Agar Insiden KPPS dalam Pemilu 2019 Tak Terulang
Buntut Tunggakan Utang Rafaksi
2024, Pasar Smartphone Diproyeksikan Bangkit
IHSG Koreksi Wajar, Bakal Kembali Melesat Usai Pemilu
Laba Himbara Nyaris Tembus Rp140 Triliun
Tak hanya Siap Menang, Juga Harus Siap Kalah
Indonesia Melaksanakan Pesta Demokrasi!
Penanaman Padi Diakselerasi
Pemerintah menyiapkan empat solusi untuk mempercepat
penanaman tanaman pangan, khususnya padi dan jagung, demi meningkatkan
produksi. Solusi yang dimaksud adalah pompanisasi, optimalisasi lahan rawa,
insentif benih gratis, dan penambahan pupuk. Mentan Amran Sulaiman mengemukakan
hal itu di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (13/2). ”Tadi, kami
dipanggil Presiden. Beliau menanyakan perkembangan tanaman, khususnya padi dan
jagung,” ujar Amran. Menurut Amran, peningkatan produksi beras harus didorong
lebih cepat karena harga beras dunia dan Indonesia meningkat. Terkait hal itu,
dirumuskan empat solusi untuk mendorong upaya akselerasi.
”Kami laporkan ke Bapak Presiden, (pertama) bagaimana kita
mengairi sawah-sawah di Pulau Jawa dan luar Jawa yang di wilayah itu ada sungai
(besar), seperti Sungai Bengawan Solo. Kita bisa pompa airnya naik ke sawah,
digunakan oleh petani,” ujar Amran. Solusi kedua adalah optimalisasi lahan rawa
yang sebelumnya hanya ditanami satu kali agar bisa ditanami dua dan tiga kali.
”Ketiga adalah kita memberikan insentif benih gratis kepada petani yang mau melakukan
perluasan tanam, contoh padi gogo,” kata Amran. Solusi keempat adalah tambahan
pupuk agar bisa diperoleh petani dengan tepat waktu dan tepat volume. ”Pupuk
tambahan dari Bapak Presiden nilainya Rp 14 triliun, bagaimana ini
direalisasikan dengan cepat,” ujarnya.
Amran menegaskan, produksi mutlak ditingkatkan untuk menurunkan
harga beras. Hal ini bukan hanya menyangkut harga beras Indonesia, melainkan
juga harga beras dunia. ”Kita standing crop sekarang, yang kita tanam sejak
Desember (dan) Januari, lebih kurang 4 juta hektar. Dikali saja dengan produksi,
mudah-mudahan bisa produksi 5-8 ton per hektar,” ujarnya terkait target panen hingga
Maret 2024. Dirut Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi menambahkan, ketersediaan
pupuk menjadi faktor utama dalam upaya peningkatan produksi beras. ”Oleh karena
itu, kita sudah siapkan stok pupuk 2 juta ton, dimana 1,1 juta ton sudah berada di kabupaten-kabupaten, siap
untuk disalurkan,” katanya. Volume pupuk subsidi ini, menurut Rahmad, mencapai
4,7 juta ton. (Yoga)
Efek Pemilu, Konsumen Masih Mengerem Belanja
Limbung Beras
Harga beras semakin tinggi. Pasar beras premium mulai tak
terisi. Kala paceklik terjadi, banjir justru menghampiri. Kini, limbung beras
tengah terjadi. Dalam setahun terakhir, harga beras medium naik 15,21 %. Panel
Harga Pangan Bapanas menunjukkan, per 13 Februari 2024, harga rata-rata nasional
beras medium Rp 13.870 per kg, lebih tinggi dari harga rerata Februari 2023, Rp
11.760 per kg. Begitu juga beras premium, harga rerata nasionalnya naik 15,34 %
secara tahunan dari Rp 13.410 per kg menjadi 15.840 per kg. Selama enam bulan
berturut-turut, Agustus 2023-Januari 2024, kenaikan harga beras telah memicu
inflasi. Hal itu terjadi lantaran produksi beras nasional turun sekitar 650.000
ton dari 31,54 juta ton pada 2022 menjadi 30,89 juta ton pada 2023. Penurunan
produksi itu membuat neraca produksi dan konsumsi beras di luar impor dan
ekspor beras pada 2023 hanya surplus 270.000 ton.
Pada Januari-Februari 2024, BPS juga menyebutkan bakal
terjadi defisit beras sebesar 2,83 juta ton. Neraca beras baru akan surplus
mulai Maret 2024, diperkirakan 970.000 ton. Namun, surplus tersebut jauh lebih
rendah dibandingkan Maret 2023 di 2,59 juta ton. Perubahan cuaca, terutama
fenomena El Nino yang berkepanjangan, menjadi biang keladinya. Hal itu juga membuat
musim tanam I berikut panen raya padi mundur. Masa paceklik beras juga kian
panjang. Pada periode 2022/2023, masa paceklik beras berlangsung selama enam
bulan, yakni Agustus 2022-Januari 2023. Adapun pada periode 2023/2024, masa
paceklik tersebut terjadi selama delapan bulan, yakni Juli 2023-Februari 2024. Saat
neraca produksi-konsumsi beras mengalami defisit, banjir justru melanda
sejumlah daerah di Indonesia. Kementan mencatat, banjir tersebut melanda 7.026
hektar lahan pertanian yang didominasi areal persawahan. Banjir tersebut memengaruhi
psikologi pasar perberasan nasional sehingga harga beras kian melambung.
Masyarakat juga mulai kesulitan mendapatkan beras premium di sejumlah
minimarket dan swalayan atau pasar ritel modern dalam beberapa hari terakhir
ini. (Yoga)









