Internasional
( 1384 )Bermimpi Punya Lahan Pertanian Abadi
Indonesia tengah berupaya memperluas
lahan pertanian pangan berkelanjutan yang tidak boleh dialih fungsikan. Namun,
lebih dari 60 % luas lahan pertanian tengah ”sakit”. Regulasi terkait lahan itu
pun tak benar-benar mampu melindungi keabadiannya, seakan hanya mimpi, Pada 18
Maret 2025, pemerintah memutuskan 87 % lahan baku sawah (LBS) di Indonesia
menjadi lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B) yang tidak boleh dialih
fungsikan. Hal itu merupakan salah satu keputusan rakor Kemenko Bidang Pangan
berdasarkan usulan Bappenas.
BPS serta Kementerian ATR/BPN menunjukkan,
luas LBS yang pernah mencapai 8,1 juta-8,2 juta hektar pada 2015-2017 justru
susut menjadi 7,1 juta hektar pada 2018. Kemudian, pada 2019, luas LBS itu
sedikit bertambah menjadi 7,46 juta hektar. Namun, pada 2024, luas lahan yang
dijadikan dasar kerangka sampel area padi tersebut justru berkurang menjadi
7,38 juta hektar. Dengan luasan LBS itu dan kebijakan 87 % LBS menjadi LP2B, Indonesia
bakal memiliki 6,42 juta hektar LP2B ke depan. Mimpi memiliki LP2B yang benar-benar
abadi dan berkelanjutan itu bisa tercapai, asal ada kemauan politik yang kuat
untuk menyejahterakan bangsa dengan ketahanan pangan. (Yoga)
Sarjana Jadi Sopir dan PRT akibat Badai PHK
Dunia kerja semakin menantang.
Angkatan kerja terus bertambah, tetapi lowongan kerja terbatas dengan syarat
ketat. Situasi bertambah rumit akibat badai PHK. Tak heran, sebagian pekerja
kerah putih harus banting setir ke kerah biru demi bertahan hidup. Seorang
pengguna media sosial X (dulu Twitter) mencurahkan kesedihannya dalam cuitan, beberapa
lulusan sarjana yang terkena PHK atau kontraknya tidak diperpanjang melamar pekerjaan
sebagai pekerja rumah tangga (PRT) di kawasan Bumi Serpong Damai (BSD), Tangsel,
Banten. Fenomena itu sejatinya dekat dengan keseharian warga Jabodetabek kini.
Selain PRT, banyak sarjana kini juga banting setir menjadi petugas kebersihan, pekerja
proyek, dan pekerjaan ”kerah biru” lainnya agar dapur tetap mengepul.
Secara umum, pekerjaan ”kerah biru”
hanya membutuhkan syarat pendidikan setara maksimal SMA. Sementara pekerjaan
”kerah putih” merujuk pada sarjana atau jenjang lebih tinggi dan mereka yang
memiliki keahlian tertentu (Kompas,2Juni 2024). Pergeseran pekerjaan dari ”kerah
putih” ke ”kerah biru” dialami Purnawati
(42). Lulusan diploma akuntansi ini menjadi babysitter (pengasuh anak) sejak
pandemi Covid-19. ”Sebelumnya kerja kantoran. Terus berhenti dan jadi ibu rumah
tangga, tetapi terbentur ekonomi, makanya jadi babysitter,” kata Purnawati,
Rabu (19/3). Gajinya sebagai pengasuh anak mendekati UMR Jakarta Rp 5,39 juta. Purnawati
adalah salah satu pekerja yang disalurkan PT Kasih Ibu Sejati Mulia di Mampang
Prapatan, Jaksel.
Sepanjang 2025 saja sudah ada lima
pekerja ”kerah biru” yang seharusnya bisa masuk lapangan kerja ”kerah putih.” Namun,
ketiadaan lapangan kerja dan ketatnya persaingan membuat mereka ”terlempar” ke
pekerjaan ”kerah biru”. Lima orang yang telah disalurkan PT Kasih Ibu Sejati Mulia
itu ialah 1 sopir lulusan sarjana, 1 PRT berijazah diploma, 3 pengasuh anak
lulusan diploma, dan 1 tenaga administrasi lulusan diploma. ”Setahun ke
belakang jumlah pelamar bertambah (lulusan diploma dan sarjana). Tiga bulan
terakhir ini banyak lulusan keperawatan dan guru yang tidak lagi melihat latar
belakang pendidikan sebelumnya,” tutur pengurus PT Kasih Ibu Sejati Mulia, Diki
Hermawan. (Yoga)
Terancamnya Tanaman Pangan Global
Perubahan iklim dan kenaikan suhu bumi
memengaruhi berbagai aspek penting kehidupan, termasuk pangan. Hasil penelitian
terbaru menemukan, produksi tanaman pangan global berpotensi turun tajam jika suhu
bumi meningkat hingga lebih dari 1,5 derajat celsius. Perubahan iklim, terutama
fenomena El Nino, juga berdampak signifikan pada produksi beras di Indonesia.
Perubahan iklim menyebabkan kemunduran musim tanam, kekeringan, dan potensi
gagal panen. Sebagai negara yang masih mengandalkan beras sebagai makanan
pokok, kondisi ini akan mengancam ketahanan pangan di Indonesia.
Kondisi serupa tidak hanya dialami di
Indonesia, tetapi juga negara lain meskipun makanan pokok mereka bukanlah
beras. Sebab, dampak dari perubahan iklim dan kenaikan suhu juga mengancam
sejumlah tanaman pangan yang menjadi makanan pokok dari negara tersebut. Dalam
studi yang diterbitkan di jurnal Nature Food pada 4 Maret 2025 ini disebutkan,
setengah dari produksi tanaman di wilayah lintang rendah (dekat khatulistiwa /
beriklim tropis) akan terancam karena kondisi iklim yang berubah. wilayah itu
juga akan mengalami penurunan besar dalam keanekaragaman tanaman pangan.
Sara Heikonen, peneliti yang memimpin
studi itu, menyampaikan, hilangnya keanekaragaman membuat jenis tanaman pangan
yang dibudidayakan dapat berkurang secara signifikan di daerah tertentu.
Kondisi ini akan berdampak terhadap ketahanan pangan dan menyulitkan masyarakat
dalam memperoleh sumber kalori dan protein. Peneliti memetakan, pemanasan
global akan sangat mengurangi jumlah lahan pertanian global untuk tanaman pokok
seperti beras, jagung, gandum, kentang, dan kedelai. Lima tanaman itu menyumbang
lebih dari dua pertiga asupan energi pangan dunia. (Yoga)
Usaha yang Pasti, Tanpa Pungli
Kepastian berusaha diawali saat mengurus
perizinan hingga produksi tanpa gangguan pungli dan premanisme. Tanpa
kepastian, investor enggan masuk Indonesia. Rencana bisa kacau saat perusahaan
mesti menghadapi ”biaya tak terduga” yang muncul karena ketidakpastian.
Misalnya, pengurusan izin yang tak kunjung beres tanpa kejelasan. Atau,
pemerasan dan perilaku premanisme yang menyedot sumber daya biaya dan energi
karena kegiatan produksi bisa tertunda atau terhenti. Kekacauan lain adalah
”biaya di bawah meja” atau ”biaya siluman”, seperti pungutan liar. Biaya tak
tercatat ini sulit diukur hasilnya, tetapi membebani usaha dan mengurangi biaya
produksi. Biaya-biaya tak terlihat ini, menurut salah seorang pengusaha, bisa
20 persen dari total perputaran dana per tahun (Kompas, 18/3/2025). Besar,
tetapi tak ada hasilnya alias lenyap begitu saja.
Padahal, jika digunakan untuk proses
produksi, dana tersebut bisa digunakan untuk kegiatan yang lebih produktif, diantaranya
untuk menambah mesin produksi, mempercepat proses produksi, menambah pekerja,
atau malahan untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja. Pada akhirnya akan membantu
meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Tak ada jalan lain selain membenahi
iklim bisnis di Indonesia. Tak perlu berdalih pelaku premanisme dan pungli itu
oknum. Tak perlu juga merasa jemawa dengan jumlah penduduk Indonesia yang 280
juta jiwa, yang menarik investor menjadikan Indonesia sebagai pasar. Pasar yang
besar tak akan jadi daya tarik karena tertutup bayang-bayang ketidakpastian
berusaha. Jika berbagai hambatan berinvestasi ini dibiarkan, lambat laun
investor akan enggan masuk ke Indonesia. Investasi macet. (Yoga)
Anak Muda Marah pada Korupsi
Marah pada korupsi yang menggurita di
negaranya, anak-anak muda Serbia tiada henti berunjuk rasa. Empat bulan
terakhir, Serbia diguncang unjuk rasa anak-anak muda. Unjuk rasa terbaru, terbesar
sejauh ini berlangsung pada Sabtu (15/3). Dilaporkan, 100.000 hingga 300.000
orang turun ke jalan, mulai dari ibu kota Belgrade hingga kota-kota kecil, menentang
korupsi masif di pemerintahan Serbia. Pemantik unjuk rasa besar-besaran di Serbia
adalah korupsi. Pemicunya, insiden ambruknya atap stasiun kereta di Novi Sad,
kota terbesar kedua, yang menewaskan 15 orang, November 2024, yang baru
direnovasi pada 2022, tetapi sudah ambruk dan menelan korban jiwa. Insiden itu
mengungkap adanya borok korupsi.
Setelah diguncang demonstrasi, aparat
hukum Serbia mengusut kasus stasiun Novi Sad. Sejumlah pejabat, termasuk PM
Milos Vucevic, Menhub dan Infrastruktur Tomislav Momirovi, serta penggantinya,
Milan Duric, mundur. Namun, di mata anak-anak muda pengunjuk rasa, harapan
mereka tak berhenti di situ. Mereka menginginkan perubahan menyeluruh, yang
bisa memupus kanker korupsi di Serbia. Sedemikian kuat gurita korupsi di
Serbia, segala perkara hingga urusan mencari pekerjaan tak lepas dari praktik
korupsi. Sangat bisa dimaklumi jika anak-anak muda di negara itu marah dan
menumpahkannya lewat serangkaian unjuk rasa.
Ivana, mahasiswa Universitas Novi Sad,
mengatakan, ”Ijazah saya tidak akan berguna selama korupsi dan kolusi mewabah.
Lapangan kerja terbuka bukan karena saya terampil. Saya bisa dapat kerja kalau
mau menyuap atau jadi kroni,” ujarnya (Kompas, 18/3/2025). Data Transparency
International memperlihatkan, Serbia menduduki peringkat ke-105 dari 180 negara
soal indeks persepsi korupsi. Hal ini diperburuk oleh catatan Freedom House
yang menempatkan Serbia sebagai negara dengan kebebasan terbatas dengan nilai 56 dari skala 0-100. (Yoga)
Persaingan Nike dan Adidas
Bagi sebagian orang, jika sudah menggunakan
Adidas, mereka enggan beralih ke Nike, begitu pula sebaliknya. Salah satunya
Fildaz Raeditya (33) yang selama 10 tahun setia menggunakan produk Adidas tanpa
pernah membeli merek lain. Dari berbagai produk yang pernah ia coba sebelumnya,
Adidas menjadi pilihan yang paling nyaman di kakinya, sesuai dengan selera, dan
memberikan rasa percaya diri yang lebih. ”Durability (daya tahan) Adidas luar
biasa. Total ada delapan pasang sepatu yang saya miliki. Dari yang termurah, Rp
300.000 untuk model Superstar, hingga yang termahal Rp 3 juta, yaitu Microacer,
favorit saya. Yang paling sering dipakai Adizero SL,” ujarnya, Selasa (18/3).
Menurut Didit, kesetiaannya pada
Adidas didasarkan pada konsep klasik yang ditawarkan merek tersebut. Selain
itu, beberapa seri Adidas juga menghadirkan sentuhan futuristik, bahkan menggabungkan
kedua konsep itu dalam satu desain. Yavi Diamanta. Hingga usia 30 tahun, tetap
setia pada Nike dan tak pernah beralih ke merek lain. ”Nike punya kampanye yang
luar biasa. Bold, well-crafted, dan erat dengan dunia atlet. Gue suka banget
atlet-atlet Nike. Cerita bagaimana Nike bisa merekrut Michael Jordan, misalnya,
itu gila banget. Belum lagi deretan sepatu ikonik Nike yang sudah menjadi
bagian dari kultur,” ujar Yavi. Menurut dia, model Air Jordan 1 adalah sepatu
yang tak lekang oleh waktu.
Dua koleksi lainnya yang menjadi
favoritnya adalah Nike Blazer Mid 77 dan Jordan 1 Purple Court. Dari kecil dia memang
suka dan merasa paling cocok dengan Nike, dan tidak tertarik membeli merek lain.
Persaingan merebut hati konsumen tak hanya terlihat dari cerita Yavi dan Didit.
Dua jenama, Nike dan Adidas, juga bersaing ketat berdasarkan sejumlah data.
Mengutip laporan Brand Finance, di sektor aparel atau fashion, kedua merek ini
masuk 10 besar merek dengan nilai tertinggi di dunia pada 2024. Nike, mencatat
nilai merek sebesar 29,873 miliar USD, menempati peringkat kedua. Posisi Nike
digeser Louis Vuitton dari Perancis yang kini berada di peringkat pertama
dengan nilai pasar 32,235 miliar USD.
Pada 2024, Adidas berada di peringkat
kedelapan dengan nilai pasar 14,448 miliar USD. Dengan kekuatan branding-nya
yang solid, kedua jenama ini juga mencatat pendapatan besar. Berdasarkan data
Statista yang dipublikasikan pada 14 Januari 2025, pendapatan Adidas mencapai 23,683
miliar euro pada 2024, meningkat dari tahun sebelumnya di 21,427 miliar euro.
Nike mencatat pendapatan 47,78 miliar euro pada 2024, naik dari 42,65 miliar
euro pada 2023. Pendapatan besar yang diraih Nike dan Adidas juga didukung oleh
luasnya jaringan toko ritel serta jumlah pekerja yang tersebar di seluruh
dunia. (Yoga)
Sulitnya Mendaftar Program Mudik Gratis
Kondisi ekonomi yang lesu membuat program mudik gratis bagi warga
Jakarta laris manis. Pemprov DKI Jakarta pun menambah 1.161 kuota mudik gratis
bagi warga yang ingin pulang ke kampung halaman, tapi warga khawatir tingginya
antusiasme membuat sebagian dari mereka tetap tidak mendapatkan kuota tersebut. Eny Faridah (31), warga Jakbar,
Selasa (18/3) mengatakan, bersiap untuk perang tiket (war ticket) mudik gratis yang
disediakan Pemprov DKI Jakarta pada gelombang dua, Rabu (19/3).Tanpa
menggunakan tiket mudik gratis, ia harus mengeluarkan ongkos Rp 3 juta untuk
dia, suami, dan anaknya, pergi pulang naik kereta api atau bus umum.
Nilai uang itu dua kali lipat dari THR yang keluarganya dapatkan. Padahal,
tahun lalu, ia baru kena PHK. Karena itulah, tiket mudik gratis sangat berharga
sekali baginya dan sekeluarga. Jika tidak mendapatkan tiket mudik gratis, Eny
mengatakan tidak akan pulang kampung pada Lebaran kali ini. Ia akan melewatkan Idul
Fitri tanpa berkumpul dengan keluarga besar. Perjuangan untuk mendapat tiket
mudik gratis sudah ia lakoni sejak gelombang pertama. Ia sudah bersiap seusai
sahur, tetapi apes bagi Eny, laman pendaftaran selalu gagal dibuka. Ia
kesulitan mengakses pendaftaran kuota mudik gratis itu.
”Tulisannya masih dalam antrean terus. Semoga saya bisa mengamankan
tiket gelombang kedua. Saya takut gagal lagi,” ujar Eny. Ada 1.161 kuota
penumpang tambahan pada gelombang ini dengan 27 unit bus yang disediakan.
”Dengan ini, total kuota mudik gratis pada gelombang pertama dan kedua
mengangkut sebanyak 23.564 penumpang,” kata Kadis Perhubungan Jakarta, Syafrin Liputo,
Selasa (18/3). Pendaftaran mudik gratis gelombang kedua dilakukan secara daring
melalui situs resmi mudikgratis.jakarta.go.id. (Yoga)
Hadirnya Pabrik Pemurnian Emas di Gresik Memperkuat Hilirisasi
Presiden Prabowo meresmikan pabrik pemurnian logam mulia atau precious
metal refinery PT Freeport Indonesia di Kawasan Ekonomi Khusus Gresik, Jatim,
Senin (17/3). Kehadiran pabrik dengan kapasitas produksi 50 ton emas per tahun
ini diharapkan menghasilkan devisa besar dan menciptakan lapangan kerja. Pabrik
ini terletak di kompleks smelter tembaga PTFI di Gresik. Dalam prosesnya,
lumpur anoda, salah satu produk sampingan dari pengolahan konsentrat tembaga,
dimurnikan menjadi emas, perak batangan, dan sejumlah logam dalam kelompok
platinum (platinum group metals). Smelter yang diresmikan pada 2024 itu
menghasilkan 6.000 ton lumpur anoda per tahun.
Dari total kapasitas produksi 50 ton emas per tahun pada 2025, pabrik
dengan nilai investasi sebesar 630 juta USD itu diperkirakan baru akan
menghasilkan 32 ton emas karena smelter tengah dalam perbaikan. Kontrak sudah
dilakukan PTFI dengan PT Antam Tbk yang bakal menyerap 30 ton emas pada tahun
ini. Prabowo mengatakan, Indonesia ialah negara yang memiliki cadangan emas
terbesar keenam di dunia. Karena itu, berbagai penyimpangan, termasuk
penambangan ilegal dan penyelundupan emas ke luar negeri, terus diberantas.
Sebaliknya, produksi emas yang dihasilkan dengan proses yang benar terus
didorong.
Pertambangan menjadi salah satu sektor strategis yang diperkuat dalam
hilirisasi, di samping sektor-sektor lain. ”Sektor-sektor penting ini
menghasilkan devisa yang besar dan menciptakan lapangan kerja yang sangat
besar. Sumber daya mesti dikelola dengan baik, tertib, good governance, transparansi,
serta akuntabilitas,” kata Prabowo. Melalui hilirisasi, termasuk di sektor
pertambangan, Indonesia menjadi negara yang tidak menjual bahan baku ke negara lain,
tetapi barang jadi. Artinya, produk akhir yang dihasilkan memiliki nilai tambah
besar. Industri-industri turunan pun diharapkan tumbuh sehingga semakin banyak
tercipta lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi meningkat. (Yoga)
Regulasi Dibutuhkan Untuk Penguatan Asuransi Syariah
Pengembangan industri asuransi syariah di Indonesia masih menghadapi
beberapa tantangan, baik dari sisi permintaan, penawaran, maupun ekosistem.
Oleh sebab itu, dukungan regulasi dibutuhkan, termasuk dalam aspek penguatan
permodalan dan peningkatan daya saing. Hal ini mengemuka dalam seminar bertajuk
”Penguatan Ekosistem dan Regulasi Ekonomi dan Keuangan Syariah Indonesia untuk
Memasuki Pasar Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD)” di
Jakarta, Senin (17/3). Acara tersebut diinisiasi oleh Pusat Ekonomi dan Bisnis
Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI (PEBS FEB UI).
Ketua PEBS FEB UI, Rahmatina A Kasri mengatakan, Indonesia telah menjadi
salah satu dari delapan kandidat OECD sejak Februari 2024. Namun, berbagai
indikator masih menunjukkan adanya pembatasan aspek keterbukaan pasar yang
dianggap tidak selaras dengan prinsip OECD. Restriksi perdagangan itu
menyangkut sektor asuransi, yang regulasinya cenderung lebih ketat dibanding
negara-negara lain. Di sisi lain, industri asuransi syariah memiliki peluang untuk
terus tumbuh ke depan mengingat porsi asetnya 0,39 % dari total aset industri asuransi
pada 2024, dengan pertumbuhan sebesar 5,13 % dibandingkan 2020.
”Dari hasil analisis kami, industri asuransi syariah memiliki potensi
pertumbuhan yang besar. Akan tetapi, keberlanjutan profitabilitas jangka panjang
sangat bergantung pada efisiensi dan strategi ekspansi, termasuk digitalisasi
untuk memperkuat daya saing serta meningkatkan literasi dan inklusi keuangan
syariah,” kata Rahmatina. PEBS UI merekomendasikan sejumlah kebijakan guna
memperkuat ekosistem asuransi syariah dalam menghadapi standar OECD, di
antaranya, penguatan diversifikasi produk asuransi syariah, peningkatan
kapasitas permodalan perusahaan asuransi syariah, peninjauan kembali regulasi
yang membatasi pertumbuhan industri ini, dan penguatan SDM di sektor asuransi
syariah. (Yoga)
Surplus Perdagangan dan Risiko di Baliknya
Neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus selama 58 bulan secara beruntun
atau nyaris lima tahun sejak Mei 2020 hingga Februari 2025. Terdapat tiga
komoditas SDA unggulan penopang kinerja ekspor pada Februari 2025, yakni produk
kelapa sawit dan turunannya, batubara, serta besi dan baja. Sayangnya, berlakunya
aturan penempatan 100 % devisa hasil ekspor (DHE) SDA ke dalam sistem keuangan
Indonesia per 1 Maret 2025 berpotensi mengganggu kinerja ekspor Indonesia.
Kebijakan ini membuat pengusaha terpaksa melakukan sejumlah efisiensi untuk
menjaga arus kas perusahaan. BPS melaporkan, neraca perdagangan mengalami
surplus 3,12 miliar USD (Rp 51,13 triliun) pada Februari 2025, dari surplus
sektor nonmigas sebesar 4,84 miliar USD (Rp 73,42 triliun).
Adapun sektor migas mencatatkan defisit senilai 1,72 miliar USD (Rp
28,19 triliun). Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, dalam konferensi
pers, Senin (17/3) menjelaskan, nilai ekspor Indonesia Februari 2025 tercatat
21,98 miliar USD atau meningkat 14,05
% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. ”Kenaikan nilai ekspor pada Februari
2025 secara tahunan didorong peningkatan ekspor nonmigas, terutama lemak dan
minyak hewani/nabati, komoditas logam mulia dan permata, serta komoditas besi
dan baja,” ujar Amalia. Terdapat tiga komoditas unggulan yang kerap jadi
penopang kinerja ekspor Indonesia, yakni CPO dan produk turunannya, batubara,
serta besi dan baja. Amalia menyebut ketiga komoditas tersebut berkontribusi
terhadap 30,48 % dari total ekspor nonmigas Indonesia pada Februari 2025.
Nilai produk ekspor CPO dan turunannya naik 89,54 % secara tahunan.
Sementara ekspor besi dan baja naik 19,52 persen secara tahunan. Baik produk
CPO dan turunannya, batubara, maupun besi dan baja diwajibkan untuk menempatkan
seluruh devisa hasil ekspornya (100 %)
ke dalam sistem keuangan Indonesia selama satu tahun guna memperkuat stabilitas
cadangan devisa negara dan mendukung ketahanan ekonomi sesuai PP No 36 Tahun
2023 tentang Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) yang telah
diperbarui melalui PP No 8/2025. Wakil Ketua Umum DPP Asosiasi Pemasok Energi,
Mineral, dan Batubara Indonesia Fathul Nugroho mengatakan, kebijakan DHE baru
yang diberlakukan pemerintah membuat pelaku usaha melakukan sejumlah penyesuaian
dan efisiensi dalam kegiatan operasional usaha.
”Contohnya hauling (proses pengangkutan) kami biasanya 100.000 per ton
per 100 km, sekarang bisa 100.000 ton per 120 km,” ujarnya. Fathul berharap
fasilitas penempatan DHE SDA ke dalam rekening khusus untuk konversi valas ke
rupiah (FX Swap) sudah matang agar pengusaha dapat menggunakannya untuk
kebutuhan operasional perusahaan. Di samping itu, ia pun menyarankan adanya
insentif PPh nol % atas bunga deposito DHE. ”Dengan adanya kelonggaran
tersebut, pelaku usaha bisa punya ruang untuk memastikan operasionalisasi
bisnis berjalan lancar tanpa hambatan finansial,” ucap Fathul. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Sesat Pikir Ganti Rugi Korupsi
31 Jan 2022 -
Bahaya Pencucian Uang dari NFT
30 Jan 2022 -
Awasi Distribusi Pupuk
31 Jan 2022









