Lingkungan Hidup
( 5817 )Pelan-pelan Berdikari Susu, Ayam, dan Sapi
ID Food pelan-pelan terus memperkuat ketahanan pangan nasional. Tak hanya bergerak di komoditas beras, ikan, gula, dan minyak goreng, tetapi juga susu, daging ayam, dan daging sapi. Rencana bisnis apik digulirkan. Namun, lagi-lagi, permodalan menjadi kendala. Holding BUMN Pangan, ID Food, melalui PT Berdikari (Persero), salah perusahaan yang menjadi anggota holding, berencana membangun bisnis peternakan ayam terintegrasi, penggemukan dan pembibitan sapi, serta susu sapi. Rencana bisnis itu akan digulirkan pada 2022-2025. ”Total investasi yang dibutuhkan untuk merealisasikan rencana bisnis dalam kurun periode tersebut sebesar Rp 5,761 triliun,” kata Dirut PT Berdikari (Persero) Harry Warganegara dalam rapat dengar pendapat di Komisi VI DPR yang digelar secara hibrida, Senin (5/9).
Bisnis peternakan ayam terintegrasi ini mulai dari penyediaan bibit ayam, peternakan ayam pedaging, hingga penyediaan pakan ayam. Peran utama Berdikari menjadi perusahaan buffer stock atau penyangga peternak ayam untuk menyediakan bibit dan pakan dengan harga terjangkau untuk menjamin keberlangsungan bisnis peternak ayam rakyat yang berjumlah 10 % total peternak ayam di Indonesia.
Berdikari juga mulai merintis bisnis sapi sejak 2021 untuk memenuhi kebutuhan daging sapi dalam negeri sekaligus mengurangi ketergantungan impor sapi. Kebutuhan daging sapi dalam negeri pada 2022 sebesar 706.388 ton, meningkat dari 669.731 ton, berdasarkan perhitungan kebutuhan konsumsi daging sapi per kapita per orang yang meningkat dari 2,46 per kg per tahun menjadi 2,57 per kg per tahun. Berdikari juga berencana mengembangkan bisnis susu untuk memperkuat ekosistem susu nasional karena potensi pasarnya cukup besar. Total kebutuhan susu sapi nasional 4,4 juta ton dan 1 juta ton atau 23 % dipenuhi dalam negeri. (Yoga)
Harga BBM Naik, Sopir Pun ”Nombok”
Sopir dan kondektur bus Mayasari 70A jurusan Tanah Abang-Cileungsi duduk-duduk di pinggir jalan Gatot Subroto, kawasan Semanggi, Jakarta Selatan, Selasa (6/9) tiga hari setelah pemerintah mengumumkan harga BBM naik, Wahyu (40) dan kawan-kawannya yang mengemudikan bus hanya bisa gigit jari. Harga solar subsidi naik dari Rp 5.150 per liter menjadi Rp 6.800 per liter. Kenaikan harga sampai 32 % itu begitu terasa karena dalam sehari, satu bus membutuhkan 105-140 liter solar. ”Satu PP (pulang pergi) bus ini butuh solar 35 liter. Kalau 3-4 kali PP, hitung aja butuh berapa. Beli solar sehari biasanya Rp 600.000, jadi hamper Rp 800.000. Setoran ke kantor tetap sama, tetapi BBM beli sendiri, otomatis uang makan keambil. Kita sudah nombok duluan dari kemarin,” ujarnya.
Selain pengemudi bus, pengemudi angkutan kota (angkot) reguler juga terdampak kenaikan biaya BBM. Jaki, sopir angkot M 09 jurusan Tanah Abang-Kebayoran Lama, kini harus membayar lebih untuk pengeluaran bensin sampai Rp 50.000 sehari. Di sisi lain, tidak ada sinyal setoran ke pemilik angkot sebesar Rp 120.000 per hari akan turun. Sopir lain seperti Ratno juga makin miris dengan kondisinya. Selain karena faktor penumpang yang makin sepi, kenaikan harga BBM dan daya bayar penumpang membuatnya hanya membawa sedikit uang buat keluarga di rumah.
Di Jakarta ada 4.400 mobil dari total 6.600 mobil angkot yang belum terintegrasi dalam manajemen PT Transjakarta melalui ekosistem Jaklingko. Artinya, pengemudi mobil angkot itu masih harus mengejar setoran kepada pemilik armada. Kadis Perhubungan DKI Jakarta Syafrin Liputo, Kamis (8/9), menjelaskan, untuk tarif angkutan umum reguler, dalam hal ini angkutan umum atau angkot, pihaknya sudah menerima rekomendasi Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ). ”Mereka (DTKJ) mengusulkan kenaikan Rp 1.000 menjadi Rp 6.000 per penumpang,” kata Syafrin. Adapun tarif angkutan umum yang tergabung dalam program Jaklingko tidak naik, tetap Rp 3.500 per orang. (Yoga)
Harga BBM Naik, Inflasi Mulai Melambung
JAKARTA, ID – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) mulai mendongkrak inflasi nasional. Hingga minggu kedua September 2022, inflasi diprediksi mencapai 0,77% secara bulanan (month to month/mtm), dibandingkan Agustus deflasi 0,21%. Berdasarkan Survei Pemantauan Harga Bank Indonesia (BI) pada minggu kedua September 2022, komoditas utama penyumbang inflasi sampai minggu kedua September 2022 adalah bensin sebesar 0,66%, telur ayam ras sebesar 0,03%, beras dan tarif angkutan dalam kota masing-masing sebesar 0,02%, serta tarif angkutan antarkota, rokok kretek filter, dan bahan bakar rumah tangga (BBRT) masing-masing sebesar 0,01% (mtm). “BI akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait dan terus mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan guna mendukung pemulihan ekonomi lebih lanjut,” ujar Direktur Eksekutif BI Erwin Haryono, Jumat (9/9/2022). (Yetede)
Tanpa Subsidi, Harga BBM di Singapura Rp 40.000 Per Liter
JAKARTA, ID - Duta Besar Republik Indonesia untuk Singapura Suryopratomo mengatakan, Singapura adalah salah satu negara di dunia yang tidak menerapkan subsidi terhadap bahan bakar minyak (BBM). Sehingga, saat terjadi lonjakan atau gejolak harga minyak mentah dunia, APBN negara tersebut tidak harus menaggung tambahan beban. Jadi, semua gejolak yang ada di dunia itu tidak ditahan dulu di APBN atau anggaran mereka, tapi passthrough pada masyarakat. Oleh karena itu, harga BBM di Singapura (saat ini) sudah mencapai Sin$ 4 atau sekitar Rp 40 ribu per liter,” ujar Suryopratomo dalam perbincangan eksklusif dengan Investor Daily, pekan lalu. Manurut dia, dengan produk domestik bruto (PDB) per kapita mencapai US$ 65 ribu, Singapura tergolong sebagai negara yang sudah sangat maju. Meski demikian, tetap ada kelompok masyarakat bawah yang tertinggal, sehingga perlu mendapatkan sokongan maupun perlindungan dari pemerintah. (Yetede)
Coal Bidik Penjualan Naik Tiga Kali Lipat
PT Black Diamond Resources Tbk (COAL) resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Rabu (7/9). Emiten tambang batubara ini sukses mengantongi dana IPO Rp 125 miliar.
Usai mendapatkan dana IPO, COAL bersiap memacu bisnisnya. COAL menargetkan volume produksi dan penjualan bisa mencapai 800.000 ton sampai dengan 900.000 ton batubara tahun ini.
Donny Janson Manua, Direktur Utama COAL, mengatakan, target ini lebih tinggi sekitar tiga kali lipat dari realisasi produksi batubara tahun lalu, sekitar 260.000 ton. Pertumbuhan produksi tahun ini akan didorong oleh kesiapan sejumlah unit alat tambang.
Dari sisi kinerja, COAL menargetkan laba bersih tumbuh tiga kali lipat tahun ini. Sebagai perbandingan, tahun lalu COAL mengantongi laba bersih Rp 27 miliar.
Prospek Masih Cerah, Emiten Serius Garap Bisnis EBT
Semakin menipisnya cadangan sumber energi bumi, menarik minat banyak korporasi masuk ke bisnis energi baru terbarukan (EBT). Terbaru, PT Kencana Energi Lestari Tbk (KEEN) siap membangun proyek EBT di Filipina senilai US$ 100 juta.
Presiden Direktur KEEN Henry Maknawi mengatakan, melalui bisnis EBT, perseroan terus mencari peluang untuk memperluas ekspansi. "Kerjasama ini membuka pintu bagi KEEN untuk ekspansi ke Asia Tenggara," kata Henry.
Bukan cuma KEEN, emiten non EBT pun kepincut melakukan diversifikasi ke bisnis ini. Contohnya PT Bukit Asam Tbk (PTBA). Demi menggarap bisnis EBT, PTBA menggandeng PT Jasa Marga Tbk (JSMR) dalam pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di jalan tol Jasa Marga Group.
PT United Tractors Tbk pun sama. Melalui PT Energia Prima Nusantara (EPN), emiten bersandi UNTR ini menambah kepemilikan saham di PT Arkora Hydro Tbk (ARKO), operator Pembangkit Listrik Mini Hydro (PLTM).
Harga Memanas, Pesta Pebisnis Batubara Berlanjut
Harga batubara masih terus memanas, bahkan siap menuju level psikologis baru US$ 500 per metrik ton. Tanda-tanda itu mulai tampak. Untuk kontrak pengiriman Oktober 2022, harga batubara Newcastle di Bursa ICE sempat menyentuh rekor tertinggi di level US$ 465 per ton.
Pada penutupan Senin (5/9) lalu, harga batubara di level US$ 439,40 per ton. Dengan level tersebut, harga batubara sudah menanjak 260% dalam setahun terakhir. Ini pula yang membuat emiten batubara berpesta pora menikmati lonjakan harga emas hitam tersebut. Ini tercermin dari kinerja emiten batubara pada semester I 2022. Pendapatan dan laba emiten batubara semakin hot.
Senior Investment Information
Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta menilai, penguatan harga batubara didorong persoalan disrupsi rantai pasokan di tengah permintaan batubara dari negara Eropa.
MENGERUK CUAN EMITEN BATU BARA
Pesona saham emiten-emiten batu bara makin berpendar di tengah momentum harga global komoditas tersebut yang menyentuh rekor tertinggi. Kantong laba yang makin jumbo serta valuasi saham yang kian atraktif pun membuat sejumlah emiten batu bara dinilai layak dilirik investor. Harga batu bara untuk kontrak Oktober 2022 di bursa ICE Newcastle, dibanderol seharga US$463,75 per ton pada akhir perdagangan Senin (5/9). Alhasil, batu bara berhasil melampaui level all-time-high sebelumnya US$446 per ton pada awal Maret 2022. Harga batu bara yang membara memicu momentum reli saham emiten-emiten sektor energi. Bursa Efek Indonesia mencatat, indeks IDX Sector Energy sudah terbang 81,83% sepanjang tahun berjalan 2022. Jika ditelisik, laju indeks berkapitalisasi pasar Rp960 triliun itu moncer lantaran didorong oleh lompatan harga saham emiten-emiten tambang batu bara. Daya dorong terbesar antara lain bersumber dari kenaikan harga saham PT Bayan Resources Tbk. (BYAN), PT Adaro Minerals Indonesia Tbk. (ADMR), PT Adaro Energy Indonesia Tbk. (ADRO), PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG), dan PT Bukit Asam Tbk. (PTBA). Saham PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) juga kembali naik daun dan menjadi posisi teratas dari sisi volume, nilai, dan frekuensi perdagangan beberapa hari terakhir. Antusiasme investor untuk melakukan trading saham BUMI mengangkat saham emiten Grup Bakrie itu dari level Rp67 pada akhir 2021 ke level Rp216 pada Selasa (6/9) atau meroket 222,38% year-to-date (YtD). Head of Investment Information Mirae Asset Sekuritas Roger M.M. mengatakan prospek sektor energi terutama batu bara masih bagus hingga akhir tahun ini dengan proyeksi harga bertahan di kisaran US$400 per ton.
Gamang Menimbang Harga Produk Pangan
Sudah kering berjamur pula, sudah garing kena ramas pula. Pepatah itu seolah-olah menggambarkan nasib para pelaku usaha kecil setelah adanya kenaikan harga BBM. Mereka dihadapkan dengan kenaikan produksi dan harga bahan pokok tapi sulit menaikkan harga produk karena angka penjualan menurun. Umaroh, seorang pemilik warung nasi di daerah Sukamaja, Depok, Jawa Barat, mengaku sudah tidak menghitung untung dari usahanya lagi. Ditengah kenakan harga aneka bahan pangan dan ongkos transportasi ini, ia memilih menahan harga dan porsi makan yang dijualnya karena merasa tidak enak kepada para pelanggannya. "Namanya dagang itu, mau harga belanjaan naik, harga makanan matang tidak bisa naik. Kalau dinaikin, ya, konsumen pada kabur," Ujar Umaroh, saat Tempo mampir ke kedainya, kemarin, 6 September, Ketua Umum Asosiasi UMKM Indonesia (Akumandiri), Hermawaty Setyorinny, mengimbuhkan, para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah bak makan buah simalakama. (Yetede)
Kenaikan Harga BBM Berikan Beban Tambahan Rp 50 Triliun
JAKARTA, ID – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) diprediksi memberikan tambahan beban sebesar Rp 50 triliun ke masyarakat. Mayoritas tambahan beban itu akan dipikul kelompok masyarakat yang berada di desil lima hingga sembilan, yang merupakan kelompok terkaya. “Dari tambahan beban Rp 50 triliun tersebut, mayoritas akan ditanggung oleh kelompok masyarakat yang berada di desil lima sampai sembilan, termasuk 10% terkaya,” kata Febrio, Selasa (6/9). Dia menyatakan, dari beban Rp 8 triliun, sebesar 10% masyarakat termiskin akan memperoleh tambahan beban sebesar Rp 1,6 triliun dari kenaikan harga BBM. Selanjutnya, masyarakat di lapisan desil dua atau 20% termiskin akan menanggung Rp 1,7 triliun dan desil ketiga dan keempat masing-masing Rp 2 triliun dan Rp 2,7 triliun. Meski demikian, dia memastikan 40% kelompok masyarakat terbawah tekanannya akan berkurang, karena pemerintah menggelontorkan anggaran bansos Rp 24,17 triliun. Bansos ini mencakup tiga jenis bantuan, yakni bantuan langsung tunai (BLT) BBM sebesar Rp 12,4 triliun yang menjangkau lapisan masyarakat terbawah. (Yetede).
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









