Ekonomi
( 40733 )Tarik Menarik Properti Hijau Dengan Pengembang
Pengembangan proyek-proyek properti
hijau di Tanah Air masih cenderung lamban. Meski pasar semakin mencari properti
yang ramah lingkungan dan lestari, masih ada tarik-menarik dalam mendorong
proyek properti hijau di Tanah Air. Konsil Bangunan Hijau Indonesia (GBCI)
mencatat, komitmen pengembang membangun
properti hijau masih sebatas pada bangunan komersial. Dari data GBCI, tercatat
lebih dari 100 bangunan gedung memperoleh sertifikasi greenship dari GBCI,
sedangkan gedung yang memperoleh sertifikasi edge untuk efisiensi energi
sekitar 240 bangunan. Sementara proyek residensial masih sangat sedikit.
Ketua Umum GBCI Ignesjz Kemalawarta
mengungkapkan, konsep properti hijau sudah cukup banyak diterapkan
gedung-gedung pemerintah dan BUMN. Sebaliknya, penerapan properti hijau pada
gedung yang dibangun pengembang swasta masih minim. Saat ini, baru ada lima
grup pengembang besar yang gencar menerapkan prinsip ramah lingkungan pada
property, seperti PT Intiland Development Tbk, Sinar Mas Land, Kota Baru Parahyangan,
dan Grup Ciputra. ”Kami ingin mendorong kesadaran developer agar bangunannya
green dari hulu-hilir, mulai dari konsultan, kontraktor, hingga bahan
bangunannya. Kalau materialnya hijau, kontraktornya pasti menerapkan prinsip
hijau. Kesadaran bangunan hijau bukan hanya kepentingan saat ini, tetapi generasi
mendatang,” kata Ignesjz di Tangerang, Kamis (20/3).
Menurut
Ignesjz, pemicu keengganan developer swasta untuk menggencarkan proyek properti
hijau adalah biaya konstruksi lebih mahal sehingga harga jual menjadi lebih
mahal. Padahal, dari hasil kajian GBCI, biaya pembangunan gedung berkonsep
hijau hanya 4 % lebih tinggi dibanding gedung konvensional. Dalam 5 tahun,
penambahan biaya itu dinilai sudah kembali, yang terkonversi dari penghematan
energi dan air. Dalam jangka panjang atau setara usia bangunan 40 tahun, pemilik
gedung atau property hijau juga akan menikmati biaya operasional bangunan lebih
rendah 15 %. (Yoga)
Aksi Solidaritas Buruh Jateng Menuntut THR bagi Pekerja Sritex
Puluhan pekerja di Jateng menggelar
aksi solidaritas di depan rumah Direktur PT Sri Rejeki Isman, Iwan Kurniawan
Lukminto, di Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta, Jateng, Jumat (21/3). Mereka
menuntut Sritex segera membayarkan THR dan pesangon kepada ribuan pekerja
Sritex yang terdampak PHK. Peserta aksi dari Konfederasi Serikat Pekerja
Indonesia (KSPI) Jateng dan Partai Buruh itu datang dari sejumlah daerah di
Jateng, seperti Semarang, Kendal, Jepara, dan Wonogiri. Mereka tiba di Kota
Surakarta pada Jumat siang.
Ketua KSPI Jateng Aulia Hakim
mengatakan, pihaknya membawa dua tuntutan untuk pemilik Sritex. Pertama,
diminta membayar THR para buruh Sritex yang telah dilakukan PHK paling lambat
H-7 Lebaran. ”Kedua, membayar pesangon, uang penghargaan masa kerja, uang
penggantian hak 15 %, uang penggantian cuti, dan hak-hak buruh lainnya, seperti
uang koperasi paling lambat H-7 Lebaran,” kata Aulia. Aulia menyadari, pembayaran
THR dan pesangon menjadi kewajiban kurator. Namun, kewajiban itu baru bisa
dipenuhi kurator setelah aset-aset milik Sritex terjual. (Yoga)
Optimalisasi Dana Jangka Panjang untuk Pembangunan
Lembaga pengelola aset investasi jangka panjang, seperti dana pensiun (dapen) dan lembaga jaminan sosial, memiliki potensi besar untuk mendongkrak performa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam waktu dekat. Meskipun saat ini terdapat penurunan alokasi investasi pada saham, sejumlah lembaga ini memiliki likuiditas yang kuat untuk menambah investasi di pasar saham, terutama pada saham dengan valuasi menarik.
Felix Darmawan, seorang analis dari Panin Sekuritas, mengungkapkan bahwa dana pensiun yang lebih agresif dapat melihat saham dengan valuasi menarik sebagai peluang investasi. Martin Aditya dari PT Capital Asset Management juga meyakini bahwa dana pensiun dapat memainkan peran penting dalam memulihkan pasar saham, khususnya pada emiten berkapitalisasi besar seperti sektor perbankan.
Syarif Yunus, Direktur Eksekutif Asosiasi DPLK, menekankan bahwa langkah ini dapat memberikan dampak positif bagi IHSG, namun perlu dukungan dari kebijakan pemerintah untuk meningkatkan kepercayaan investor. Sementara itu, Bam-bang Sri Muljadi dari Asosiasi Dana Pensiun Indonesia mengungkapkan bahwa dana pensiun cenderung menunggu kondisi pasar yang lebih stabil.
Di sisi lain, Togar Pasaribu dari AAJI melihat saham sebagai instrumen yang menjanjikan untuk profitabilitas dan penguatan pasar modal. Otoritas Jasa Keuangan (OJK), melalui Iwan Pasila, juga mendorong asuransi untuk menyesuaikan kebijakan investasi dengan karakteristik dan durasi kewajiban masing-masing. Secara keseluruhan, investasi dari dana pensiun dan lembaga pengelola jangka panjang diyakini dapat memberikan angin segar bagi pasar saham Indonesia.
Moody’s: Ekonomi Indonesia Tetap Stabil di Tengah Ketidakpastian
Lembaga pemeringkat internasional Moody’s Investor Service memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap solid dengan rata-rata 5,0% pada tahun 2025 dan 2026. Pertumbuhan ini didorong oleh konsumsi rumah tangga, investasi yang kuat, dan stabilitas ekspor komoditas. Namun, Moody’s juga mengingatkan pemerintah Indonesia untuk mewaspadai dampak dari kebijakan tarif impor yang diterapkan oleh Presiden AS, Donald Trump, yang berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Moody’s mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level Baa2 dengan outlook stabil, mencatatkan bahwa Indonesia memiliki ketahanan ekonomi yang kuat, didukung oleh sumber daya alam melimpah dan demografi yang baik. Kebijakan fiskal dan moneter yang dikelola dengan baik juga memperkuat profil kredit Indonesia. Meski demikian, tantangan utama Indonesia adalah belum optimalnya basis pendapatan negara.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memberikan apresiasi atas penilaian positif Moody’s dan menegaskan komitmen pemerintah untuk terus memperkuat stabilitas ekonomi dan fiskal serta memastikan pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan. Ia juga menekankan pentingnya memperluas sektor manufaktur dan komoditas, penguatan pendapatan pemerintah, serta pendalaman pasar keuangan sebagai upaya meningkatkan peringkat kredit Indonesia ke depan.
Langkah Baru Setelah Melepas Bisnis Supermarket
Utang Negara-Negara Dunia Meningkat Tajam
Di Tengah Tantangan Global dan Domestik, Bank OCBC Tumbuh Positif
Bank OCBC NISP Tbk mencatatkan pertumbuhan
kuat dan kinerja yang solid. Dalam rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST),
OCBC membagikan dividen tunai Rp 106 per saham atau Rp 2,43 triliun yang merupakan
50 % dari laba tahun buku 2024. Sepanjang tahun 2024, OCBC NISP membukukan laba
Rp 4,9 triliun atau naik 19 % secara tahunan. Dana sebesar Rp 100 juta juga disisihkan
untuk cadangan umum, sedangkan sisa laba bersih ditetapkan sebagai laba
ditahan. RUPST yang digelar pada Kamis (20/3) juga memberi persetujuan untuk pembelian
kembali saham perseroan (share buyback) dari pemegang saham publik sebesar 390.000
saham atau 0,002 % dari total modal yang telah dikeluarkan dan disetor penuh dalam
perseroan. Presdir OCBC, Parwati Surjaudaja menambahkan, akuisisi dan merger PT
Bank Commonwealth telah diselesaikan pada 2024.
Akuisisi tersebut sekaligus menjadi komplementer
dalam memperkuat pertumbuhan ke depan. Direktur OCBC Hartati menyebut, return
on equity (ROE) atau imbal hasil atas ekuitas juga naik menjadi 13 %. Total
kredit yang disalurkan bank pun tumbuh 11 % mencapai Rp 170,5 triliun dengan
kualitas yang terjaga di mana rasio NPL bruto terhitung sebesar 1,6 %, lebih
rendah dari rata-rata industri perbankan. Total simpanan nasabah atau dana
pihak ketiga (DPK) juga meningkat 13 % menjadi Rp 205,9 triliun. Bank juga memiliki
modal yang kuat untuk mendukung pertumbuhan ke depan yang tecermin pada rasio
kecukupan modal (CAR) sebesar 23,6 persen. Sementara margin bunga bersih
sebesar 4,4 %. Pendapatan bunga bersih bank meningkat 11,4 %, seiring pertumbuhan
kredit yang diberikan dan juga peningkatan pasar. (Yoga)
Serikat Buruh Desak Pemerintah Membentuk Satgas PHK
Serikat buruh mendesak pemerintah
membentuk Satgas PHK, untuk mempercepat penanganan risiko PHK yang meluas ke
berbagai sektor industri sejak awal tahun 2025. Berdasarkan temuan Tim Penelitian
dan Pengembangan (Litbang) Partai Buruh dan Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia
(KSPI) sekitar 50 perusahaan melakukan PHK pada Januari-Februari 2025.
Contohnya Sritex, Adatex, Tunas Karya Budi, Sambu Grup, dan Kara Santan Pertama.
Lebih kurang 60.000 buruh terdampak. Terkait alasan PHK, Presiden KSPI dan
Partai Buruh, Said Iqbal menyebutkan beberapa penyebab, seperti pailit, efisiensi,
dan relokasi. Dari 50 perusahaan itu, 15 perusahaan melakukan PHK karena alasan
pailit dan dua perusahaan lain karena relokasi. Perusahaan-perusahaan itu dari berbagai sektor
industri, seperti tekstil dan elektronik.
”Kami secara khusus mendesak Kemenaker
agar membentuk Satgas PHK untuk menyikapi fenomena tersebut,” ujar Said, Kamis
(20/3) di Jakarta. Ada kemungkinan sejumlah buruh yang di-PHK oleh 50
perusahaan itu mengalami risiko pengabaian hak, seperti pesangon dan THR yang
lama dibayar. ”Mengenai THR, kami memang sejak lama menemukan berbagai modus yang
dilakukan perusahaan agar tidak membayar, di antaranya memutus kontrak para pekerja
sebelum Ramadhan. Setelah Lebaran, pekerja tersebut akan dipanggil untuk dipekerjakan
kembali,” kata Said. Menurut rencana, KSPI dan Partai Buruh bertemu jajaran Kemenaker
pada Jumat (21/3). Dalam pertemuan akan disampaikan desakan pembentukan Satgas
PHK. (Yoga)
Tetap Berhati-hati walau IHSG Berangsur Stabil
Setelah sempat terpuruk, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat lagi. Pada perdagangan Kamis (20/03/2025), indeks ditutup di level 6.381,6 atau naik 70,01 poin (1,11%) melanjutkan penguatan dalam dua hari beruntun. Diperkirakan indeks terus menguat, didukung Keputusan BI yang mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 5,75%, yang dinilai konsisten dengan upaya menjaga inflasi 2025 dan 2026 tetap terkendali dalam sasaran 2,5 ± 1%, stabilitas nilai tukar rupiah sesuai fundamental, serta mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Berdasar data RTI, 299 saham terpantau naik, 272 saham turun dan 233 saham stagnan. Total nilai transaksi di bursa hari ini mencapai Rp 11,31 triliun. Volume perdagangan sebanyak 16,72 miliar saham dengan frekuensi sebanyak 1.103.686 kali. Hampir seluruh sektor saham menghijau. Penguatan terbesar terjadi pada sektor teknologi 10%. Diikuti sektor transportasi 2,3%, sektor barang baku 2,1%, sektor energi 0,8%, dan sektor perindustrian 0,6%. Pelemahan terjadi pada sektor keuangan 0,8% dan sektor barang konsumsi primer 0,6%. Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap US$ juga menguat, ditopang The Fed memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi AS tahunannya dan memperkirakan inflasi yang lebih tinggi.
Sebelumnya, The Fed juga mempertahankan suku bunga acuan sebesar 4,25%-4,50% dalam Federal Open Market Committee atau FOMC periode Maret 2025. Rupiah ditutup menguat 46 poin (0,28%) di level Rp 16.485 per US$. Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M Taufikurahman mengatakan, kebijakan menahan BI-Rate mencerminkan BI berhati-hati melihat kondisi eksternal. Terutama ke depan dimungkinkan terjadi kenaikan suku bunga Bank Sentral AS (the Fed) yang berpotensi memberi tekanan terhadap nilai tukar rupiah. (Yetede)
Menyusutnya Simpanan Jumbo
Pada dua bulan pertama tahun ini, simpanan jumbo perbankan mengalami penyusutan. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat simpanan dengan tiering nominal di atas Rp 5 miliar susut 1,5% secara bulanan (month to month/mtm) menjadi Rp 4.714,38 triliun. Sementara, secara tahunan (year on year/yoy) simpanan kelas kakap ini tumbuh 4% dan secara year to date (ytd) dibandingkan posisi enam bulan lalu juga susut 0,5%. Untuk simpanan dengan tiering nominal Rp 1-2 miliar tercatat sebesar Rp 528,86 triliun per Februari atau flat (mtm) tapi tumbuh 3,3% secara year to date maupun tahunan. Simpanan dengan tiering Rp 2-5 miliar tumbuh 1,1% (mtm) menjadi Rp 713,59 triliun pada dua bulan pertama tahun ini, secara tahunan naik 3,9%.
LPS mencatat simpanan tiering Rp 500 juta sampai Rp 1 miliar naik 2,3% (mtm) menjadi Rp 623,79 triliun per Februari 2025. Presdir PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja mengatakan, penurunan simpanan jumbo dari korporasi akibat penarikan dana pada Februari untuk persiapan pembayaran THR dan pembayaran dividen. "Kalau itu dari perusahaan mungkin benar, tapi kalau individual karena SBN (Surat Berharga Negara) menarik," ucap Jahja kepada Investor Daily, Kamis (20/3/2025). Menurut Jahja, pada kondisi saat ini nasabah mencari altematif instrumen untuk penempatan dananya selain di bank, salah satunya dengan menempatkan dana di SBN. Sebab, imbal hasil yang ditawarkan SBN jauh lebih tinggi dari deposito bank. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









