;
Kategori

Ekonomi

( 40733 )

Perpanjangan Insentif PPH Final dinanti UMKM

24 Mar 2025

Para pelaku UMKM di Indoncsia masih menanti kepastian hukum terkait perpanjangan insentif Pajak Penghasilan (PPh) Final sebesar 0.5% hingga akhir 2025. Meski pemerintahan Prabowo telah menjanjikan perpanjangan tersebut, regulasi yang mengikat belum diterbitkan, menimbulkan ketidakpastian di kalangan wajib pajak. Partner RDN Consulting Leander, Resadhatu menyoroti kebingungan yang dialami pelaku usaha akibat ketidakjelasan regulasi. Ketidakpastian ini bahkan berpotensi meningkatkan ketidakpatuhan pajak dan risiko hukum bagi wajib pajak.

"Parapelaku UMKM masih menunggu kepastian, siapa yang berhak atas perpanjangan insentif ini serta bagaimana mekanismenya diberlakukan," jelasnya, Minggu (23/3/2025). Pernyataan resmi mengenai perpanjangan insentif PPh Final 0,5% pertama kali disampaikan Menkor Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam konferensi pers Paket Stimulus Ekonomi pada 16 Desember 2024. Menkeu Sri Mulyani juga beberapakali menegaskan dukungan pemerintah terhadap insentif pajak bagi UMKM. Menurut dia, Kementerian UMKM sempat menyebut bahwa regulasi terkait akan diselesaikan paling lambat awal Januari 2025.

Namun, hingga kini, payung hukum tersebut belum terealisasi. Saat ini,ketentuan pajak bagi UMKM masih mengacu PP No 55 Tahun 2022 tentang Penyesuaian Pengaturan di Bidang Pajak Penghasilan. PP ini menetapkan tariff PPh Final 0,5% bagi wajib pajak dengan peredaran bruto hingga Rp 4,8 miliar per tahun, namun dengan batas pemanfaatan maksimal tujuh tahun pajak. Dengan demikian, wajib pajak yang telah menggunakan insentif ini sejak 2018 tidak lagi dapat menikmatinya. (Yetede)


Mind Id Berkomitmen untuk Meningkatkan Nilai Tambah

24 Mar 2025

MIND ID konsisten mengelola dan meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral strategis Indonesia dengan membangun rantai pasok mineral dan batu bara Indonesia melalui berbagai inisiatif hilirisasi dan industrialisasi. Sebagai holding yang menaungi PT Aneka Tambang Tbk, PT Bukit Asam Tbk, PT Freeport Indonesia, PT Indonesia Asahan Aluminium, PT Timah Tbk dan PT Vale Indonesia Tbk, MIND ID mencatatkan revenue sebesar Rp 145 triliun, tumbuh 15,6% secara Compound Annual Growth Rate (CAGR) 2021 hingga 2024. Peningkatan kinerja ini mendorong laba bersih MIND ID mencapai Rp 36 triliun dengan pertumbuhan sebesar 36% dan total asset perusahaan meningkat menjadi Rp 290 triliun dengan pertumbuhan 12,3% dalam periode CAGR yang sama.

Pertumbuhan bisnis yang positif ini berdampak langsung terhadap berbagai proyek strategis, termasuk divestasi saham Vale Indonesia, pembangunan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase I di Mempawah, pembangunan Smelter Freeport Indonesia di Gresik, serta pengembangan hilirisasi batu bara menjadi synthetic graphite dan anode sheet untuk baterai kendaraan listrik. Ke depan, Grup MIND ID terus memperkuat ekosistem industri pertambangan nasional melalui berbagai proyek strategis. "Kehadiran MIND ID dalam industri pertambangan bukan sekadar menjalankan operasi bisnis, tapi juga untuk memberi nilai tambah ekonomi serta manfaat sosial dan lingkungan,"kata Dirut MIND ID, Maroef Sjamsoeddin, di Jakarta, akhirpekan lalu. (Yetede)


Tambang Timah Digarap Koperasi

24 Mar 2025

PT Timah Tbk menggandeng koperasi dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dalam menggarap tambang. Program kemitraan dengan kelompok masyarakat ini merupakan bagian dari tata kelola sektor timah yang dimonitor langsung oleh Kejaksaan Agung. Tata kelola niaga timah sudah dimulai pemerintah sejak tahun lalu, diawali dengan memasukkan komoditas tersebut dalam aplikasi Sistem Informasi Mineral dan Batu bara Kementerian/Lembaga (Simbara). Penerapan Simbara mencegah terjadinya penyelewengan ataupun aksi korupsi. Jaksa Agung Muda Intelijen Kejagung, Reda Manthovani mengatakan pihaknya berperan aktif melakukan koordinasi dalam rangka membenahi tata kelola pertimahan.

Hal ini guna mendorong tersedianya regulasi dalam tata kelola termasuk memberikan kesempatan masyarakat mengelola pertambangan. Adanya kerja sama PT Timah dengan BUMDes menurutnya merupakan wujud kehadiran negara agar kekayaan alam dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat. Dalam hal ini masyarakat diberi kesempatan mengelola timah dalam wilayah IUP PT Timah. “Kita melakukan pengamanan supaya kerja sama PT Timah membimbing koperasi dan BUMDes melakukan penambangan di IUP PT Timah dapat berjalan sesuai prosedur dan SOP sehingga tidak menimbulkan kerusakan lingkungan tapi dapat memberikan dampak ekonomi,” kata Reda, akhir pekan lalu. (Yetede)


Strategi Maksimalkan Surplus Dagang di Tengah Ketidakpastian

24 Mar 2025

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, Indonesia menunjukkan sinyal positif di sektor perdagangan, dengan neraca perdagangan yang mencatat surplus sebesar US$3,12 miliar pada Februari 2025. Surplus ini terutama didorong oleh peningkatan ekspor komoditas nonmigas seperti minyak sawit, batu bara, dan besi baja, serta penurunan impor barang konsumsi. Meskipun ada kekhawatiran terkait daya beli masyarakat yang melemah dan penurunan belanja menjelang Ramadan, kinerja neraca dagang yang positif menunjukkan stabilitas ekonomi Indonesia.

Pemerintah diharapkan dapat terus memanfaatkan momentum ini untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, dengan meningkatkan ekspor, memperkuat sektor pertambangan, dan mengoptimalkan produksi emas sebagai penyangga di tengah ketidakpastian global. Surplus neraca perdagangan ini juga memperkuat nilai tukar rupiah dan memperkuat stabilitas ekonomi Indonesia. Namun, tantangan tetap ada, seperti potensi hambatan perdagangan internasional dan penurunan permintaan domestik, yang perlu dihadapi dengan kebijakan yang responsif dan strategi yang tepat.

Tokoh yang relevan dalam konteks ini adalah Menteri Perdagangan atau pejabat terkait yang terlibat dalam pengelolaan kebijakan ekspor-impor dan penguatan sektor perdagangan Indonesia. Pemerintah harus memastikan keseimbangan antara ekspor dan konsumsi domestik untuk mempertahankan momentum positif ini.


Kenaikan Biaya Utang Jadi Ancaman Baru

24 Mar 2025
Kenaikan credit default swap (CDS) Indonesia menunjukkan meningkatnya risiko investasi yang berdampak langsung pada biaya penerbitan utang pemerintah, khususnya dalam bentuk valuta asing (valas). Meski peringkat utang Indonesia masih bertahan pada level investment grade, kenaikan CDS lima tahun hingga 91,66 per 22 Maret 2025, atau naik lebih dari 28% dalam sebulan terakhir, memperkuat sinyal meningkatnya premi risiko.

Myrdal Gunarto, Staf Ekonomi Bank Maybank Indonesia, menyebutkan dua faktor utama penyebab naiknya CDS: sentimen global, seperti ketegangan geopolitik dan perang dagang, serta penurunan indikator makroekonomi domestik, seperti penjualan ritel dan indeks kepercayaan konsumen. Kenaikan CDS ini memengaruhi biaya investasi dan mendorong yield obligasi Indonesia naik, bahkan untuk tenor panjang sudah di atas 7%.

Eko Listiyanto, Ekonom dari Indef, memperkirakan rata-rata yield obligasi pemerintah bisa mencapai 7,5%, yang berarti bunga utang pemerintah akan semakin mahal. Ini akan berdampak pada beban anggaran, khususnya bila pemerintah tetap menerbitkan surat utang dalam valas.

Meski demikian, Suminto, Dirjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu, menegaskan bahwa pemerintah menerapkan strategi penerbitan utang yang oportunistik dan fleksibel. Pemerintah akan menyesuaikan waktu dan komposisi mata uang penerbitan SBN berdasarkan kondisi pasar dan kebutuhan APBN, demi menjaga cost of fund tetap terkendali.

Meningkatnya CDS menambah tantangan pembiayaan pemerintah di tengah ketidakpastian global dan kondisi makro domestik yang melemah. Pemerintah harus semakin cermat dalam menyusun strategi utang agar risiko fiskal tetap terjaga.

Peluang Pertumbuhan Emiten Kawasan Industri

24 Mar 2025
Prospek pertumbuhan emiten kawasan industri di Indonesia menunjukkan potensi positif, terutama karena peluang relokasi usaha dari China akibat perang dagang dengan Amerika Serikat. Hal ini sempat terbukti pada periode 2018–2019, di mana penjualan lahan industri di kawasan Greater Jakarta meningkat signifikan hingga 380 hektare, dengan kontribusi besar dari sektor otomotif, kimia, makanan-minuman, dan pusat data.

Namun, para analis menggarisbawahi bahwa tahun ini pertumbuhan kawasan industri bisa tertahan oleh sejumlah tantangan domestik, seperti ketidakpastian hukum, panjangnya birokrasi, serta kebijakan seperti Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang menimbulkan ambiguitas di mata investor asing.

Sukarno Alatas, Senior Analyst dari Kiwoom Sekuritas Indonesia, menyatakan bahwa investor kini cenderung menahan diri karena ketidakpastian kebijakan dan iklim investasi. Hal senada disampaikan oleh Ahmad Iqbal Suyudi dari Edvisor Profina Visindo, yang menyoroti tantangan regulasi dan birokrasi sebagai hambatan utama masuknya investasi langsung asing (FDI).

Sementara itu, Ismail Fakhri Suweleh dan Wilastita Muthia Sofi dari BRI Danareksa Sekuritas menekankan pentingnya daya saing dan kejelasan hukum, termasuk perlindungan hak kekayaan intelektual, sebagai faktor penting untuk menarik investor. Mereka juga menyoroti bahwa kemampuan monetisasi investasi sangat tergantung pada kesiapan infrastruktur dan cadangan lahan (landbank).

Imam Gunadi dari Indo Premier Sekuritas menambahkan bahwa meskipun terdapat hambatan seperti kualitas tenaga kerja dan beban regulasi, sektor-sektor tertentu seperti kendaraan listrik (EV) dan proyek hilirisasi tetap menjanjikan karena didukung insentif pemerintah.

Dari sisi investasi, Imam merekomendasikan PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) karena kinerja keuangan yang solid, sementara Ismail dan Wilastita memilih PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) yang dinilai kuat karena diversifikasi pendapatannya.

Meskipun emiten kawasan industri menghadapi banyak tantangan struktural dan kebijakan, potensi pertumbuhan tetap terbuka lebar jika pemerintah mampu menciptakan iklim investasi yang lebih kompetitif dan stabil.

Nasib Bank BUMN Ditentukan RUPS

24 Mar 2025
Menjelang libur panjang Lebaran, pergerakan saham bank-bank BUMN diperkirakan sangat dipengaruhi oleh hasil Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), yang kali ini menjadi sorotan karena melibatkan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) untuk pertama kalinya. Keputusan penting seperti pembagian dividen dan pergantian direksi berpotensi menjadi katalis utama bagi kinerja saham-saham perbankan pelat merah yang tengah tertekan.

Royke Tumilaar, Direktur Utama BNI, menjadi salah satu figur yang diperkirakan akan digantikan dalam RUPS, dengan Putrama Wahju Setyawan disebut-sebut sebagai calon pengganti. Posisi Sunarso, Direktur Utama BRI, juga dikabarkan akan diganti, meski masa jabatannya belum berakhir. Nama Catur Budi Harto dan Hery Gunardi muncul sebagai kandidat kuat untuk posisi tersebut.

Dari sisi kebijakan, pembagian dividen menjadi perhatian utama investor. BNI mengusulkan rasio dividen sebesar 60% dari laba, dan BRI bahkan menaikkan hingga minimal 85%. Namun, Maximilianus Nico Demus dari Pilarmas Investindo Sekuritas mengingatkan bahwa rasio dividen yang terlalu tinggi bisa menimbulkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan kinerja bank. Ia juga menekankan pentingnya memperhatikan fundamental dan prospek jangka panjang bank.

Indy Naila dari Edvisor Profina Visindo menambahkan bahwa tekanan pada saham bank tak lepas dari faktor politik domestik dan ketidakpastian terhadap program pemerintah baru, khususnya terkait efektivitas Danantara, yang membuat investor bersikap lebih hati-hati atau risk off terhadap saham sektor perbankan.

Investor menantikan arah kebijakan dan kepastian dari RUPS sebagai sinyal penting untuk menentukan kembali strategi investasi mereka di sektor perbankan BUMN.

Ekonomi Indonesia Tetap Resilient

22 Mar 2025

Lembaga pemeringkat Moody's Investors Service menegaskan, perekonomian Indonesia tetap resilien, ditopang pertumbuhan stabil dan solid serta kredibilitas kebijakan moneter dan fiskal yang terjaga.  Indonesia juga unggul dari sumber daya alam dan bonus demografis. Moody's memprediksi ekonomi Indonesia tumbuh 5% tahun 2025 dan 2026, didorong oleh konsumsi rumah tangga dan investasi yang relatif kuat, serta volume komoditas yang stabil dan akan mendukung pertumbuhan ekspor. Namun, Moodys menilai, pemerintah perlu mewaspadai perlambatan akibat dinamika global seperti perang tarif. Moody's menilai, pertumbuhan ekonomi Indonesia didukung ketahanan ekonomi yang berkelanjutan. Faktor struktural seperti sumber daya alam yang melimpah dan demografi yang kuat menjadi pilar utama yang mendukung stabilitas ekonomi Indonesia.

Lembaga ini memprediksi beban utang Indonesia tetap stabil dan pada tingkat yang relatif rendah, jika dibandingkan dengan ukuran ekonominya dan negara peers. Meski ada tantangan dalam kondisi fiskal yang lebih luas, terutama masih belum optimalnya basis pendapatan negara, situasi ini diyakini Moody's masih terkelola dengan baik. Selain itu, kebijakan fiskal dan moneter yang dikelola dengan baik dalam menjaga disiplin fiskal, stabilitas makro ekonomi serta inflasi, dianggap memperkuat profil kredit Indonesia. Komitmen otoritas moneter dan fiskal untuk menjaga kredibilitas kebijakan juga mendukung stabilitas makro ekonomi tetap terjaga. Faktor-faktor tersebut melandasi profil sovereign credit rating (SCR) Indonesia berada pada level Baa2 dengan outlook stabil. (Yetede)


Barito Renewables Energy Mencetak Laba 2 Triliun

22 Mar 2025

PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menorehkan kinerja impresif sepanjang tahun buku 2024 dengan meraup pendapatan konsolidasi yang solid dan laba bersih yang bertumbuh. Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasi, Jumat (21/3/2025), emiten energi terbarukan Prajogo Pangestu itu berhasil membukukan pendapatan konsolidasi sebesar US$ 597 juta, naik tipis dari tahun sebelumnya US$ 594 juta. Energi angin berkontribusi 4% terhadap total pendapatan konsolidasi. Kenaikan pendapatan tersebut didorong kontribusi kuat segmen energi angin yang tetap beroperasi optimal dan memberi pendapatan stabil. Padahal, pada kuartal III-2024, emiten berkode saham BREN tersebut sempat terdampak kegiatan pemeliharaan tak terencana di segmen panas bumi terutama pada unit 2 Drajat yang menyebabkan produksi menurun sementara.

BREN juga berhasil mencatatkan EBITDA tumbuh 86,3% menjadi US$515 juta berkat implementasi inisiatif efisiensi biaya yang disiplin, sehingga mendorong ekspansi marjin EBITDA menjadi 86.3%. EBITDA yang lebih tinggi ini mendorong laba yang dapat didistribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 122 juta atau Rp 2 triliun, naik dari sebelumnya US$ 107 juta. CEO Barito Renewables, Hendra Soetjipto Tan tak memungkiri bahwa sepanjang tahun buku 2024, BREN menghadapi tantangan dari sisi operasional. Namun, perseroan tetap berkomitmen pada efisiensi dan keberlanjutan. "Meski, terdapat hambatan sementara dalam produksi panas bumi, portofoio energi terbarukan kami yang ekstensif berkontribusi pada pendapatan yang stabil dan peningkatan profitabilitas," jelas Hendra, Jumat (21/3/2025). (Yetede)


Fore Coffee Siap Berekspansi dengan Membuka Gerai Baru

22 Mar 2025

PT Fore Kopi Indonesta Tbk (FORE) atau Peyre Coffee bersiap memperluas jaringan outlet di berbogai wilayah Indonesia. Aksi ekspansif tersebut akan dieksekusi berbekal dana segar penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). CEO Fore Cotfee, Vico Lomar menyampaikan, IPO merupakan langkah strategis memperkuat posisi perseroan di industri kopi premium Indonesia. "Kami melihat, peluang besar di pasar kopi premium Indonesia dan IPO ini akan memberikan karni sumber daya yang dibutuhkan untuk memanfaatkan peluang itu,"ujar Vico dalarn konferensi pers Investor Gathering di Jakarta, Jumat (21/3/2025). Fore Coffee akan melepas sebanyak 1,88 miliar saham atau 21,08% dari total modal yang ditempatkan dan disetor penuh.

Dalam masa penawaran awal (book building) yang berlangsung pada 19-21 Maret 2025, harga saham ditetapkan dalam rentang Rp 160-Rp 202 per saham. Dengan demikian, perseroan berpotensi memperoleh dana segar hingga Rp 379,8 míliar. Masa penawaran umum dijadwalkan pada 26 Maret hingga 9 April 2025, sementara pencatatan saham di BEl direncanakan pada 11 April 2025Vico menjelaskan, sebanyak 76 % dana hasil IPO akan dialokasikan untuk ekspansi outlet di berbagai kota di Indonesia guna memperkuat posisi Fore Coffee sebagai pemimpin pasar kopi premium. "Kami menargetkan, segmen pasar yang mengutamakan pengalaman menikmati kopi dalam suasana modern dan nyaman. Fore Coffee berencana mengoperasikan hingga 600 outiet secara bertahap dalam empat tahun ke depan," kata Vico. (Yetede)