Pertumbuhan Ekonomi
( 473 )Alarm PERTUMBUHAN EKONOMI
Perekonomian Indonesia terindikasi kian melemah seiring dengan terjadinya deflasi lima bulan berturut-turut hingga September 2024. Indikasi lain, industri manufaktur terus terpuruk, mengalami kontraksi selama tiga bulan berturut-turut, akibat melemahnya permintaan domestik dan global. Kombinasi ini menjadi alarm yang perlu diwaspadai bagi prospek pertumbuhan ekonomi ke depan. Indonesia kembali mencatat deflasi pada September 2024 sebesar 0,12 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Dengan demikian, deflasi berlangsung selama lima bulan berturut-turut sejak Mei 2024. ”Apakah ini indikasi penurunan daya beli masyarakat? Tentu untuk menghubungkan apakah ini ada kaitannya dengan penurunan daya beli masyarakat, kita harus melakukan studi lebih dalam karena angka indeks harga konsumen yang kita catat hanya berdasarkan harga yang diterima konsumen,” ujar Pelaksana Tugas Kepala Badan Pusat Statistik Amalia Adininggar Widyasanti dalam jumpa pers bulanan soal besaran inflasi yang dilakukan secara hibrida di Jakarta, Selasa (1/10/2024).
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau kembali menjadi kelompok utama penyumbang deflasi. Dalam lima bulan terakhir, komoditas daging ayam ras masuk dalam lima besar komoditas utama yang menyumbang deflasi. Kendati pada September terjadi deflasi secara bulanan, secara tahunan masih terjadi inflasi sebesar 1,84 persen.Angka ini berada pada zona bawah rentang target inflasi pemerintah dan Bank Indonesia, yakni 1,5-3,5 persen. Direktur Eksekutif Centre for Strategic and International Studies Yose Rizal Damuri mengatakan, deflasi yang telah terjadi lima bulan berturut-turut menunjukkan daya beli masyarakat masih lesu. Karena
terjadi kelebihan pasokan ko-moditas yang tidak diimbangi dengan permintaan, harga punmengalami penurunan, yang pada akhirnya memicu deflasi. Pelemahan daya beli, menurut Yose, disebabkan berbagai permasalahan struktural yang dialami dunia usaha, seperti deindustrialisasi dini dan sempitnya lapangan kerja.
Selain itu juga masih belum efisiennya produksi akibat tingginya biaya energi hingga biaya logistik. Oleh karena itu, ia menekankan, penting sekali untuk membenahi persoalan ini. Dalam jangka pendek, pemerintah bisa memberi stimulus dengan menyalurkan bantuan sosial untuk merangsang daya beli masyarakat. Adapun dalam jangka panjang, pemerintah perlu terus membenahi ekosistem dunia usaha sehingga bisa merangsang investasi dan produktivitas serta penciptaan lapangan kerja yang masif dan berkualitas serta memberikan upah yang berk u a l i t a s. Peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Indonesia, Teuku Riefky, menjelaskan, fenomena deflasi ini menunjukkan pelemahan daya beli masyarakat. (Yoga)
Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan
Kawasan Rebana destinasi investasi Jawa Barat.
Simpanan Kelas Kakap Mengalami Kontraksi
LPS mencatatkan simpanan kelas kakap per Agustus 2024 kembali mengalami penyusutan dibandingkan bulan sebelumnya. Di mana, tiering nominal di atas Rp 5 miliar mencapai Rp 4.630,1 triliun, susut Rp 40,8 triliun atau 0,9% secara bulanan (month to month/mtm). Meskipun secara tahunan (year on year/yoy) simpanan jumbo per Agustus ini masih tumbuh positif 9,1%, namun dalam tren pertumbuhan yang melambat. Bahkan, apabila dibandingkan dengan tiga bulan lalu, atau posisi Mei 2024 mengalami kontraksi 2,6%.
Bukan hanya simpanan kelas kakap yang mengalami kontraksi, simpanan dengan tiering Rp 1-2 miliar dan Rp 2-5 miliar juga mengalami pertumbuhan negatif masing-masing 0,7% (mtm) dan 0,4% (mtm) per Agustus 2024 menjadi Rp529,38 trilun dan Rp 698,74 triliun. Terkait data tersebut, Ekonom Senior dan Asociate Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Ryan Kiryanto mengungkapkan, penyusutan simpanan kelas kakap tersebut sama dengan posisi Februari sebelumnya, yakni karena berdekatan dengan kegiatan pemilu. (Yetede)
Tantangan Indonesia Mencapai Pertumbuhan Ekonomi 8%
Ambisi pemerintah yang membidik pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8% per tahun dinilai mustahil. Pasalnya, saat ini biaya investasi di Indonesia, yang tecermin dari Incremental Capital Output Ratio (ICOR), masih mahal. Alhasil, Indonesia butuh investasi besar untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi tersebut. ICOR merupakan salah satu parameter yang dapat menunjukkan tingkat efisiensi investasi di suatu negara. Semakin kecil angka ICOR, maka biaya investasi yang harus dikeluarkan semakin efisien untuk menghasilkan output tertentu. Demikian pula sebaliknya, apabila angka ICOR besar, maka biaya investasi yang harus dikeluarkan di sebuah negara cukup besar. Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin mencatat, ICOR Indonesia pada 2023 sebesar 6,5. Level ini terbilang masih tinggi, mengingat ICOR negara tetangga seperti Malaysia hanya 4,4 dan Filipina hanya 3,7 pada periode 2021-2022. Investasi itu bisa bersumber dari investasi pemerintah, swasta dalam negeri, juga investasi luar negeri atau foreign direct investment (FDI). Namun, menurut Wijayanto, angka investasi ini juga akan sulit dicapai. "Agak sulit mengharapkan FDI berkualitas mengalir dalam waktu dekat dalam jumlah besar.
Kalaupun mengucur, pasti di sektor yang kurang berkualitas, seperti sumber daya alam (SDA) yang tidak memberikan
multiplier effect
besar," tutur Wijayanto kepada KONTAN, kemarin.
Hitungan Wijayanto, dengan ICOR di level 6,5, pertumbuhan ekonomi yang realistis dicapai Indonesia hanya di kisaran 5% hingga 5,2%. Menurut dia, pemerintah tidak perlu memaksakan ambisi untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi, melainkan fokus saja pada pertumbuhan yang berkualitas.
Direktur Pengembangan Big Data Indef Eko Listiyanto menilai, dengan ICOR yang masih tinggi, maka pertumbuhan ekonomi tidak akan akseleratif. "Kemungkinan pertumbuhan ekonomi hanya bisa di level 5%," tutur Eko, kemarin.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani sebelumnya mengatakan bahwa ICOR Indonesia tak kompetitif dengan negara di kawasan ASEAN yang berada di kisaran 4% hingga 5%. ICOR Indonesia yang masih tinggi akan menghambat investasi yang masuk dan berdampak pada pertumbuhan ekonomi Indonesia.
BI Menurunkan Suku Bunga Acuan Sebesar 25 bps
BI menurunkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6% suku bunga deposit facility turun sebesar 25 bps menjadi 5,25%, dan suku bunga lending facility turun sebesar bps menjadi 6,75%. Keputusan ini dinilai tepat karena akan membuat ruang gerak ekonomi, khususnya kelas menengah dan para pengusaha akan lebih luas. Keputusan ini dinilai konsisten dengan tetap rendahnya perkiraan inflasi pada tahun 2024 dan 2025 yang terkendali dalam sasaran 2,5+1% pada tahun 2024 dan 2025, penguatan dan stabilitas nilai tukar rupiah serta perlunya upaya untuk mempekuat pertumbuhan ekonomi nasional. Menurut CEO Narasi Institute dan akademisi dari UPN Veteran Jakarta, langkah BI ini merupakan kebijakan yang sangat positif dan patut didukung. Bahkan menurutnya sebaiknya dilakukan lebih agresif lagi. Kondisi ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian dan tekanan inflasi domestik yang relatif terkendali menjadi argumen kuat bahwa BI bisa menurunkan suku bunga lebih lanjut. "Langkah ini dapat memberikan momentum bagi ekonomi untuk kembali tumbuh cepat pasca-pandemi," katanya kepada Investor Daily. (Yetede)
Pertumbuhan Kuat, Chandra Asri Agresif Berekspansi Berbagai Sektor
Pertumbuhan Ekonomi di Masa Pilkada
Kalangan Pengusaha Butuh Kepastian Hukum dan Politik
Pertumbuhan Ekonomi
Pilihan Editor
-
Investasi Teknologi
10 Aug 2022 -
Masih Saja Marak, Satgas Tutup 100 Pinjol Ilegal
01 Aug 2022 -
Tata Kelola Bantuan Sosial Perlu Dibenahi
29 Jul 2022









