Internasional
( 1384 )Pasar Beras Dunia Makin Gerah
Ancaman berkurangnya sumber air di Thailand dan banjir yang melanda persawahan di China berpotensi menurunkan pasokan beras dunia yang sedang tertekan. Indonesia perlu mewaspadai situasi tersebut lantaran saat ini mengimpor beras paling banyak dari Thailand. Impor beras pun direalisasikan di tengah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Laporan Bloomberg, awal Agustus 2023, pemerintah Thailand mengimbau petani mengurangi lahan tanam padi untuk mengonversi sumber daya air yang terancam merosot akibat El Nino.
Langkah ini berimbas pada pasokan pasar beras dunia lantaran Thailand, negara eksportir beras terbesar kedua setelah India, membatasi ekspornya. Di sisi lain, Thailand menjadi negara utama sumber beras berkode HS 10063099 yang diimpor Perum Bulog. Plt Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyebutkan, volume impor beras dengan kode HS 10063099 sepanjang Januari-Juli 2023 mencapai 1,17 juta ton. ”Sebanyak 50,56 % di antaranya dari Thailand,” katanya saat konferensi pers, Selasa (15/8). (Yoga)Capaian Korea Selatan Menggapai Bulan
Sherly Sandra, 28 tahun, bersama lima temannya, memutuskan untuk menonton film pada Jumat sore lalu. Mereka memilih bioskop di salah satu pusat belanja di Jakarta Pusat. Bagi Sherly, menonton film pada akhir pekan merupakan kegiatan lazim bersama teman-temannya. Tapi kali ini acara nonton bareng itu terasa berbeda. Musababnya, mereka akan menonton film bikinan Korea Selatan berjudul The Moon.
Hal yang membuat Sherly deg-degan adalah menonton Doh Kyung-soo alias D.O. yang menjadi pemeran utama The Moon. D.O. adalah salah satu idola boy band kondang Korea Selatan, EXO. "Enggak sabar pengin lihat D.O. pakai baju luar angkasa," kata perempuan yang bekerja sebagai pegawai swasta itu kepada Tempo.Ya, Sherly adalah penggemar EXO dan D.O.-lah yang paling ia sukai. Faktanya, selain lihai bernyanyi dan menari, aktor berusia 30 tahun itu memang punya kemampuan adu peran yang ciamik.
Sebelum beradu akting di The Moon, D.O. bermain di film Korea Selatan nan populer Along with the Gods: The Two Worlds (2017) dan Along with the Gods: The Last 49 Days (2018). Sebagai fan berat, sudah pasti Sherly hafal cerita kedua film tersebut. "Aktingnya bagus banget," ujar dia. Adapun The Moon bercerita tentang upaya Korea Selatan mengirim astronaut ke bulan. Percobaan pertama dilakukan dengan mengirim tiga astronaut. Namun ikhtiar itu gagal lantaran pesawat yang dipakai untuk melesat sampai ke bulan meledak. Tiga astronaut terbaik Negeri Ginseng itu pun gugur. Lima tahun kemudian, percobaan kedua dilakukan. Hwang Sun-woo, yang diperankan D.O., menjadi satu dari tiga astronaut gelombang kedua. (Yetede)
Generasi Pandemi Tak Mudah Masuk Dunia Kerja
Sistem pembelajaran jarak jauh yang berlangsung 2-3 tahun ketika dunia menghadapi pandemi Covid-19 kini ”memakan korban”. Banyak generasi Z, lahir selama periode 1997-2012, yang lulus sekolah menengah dan perguruan tinggi pada 2023 kesulitan mendapatkan pekerjaan. Di mata perusahaan atau penyedia lapangan kerja, generasi Z kurang punya keterampilan dasar. Perusahaan juga menilai banyak Gen Z kurang memiliki keterampilan nonteknis atau soft skill seperti etika kerja serta keterampilan komunikasi. Guna mengisi kekurangan itu, perusahaan harus memberikan tambahan keterampilan di tempat kerja yang makan waktu dan biaya yang tak sedikit. Oleh karena itu, banyak perusahaan tak mau repot alias hanya mau menerima tenaga kerja berpengalaman dan siap kerja saja.
Persoalan tidak siap kerja itu dituturkan Roman Devengenzo, insinyur teknologi di NASA, dan Google. Pada saat memberikan konsultasi untuk perusahaan robotika di Silicon Valley, California, Oktober 2022, ia meminta seorang insinyur mesin berusia muda yang baru direkrut untuk merancang produk kecil dari aluminium yang bisa dibuat dengan mesin bubut. ”Bagaimana caranya,” Tanya anak muda itu. Mendengar respons itu, Devengenzo tidak habis pikir. Sebab, penggunaan mesin bubut termasuk keterampilan dasar yang biasanya sudah dikuasai pada tahun pertama atau kedua kuliah teknik mesin. ”Belajar harus sambil praktik. Ketika pandemi, anak-anak ini hanya belajar di depan komputer dan itu tidak cukup,” cerita Devengenzo kepada harian The Wall Street Journal, 2Agustus 2023. (Yoga)
Berebut Beras di Pasar yang ”Kurus”
Indeks harga beras global Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) pada Juli 2023 mencapai 129,7 poin, naik 2,8 % secara bulanan dan naik 19,7 % dari level tahun lalu. Angka indeks itu tercatat sebagai yang tertinggi sejak September 2011. Kekhawatiran atas potensi dampak El Nino pada produksi beras di beberapa negara produsen serta larangan ekspor beras putih indica oleh India turut mendorong kenaikan indeks tersebut. Awal Agustus 2023, harga beras di bursa Chicago Board of Trade naik menuju 16 USD per hitungan berat (CWT) atau mendekati level tertinggi dua bulan di posisi 16,2 USD per CWT pada 24 Juli, di tengah permintaan yang kuat dan meningkatnya kekhawatiran atas pasokan global. kombinasi penurunan produksi di Thailand (pengekspor beras terbesar kedua di dunia), larangan ekspor beras putih non-basmati oleh India, serta kemunduran kesepakatan Butir Laut Hitam menumpuk kekhawatiran pelaku pasar. Gejolak harga serta gangguan pasokan akan memengaruhi ketahanan pangan, khususnya di negara-negara termiskin yang bergantung pada beras impor.
Rencana pemerintah melalui Perum Bulog mengimpor 2 juta ton beras guna memperkuat cadangan pangan tahun ini bisa tergangg kenaikan harga di pasar internasional. Indonesia mesti berebut dengan negara-negara pengimpor lain. Persaingan makin sengit karena kredo ”biarkan tetanggamu kelaparan” bisa terjadi dalam situasi krisis. Negara-negara produsen akan lebih dulu mengutamakan kepentingan di dalam negerinya. Padahal, pasar beras merupakan pasar yang ”kurus”. Sejumlah lembaga memperkirakan hanya 5-7 % dari seluruh produksi padi dunia yang diperdagangkan lintas negara. Ironisnya, hanya beberapa negara yang menguasai 80 % ekspor beras dunia, yakni Thailand, Vietnam, India, Pakistan, dan AS. Potensi turunnya produksi di tengah konsumsi yang cenderung naik dan gejolak di pasar global menambah tantangan bagi pemerintah dalam mengelola pangan. Oleh karena itu, selain mengoptimalkan pengadaan untuk memperkokoh cadangan pangan pemerintah (CPP), baik melalui impor maupun produksi dalam negeri, hal lain yang tak kalah penting adalah membantu petani mengatasi problem-problem mereka di hulu. (Yoga)
Untung-Rugi RI Masuk OECD
Saat ini, OECD beranggotakan 38 negara yang mayoritas berstatus negara berpendapatan tinggi dengan rata-rata Pendapatan nasional bruto (PNB) per kapita 44.886 USD pada 2022. Hanya dua anggota dengan status negara berpendapatan menengah-atas, yaitu Kolombia (PNB per kapita 6.630,3 USD) dan Kosta Rika (PNB per kapita 13.198 USD). PNB per kapita Indonesia pada 2022 adalah 4.580 USD, membuat RI kembali naik status sebagai negara berpendapatan menengah atas. Jika disetujui menjadi anggota OECD, Indonesia akan menjadi negara Asia Tenggara pertama dan negara Asia ketiga yang bergabung di organisasi yang sering disebut sebagai ”klub negara maju” itu. Akhir-akhir ini, proses lobi untuk menjadi anggota OECD semakin intens dilakukan.
Pada Kamis (10/8) Sekjen OECD Mathias Cormann berkunjung ke Indonesia untuk bertemu Presiden Jokowi, Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, dan Menkeu Sri Mulyani, secara terpisah. Seusai bertemu Cormann di Kemenko Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan, keanggotaan OECD dapat mempercepat upaya Indonesia keluar dari perangkap negara berpendapatan menengah dan menjadi negara berpendapatan tinggi. Sebab, setiap negara anggota OECD akan didorong melakukan reformasi serta menerapkan standar kebijakan dan regulasi tertentu untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih berkualitas. Peluang investasi dan kerja sama perdagangan juga otomatis terbuka lebih lebar.
Direktur Eksekutif Center for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri mengatakan, meski banyak manfaat yang bisa didapat, ada implikasi ”biaya” yang perlu dicermati. Dengan menjadi anggota OECD, Indonesia bisa menaikkan reputasi di mata dunia dan menarik lebih banyak investasi dari negara maju. Indonesia juga akan terdorong mereformasi kebijakan sesuai dengan standar internasional. Di sisi lain, implikasi ”biaya” yang perlu ditanggung, antara lain, tanggung jawab lebih untuk membantu negara miskin dan berkembang. (Yoga)
Cegah TPPO Butuh Peran Sektor Bisnis
Pencegahan tindak pidana perdagangan orang atau TPPO membutuhkan peran sektor bisnis. Selain mesti menjamin seluruh rantai pasok mereka bebas dari eksploitasi manusia, pengusaha dengan sumber dayanya juga dapat turut membantu pencegahan bersama pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya, termasuk yang berkaitan dengan pemanfaatan teknologi. Pelaku perdagangan orang kian inovatif memanfaatkan kemajuan teknologi, salah satunya menjebak korban terlibat penipuan daring. Modus itu sedang marak di Asia Tenggara. ”Keuntungan tak boleh didapat dengan mengorbankan hak asasi dan martabat manusia,” kata Menlu Retno LP Marsudi dalam Government and Business Forum (GABF) Tech Forum 2023, Kamis (10/8) di Denpasar, Bali.
GABF merupakan kolaborasi pemerintah dengan pengusaha dari negara anggota Bali Process. Bali Process on People Smuggling, Trafficking in Persons and Related Transnational Crime, merupakan forum kerja sama untuk membahas isu perdagangan orang, penyelundupan manusia, dan kejahatan terkait lainnya di kawasan. Pemerintah RI dan Australia menginisiasi Bali Process pada 2002. Forum itu kini memiliki 49 anggota, terdiri dari 44 negara dan sejumlah organisasi internasional. Mulai 2017 pelaku usaha turut dilibatkan dalam GABF. Ketua bersama dari pemerintahan adalah Menlu RI dan Menlu Australia. Adapun ketua bersama dari pebisnis adalah pengusaha Garibaldi Thohir dan pengusaha Australia, Andrew Forrest. Retno menyebutkan, Pemerintah RI sudah menangani lebih dari 2.800 kasus warga negara Indonesia yang terjebak jaringan penipuan daring. ”Hampir 40 persennya korban perdagangan manusia,” ujarnya.
Karena pelaku memanfaatkan teknologi untuk merekrut dan mengeksploitasi korban, teknologi mesti digunakan pula untuk pencegahan. Retno meminta entitas bisnis bidang teknologi membantu menangkal iklan pekerjaan fiktif di dunia maya yang mengarahkan calon korban ke aktivitas penipuan daring, mendorong kewaspadaan warganet dalam menggunakan media sosial, serta mengadakan pelatihan untuk meningkatkan kapasitas berbasis teknologi. Bisnis juga bisa berkontribusi dalam penanganan saat ada kasus. Caranya, kata Retno, dengan memberikan akses ke pelantar (platform) teknologi bagi aparat penegak hukum yang sedang menangani kasus penipuan daring beserta TPPO. (Yoga)
Berakhir Sudah Masa Kejayaan WFH
Zoom yang berbasis di San Jose, California, AS itu tumbuh eksplosif selama tahun pertama pandemic ketika banyak perusahaan bergegas beralih ke WFH atau bekerja dari jarak jauh. Keluarga dan teman bahkan beralih ke platform ini untuk bertemu ramai-ramai secara virtual sebagai obat rindu. Saham Zoom Video Communications Inc melonjak 15 kali lipat dari harga penawaran umum perdana setahun sebelum pandemi. Nilai pasar sahamnya mencapai 140 miliar USD dan membuatnya unggul di sektor teknologi saat krisis Covid-19. Pertumbuhan Zoom kemudian mandek karena ancaman pandemi surut. Masa-masa kejayaan work from home (WFH) atau bekerja dari rumah itu harus berakhir. Sahamnya anjlok dari 559 USD pada Oktober 2020 menjadi di bawah 70 USD pada Selasa (8/8).
Saham merosot lebih dari 10 % pada Agustus. Pada Februari lalu, Zoom sudah memutus hubungan kerja terhadap sekitar 1.300 orang atau 15 persen dari total jumlah tenaga kerjanya. Zoom memiliki 8.000 karyawan di 12 kantor di seluruh dunia. Sahamnya jatuh karena banyak pelanggannya yang mulai memanggil karyawannya untuk kembali bekerja di kantor. ”Membiarkan karyawan bekerja di mana saja sudah menjadi tren. Sulit memaksa karyawan untuk kembali. Saya kira bekerja secara campuran akan menciptakan peluang bisnis baru bagi perusahaan,” kata CEO Zoom Eric Yuan. Perusahaan teknologi lain seperti Google, Salesforce, dan Amazon juga sudah menerapkan kebijakan kembali bekerja di kantor meski ada karyawan yang tidak setuju karena waktu dan uang yang terbuang ketika mereka harus ke kantor. (Yoga)
Gen Z, Kecil-kecil Jadi Bos
Generasi Z, angkatan yang lahir pada periode pertengahan 1990-an hingga pertengahan 2010-an, menempati 26 % populasi masyarakat global. Sebagian di antaranya sudah lulus sekolah dan memasuki dunia kerja. Bahkan, sebagian telah menjadi pemimpin di perusahaannya sendiri atau menduduki posisi puncak di perusahaan orang lain. Mc Kinsey, pada Juni 2023, menerbitkan laporan, sepertiga dari 500 perusahaan terbesar di AS memiliki direktur utama berusia di bawah 50 tahun. Bahkan, sejumlah perusahaan memiliki direktur berusia di bawah 30 tahun yang bukan anak ataupun cucu dari pendiri perusahaan.
Celia Huber, mitra senior di McKinsey, menjelaskan, fenomena ini menunjukkan bahwa kepercayaan perusahaan yang sudah mapan terhadap Generasi Z besar, selama individu tersebut menunjukkan kualitas kepemimpinan yang diperlukan untuk mengelola korporasi itu. ”Memang Gen Z ini kurang berpengalaman dalam menghadapi siklus ekonomi. Tetapi, di sisi lain, banyak perusahaan justru melihat ini sebagai kelebihan karena menghadirkan sudut pandang yang segar,” ujarnya. Menurut Huber, 300 pemimpin perusahaan yang diwawancara McKinsey mengatakan, hal terpenting dari karakteristik pemimpin ialah mampu beradaptasi dengan segala ketidakpastian, mampu mengelola lingkungan dan emosi pekerja, juga penguasaan atau setidaknya pemahaman perkembangan teknologi digital. (Yoga)
Perancis Ingin Akses ke China Diperbesar
Perancis menginginkan akses yang lebih besar bagi perusahaan Perancis untuk masuk ke pasar China. Selain itu, Paris juga menginginkan hubungan perdagangan yang lebih seimbang. Perancis tidak ingin memisahkan diri dari China, tetapi hanya menghilangkan risiko adanya ”paksaan ekonomi” China seperti yang disebut oleh negara-negara yang tergabung dalam Kelompok Tujuh atau G7. Hal ini dikemukakan Menteri Ekonomi, Keuangan, dan Kedaulatan Digital Perancis Bruno Le Maire setelah bertemu dengan para pejabat tinggi China di Beijing, China, Minggu (30/7). ”Menolak bukan berarti menganggap China berisiko. Kami hanya ingin lebih mandiri dan tidak ingin menghadapi risiko apa pun dalam rantai pasok kami jika terjadi krisis baru lagi, seperti pandemi Covid-19 yang benar-benar menghancurkan rantai pasok. Kami tidak ingin ada rintangan legislatif atau hambatan lain untuk mendapat akses ke pasar China,” kata Le Maire, sehari setelah bertemu dengan Wakil PM China He Lifeng.
China merupakan mitra dagang terbesar ketiga Perancis. Akan tetapi, perusahaan Perancis khawatir mereka akan terjebak di tengah-tengah persaingan antara China dan AS. Le Maire tiba di Beijing hanya dua hari setelah Presiden Perancis Emmanuel Macron mengecam adanya ”imperialisme baru” di kawasan Pasifik. Pada pertemuan Perancis-China, Sabtu (29/7), Wakil PM China He Lifeng menyatakan China berharap Perancis bisa menstabilkan hubungan Uni Eropa dan China, merujuk Uni Eropa yang bulan lalu menyetujui tahap ke-11 sanksi terhadap Rusia yang dapat memukul perusahaan China. Kantor berita China, Xinhua, menyebutkan China bersedia memperdalam kerja sama dengan Perancis dalam berbagai bidang. China pun siap memperkuat komunikasi kebijakan dengan Perancis, memperdalam kerja sama praktis, meningkatkan koordinasi dalam urusan internasional dan multilateral, dan mendorong kemitraan strategis komprehensif China-Perancis ke tingkat yang lebih tinggi. (Yoga)
Pilihan ”Anak Purnawaktu” di China
Lelah dengan pekerjaannya sebagai fotografer, Litsky Li (21) memutuskan berhenti bekerja, lalu pulang ke rumah orangtua dan ”bekerja” menjadi ”full-time children” atau ”anak purnawaktu”. Banyak anak muda di China yang menggeluti ”pekerjaan” ini. Bukan hanya karena ketidakpuasan pada pekerjaan atau kehidupan mereka, melainkan semata-mata karena tak kunjung mendapatkan pekerjaan. Nancy Chen (24), bekerja kepada orangtuanya setelah lamarannya ke instansi pemerintah provinsi tak juga tembus. Maklum, ia harus bersaing dengan 30.000 pelamar untuk tiga lowongan pekerjaan saja. Jika Li dan Chen bekerja dan dibayar orangtua mereka, Julie (29) justru tak mau dibayar. Ini jenis anak muda zaman sekarang yang berbeda lagi. Ia mau bekerja sebagai anak purnawaktu setelah merasa capek bekerja 16 jam setiap hari sebagai pengembang gim. Dengan pekerjaan sebelumnya itu, ia merasa hidupnya seperti zombi. Ia ingin istirahat sejenak dan hidup nyaman bersama orangtua.
Anak purnawaktu menjadi tren pekerjaan baru di kalangan anak muda China yang menganggur. Anak-anak berusia dewasa dipekerjakan orangtua mereka untuk melakukan pekerjaan rumah tangga, merawat keluarga, atau menemani orangtua melakukan apa saja secara purnawaktu (full-time). Li kini menghabiskan hari-harinya dengan berbelanja bahan makanan untuk keluarganya di kota Luoyang, Provinsi Henan, China tengah, dan merawat neneknya yang menderita demensia. Orangtua Li memberinya gaji 6.000 yuan (atau Rp 12,6 juta) per bulan, yang sudah masuk upah kelas menengah yang lumayan besar di daerahnya. ”Saya pilih bekerja di rumah karena tidak tahan dengan tekanan harus sekolah atau kerja. Saya tidak mau bersaing terus dengan orang lain.
Lebih baik hidup lebih santai (tangping atau lying flat) saja. Toh, saya tidak butuh pekerjaan dengan gaji tinggi atau kehidupan yang lebih baik,” kata Li, lulusan SMA, seperti dilaporkan CNN, Rabu (26/7). Tangping atau lying flat adalah frasa populer yang mengacu pada hidup lebih santai, simpel, dan tanpa harapan muluk-muluk. Fenomena ini muncul pertama kali di platform media sosial popular di China, Douban, pada akhir tahun lalu. Sebagian besar dari puluhan ribu anak muda di medsos itu mengaku tinggal kembali bersama orangtua karena tidak bisa mendapatkan pekerjaan. Di Douban, sekitar 4.000 orang mendiskusikan topik berkaitan dengan ”pekerjaan” sehari-hari sebagai ”anak purnawaktu”. Tren ini menyebar ke platform medsos lain, seperti Xiaohongshu, platform berbagi gaya hidup paling populer di kalangan anak muda China. Hingga kini ada 40.000 unggahan bertagar #FullTime-Children. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Waspada, Virus Corona Mengancam Pariwisata
24 Jan 2020 -
Anggaran : Dana Rp 186 Triliun Mengendap
23 Jan 2020 -
Elite Davos Diminta Serius Atasi Kesenjangan
22 Jan 2020









