Warga Berhemat, Hari Belanja Sepi
Kondisi perekonomian yang kurang baik membuat konsumen di
China berhemat. Akibatnya, semangat belanja pada Hari Jomblo yang juga dikenal
dengan ”Double 11” mengendur. Dari hanya sehari, kini ”11.11” berkembang
menjadi tawaran diskon dalam hitungan pekan. Setiap ”11.11” atau tanggal 11 bulan
11, berbagai lokapasar menawarkan potongan harga besar-besaran. Hal itu juga
terjadi pada Sabtu (11/11). Tmall milik Alibaba berpromosi ”Harga Terendah di
Internet”. Sementara JD.com menyebarkan slogan ”Benar-benar Murah”. Adapun
Pinduoduo mencoba menarik konsumen dengan iming-iming ”Harga Murah Setiap
Hari”. Harian The Japan Times, Jumat (10/11) melaporkan, Alibaba dan JD.com
menggunakan kecerdasan buatan (AI) yang mampu menghasilkan gambar produk dengan
cepat. Lokapasar juga membagi- kan aneka kupon diskon. Alibaba dan JD.com juga gencar
mengunggah siaran langsung, rekaman video, atau foto promosi di media sosial. Douyin,
Tiktok versi China, menjadi pelantar utama bagi orang-orang dan pengecer yang menjual
kepada konsumen melalui siaran video secara langsung.
Ternyata, tahun ini, semua tawaran diskon itu tak menarik konsumen.
Survei Bain&Co, lembaga konsultasi asal AS, terhadap 3.000 konsumen China
menyimpulkan, 77 % responden tidak akan belanja sebanyak tahun lalu. Bahkan,
separuh responden mengaku cenderung memilih produk lebih murah. ”Mungkin orang
tidak mau mengeluarkan uang sebanyak dulu atau mungkin mereka tidak punya
banyak uang untuk dibelanjakan. Saya juga tidak mengeluarkan uang apa pun kecuali
untuk kebutuhan sehari-hari,” kata Hu Min, karyawan toko serba ada di kota
Shijiazhuang, Hebei. Pada 2019, konsumen bisa menghabiskan 38 miliar USD atau Rp
596 triliun di Alibaba saja selama Hari Jomblo. Kini, konsumen di China lebih
berhati-hati mengeluarkan dana belanja tambahan. Sebab, pendapatan menurun,
sementara harga aneka hal serta pengangguran naik. (Yoga)
Dari Cirata, Energi Hijau untuk Bumi Lebih Baik
Senyum lebar menghias wajah Presiden Jokowi saat meresmikan Pembangkit
Listrik Tenaga Surya Terapung Cirata, Kamis (9/11) pagi. Bagi Presiden,
pembangunan infrastruktur penghasil energi hijau ini semakin membuka langkah maju
untuk pengembangan energi baru dan terbarukan di Tanah Air. PLTS ini berkapasitas
192 megawatt-peak dan mampu memasok listrik hingga 50.000 rumah. Dengan
kapasitas yang dimiliki, PLTS Terapung Cirata menjadi pembangkit listrik terapung
terbesar di Asia Tenggara dan nomor tiga terbesar di dunia. ”Ini merupakan hari
bersejarah karena mimpi besar kita untuk membangun pembangkit energi baru dan
terbarukan (EBT) dalam skala besar akhirnya bisa terlaksana,” ujarnya dalam
peresmian yang disambut terik matahari pagi itu.
Setiap panel terapung seperti pulau persegi dengan luas 10 hektar
atau 14 kali lapangan sepak bola. Panel terapung ini menutupi 4 % total permukaan
Waduk Cirata yang mencapai 6.200 hektar. Posisi panel surya ini berada di sebelah
utara waduk dan berjarak sekitar 400 meter dari pintu pengambilan air (water intake)
Pembangkit Listrik Tenaga Air Cirata. Waduk Cirata membentang di antara
Kabupaten Bandung Barat, Cianjur, dan Purwakarta. Panel Surya yang terbentang
itu membuat Jokowi semakin optimistis dalam kontribusi energi hijau di masa depan.
Dia berujar sudah saatnya Indonesia memaksimalkan potensi EBT yang terbentang
di Tanah Air. ”Kami harapkan makin banyak EBT yang dibangun di Indonesia, baik
itu tenaga surya, tenaga air, panas bumi, maupun tenaga angin. Memang
permintaan untuk energi hijau untuk industri ini paling banyak karena semua ingin
mendapatkan produk premium dari green energy,” ujarnya. (Yoga)
UANG BUKAN SEGALANYA DI PASAR WULANDONI
Uang telah menjadi alat tukar yang dianggap menandai
peradaban modern. Namun, di Pasar Wulandoni, Pulau Lembata, Nusa Tenggara
Timur, uang bukanlah segalanya. Nelayan dan petani masih saling tukar kebutuhan
hidup sehari-hari tanpa menggunakan uang. Sabtu (12/8) pagi pukul 08.00, para
pedagang, hampir semuanya perempuan, telah menggelar hasil bumi seperti pisang,
singkong, keladi dan umbi-umbian hutan, kacang-kacangan, jagung, sirih dan
pinang, serta sayur-mayur. Mereka duduk di lapak-lapak batu yang disemen berbentuk
lingkaran, di bawah pohon asam yang tumbuh meraksasa. Lokasi tiap lapak itu diwariskan
turun-temurun. Pasar Wulandoni hanya buka seminggu sekali setiap Sabtu, dari
Lewoleba, ibu kota Kabupaten Lembata, butuh tiga jam dengan mobil.
Pukul 09.00, nelayan dari Pantai Harapan dan Lebala, desa
pesisir sekitar Wulandoni, membawa ikan segar yang ditaruh dalam ember dan ikan
terbang kering. Ketika hampir semua lapak terisi, Kosmas Dua (64), Mandor Pasar
Wulandoni, memungut retribusi dengan membawa karung dan ember. Para pedagang menyerahkan
sebagian dagangan, sesisir pisang, beberapa ikat sayur atau ubi. Kosmos memasukkannya
ke dalam karung dan membawanya ke Kantor Desa Wulandoni, di depan pasar. Hasil
retribusi ini akan dilelang menjelang penutupan pasar. Menandai dimulainya
barter, Kosmas meniup buri (peluit) tepat pukul 10.00 pagi. Para nelayan segera
menyerbu petani yang membawa hasil kebun, seperti singkong, pisang, ubi, dan
sayur-mayur. Pada umumnya, nelayan yang berjalan-jalan sedangkan orang-orang
gunung duduk menunggu, karena ikan lebih ringan dibandingkan hasil pertanian.
Tawar-menawar barang berlangsung dalam diam. Kebanyakan
menggunakan Bahasa isyarat. Safira (45), misalnya, nelayan dari Pantai Harapan menyodorkan
dua ekor ikan kembung segar sambari menunjuk dua sisir pisang susu milik Lena
(56), petani dari Kampung Puor, Lena mengangkat tiga jari tangan pertanda ia meminta
tambahan satu ekor ikan lagi. Safira
berlalu, transaksi barter gagal. Tak lama berselang, Lidya (34) menyodorkan
satu renteng ikan asin sejumlah 10 ekor dan meminta tiga sisir pisang susu kepada
Lena, ia mengangguk. Barter berjalan mulus, masing-masing tersenyum puas. ”Kami
butuh ikan mereka dan mereka butuh makanan dari kebun kami,” kata lena. Di
Wulandoni, kita bisa melihat Pasar barter terbesar yang terakhir di Pulau
Lembata ini mempertemukan warga pesisir dan orang-orang pegunungan yang saling
membutuhkan. Hampir semua hasil barter untuk kebutuhan hidup sehari-hari, bukan
untuk dijual lagi. Para petani dan nelayan di Pasar Wulandoni tak terpengaruh lonjakan
harga beras atau bahan-bahan pangan lain di level nasional, apalagi perdagangan
global. Mereka menentukan nilai barang secara merdeka, berdasarkan kesepakatan
dua pihak. (Yoga)









