MK Kembali Tegaskan Pentingnya Kajian Penggunaan Ganja untuk Medis
Mahkamah Konstitusi (MK) menegaskan kembali pentingnya
pemerintah mengkaji secara komprehensif dan mendalam mengenai kemungkinan
penggunaan ganja untuk kepentingan pelayanan kesehatan atau terapi. Hasil
kajian tersebut nantinya dapat diakomodasi dalam perubahan UU Narkotika yang
masuk dalam Program Legislasi Nasional daftar kumulatif terbuka. Penegasan
tersebut disampaikan dalam pertimbangan putusan MK No 13/PUU-XXII/2024 yang
dibacakan dalam sidang pada Rabu (20/3). Dalam sidang yang dipimpin Ketua MK
Suhartoyo itu, MK kembali menolak permohonan legalisasi ganja untuk keperluan medis
yang diajukan Pipit Sri Hartanti dan Supardji, orangtua Shita Aske Paramitha,
penderita cerebral palsy sejak usia 4 bulan.
”Karena semakin hari semakin banyak aspirasi masyarakat berkenaan
dengan kebutuhan penggunaan ganja untuk kepentingan kesehatan dan alasan kemanusiaan.
Oleh karena itu, kami tetap pada pendirian sebelumnya bahwa pengkajian atau
penelitian secara khusus, mendalam, dan komprehensif mengenai penggunaan ganja untuk
kepentingan medis di Indonesia dapat menjadi rujukan pembentuk undang-undang,” kata
Hakim Konstitusi M Guntur Hamzah saat membacakan pertimbangan hukum. Pipit dan
Supardji, yang didampingi kuasa hukum Singgih Tomi Gumilang, mempersoalkan
belum adanya perubahan soal perizinan penggunaan ganja atau kanabis untuk
pengobatan.
Padahal, ada perkembangan terbaru di dunia mengenai hal ini,
yaitu rekomendasi WHO yang merekomendasikan perubahan status ganja dari Daftar
Lampiran IV Konvensi Narkotika 1961 menjadi Daftar Lampiran I. Artinya, ganja
hanya diperbolehkan penggunaannya untuk produksi, manufaktur, ekspor, impor, distribusi,
perdagangan, dan penggunaan berdasarkan tujuan medis dan ilmiah. Dari kajian
Stevie Britch dkk (2021) di jurnal Psychopharmacology yang dapat diakses di
PubMed Central, senyawa cannabidiol pada ganja berpotensi memberikan efek
terapeutik untuk epilepsi dan gangguan kecemasan. Meski begitu, masih perlu
pengujian untuk menemukan dosis yang efektif sebelum digunakan sebagai farmakoterapi
(Kompas, 2 Juli 2022). (Yoga)
Jaga Stabilitas, BI Tahan Suku Bunga
Bank Indonesia (BI) secara konsisten kembali menahan suku
bunga acuannya sebesar 6 % sejak Oktober 2023. Kebijakan suku bunga itu sejalan
dengan fokus BI yang mengedepankan stabilitas atau stability overgrowth. Keputusan
tersebut disampaikan Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers hasil
Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Maret 2024, Rabu (20/3). Berdasarkan hasil RDG
yang digelar pada 19-20Maret 2024, BI memutuskan menahan suku bunga acuan atau
BI Rate sebesar 6 %, suku bunga deposit facility 5,25 %, dan suku bunga lending
facility 6,75 %. ”Kami baru akan melihat ruang terbukanya penurunan suku bunga BI
Rate pada semester II-2024. Itu baseline scenario, tetapi tentu saja bisa maju,
bisa mundur,” ujarnya.
Faktor utama yang akan memicu penurunan suku bunga adalah
tingkat inflasi. BI meyakini kenaikan inflasi pangan yang bersumber dari komponen
harga pangan bergejolak (volatile food), yang pada Februari 2024 meningkat
menjadi 8,47 % secara tahunan dari bulan sebelumnya 7,22 %, Perry menjelaskan,
keputusan BI mempertahankan suku bunga acuan pada level 6 % konsisten dengan
fokus kebijakan moneter yang pro-stability. Artinya, BI ingin menjaga stabilitas
nilai tukar rupiah sekaligus sebagai langkah pencegahan (pre-emptive) dan
proyeksi ke depan (forward looking) untuk memastikan inflasi terkendali dalam
target 1,5-3,5 % pada 2024. (Yoga)
Dugaan Korupsi Jadi Awal Evaluasi LPEI
Temuan kasus penyaluran kredit bermasalah ke sejumlah perusahaan eksportir sebanyak Rp 2,5 triliun ibarat puncak gunung es yang menyimpan potensi masalah lebih besar. Dugaan kasus korupsi itu dinilai menjadi momentum untuk mengevaluasi kinerja dan keberadaan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia atau LPEI. Kasus ini mencuat ke publik saat Menkeu Sri Mulyani menemui Jaksa Agung ST Burhanuddin di Kejagung, Jakarta, Senin (18/3) untuk melaporkan indikasi kecurangan (fraud) yang mengarah pada tindak pidana dalam penyaluran dana LPEI kepada empat eksportir. Perkara serupa sudah beberapa kali disampaikan BPK ke Kejagung.
Awal Februari 2024, misalnya, BPK menyerahkan Laporan Hasil Pemeriksaan Investigatif dalam rangka Penghitungan Kerugian Negara atas Dugaan Tindak Pidana Korupsi dalam Penyelenggaraan Pembiayaan Ekspor Nasional oleh LPEI pada tahun 2013-2019. Penyimpangan itu disebut menyebabkan total kerugian negara sebesar Rp 81,3 miliar. Peneliti dari UI, Fithra Faisal, Selasa (19/3) mengatakan, mencuatnya kasus dugaan korupsi di tubuh LPEI menjadi momentum bagi pemerintah mengevaluasi ulang kinerja dan keberadaan lembaga penyalur pembiayaan ekspor tersebut.
Bukan hanya temuan kredit bermasalah yang akhirnya mencuat, dalam penyaluran pembiayaan, LPEI juga dinilai tidak berorientasi membangun UKM atau eksportir kecil yang sedang merintis merambah ke pasar global. LPEI cenderung memberikan pembiayaan kepada ”klien- klien” besar di sektor ekstraktif. Fithra menduga temuan kasus kredit bermasalah yang beberapa tahun terakhir ini terungkap ke publik hanya ”puncak gunung es” atau top of the iceberg. ”Kemungkinan fraudnya banyak. Di sektor perdagangan dan ekspor-impor potensi fraud-nya itu besar,” ujarnya. (Yoga)
Demokrasi Memang Mahal
Di tengah pandangan terhadap demokrasi sebagai sistem yang
mahal dan bertele-tele, pertanyaannya ialah adakah sistem alternatif yang tidak
mahal, tidak bertele-tele, tetapi sekaligus transparan dan melibatkan publik
dalam menentukan pemimpin atau partai berkuasa? Pertanyaan ini muncul bukan
hanya karena ndonesia baru merampungkan pemungutan suara pada pertengahan
Februari lalu, juga karena India mengumumkan bakal menggelar pemilu berskala
sangat besar, untuk memilih 543 anggota majelis rendah atau parlemen (Lok
Sabha), pemilu berlangsung 1,5 bulan: pertengahan April hingga Juni 2024.
Tempat pengambilan suara berada paling jauh 2 km dari kediaman
warga, panitia harus naik ke dataran tinggi Himalaya dan menembus hutan
belantara nan sunyi. Ada 970 juta pemilih di India dalam pemilu yang diikuti
2.400 partai. Ada 15 juta pegawai pemerintah dikerahkan sebagai panitia
pemilihan. Meski pos pemungutan suara sudah menggunakan sistem elektronik dan
tak lagi sistem coblos seperti di Indonesia, pelaksanaannya tetap lama.
Pengambilan suara dijalankan bertahap dan tersebar di 28 negara bagian serta
delapan teritori federal.
Total ongkos yang dikeluarkan calon anggota legislative (caleg)
dan partai diperkirakan 1,2 triliun rupee (14,4 miliar USD atau Rp 226
triliun). Jumlah ini belum menghitung anggaran dari negara. .Apa yang akan
dikerjakan India mengingatkan bangsa Indonesia bahwa demokrasi memang mahal dan
tak ada jaminan akan memberi hasil memuaskan. Namun, sejauh ini, rasanya hanya
demokrasi yang mampu memastikan transparansi, kebebasan, dan memberikan
kesempatan bagi rakyat untuk menentukan pilihan. Apa pun hasilnya. (Yoga)
Dana Ekspor yang Macet
Kabar dugaan penipuan, penyimpangan, indikasi
tindak pidana korupsi, datang dari Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) yang
dibentuk berdasarkan UU No 2 Tahun 2009 tentang LPEI. Kabar buruk itu terkait dana
ekspor LPEI yang macet sebesar Rp 2,5 triliun . Diduga terjadi penipuan atau
penyimpangan (fraud) dalam penggunaan dana LPEI yang disalurkan kepada empat
perusahaan ekspor, yakni PT RII, PT SMS, PT SPV, dan PT PRS, yang bergerak di
bidang kelapa sawit, batubara, nikel, dan perkapalan (Kompas, 19/3/2024). Menkeu
Sri Mulyani melaporkan indikasi penyimpangan penggunaan dana, yang menjadi
kredit bermasalah, itu kepada Jaksa Agung ST Burhanuddin, Senin (18/3).
Saat ini, jajaran direksi LPEI telah diminta melakukan pembersihan
secara internal. Perbuatan itu mengecewakan jika melihat rekam jejak sebelumnya.
Pada 2022, Kejagung menangani dugaan tindak pidana korupsi pembiayaan ekspor
nasional oleh LPEI. Persoalan kredit macet pada periode 2013-2019 tersebut
diduga merugikan negara Rp 2,6 triliun (Kompas.id, 19/3/2022). Dugaan
penyimpangan penggunaan dana LPEI ini terasa menyakitkan. Jelas-jelas
disebutkan dalam UU No 2/2009 perihal penyelenggaraan pembiayaan ekspor perihal
asas, antara lain kepentingan nasional, kepastian hukum, dan akuntabilitas yang
mesti dipatuhi.
Ada juga sejumlah prinsip yang mesti diterapkan LPEI dalam
menjalankan tugasnya, antara lain tata kelola dan manajemen risiko. Padahal,
kerap kali ada pengusaha yang mengaku kesulitan menembus pasar ekspor karena
keterbatasan biaya atau modal. Mereka layak dibantu dan didukung demi bisa mengembangkan
usaha, melebarkan sayap ke luar negeri, dan menjaga kelangsungan ekonomi
pekerjanya. Maka, dana ekspor mesti digunakan dengan tepat, bukan disalahgunakan.
(Yoga)
Makan Siang Gratis Vs Koreksi Tengkes dan Gizi Batita
Angka tengkes atau stunting di Indonesia di posisi ke-27 dari
154 negara dunia. Ditargetkan turun dari 21,6 % pada 2022 menjadi 14 % pada
2024. Secara ekonomi, kelompok tengkes membebani negara 2-3 % dari PDB. Lebih
dari itu, kondisi anak tengkes tidak terpulihkan (irreversible). Itu alasan medis
mengapa lebih penting melakukan upaya pencegahan agar itu tidak terjadi
mengingat koreksi gizi dengan cara apa pun tidak mengubah nasib anak tengkes
dan anak bawah tiga tahun atau batita kurang gizi.
Otak anak berkembang optimal sebelum tiga tahun (batita,
toddler). Tak ada kesempatan kedua untuk disusulkan kemudian apabila telanjur
kekurangan, khususnya asupan protein. Itu kenapa anak batita kurang gizi tergolong
senasib dengan anak tengkes, yakni kondisinya tidak terpulihkan. Kerugian demografis
negara dibebani oleh dua populasi kurang berkualitas. Kurang gizi setelah lewat
umur tiga tahun dampak medisnya tak seburuk anak telanjur tengkes. Status
kurang gizi setelah anak batita masih bisa dipulihkan (reversible) dan tak mengurangi
tingkat kecerdasan dan harus menerima gangguan fisik seperti dialami anak
tengkes, dengan pemberian suplemen vitamin-mineral.
Untuk mencegah tengkes, sudah harus dimulai sejak anak dalam
kandungan mula. Berarti perlu kehamilan yang sehat. Untuk itu perlu
revitalisasi layanan KIA (kesehatan ibu dan anak) puskesmas dan posyandu agar
ibu hamil cukup gizi. Peran posyandu menyuluh dan mengedukasi perbaikan gizi
keluarga, tujuan akhirnya mencegah kejadian kurang gizi anak balita. Tumbuh
kembang optimal secara mudah, murah, dan sederhana hanya dapat diperoleh dengan
ASI eksklusif sampai berumur enam bulan, yang menghemat biaya membesarkan bayi
sampai setahun sebesar 700 USD, juga biaya untuk membeli susu kaleng dan ongkos
berobat bayi.
Sebagaimana diungkap Ali Khomsan dalam surat pembaca (Kompas,
8/3/2024), perlu dipertimbangkan apakah program makan siang untuk semua
kelompok umur? Anggarannya tidak kecil. Di mata ilmu gizi, kecil
kemungkinan itu dapat memperbaiki status gizi anak, apalagi yang sudah kurang
gizi berat, jika hanya diberi satu kali dalam sehari berupa bubur kacang hijau
dan susu. Anggaran untuk mengatasi gizi buruk hanya untuk sekelompok kecil
anak-anak, tidak akan sebesar untuk seluruh anak sekolah. Anggaran untuk makan
siang lebih tepat dialokasikan untuk mendukung upaya pencegahan tengkes dan memperbaiki
tumbuh kembang anak batita yang kurang gizi. Pemberian makanan tambahan untuk
ibu hamil dan anak batita kurang gizi lebih tepat sasaran dalam menyelamatkan
nasib kesehatan generasi penerus bangsa. Mereka yang lebih berhak mendapat
prioritas. (Yoga)
Penyesuaian HET Beras Diperpanjang Satu Bulan
Bapanas memperpanjang penyesuaian harga eceran tertinggi
(HET) beras premium selama satu bulan. Hal ini dilakukan demi menjaga
ketersediaan beras di pasar modern dan ritel. Presiden Jokowi menyetujui
perpanjangan penyesuaian HET beras premium tersebut dalam rapat tertutup
terkait kebijakan pangan di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (19/3). Sebelumnya,
Bapanas menetapkan penyesuaian HET beras premium selama periode 10-23 Maret
2024. HET naik Rp 1.000 dari HET sebelumnya. Dengan adanya penyesuaian tersebut,
HET beras premium untuk wilayah Jawa, Lampung, dan Sumsel naik dari Rp 13.900
per kg menjadi Rp 14.900 per kg. Adapun di wilayah Aceh, Sumut, Sumbar, Bengkulu,
Riau, Kepri, Jambi, dan Kepulauan Bangka Belitung, HET beras premium naik dari
Rp 14.400 per kg menjadi Rp 15.400 per kg.
Di wilayah Bali, Nusa Tenggara, dan Kalimantan, HET naik
menjadi Rp 15.400 dari Rp 14.400 per kg. Untuk wilayah Maluku dan Papua, HET
disesuaikan dari Rp 14.800 menjadi Rp 15.800 per kg. Penyesuaian harga ini awalnya
berakhir pada 23 Maret 2024. Namun, Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi seusai
rapat tertutup di Istana Merdeka
mengatakan,Presiden menyetujui perpanjangan penyesuaian HET sampai satu bulan. ”(Hal
ini) supaya stok yang ada di market, terutama di modern market, dan outlet
terjaga. Ini, kan, awalnya sampai 24 (Maret) ini. (Tanggal) 24 kita perpanjang
lagi, dari 24 (Maret) sampai 24 (bulan) berikutnya. (Hal ini) supaya beras itu
tetap ada di pasar sambil menyesuaikan GKP (gabah kering panen) turun,” ujar
Arief kepada wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta. (Yoga)
Logam Mulia hingga Perhiasan Emas Tetap Diminati
Sentimen The Fed dan BI Bayangi Pasar Modal
Head of Research Team PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia
Robertus Hardy menyampaikan, pekan ini investor masih akan menantikan keputusan
suku bunga oleh The Fed untuk merespons tren inflasi di AS. Keputusan itu akan
muncul dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang dijadwalkan
pada 19-20 Maret 2024. Hasil dari pertemuan itu juga akan menentukan arah kebijakan
BI dalam menetapkan suku bunga. BI juga akan mengadakan Rapat Dewan Gubernur
pada 19-20 Maret 2024.
”Meskipun (keputusan) kedua bank sentral diperkirakan tidak
berubah, investor perlu menyimak informasi yang tersirat pada pernyataan mengenai
arah kebijakan moneter ke depan,” kata Robertus dalam keterangannya pada Selasa
(19/3). Pesan senada disampaikan Community Lead Indo Premier Sekuritas (IPOT)
Angga Septianus. Hasil pertemuan bank sentral tersebut akan menentukan prospek
pasar ke depan kendati para ekonom memprediksi kebijakan suku bunga tidak akan
berubah dalam waktu dekat. (Yoga)
Akibat Karyawan Takut Melapor
Produsen pesawat terbang Boeing tak putus dirundung malang.
Secara berentetan produk mereka mengalami masalah, baik yang berakibat fatal
maupun nyaris fatal. Sebuah panel ahli menemukan masalah berkait dengan budaya
keselamatan di Boeing. Mereka mendapati adanya keterputusan atau jarak antara
manajemen senior dan staf reguler. Mereka juga menemukan bahwa staf ragu-ragu
melaporkan masalah karena takut akan pembalasan atau akan terkena dampak buruk
akibat laporannya. Mantan manajer senior di Boeing, Adam Dickson, yang pernah
bekerja pada program 737 Max, saat diwawancarai BBC, sependapat bahwa ada
jurang pemisah antara eksekutif dan para pekerja di pabrik.
Perusahaan penyedia perangkat lunak untuk solusi keselamatan
kerja, Riskex, menyimpulkan, alasan paling umum orang tidak angkat bicara
ketika terjadi insiden di tempat kerja adalah karena mereka takut terdampak dan
memikirkan apa yang akan terjadi jika mereka melapor. Mereka khawatir melaporkan
akan memunculkan hukuman dan disalahkan atas kejadian tersebut dan berdampak negatif
pada karier mereka. Kunci untuk menyelesaikan masalah ini adalah menciptakan
budaya keselamatan di tempat kerja yang menerima dan mendorong pelaporan
insiden untuk melindungi diri sendiri dan orang di sekitarnya. Organisasi yang
menerapkan manajemen kesehatan dan keselamatan akan meningkatkan kesejahteraan
dan produktivitas karyawan dengan cara menunjukkan bahwa mereka peduli terhadap
karyawannya.
Perusahaan solusi bisnis Polonius menyarankan,
mendorong karyawan untuk melaporkan insiden adalah penting karena mereka
belajar memercayai organisasi dan memahami bahwa insiden tersebut berharga. Jika
seorang karyawan melaporkan suatu insiden dan dia dipecat atau diabaikan, hal
ini dapat memengaruhi tindakan yang bersangkutan di masa depan. Kecil
kemungkinan mereka bakal melaporkan masalah tersebut ketika mereka kembali
menemukannya pada masa mendatang. Laporan insiden sangat penting, bukan hanya
bagi eksekutif, melainkan juga bagi karyawan. Keluhan dalam bentuk apa pun
dapat membantu manajemen melihat area yang mungkin tidak mereka sadari, seperti
masalah kesehatan dan keselamatan atau lingkungan kerja yang beracun. (Yoga)









