Nikel
( 216 )PENGHILIRAN MINERAL : INVESTOR ASING SIGAP TANGKAP PELUANG
Masyarakat mesti legawa dengan maraknya kehadiran perusahaan asing yang mengembangkan potensi nikel di dalam negeri. Keterbatasan pembiayaan untuk mengembangkan nikel sebagai salah satu bahan baku baterai kendaraan listrik menjadi tantangan yang baru bisa dijawab oleh investor asing. Minimnya peran perbankan di dalam negeri terkait dengan pembiayaan proyek penghiliran, termasuk untuk nikel sebagai bahan baku baterai kendaraan listrik, membuat pelaku usaha nasional tidak bisa berbuat banyak. Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia pun mengakui kondisi banyaknya investor asing yang mengelola potensi nikel nasional tidak bisa dihindarkan. “Kita enggak bisa menyalahkan investor , siapa suruh perbankan nasional kita belum mau membiayai industri smelter secara masif. Masalahnya di situ,” katanya, Rabu (24/5). Investor asing sendiri, katanya, lebih banyak bermain di industri pengolahan nikel yang sedang naik daun seiring dengan tenarnya pamor kendaraan listrik. Keengganan perbankan untuk membiayai proyek penghiliran mineral, termasuk nikel sebenarnya dapat dipahami, karena industri tersebut tergolong baru dan penuh risiko. Terlebih, perbankan umumnya terikat dengan komitmen pembiayaan berkelanjutan yang mengesampingkan proyek berbasis energi fosil maupun pertambangan. Persoalan pendanaan memang kerap ‘menyandera’ pelaku industri yang ingin melakukan penghiliran. Tingginya investasi yang dibarengi dengan besarnya risiko pembangunan smelter membuat banyak lembaga pembiayaan menghindari proyek tersebut. Pelaku usaha yang ingin melaksanakan penghiliran sumber daya mineral di Tanah Air harus siap-siap ‘memutar otak’ agar bisa mendapatkan pendanaan, sehingga proyek yang direncanakan berjalan lancar.
Tekanan lebih berat dialami oleh perusahaan yang ingin mengembangkan smelter nikel yang menerapkan teknologi high pressure acid leach (HPAL). Roy Arman Arfandy, President Director PT Trimegah Bangun Persada Tbk., dalam kesempatan terpisah sempat menyampaikan bahwa kebutuhan investasi untuk membangun smelter HPAL mencapai US$1,2 miliar. “Waktu awal membangun, terpaksa kami menggunakan dana sendiri. Setelah pabriknya setengah jadi, baru perbankan berani untuk masuk. Memang pasti akan susah , tetapi ketika sudah berjalan akan ada yang masuk,” katanya beberapa waktu lalu. Sementara itu, Irwandy Arif, Staf Khusus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bidang Percepatan Tata Kelola Mineral dan Batu Bara, mengatakan peluang untuk mendapatkan pendanaan untuk smelter selalu terbuka. Dia mencontohkan pembiayaan untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbasis batu bara yang juga dihindari oleh mayoritas lembaga pendanaan, tetapi tetap bisa dibangun.
Insentif Akan Dipangkas, Saham Nikel Amblas
Sentimen negatif membayangi emiten saham produsen nikel di Tanah Air. Pemerintah akan memangkas insentif pajak untuk membatasi investasi produk olahan bijih nikel kelas dua, seperti
nickel pig iron
(NPI). Artinya, pemerintah tidak akan lagi memberikan pembebasan pajak untuk investasi NPI.
Kabar tak sedap ini diembuskan Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia. Menurut Reuters, kemarin (5/5), Bahlil menyatakan pemerintah tidak akan lagi memberi
tax holiday
untuk investasi NPI. Tujuannya untuk membatasi investasi pada produk nikel berkualitas rendah.
Sontak, rencana pemerintah tersebut berpotensi menjadi sentimen negatif bagi emiten nikel. Apalagi, sehari pasca Bahlil menyatakan rencananya tersebut, saham-saham emiten nikel kompak longsor pada perdagangan kemarin. Contohnya saham PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL). Kemarin, saham emiten pertambangan nikel yang baru melantai di Bursa Efek Indonesia pada 12 April 2023 ini, tergerus 6,96% ke posisi Rp 1.270.
Nasib serupa dialami saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), yang anjlok 6,96% ke level Rp 3.610. Tak berbeda dengan sang induk, saham anak usaha MDKA, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) turun 1,86% ke Rp 790.
Equity Research Analyst
Panin Sekuritas, Felix Darmawan melihat, rencana kebijakan pemerintah kerap menjadi katalis penting bagi pergerakan harga saham emiten komoditas. Tak terkecuali emiten nikel. Research Analyst Infovesta Kapital Advisori, Arjun Ajwani sepakat, penurunan harga komoditas nikel global lebih dominan menjadi sentimen negatif emiten nikel. Selain itu, ada gejolak yang membayangi pasar.
Kisah Sepetak Sawah dalam Kepungan Nikel
Padi berumur dua bulan menghijau di hamparan persawahan di Desa Paku Jaya, Kecamatan Bondoala, Konawe, Sultra. Karmin (54) pada Kamis (30/3) dengan cekatan membuka pintu air lebar-lebar. ”Semoga panen bagus,” kata kakek satu cucu ini. Berjarak 5 km ke arah timur, asap membubung dari puluhan cerobong pabrik pengolahan nikel di kawasan Virtue Dragon Nickel Industrial Park. Di kawasan ini berdiri dua perusahaan pengolahan nikel skala besar, yaitu Virtue Dragon Nickel Industry dan Obsidian Stainless Steel. Perusahaan yang investasinya asal China itu berdiri sejak 2014, disusul pembangunan smelter yang beroperasi pada 2019. Didukung penuh pemerintah, kawasan lokasi pabrik di Kecamatan Morosi itu menjadi proyek strategis nasional. Karmin bercerita, sejak awal perusahaan dibuka, sejumlah lahan warga bersalin rupa menjadi area pabrik, jalanan, dan lainnya.
Lahan tersebut sebelumnya berupa tanah kosong, tambak, dan persawahan. ”Dulu, bersawah lebih bagus ketimbang saat ini. Kami di sini, agak jauh dari pabrik, jadi tidak terlalu berdampak.” jelasnya. Kondisi itu berbeda dengan sawah warga yang berdekatan dengan pabrik. Karmin mengolah sawah seluas 5 hektar. Sesekali, ia juga dibantu tetangga. Sekali menggarap sawah, ia membutuhkan modal Rp 15 juta untuk membeli bibit, pupuk, pestisida, dan keperluan panen. Sekali panen, ia bisa mendapatkan hasil bersih Rp 50 juta. Setiap tahun, ia menanam dua kali. Hasil itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari hingga investasi. Persawahan adalah ”harta” Karmin bersama puluhan petani lain. Ia mengatakan tidak akan menjual sawah ini. Beberapa tahun lalu, ia terpaksa menjual 2 hektar sawahnya untuk menikahkan anaknya.
Berjarak 100 meter dari kediaman Karmin, Edimanto (31), warga Paku Jaya lainnya, sibuk mencacah daging kambing yang awalnya disiapkan untuk Idul Adha mendatang, tapi terpaksa dipotong, lantaran terlihat sakit. Edimanto saat ini hanya mengandalkan ternak dan pekerjaan serabutan. Hampir dua tahun ini Edimanto tidak me- miliki pekerjaan tetap setelah keluar dari perusahaan smelter di dekat kampungnya. Keluarganya dulu mempunyai banyak sawah, tetapi, lambat laun, lahan dijual sedikit demi sedikit hingga tak tersisa lagi. Seharusnya, kata Edimanto, warga di sekitar tambang dan perusahaan nikel bisa berdaya dan sejahtera, baik dengan bekerja langsung di perusahaan maupun untuk penyediaan logistik. Nyatanya, ia kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup harian. ”Hanya dapat debunya,” ujarnya singkat. (Yoga)
Saham Nikel Terseret Pelemahan Harga di Pasar Global
JAKARTA, ID – Harga saham dua raksasa perusahaan nikel Indonesia PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) dan PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) tumbang, Rabu (26/04/2023), terseret pelemahan harga nikel di pasar global. Namun, kalangan analis menilai, penurunan harga saham ini hanya bersifat sementara. Pada perdagangan Rabu (26/04/2023), kedua saham itu terkena auto rejection bawah (ARB). Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), harga saham MBMA turun 6,78% menjadi Rp 825, sehingga kena ARB. Saham anak usaha PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) ini bergerak dalam rentang Rp 825-900, namun harga tersebut masih di atas harga IPO Rp 795. Perusahaan mencatatkan saham di BEI pada 18 Ap Rp 4.010, turun 0,25% dari hari sebelumnya. Merdeka Copper memiliki 49% saham Merdeka Battery. Sementara itu, saham NCKL terkoreksi Rp 100 (6,92%) dan ditutup di level Rp 1.345. Saham Grup Harita ini bergerak dalam rentang Rp 1.345-1.470. Meski sahamnya anjlok, harga saham perusahaan nikel terintegrasi tersebut masih berada di atas harga IPO Rp 1.250. Market cap perusahaan mencapai Rp 84,8 triliun. Kalangan analis menilai, penurunan saham emiten nikel hanya bersifat sementara. (Yetede)
Pengembangan Kota Wisata Manfaatkan Lahan 160 Ha
JAKARTA, ID- Pengembangan lanjutan Kota Wisata Cibubur, Jawa Barat memanfaatkan lahan seluas 160 hektare (ha). Di sisi lain, proyek properti berskala kota (township) seluas 700 ha itu telah dilengkapi gerbang tol. Menurut Direktur Sinar Mas Land, Herry Hendarta, pihaknya berinovasi untuk menjadikan Kota Wisata sebagai satu-satunya township di Cibubur yang memiliki gerbang tol di dalam kawasan. Gerbang Tol Nagrak di Kota Wisata Cibubur sudah mulai beroperasi sejak Minggu (16/4/2023). Akses tol ini dibuka setelah rampungnya pembangunan Tol Cimanggis – Cibitung (Tol Cimaci) seksi 2A ruas jalan\ Jatikarya – Nagrak. Ruas tol ini terintegrasi dengan Tol Jagorawi, Tol Jakarta – Cikampek dan Tol Depok – Antasari (Tol Andara) yang juga tersambung ke berbagai jalan tol di Pulau Jawa. “Keberadaan tol ini memudahkan masyarakat luas untuk menikmati fasilitas lengkap di Kota Wisata, mulai dari Eka Hospital, Fresh Market, berbagai sekolah ternama, sentra niaga, kawasan CBD, hingga Living World Mall Kota Wisata yang akan segera beroperasi tahun 2023,” ujarnya dalam siaran pers, baru-baru ini. Dia menambahkan, akses tol baru ini juga menjadi alternatif jalan baru bagi para pemudik serta memudahkan distribusi pasokan komoditas bagi warga di Kabupaten Bogor. Kota Wisata Cibubur dikembangkan sejak 1997 dan hingga saat ini telah membangun 48 cluster perumahan dengan desain yang terinspirasi dari eksotika kota-kota besar di dunia di atas lahan seluas 700 ha. (Yetede)
Market Cap MBM Rp 95 Triliun Tertinggi di Sektor Nikel
JAKARTA, ID – PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) atau MBM resmi mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (18/4/2023), setelah sukses menggelar penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) dengan harga pelaksanaan Rp 795 per saham. Analis menilai, valuasi saham MBMA premium dan melampaui rata-rata industri. Dalam debutnya, harga saham MBMA ditutup pada level Rp 885 atau naik 11,32%. Market cap perusahaan ini mencapai Rp 95,58 triliun, tertinggi di sektor nikel lantaran melampaui duapemain lama, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) masing-masing Rp 50,4 triliun dan Rp 65,5 triliun. Jumlah itu juga melewati sang pendatang baru PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel Rp 91 triliun. Berdasarkan riset Samuel Sekuritas, belum lama ini, dengan harga pelaksanaan IPO Rp 795, PER saham MBMA premium, yakni 186,8 kali. Ini dengan asumsi laba bersih per September 2022 sebesar US$ 23 juta disetahunkan. Sementara itu, PER saham ANTM, INCO, dan NCKL mencapai 13,2 kali, 21 kali, dan16,5 kali, merujuk data RTI. “Namun, menurut kami, valuasi tersebut cukup beralasan, mengingat perusahaan ini masih dalam tahap awal dan sebagian besar proyeknya belum mulai beroperasi,” tulis broker itu, dikutip Selasa (25/4/2023). (Yetede)
Menambang Cuan di Tambang Nikel
Pulau Obi tak lain sebuah pulau seluas 2.542 km di Provinsi Maluku Utara. Namun di pulau kecil ini, terdapat komoditas logam yang banyak dibutuhkan berbagai sektor industri, yaitu nikel.
Di pulau inilah PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) beroperasi dan menambang peruntungan. Sebagai catatan, perusahaan ini mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (12/4).
NCKL menawarkan saham perdana melalui
initial public offering
(IPO) sebanyak 7,99 miliar saham baru atau 12,67% dari modal ditempatkan dan disetor setelah IPO. Dengan harga penawaran Rp 1.250 per saham, NCKL mengantongi dana segar senilai Rp 9,99 triliun. Mayoritas dana hasil IPO akan dipakai untuk keperluan ekspansi entitas anak dan entitas asosiasi.
Saat ini emiten tambang yang terafiliasi dengan Grup Harita itu memiliki dan mengoperasikan dua proyek tambang nikel laterit aktif seluas 5.523,99 hektare (ha) yang berlokasi di Kawai dan Loji, di Pulau Obi.
Proyek ini dioperasikan melalui dua konsesi pertambangan. Rinciannya, seluas 4.247 ha di Kawasi, dioperasikan oleh NCKL. Seluas 1.277 ha di Loji yang dioperasikan oleh entitas anak NCKL, yaitu PT Gane Permai Sentosa.
Emiten ini memiliki sejumlah proyek yang berkaitan dengan baterai listrik. Salah satunya adalah produksi smelter
mixed hydroxide precipitate
(MHP). Menurut Presiden Direktur NCKL Roy A Arfandy, per akhir Maret 2023, total kapasitas produksi MHP mencapai 55.000 ton per tahun.
OLAH SISA SLAG NIKEL : NCKL Berpotensi RaupRp5 Miliar Per Bulan
PT Trimegah Bangun Persada Tbk. (NCKL) atau Harita Nickel berpotensi mendapat tambahan pendapatan dari produksi sisa hasil pengolahan (SHP) nikel mencapai Rp4,8 miliar per bulan. Tonny Hasudungan Gultom, Direktur Trimegah Bangun Persada, mengatakan bahwa perusahaan yang segera melantai di Bursa Efek Indonesia itu memproduksi batako sebagai salah satu bahan konstruksi, box culvert saluran air, tetrapod untuk pemecah ombak, dan artificial reef yang digunakan sebagai rumah ikan dengan slag nikel. Menurutnya, Harita Nickel sudah mampu memproduksi 40.000 batako per hari dari slag nikel yang dihasilkan smelter perusahaan. Selain itu, produk yang dihasilkan perusahaan dari SHP nikel itu memiliki kualitas premium untuk produk serupa yang kini beredar di pasaran.
Berkah Insentif Kendaraan Listrik
Pemerintah terus mendorong pengembangan kendaraan listrik atau
electric vehicle
(EV) di dalam negeri. Salah satunya dengan memberi insentif pembelian unit kendaraan listrik. Ini menjadi angin segar bagi perusahaan kontraktor yang bergelut di sektor tambang nikel seperti PT Hillcon Tbk (HILL).
Direktur HILL Jaya Angdika menyebut, insentif kendaraan listrik ini akan berdampak secara jangka panjang terhadap kinerja HILL. Sebab dalam jangka panjang akan ada kenaikan produksi nikel dari
smelter,
yang tentunya akan berdampak pada kenaikan kinerja HILL.
"Secara jangka panjang kemungkinan berpengaruh pada permintaan, sehingga volume produksi juga akan meningkat," kata Jaya, Jumat (24/3).
Direktur Utama HILL Hersan Qiu menilai, secara bisnis, pengelolaan bisnis nikel di Indonesia sangat efisien, sehingga prospek bisnis nikel ke depannya cukup cerah. Apalagi, hasil produksi nikel digunakan sebagai bahan baku baterai kendaraan listrik.
Hersan menambahkan, dengan biaya produksi hasil turunan nikel yang murah, maka industri nikel tetap bisa melakukan produksi meski harga nikel sedang dalam tren menurun. Menurut Hersan, ini karena kebijakan pemerintah Indonesia melakukan hilirisasi produk nikel.
HILL tetap diminta memproduksi semaksimal mungkin, baik saat tren harga nikel sedang turun maupun tren harga nikel sedang naik. Ini karena pertumbuhan kapasitas smelter nikel di Indonesia yang terus bertumbuh, sehingga permintaan atas nikel ore terus meningkat.
Hilirisasi Dorong Pertumbuhan Ekonomi
Kebijakan pemerintah mendorong hilirisasi nikel mulai berdampak positif terhadap perekonomian daerah dan nasional. Ekspor produk nikel dan investasi sektor ini melonjak pesat dalam beberapa tahun terakhir. Mengutip data BPS, nilai ekspor produk nikel pada 2017 sebesar 3,3 miliar USD, berkat hilirisasi, pada 2022, nilainya melonjak hampir sepuluh kali lipat menjadi 29 miliar USD. Lonjakan juga tercatat pada aspek investasi. Pada 2022 investasi di sektor industri logam Rp 171,2 triliun, terbesar dibandingkan sektor lainnya. ”Melalui program hilirisasi sumber daya alam, kami berharap Indonesia jadi negara pengekspor komoditas bernilai tambah tinggi,” ujar Direktur Hilirisasi Mineral dan Batubara Kementerian Investasi/BKPM Hasyim Daeng Barang dalam HSBC Investment Forum 2023 di Jakarta, Rabu (8/3).
Vice President Metals and Mining Research Wood Mackenzie, Robin Griffin, mengatakan, dengan cadangan nikel 21 juta ton, Indonesia menjadi negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia. Peneliti dari firma riset mineral yang berkantor pusat di Inggris ini menyebutkan, kekayaan nikel ini merupakan peluang yang sangat besar bagi perekonomian Indonesia untuk bergerak maju. Hilirisasi nikel yang berhasil mendorong pertumbuhan ekonomi juga diungkap dalam studi Institute for Development of Economics and Finance (Indef). Tercatat ada empat provinsi penghasil nikel yang mengalami peningkatan realisasi investasi di sektor hilir, yaitu Sulsel, , Sulteng, Sultra, dan Maluku Utara. ”Riset kami menyimpulkan bahwa hilirisasi memberikan dorongan dan kontribusi lebih tinggi terhadap produk domestik bruto regional,” ungkap Rizal Taufikurahman, Ekonom Indef yang mengetuai tim riset ini. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Digitalisasi Keuangan Daerah
26 Jul 2022 -
Paradoks Ekonomi Biru
09 Aug 2022









