Produksi Batubara Rekor Sepanjang Masa
Laporan Badan Energi Internasional (IEA) berjudul
“Coal 2022” terbaru memperkirakan konsumsi batubara akan tetap pada tingkat
yang sama di tahun-tahun berikutnya jika tidak ada upaya yang lebih kuat untuk
mempercepat transisi ke energi bersih. Menurut data dari kpler, lembaga
yang melacak perdagangan batubara lintas laut, meskipun permintaan tinggi,
perdagangan batu bara lintas laut global pada tahun 2022 berada di level 5-8%
di bawah tingkat pra-pandemi atau di 2019. “Kondisi itu terjadi karena
penurunan di pasar yang sudah mapan diimbangi oleh permintaan yang terus kuat
di negara berkembang Asia. Hal ini berarti batu bara akan terus menjadi sumber
tunggal terbesar emisi karbon dioksida sistem energi global sejauh ini,”
katanya dalam keterangan resmi, Senin (19/12). Seperti yang disoroti oleh
laporan IEA Renewables 2022 yang baru, permintaan batubara diperkirakan akan
turun karena negara-negara memperluas kapasitas pembangkitan energi terbarukan.
Mengungkit Taji Produksi Migas
Melemahnya daya ungkit lifting minyak dan gas atau migas 2023 kembali mencuat ke permukaan. Pencapaian lifting dalam hal ini minyak mentah yang meleset dari target pemerintah, tentu saja berdampak pada lonjakan impor komoditas energi yang berujung pada membengkaknya beban yang ditanggung Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Berdasarkan data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), lifting minyak per 31 Desember 2023 berada di level 612.000 barel per hari (bopd). Pencapaian itu lebih rendah dibandingkan dengan target APBN 2023 yang ditetapkan sebesar 660.000 bopd. Rendahnya realisasi lifting minyak mentah ini disebabkan oleh tertundanya sejumlah proyek, seiring dengan peristiwa penghentian operasional atau uplanned shutdown. Beberapa penghentian operasional itu dipicu antara lain bencana tanah longsor di Lapangan Kedung Keris milik ExxonMobil Cepu Ltd (EMCL), kendala Train-1 dari kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) bp, kebocoran pipa atau power outgage di PT Pertamina Hulu Energi Offshore Southeast Sumatra (PHE OSES), dan kebocoran pipa di PHE Offshore North West Java (ONWJ). Dari sisi operasional, belum tercapainya target lifting minyak mentah menjadi pekerjaan rumah yang mendesak untuk segera diselesaikan. Merespons penurunan tersebut, SKK Migas melakukan pembenahan salah satunya dengan mengoptimalkan perangkat digital dalam pengawasan kegiatan hulu migas. Seakan ingin mengejar ketertinggalan pada 2023, pemerintah pun mengalokasikan perhatian pada sejumlah program eksplorasi dan penanaman modal jumbo untuk 2024. Investasi pada tahun ini diklaim melampaui capaian tahun sebelumnya. Tingginya angka investasi menjadi penanda komitmen pemerintah yang bergandengan tangan dengan perusahaan migas untuk mengawal industri migas pada tahun ini dapat mencapai target APBN. Di tengah euforia pemanfaatan energi ramah lingkungan kerja keras menjaga kelangsungan proyek migas agar tetap berada dalam jalurnya tidak dapat dilepaskan dari target ambisius produksi migas 2030. Pada tahun tersebut, pemerintah memang menargetkan produksi minyak mentah sebesar 1 juta bopd, dan 12 bilion standar cubic feet per day (BSCFD).
Harga Emas Menanti Pidato FOMC Pekan Ini
Kilau emas diproyeksi masih akan bersinar. Research And Development PT Handal Semesta Berjangka Alwy Assegaf mengatakan, data ekonomi Amerika Serikat (AS) terkini yang membaik dinilai tidak mengubah pandangan pasar terkait pemangkasan suku bunga AS. Ia menyebut, pasar masih menempatkan penurunan suku bunga di Juli tahun ini. Berdasarkan data Bloomberg, harga emas global kembali melandai ke US$ 2.162,30 per ons troi, kemarin (18/3), setelah mencetak rekor pada Senin pekan lalu di level US$ 2.188,60 per ons troi. Alwi menilai emas masih memiliki prospek untuk cenderung bullish sepanjang tahun ini. Namun, untuk pekan ini, arah harga emas memang bergantung pada hasil rapat FOMC yang akan berlangsung Kamis pekan ini.
Menurut Alwi, jika The Fed melihat petunjuk mengenai waktu dan ruang lingkup penurunan suku bunga masih seperti Desember 2023, maka akan ada pemangkasan suku bunga sebanyak tiga kali. Dengan demikian, dengan skenario hawkish (inflasi naik) maka harga emas akan terkoreksi dengan support US$ 2.110–US$ 2.130 per ons troi, Sementara apabila hasil FOMC dovish, maka harga emas akan naik ke US$ 2.170 dan kenaikan selanjutnya ke US$ 2.194 per ons troi. Analis Deu Calion Futures (DCFX) Andrew Fischer memenyarankan investor dapat mempertimbangkan potensi penurunan yang lebih besar di masa mendatang. "Utamanya jika ada pengumuman penting dari Fed yang dapat mempengaruhi arah dolar AS," imbuh Ficher dalam rilis, kemarin.
Saratoga Cetak Aset Bersih Sebesar Rp 48,9 Triliun di 2023
Perusahaan investasi aktif, PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) mencatatkan nilai aset bersih atau net asset value (NAV) sebesar Rp 48,9 triliun di tahun 2023. Angka ini menurun 20% dibandingkan nilai per tahun 2022. Direktur Investasi SRTG Devin Wirawan mengatakan, penurunan nilai aset bersih akibat gejolak harga komoditas sepanjang tahun 2023. Ini berdampak terhadap harga saham-saham perusahaan portofolio utama Saratoga. Seperti PT Adaro Energy Indonesia Tbk. (ADRO) dan PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA). "Fluktuasi harga saham-saham tersebut ikut berdampak terhadap NAV Saratoga pada akhir tahun lalu," kata Devin, Senin (18/3).
Direktur Keuangan SRTG, Lany D. Wong menambahkan, posisi utang SRTG yang menurun berdampak pada terpangkasnya biaya bunga hingga 49% di tahun 2023. Per 31 Desember 2023, SRTG menurunkan utang bersih hingga 62% menjadi Rp 263 miliar, dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp 688 miliar. Kami juga menjaga rasio biaya dan utang pada tingkat yang sehat. Biaya operasional terhadap NAV masing-masing sebesar 0,5% dan loan to value menjadi 0,4% dari sebelumnya 1,1% di tahun 2022, ujarnya. Perusahaan ini masih optimistis kalau emiten yang jadi andalan portofolio SRTG seperti ADRO dan MDKA, akan mencapai pertumbuhan bisnis berkelanjutan dan menguntungkan. Apalagi dua perusahaan ini berada di sektor strategis, yaitu komoditas batubara, emas, nikel dan terkait bisnis hilirisasi komoditas.
Menguji Tuah Saham Prajogo Pangestu
Kendati sempat naik ke harga tertinggi sepanjang masa, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) baru naik tipis 0,41% jika dihitung sejak awal tahun ini. Beberapa saham big caps masih menjadi pemberat IHSG, termasuk saham emiten milik taipan Prajogo Pangestu. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menjadi pemberat utama IHSG. Harga BREN sudah turun 30,8% sejak awal tahun ke Rp 5.175, Senin (18/3). Selain BREN, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) juga sudah terkoreksi 64,84% year to date (ytd). Begitu juga PT Barito Pacific Tbk (BRPT). Dengan kapitalisasi pasar Rp 90 triliun, BRPT telah menggerus IHSG sebesar 24,01 poin. Investment Consultant Reliance Sekuritas Indonesia, Reza Priyambada mengatakan, salah satu penyebab turunnya harga saham Grup Barito adalah aksi profit taking dari investor. Kendati harganya sudah turun dalam, masih ada kesempatan untuk mencermati saham Grup Barito, terutama di tengah musim laporan keuangan ini.
BREN misalnya, diharapkan masih menuai kinerja positif seperti pada kuartal III 2023 lalu. Frankie Wijoyo Prasetio, Head of Equity Trading MNC Sekuritas menambahkan, wajar saja kalau saham emiten Prajogo Pangestu menjadi pemberat. Saham-saham ini sudah rally tinggi sepanjang tahun 2023 lalu. Meski menjadi pemberat IHSG, Reza menilai ada sejumlah saham pemberat yang menarik dicermati. Saham BREN masih punya potensi kenaikan harga atau upside 15,94% di target Rp 6.000. Sedangkan saham CUAN menarik dicermati dengan target harga di Rp 5.450. Frankie menilai, pelemahan harga saham ASII turut disebabkan sentimen masuknya salah satu raksasa otomotif asal China yang berpotensi merenggut pangsa pasar Grup Astra. Namun, saat ini harga saham ASII sudah masih lebih rendah dibandingkan 2019. Reza juga menilai ASII menarik dicermati dengan target harga Rp 5.900. Saham laggard lain yang bisa dicermati investor adalah saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA). Reza memasang target harga MDKA Rp 2.600 per saham. Lalu, saham PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) diberikan target harga di Rp 1.600 per saham.
INDUSTRI PARIWISATA : Urat Nadi Udara Lombok—Makassar
Kehadiran rute penerbangan Lombok—Makassar diyakini bakal meningkatkan industri pariwisata di Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Selatan. Rencananya, rute tersebut bakal dilayani oleh maskapai Lion Air dengan menggunakan pesawat Boeing 737-900ER dengan kapasitas 215 kursi mulai 27 Maret 2023. Hal itu diungkapkan oleh General Manager PT Angkasa Pura I Bandara Internasional Zainuddin Abdul Majid (Bandara Lombok) Minggus E.T. Gandeguai. Lion Air, imbuhnya, bakal melayani rute tersebut dengan frekuensi penerbangan tiga kali dalam sepekan, yakni pada hari Rabu, Jumat, dan Minggu. Untuk penerbangan perdana, Lion Air dengan nomor penerbangan JT 840 akan berangkat dari Lombok pukul 14.45 WITA, dan dijadwalkan tiba di Makassar pukul 15.55 WITA. Dari Makassar, pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT 841 akan lepas landas pukul 12.35 WITA, dan mendarat di Lombok pukul 13.50 WITA.
Minggus berharap bahwa kehadiran rute penerbangan ini akan makin meningkatkan jumlah wisatawan yang selanjutnya dapat memberikan dorongan bagi ekonomi lokal dan sektor pariwisata, baik di Lombok maupun Makassar. Lombok, imbuhnya, adalah salah satu destinasi wisata favorit Indonesia yang setiap tahunnya menjadi tuan rumah ajang balap MotoGP.
DAMPAK IMPOR ILEGAL : Cuan Lebaran Industri Tekstil Melayang
Pelaku industri tekstil dan produk tekstil atau TPT harus gigit jari pada momentum Ramadan dan Idul fitri kali ini. Maraknya produk pakaian jadi impor di pasar dalam negeri mengganjal cuan pengusaha. Ketua Umum Asosiasi produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta mengatakan, kebijakan larangan dan pembatasan impor melalui Peraturan Menteri Perdagangan No. 3/2024 tidak bisa langsung memulihkan pasar dalam negeri dari gempuran produk impor.“Momentum Lebaran ini [diprediksi] tidak ada pengaruhnya. Stok barang-barang impor, baik dalam bentuk kain maupun pakaian jadi sudah menumpuk di pasar,” katanya, dikutip Senin (18/3).Terlebih, APSyFI mencatat setidaknya ada 37.000 kontainer produk tekstil impor ilegal yang masuk ke Tanah Air sepanjang 2023. Produk ilegal itu termasuk pakaian bekas yang disortir dan diperjualbelikan di pasar lokal.
“Berdasarkan perhitungan dengan metode supply, diperkirakan impor ilegal TPT pada 2023 mencapai 749.000 ton, setara dengan 37.000 kontainer,” jelasnya.Redma menjelaskan, angka impor ilegal tersebut dihitung dengan melihat volume ketersediaan pasokan TPT dari hulu sampai dengan hilir, termasuk data ekspor-impor dari Badan Pusat Statistik (BPS).
Senada, Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jemmy Kartiwa berharap Peraturan Menteri Perdagangan No. 3/2024 yang baru diterapkan mampu memulihkan roda industri TPT.“Sehingga event Lebaran 2024 yang biasanya masyarakat Indonesia membeli pakaian baru bisa dinikmati oleh UMKM/IKM, dan industri TPT nasional,” tuturnya.
INDUSTRI HULU MIGAS : SYARAT KETAT PERUBAHAN KONTRAK
Otoritas hulu minyak dan gas bumi nasional mengajukan syarat kepada Pertamina Hulu Energi jika ingin usulan perubahan skema kontrak berjalan mulus. Komitmen kerja pasti yang telah disepakati sebelumnya harus dipenuhi oleh kontraktor kontrak kerja sama.n Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyebut komitmen kerja pasti sebagai syarat yang perlu diselesaikan apabila kontraktor kontrak kerja sama, seperti Pertamina Hulu Energi mengajukan usulan terkait dengan pengelolaan lapangan migas, termasuk mengubah skema kontrak dari gross split menjadi cost recovery. “Mereka ada komitmen kerja pasti, itu harus diselesaikan dulu. Kalau ada rencana berubah ke cost recovery, itu baru dimungkinkan,” kata Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto, saat ditemui, Senin (18/3). Pertamina Hulu Energi memang sudah resmi mengajukan permohonan perubahan skema kontrak bagi hasil dari gross split menjadi cost recovery di empat blok migas yang dikelolanya awal tahun ini.
Keempat blok yang diajukan untuk migrasi itu adalah Blok Offshore Southeast Sumatra (OSES), Offshore North West Java (ONWJ), Attaka, dan Tuban East Java. Dorongan yang sama diberikan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), di mana otoritas energi nasional itu meminta Pertamina Hulu Energi untuk melakukan eksplorasi dan eksploitasi lanjutan di aset ONWJ. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Tutuka Ariadji mengatakan bahwa Blok ONWJ masih berpotensi menyimpan sumber daya minyak yang relatif besar. Akan tetapi, potensi tersebut masih perlu dibuktikan lebih lanjut, seperti yang sudah terpetakan di Lapangan. Upaya tersebut, dibutuhkan pemerintah untuk mencapai target 1 juta barel minyak per hari dan 12 miliar standar kaki kubik gas per hari dalam rencana jangka panjang atau long term plan yang belakangan diproyeksi mundur dari target semula pada 2030. Pasalnya, SKK Migas telah meminta untuk memundurkan target long term plan tersebut paling lambat 3 tahun lebih molor dari target awal karena pandemi Covid-19, sehingga membuat sejumlah rencana pengembangan lapangan mesti berlarut-larut dari jadwal awal yang telah disepakati bersama dengan KKKS. Benny Lubiantara, Deputi Eksplorasi, Pengembangan, dan Manajemen Wilayah SKK Migas, juga telah meminta Pertamina Hulu Energi untuk menjelaskan kenapa baru sekarang mengajukan perpindahan skema kontrak untuk empat wilayah kerja sekaligus. Sementara itu, Founder & Advisor ReforMiner Institute Pri Agung Rakhmanto menyarankan pemerintah untuk menerima sejumlah proposal migrasi skema kontrak dari gross split menjadi cost recovery yang diajukan oleh Pertamina Hulu Energi.
MENADAH MODAL INVESTOR GLOBAL
Kuda-kuda Indonesia berada pada posisi yang kokoh untuk menampung limpahan modal dari investor global, baik pada investasi langsung sektor riil maupun investasi portofolio. Beberapa katalis pun mampu menguatkan pijakan pemangku kebijakan untuk lebih kuat menarik aliran modal. Apalagi, realisasi pada 2023 dan perkembangan sepanjang tahun berjalan 2024 cukup mendukung. Posisi Investasi Internasional (PII) Indonesia misalnya. Dari data yang dipublikasikan oleh Bank Indonesia (BI) kemarin, Senin (18/3), PII Indonesia pada kuartal IV/2023 mencatat kewajiban neto US$260,3 miliar, naik dibandingkan dengan kuartal III/2023 yang senilai US$251,9 miliar. Kenaikan ini menggambarkan adanya arus modal masuk yang cukup besar. Kenaikan kewajiban neto PII menandakan investasi yang masuk ke Indonesia dari investor global jauh lebih besar dibandingkan dengan modal yang ditanamkan investor domestik di pasar global. Pada saat bersamaan, Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) juga mencatat ada banyak rencana realisasi investasi yang bakal dieksekusi oleh investor dalam waktu dekat. Tak ayal, otoritas penanaman modal pun menyasar porsi penanaman modal asing (PMA) pada tahun ini sebesar 52% atau setara Rp858 triliun dari total target senilai Rp1.650 triliun. Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia, mengatakan saat ini beberapa perusahaan yang kemarin wait and see belum mau melakukan investasi sudah mulai menyampaikan akan segera melakukan groundbreaking. Tak hanya merealisaikan komitmen yang telah dicanangkan sebelumnya, arus modal juga cukup deras menyasar proyek Peta Peluang Investasi (PPI) yang disusun pemerintah. Dari 81 proyek PPI senilai Rp239 triliun, jumlah yang akan melakukan groundbreaking pada tahun ini mencapai 29 proyek. Dari sisi investasi portofolio, Asisten Gubernur Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono, meyakini kinerja PPI Indonesia tetap terjaga sejalan dengan upaya pemulihan ekonomi yang didukung sinergi kebijakan antarinstansi guna memperkuat ketahanan sektor eksternal. Optimisme BI bukannya tanpa alasan.
Pada kuartal IV/2023, Kewajiban Finansial Luar Negeri (KFLN) atau pasiva penduduk terhadap bukan penduduk baik dalam valuta asing maupun rupiah, mencatatkan kenaikan yang signifikan. Adapun, posisi Aset Finansial Luar Negeri (AFLN) alias aktiva penduduk terhadap bukan penduduk baik dalam valuta asing maupun rupiah kuartal IV/2023 sebesar US$484,6 miliar, naik 4,1% dari US$465,4 miliar dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Meski mendapatkan angin segar, pemerintah pun tetap mewaspadai adanya faktor yang berisiko mengaburkan skenario pencapaian target investasi tersebut, terutama yang bersumber dari perlambatan ekonomi China. Kalangan pelaku usaha pun mewanti-wanti pemangku kebijakan untuk konsisten menjaga stabilitas di dalam negeri sehingga mampu mencegah guncangan. Pelaksana Tugas Harian Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Yukki Nugrahawan Hanafi, mengatakan peningkatan konsumsi domestik menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi yang juga akan memengaruhi masuknya modal. Di sisi lain, dia memandang ada sentimen positif dari sisi domestik mengenai kondusifnya iklim usaha pascapemilu yang menjadi faktor penguat kepercayaan investor. Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky, mengatakan sejalan dengan rencana penurunan suku bunga acuan di AS ada potensi capital outflow di pasar surat utang terutama pada semester II/2024. Kepala Pusat Industri, Perdagangan, dan Investasi Institute of Development on Economics and Finance (Indef) Andry Satrio Nugroho, menyarankan pemerintah untuk memacu pembangunan infrastruktur, efisiensi logistik, serta penajaman peluang investasi.
Emiten Menjaring Dana dari RIght Issue
Penambahan modal melalui rights issue maupun private placement cukup meriah di kuartal pertama tahun ini. Sederet emiten telah mengumumkan rencana untuk menggelar aksi korporasi tersebut dengan bermacam keperluan. Contohnya PT Vale Indonesia Tbk (INCO) yang akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 603,44 juta saham baru. Rights issue ini merupakan bagian dari pemenuhan kewajiban divestasi INCO kepada pemerintah Indonesia, yang dilakukan melalui holding tambang BUMN, MIND ID. Lewat divestasi lanjutan ini, MIND ID akan mendapat tambahan 14% sehingga nantinya akan memiliki 34% saham INCO. Masih dari emiten nikel, PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) alias Harita Nickel bahkan berencana untuk menggelar rights issue dan private placement. Direktur Utama Harita Nickel Roy Arman Arfandy mengatakan, aksi korporasi ini upaya memperkuat pertumbuhan dan pengembangan usaha. Dana dari rights issue akan digunakan untuk ekspansi, termasuk pembelian saham pada perusahaan di bidang pemurnian bijih nikel atau pertambangan lain.
Selain duo emiten nikel tersebut, ada juga dua emiten bank yang akan menggelar rights issue. Mereka adalah PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk (SDRA) dan PT Bank IBK Indonesia Tbk (AGRS). Estimasi perolehan dana dari aksi korporasi ini masing-masing mencapai Rp 3,2 triliun dan Rp 1,17 triliun. Emiten lain yang akan melakukan rights issue di antaranya ada PT Diagnos Laboratorium Utama Tbk (DGNS) dan PT Communication Cable Systems Indonesia Tbk (CCSI). Sedangkan emiten yang berencana menggelar private placement ada PT SLJ Global Tbk (SULI) dan PT Panca Mitra Multiperdana Tbk (PMMP). Kepala Riset Praus Capital Marolop Alfred Nainggolan mengamati sejumlah faktor yang menjadi pertimbangan emiten menggelar aksi rights issue. Pertama, bisa terjadi ketika pendanaan melalui utang sudah maksimal, yang ditandai dengan rasio leverage tinggi. Dalam situasi itu, emiten perlu menambah modal melalui penerbitan saham, sehingga rasio leverage turun dan kembali memiliki ruang. Kedua, faktor makro ekonomi dalam memilih opsi penambahan modal. Seperti pada kondisi suku bunga tinggi sehingga pendanaan melalui utang bisa menimbulkan beban keuangan yang memberatkan perusahaan.
Analis Stocknow.id M. Thoriq Fadilla juga menilai pasar akan lebih selektif. Apalagi dalam kondisi yang sedang fluktuatif seperti saat ini, investor akan lebih cenderung bersikap moderat. Thoriq pun menyoroti transaksi di pasar saham yang masih memperlihatkan sikap wait and see dari para investor. Sementara itu, Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas memandang pelaksanaan rights issue bisa menjadi momentum yang tepat. Asalkan, emiten tersebut memiliki fundamental kuat dan prospek bisnis yang apik. Research Analyst Infovesta Kapital Advisori Arjun Ajwani mengingatkan umumnya rights issue membuat harga saham mengalami koreksi dalam jangka pendek. Namun, jika tambahan modal digunakan untuk ekspansi bisnis atau penguatan struktur modal, maka bisa menjadi sentimen positif yang mendongkrak harga sahamnya. Pengamat Pasar Modal & Founder WH-Project William Hartanto punya catatan serupa bahwa seringkali rights issue membuat harga saham turun terlebih dulu, karena pergerakannya akan mengacu pada harga pelaksanaan. Pelaku pasar bisa mencermati peluang buy on weakness atau cicil beli saat koreksi.









