;
Tags

Batu Bara

( 293 )

Mengawal Pasokan Batu Bara Domestik

HR1 09 Dec 2023 Bisnis Indonesia

Posisi Indonesia yang berada di jalur cincin api tak ubahnya seperti dua sisi mata uang. Di satu sisi, seluruh negeri dituntut senantiasa waspada terhadap kemungkinan terjadinya bencana alam. Di sisi lain, Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki kekayaan cadangan energi, khususnya batu bara yang luar biasa. Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), 3,2% cadangan batu bara dunia dimiliki oleh Indonesia. Tingginya cadangan batu bara tersebut tentu saja sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan energi domestik maupun luar negeri. Berdasarkan tren, produksi ‘emas hitam’ Indonesia terus meningkat. Masih berdasarkan sumber data yang sama, produksi batu bara pada 2022 mencapai 687 juta ton. Upaya menjaga stabilitas produksi batu bara menjadi penting seperti halnya menjaga koordinasi antara sektor pertambangan dan perindustrian. Pertambangan merupakan proses hulu, yaitu pengambilan sumber daya alam berupa mineral dan batu bara (Minerba) di dalam perut bumi. Proses tersebut kemudian dilanjutkan industri sebagai proses penghiliran yang diwujudkan dalam bentuk pengolahan dan pemanfaatan sumber daya alam tersebut. Peningkatkan kebutuhan batu bara di dalam negeri ini seakan menjadi angin segar bagi sektor energi, termasuk subsektor industri pertambangan batu bara. Di tengah fluktuasi harga batu bara, manajemen perusahaan tambang mesti bersiasat untuk memperkuat daya saing perusahaan agar mampu untuk terus bertahan. Pascapandemi Covid-19, sektor hulu tambang batu bara terus mengawal sekaligus mengandalkan pasar di dalam negeri. Menyeimbangkan serapan batu antara pasokan ke mancanegara dan nasional menjadi resep mujarab sektor pertambangan nasional untuk terus bertahan di tengah situasi yang sedemikian menantang.

Aliran Kredit ke Batubara Masih Tetap Membara

HR1 07 Dec 2023 Kontan

Perbankan di Tanah Air tampaknya masih sulit mengurangi porsi pembiayaan batubara. Maklum, kebutuhan batubara sebagai sumber energi masih tinggi. Proses peralihan dari energi fosil yang mengandung banyak polutan ke sumber energi bersih yang kini digalakkan pemerintah masih butuh waktu panjang. Bank-bank asing saat ini memang sudah menutup diri terhadap pembiayaan baru di sektor batubara. Kondisi ini membuat pemenuhan pendanaan sektor batubara di Indonesia hanya mengandalkan bank-bank lokal. Tak heran, porsi kredit ke sektor batubara oleh bank lokal masih meningkat. Kenaikan portofolio kredit batubara di antaranya ditorehkan bank pelat merah, seperti Bank Mandiri dan BNI. Wakil Direktur Utama Bank Mandiri Alexandra Askandar mengatakan, pembiayaan ke sektor barubara memang akan dikurangi. Namun, sebagai bank BUMN, Bank Mandiri saat ini harus tetap mendukung program pemerintah dalam mendukung ketersedian energi nasional. Jadi, Bank Mandiri masih harus mengalirkan kredit ke proyek-proyek energi dan rantai pasoknya, termasuk batubara. "Di dalam praktiknya, kami memastikan proyek yang dibiayai sesuai dengan timeline dan roadmap transisi energi menuju net zero emission," kata Sandra, sapaan akrab Alexandra. Sementara itu, Hera F. Haryn, EVP Corporate Communication BCA, mengatakan, pihaknya tetap berkomitmen melakukan fungsi intermediasi untuk mendukung kedaulatan ekonomi nasional. Namun, mitigasi risiko untuk penyaluran kredit ke industri berisiko tinggi seperti batubara diperketat. Per September, porsi pembiayaan batubara BCA di bawah 1% dari total kreditnya. Hera bilang, porsinya tak naik signifikan.

PTBA Kaji Diversifikasi Hilirisasi Baru Bara

KT1 29 Nov 2023 Investor Daily (H)
JAKARTA,ID-PT Bukit Asam Tbk (PTBA) melakukan kajian diversifikasi hilirisasi batu bara. tak lagi fokus pada proyek dimetileter (DME) yang merupakan bahan baku LPG, BUMN tambang batu bara itu kini melakukan kajian hilirisasi seperti mono ethyleneglycol (MEG), coal bed methane (CBM), maupun anoda grafit. MEG merupakan bahan baku cat, resin, solven, dan bahan baku polister di industri tekstil.  CBM seperti hal nya gas konvensional  yang dapat digunakan untuk kebutuhan rumah tangga maupun industri. Sedangkan anoda grafit  merupakan bentuk hilirisasi  batu bara menjadi anoda baterai kendaraaan listrik. "Hilirisasi inikan semua dalam proses. Hilirisasinya enggak hanya ke DME, kita ada gasifikasi. Kita ada mau ke MEG, kemudian juga ada anoda grafit. nah, ini semua lagi berproses, dilakukan dikajian. Jadi hilirisasi tetap kita jalani  supaya bisa memberikan nilai tambah," kata Arsal ditemui usai rapat dengan pendapat dengan Komisi VII DPR di jakarta Senin (28/11/2023). (Yetede)

DANA KOMPENSASI BATU BARA : Pemerintah Kecualikan Coking Coal

HR1 22 Nov 2023 Bisnis Indonesia

Pemerintah tidak akan memungut dana kompensasi domestic market obligation dari batu bara jenis coking coal atau kokas yang memiliki kalori tinggi melalui skema mitra instansi pemerintah.Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengatakan, batu bara jenis coking coal yang dikenal sebagai batu bara metalurgi untuk sumber karbon dalam industri besi dan baja akan dikecualikan dari kewajiban pungut salur. “Batu bara coking coal dikecualikan terhadap kewajiban pungut salur oleh MIP [mitra instansi pemerintah],” katanya saat rapat kerja dengan Komisi VII DPR, Selasa (21/11). Dengan begitu, pemerintah masih perlu melakukan pengaturan lebih lanjut mengenai kewajiban denda dan kompensasi terhadap DMO.Dia menjelaskan, aturan skema pungut salur batu bara lewat format MIP saat ini telah masuk tahap fi nalisasi. Uji coba skema tersebut pun ditargetkan dapat dilaksanakan pada Desember 2023. Ketiga bank tersebut adalah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI).Dalam pelaksanaan skema pungut salur dana kompensasi batu bara ini, seluruh pemegang izin usaha pertambangan (IUP)/IUP khusus (IUPK)/perjanjian karya pengusahaan pertambangan batu bara (PKP2B) harus membayar dana kompensasi ke pengelola.

EMITEN BATU BARA : Produksi SMMT Menyusut

HR1 16 Nov 2023 Bisnis Indonesia

Emiten tambang batu bara, PT Golden Eagle Energy Tbk. (SMMT) mencetak produksi batu bara sebesar 1,95 juta ton hingga 9 bulan 2023.Direktur Utama Golden Eagle Energy Budi Susanto mengatakan SMMT mencetak volume produksi hingga 1,95 juta ton, atau turun 20% secara tahunan dari periode yang sama tahun lalu sebanyak 2,44 juta ton.SMMT mencetak volume penjualan yang turun menjadi sebesar 1,96 juta ton sampai kuartal III/2023. Volume penjualan ini turun dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 2,25 juta ton.Sementara itu, untuk proyeksi harga batu bara, Direktur SMMT Denny Kusmayadi menuturkan SMMT melihat memang terjadi penurunan harga batu bara pada 2023 dibanding 2022 dan 2021. Meski demikian, SMMT memperkirakan di akhir tahun ini akan terjadi peningkatan harga batu bara. Dia memerinci, harga batu bara pada sisa 2023 masih akan berada di atas US$60 per ton. Sementara itu, pada 2024, SMMT memperkirakan harga batu bara melandai dengan menyentuh level US$59,2 per ton, dan turun kembali ke level US$40 per ton sampai kuartal III/2024. Pada perkembangan lain, SMMT merombak susunan direksi dan komisaris setelah diakuisisi oleh PT Geo Energy Investama. Dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB), pemegang saham SMMT menyetujui pengangkatan Ng See Young sebagai Komisaris Utama, Yanto Melati sebagai Komisaris, dan Komisaris Independen Richard Ong.Selain itu, Budi Susanto menjabat sebagai Direktur Utama SMMT menggantikan Roza Permana Putra. SMMT juga mengangkat dua direksi lainnya, yakni Yuliana, dan Denny Kusmayadi.

Masih Hasilkan Polusi, Penggunaan Scrubber pada PLTU Dipertanyakan

KT1 15 Nov 2023 Investor Daily (H)
JAKARTA,ID-Pembangkit Listrik tenaga uap (PLTU)  dengan tenaga batu bara menjadi salah satu penyumbang  polusi udara terbesar selain asap kendaraan bermotor. Hal tersebut sejatinya bisa diminimalisasi dengan penggunaan alat sistem udara untuk mengendalikan pencemaran udara atau disebut scrubber yang wajib dipasang pada industri  sesuai arahan Presiden Joko Widodo. Direktur Eksekutif Intitute for Essential Service Reform (IESR) Fabby Tumiwa menjelaskan bahwa PLTU menyumbang emisi gas rumah kaca  yang mengandung karbon dioksida (CO2) dan sejumlah gas polutan diantaranya sulfur Oksida (Sox), nitrogen oksida (NOx) hingga Particulate Matters 2,5 (PM2,5) atau partikel udara yang berukuran kecil yang dapat masuk ke aliran darah manusia. "Bahwa benar PLTU itu mengeluarkan  namanya gas emisi rumah kaca CO2 tapi juga polutan. Polutan itu ada gas-gas SOX, NOX, dan Particulate Matter itu karena bisa masuk ke dalam aliran darah manusia," jelas fabby. (Yetede) 

Capai Rekor, Batubara Indonesia Kuasai Dunia

HR1 15 Nov 2023 Kontan (H)

Laju ekspor batubara Indonesia menjulang. Ini nampak dari data Kpler, perusahaan data dan analisis global. Kpler menempatkan Indonesia sebagai penguasa ekspor komoditas emas hitam di dunia. Merujuk analisis data logistik pengapalan, Kpler melaporkan, volume ekspor batubara Indonesia tembus 413 juta ton per Oktober 2023. Volume ekspor itu mengalami lonjakan 11,5% dari periode sama tahun sebelumnya atau year on year (yoy) yang sebesar 371,08 juta metrik ton. engan volume ekspor terbesar di dunia, Indonesia kini menguasai 50% pasar ekspor batubara dunia. Menurut Kpler, ada tiga negara utama yang menjadi negara tujuan ekspor batubara Indonesia. Yakni, China sebesar 183 juta ton, India 82 juta ton dan Filipina 30 juta ton. Data yang dirilis Kpler ini cukup mengejutkan di tengah tren penurunan harga batubara di pasar ekspor. Ditambah lagi, data yang mereka rilis terpaut jauh dari data ekspor versi Kementerian ESDM. Merujuk data Minerba One Data Indonesia (MODI) ESDM, ekspor batubara Indonesia sampai Oktober 2023 hanya 323,12 juta ton. Artinya, ada selisih 89,88 juta ton dari data yang dilansir Kpler. Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi berpendapat, selisih data ekspor antara Pemerintah RI dengan Kpler mengindikasikan adanya praktik ekspor ilegal batubara Indonesia ke sejumlah negara tujuan ekspor. Menurut Fahmy, peluang itu sangat mungkin terjadi karena sudah menjadi praktik yang kerap ditemukan di industri pertambangan Indonesia. Baru-baru ini, misalnya, ramai kasus tentang dugaan ekspor ilegal bijih nikel. Bahkan, dugaan ekspor ilegal batubara sendiri sudah kerap mengemuka. Menurut Fahmy, salah satu pemicunya tak lain adalah selisih harga batubara di pasar global dengan pasar dalam negeri yang terpaut jauh. Anggota Komisi VII DPR RI Mulyanto juga mempertanyakan adanya perbedaan data ini. "Ini menjadi indikasi awal untuk ditelusuri, jangan-jangan ekspor ilegal di luar RKAB," tegas Mulyanto ke KONTAN, Selasa (14/11). Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia mengakui, permintaan ekspor batubara memang meningkat, khususnya dari China dan India. Namun, ia mengaku tak memahami adanya selisih data cukup jauh antara Kpler dan pemerintah. Saat dikonfirmasi, Dirjen Bea dan Cukai, Kementrian Keuangan Askolani menegaskan, perbedaan data itu tak bisa diperbandingkan.

Tarif Jasa Bongkar Muat Batu Bara Naik

KT1 02 Nov 2023 Kontan
JAKARTA. Operator jasa pelabuhan batubara di Muara Berau, Samarinda, Kalimantan Timur menaikkan tarif bongkar muat mulai 1 Oktober 2023. Kenaikan tarif jasa ke pelabuhan ini dikhawatirkan menghambat pasokan batubara, khususnya batubara untuk pembangkit listrik. Sebagai gambaran, terdapat lebih dari 90 juta ton batubara yang diekspor dan dikirim untuk pasar domestik dari Pelabuhan Muara Berau. Kenaikan tarif ini menyusul keputusan kementerian Perhubungan  yang menetapkan rekomondasi tarif jasa pelabuhan kepada PT Pelabuhan Tiga Bersaudara (PTB) pada 24 Juli 2023. PTB merupakan Badan Usaha Pelabuhan di Pelabuhan Muara Betau, Samarinda. PTB mengelola konsesi yang diberikan pemerintah  yang diberikan pemerintah selama 25 tahun. Tarif baru tersebut menurut shiper akan menambah beban biaya US$ 0,8 per ton untuk kapal gearless dan sekitar US$ 0,42 per ton untuk kapal geared dan grabbed, yang mana tarif tersebut akan diterima pihak PTB tanpa melakukan layanan jasa. (Yetede)

Risiko Penggunaan Amonia di PLTU

KT1 01 Nov 2023 Tempo
PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) menjajal berbagai cara untuk mengurangi penggunaan batu bara pada pembangkit listrik. Salah satu cara yang diterapkan perseroan adalah penggunaan bahan bakar pendamping batu bara atau co-firing. Melalui cara ini, PLN menggunakan bahan bakar lain agar pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) tidak bergantung sepenuhnya pada batu bara.

Namun cara ini dihujani berbagai kritik karena co-firing, selain hanya memperpanjang umur PLTU, berisiko memperparah emisi dan deforestasi karena menggunakan bahan bakar pendamping berupa biomassa yang berasal dari pelet kayu. Nyatanya, PLN jalan terus. Perseroan menggunakan biomassa sebesar 20 persen dari total kebutuhan bahan bakar PLTU. Hingga Mei 2022, sebanyak 32 PLTU sudah menerapkan co-firing. PLN mengklaim berhasil menurunkan emisi karbon sebesar 184 ribu ton CO2.

PLN bahkan melirik sumber lain, yaitu amonia, sebagai opsi bahan bakar co-firing di PLTU besar di Jawa Barat dan Jawa Timur. Selama ini amonia digunakan sebagai bahan baku industri pupuk kimia. Walau begitu, sama seperti biomassa, amonia memiliki risiko lingkungan yang tidak bisa diremehkan. Jika diteruskan, tindakan PLN ini justru menjadi bumerang bagi usaha Indonesia meredam perubahan iklim dan menekan polusi dari operasi PLTTU. (Yetede)

Peran Batu Bara Masih Strategis

KT1 23 Oct 2023 Investor Daily (H)
JAKARTA,ID-Batu bara dianggap sebagai sumber energi kotor karena menghasilkan emisi.  namun kenyataannya hingga saat ini, batu bara masih memiliki peran sangat strategis bagi Indonesia. bahkan dengan bantuan teknologi, emisi batu bara bisa ditekan sehingga menjadi lebih bersih. Sejumlah perusahaan batu bara juga melakukan inovasi dari hulu hingga hilir untuk menurunkan emisi. Direktur Eksecutif Asosiasi Pertambangan batubara Indonesia Hendra  Sinadia mengatakan, hingga saat ini batu bara masih menjadi sumber energi yang paling murah (afferdable) serta sumber energi yang dapat diandalkan (reliable), dan masih punya peran penting di era transisi energi. Menurut Hendra, ekspor Indonesia sekitar 99% ditujukan ke negara-negara Asia pasifik yang sejauh ini masih mengandalkan batu bara sebagai sumber energi mereka. "Meningkatnya ekspor menjadi indikator bahwa batu bara masih dibutuhkan sebagai sumber energi yang paling diandalkan," kata Hendra. (Yetede)