungan yang sempat menguat di awal pandemi, yaitu ”virus” ingin selamat sendiri. Lewat semboyan itu, Indonesia menegaskan, untuk bisa pulih sepenuhnya dari pandemi, hal yang mutlak diperlukan adalah kerja sama. Dengan semboyan itu, dalam relasi global, Indonesia menegaskan pentingnya multilateralisme. Indonesia meyakini, dengan metode itu, tidak satu pun negara diabaikan dan ditinggalkan sendiri dalam keterpurukan. Kata kuncinya adalah kebersamaan dan sikap saling percaya. Itulah ramuan untuk bangkit dan itu terbukti. Meskipun terkesan naif, ”ramuan” yang sama dapat diuji lagi untuk menanggapi tekanan Trump. Kerja sama kawasan dapat dioptimalkan untuk memperkuat nilai tawar, memperkuat sekaligus memperlebar alternatif pasar, serta memberi tekanan balik kepada Trump. (Yoga)









