Pertumbuhan Ekonomi
( 473 )Sistem Politik dan Pertumbuhan Ekonomi
Pemerintahan Prabowo Menuju Target Pertumbuhan Ekonomi 8%
Presiden terpilih Prabowo Subianto mematok target pertumbuhan ekonomi tinggi, yakni sebesar 8% per tahun, melampaui rata-rata 10 tahun terakhir sekitar 5%. Pemerintah sudah menyiapkan strategi untuk mewujudkan target tersebut. Strategi ini antara lain mengoptimalkan investasi berkelanjutan, lalu melibatkan swasta di proyek mercusuar, menciptakan kemandirian energi dan pangan, serta menggenjot inovasi teknologi untuk mencegah korupsi. Secara historia, Indonesia pernah mencapai pertumbuhan ekonomi 8%, yakni pada 1977, 1980, 1981, dan 1995.
Artinya target itu bukan mustahil tercapai, kendati perlu upaya keras. Itu sebabnya, ekonom menyarankan pemerintah menjaga daya beli kelas menengah karena mereka penggerak pertumbuhan ekonomi dengan cara pemberian subsidi, fasilitas kesehatan, dan pendidikan hingga penundaan kenaikan pajak. Lalu, pemerintah bisa mendorong pertumbuhan usaha dengan pemberian insentif dan kredit khususnya pada industri padat karya. Investasi juga harus dipacu habis-habisan hingga mencapai 53% dari PDB atau setara Rp 11 ribu triliun. Jumlah itu jauh diatas target 2024 sebesar Rp1.600 rupiah. (Yetede)
Kolaborasi inklusif Pemerintah-Swasta Menentukan Kecepatan dan Kualitas Pertumbuhan Ekonomi
Perdamaian dan Stabilitas Menjadi Kunci Pertumbuhan RI
Jaga Pertumbuhan Pasar Dalam Negeri Kita
Indonesia dengan pasar pertumbuhan yang besar dan dengan jumlah penduduk terbesar ke-4 di dunia, yaitu 280 juta jiwa harus bisa melindungi pasar domestik dan juga harus mempu memasarkan produk nasional. Pernyataan tersebut disampaikan Presiden Jokowi saat memberikan sambutan pada pembukaan Trade Expo Indonesia Ke-39 Tahun 2024 di ICE BSD, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (9/10/2024). Dia mengatakan, banyak negara saat ini mulai khawatir soal over produksi di China. Banyak negara yang bersiap melindung pasar domestiknya dan masuknya produk impor dari China yang masif dengan harga yang jauh lebih murah.
"Saat banyak negara melakukan restriki perang dagang menurut saya di situ ada peluang. Disaat benyak negara mengalami inflasi tinggi menurut saya, di situ juga ada peluang," kata Jokowi. Untuk itu, Presiden meminta agar pemasaran produk-produk dalam negeri jangan dilakukan dengan cara konvensional, karena saat ini sudah masuk era digital. "Pemasaran juga jangan dengan cara-cara konvensional, sekarang sudah eranya digital. Kita harus masuk secara masif ke arah sana untuk memasarkan produk-produk negara kita Indonesia," kata dia. (Yetede)
Produksitivitas di Indonesia Belum Meningkat
Kebijakan hilirisasi oleh Presiden Jokowi harus terus ditingkatkan produktivitasnya agar dapat mencapai visi Indonesia Emas 2045. Dengan meningkatkan produktivitas maka Indonesia bisa meningkatkan juga pendapatan. Dalam kebanyakan teori mainstream, berbicara tentang alokasi sumber daya, bagaimana cara mengefisiensikan alokasi sumber daya. Hal ini diungkapkan Profesor and Dean of the Institute of New Structural Economics, Peking University/Deputy Director, Economic Committee of the Chinese People’s Political Consultative Conference, Justin Yifu Lin dalam sesi diskusi “Indonesia & The Global Economic Order,” dalam acara BNI Investor Daily Summit 2024, bertajuk “Accelerating Resselient Growth” di Jakarta Convention Center (JJC), pada Selasa (08/10/2024).
Prof Justin
mengatakan jika melihat negara-negara yang sukses, yang paling penting adalah
bagaimana meningkatkan pertumbuhan produktivitas setiap saat. “Dan jika Anda ingin meningkatkan
produktivitas maka Anda harus mengikuti
satu prinsip dalam cara pertumbuhan.
Anda harus mengikuti keunggulan
kompetitif Anda. Tentukan apa yang menjadi keunggulan pabrik Anda, apa yang
Anda miliki saat ini, dan cari tahu apa yang bisa Anda lakukan dengan baik
berdasarkan apa yang Anda miliki. Itulah, keunggulan kompetitif Anda. Ini
adalah pinsip yang sangat umum,” ujar Prof Justin. (Yetede)
Deflasi Akan Membahayakan Perekonomian Kita
Ekonomi Indonesia Diperkirakan Tumbuh Cepat
Jakarta Bikin Cetak Biru untuk Kejar Target Kota Global
Kajian tersebut dilakukan organisasi perangkat daerah, badan usaha milik daerah, dan melibatkan partisipasi kementerian/lembaga, organisasi non-pemerintah, akademisi, dan asosiasi profesi. Mereka bekerja dalam
Inovasi dan Ekspansi Kunci Pertumbuhan
Penurunan suku bunga acuan memberikan efek positif terhadap prospek PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL). Pelonggaran moneter itu bakal memberikan ruang ekspansi yang lebih lebar bagi MTEL. Apalagi manajemen emiten yang juga disebut Mitratel ini telah menyatakan, fokus di semester II ini memonetisasi alat produksi dan memperkuat bisnis di ekosistem menara. Ini guna memastikan pertumbuhan sehat, serta agresif dalam pengembangan portofolio baru di ekosistem menara. Kepala Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas mengatakan, ekspansi dan inovasi yang dilakukan MTEL memberikan peluang untuk memperluas jaringan secara efektif. Namun ekspansi MTEL baru dapat memberikan dampak pertumbuhan pendapatan dalam jangka panjang. Di awal MTEL masih membutuhkan pendanaan cukup besar. Meski begitu, Sukarno melihat saat ini rasio utang MTEL tidak begitu besar dan peluang meningkatkan utang untuk ekspansi masih memungkinkan. Ditambah, penurunan suku bunga menjadi pendorong tambahan untuk prospek MTEL. Analis Sinarmas Sekuritas, Yosua Zisokhi memaparkan, MTEL memiliki debt to equity ratio (DER) sebesar 0,4 kali pada semester I 2024, jauh lebih rendah dari rata-rata industri sebesar 2,4 kali.
Rasio utang bersih terhadap EBITDA sebesar 1,8 kali dibandingkan dengan rata-rata industri sebesar 4,6 kali.
Penurunan suku bunga juga diperkirakan akan berdampak positif terhadap laba bersih MTEL. "Perubahan 100 basis poin pada tingkat suku bunga efektif di tahun 2025 dapat mengakibatkan penyesuaian laba bersih sebesar 4,6% dibandingkan dengan proyeksi awal kami, dengan asumsi sekitar 50,5% dari total utang MTEL memiliki tingkat suku bunga tetap," jelas Yosua.
Selain itu, MTEL terus mengembangkan bisnis fiber to the tower (FTTT) sebagai salah satu penopang pertumbuhan pendapatan. Pada semester I 2024, MTEL memiliki 37.600 kilometer (km) kabel serat optik, atau tumbuh 15,6% sejak awal tahun. Ini masih berpotensi tumbuh lebih lanjut di tengah tingginya permintaan dari operator telekomunikasi untuk pengembangan jaringan.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Nico Margaronis memproyeksi, pertumbuhan pendapatan organik MTEL sebesar 7% yoy pada 2024. Pendorongnya, kontribusi yang kuat dari proyek-proyek Telkom, Telkomsel, penyewaan ISAT dan FTTT.
Pilihan Editor
-
ANCAMAN KRISIS : RI Pacu Diversifikasi Pangan
10 Aug 2022









