;
Tags

Keuangan

( 1023 )

Perpres PCO Digugat, Istana Angkat Bicara

HR1 22 Apr 2025 Bisnis Indonesia
Istana Kepresidenan merespons adanya gugatan terhadap Peraturan Presiden (Perpres) pembentukan Kantor Komunikasi Presiden atau Presidential Communication Office (PCO) yang dinilai berpotensi tumpang tindih dengan tugas Kantor Staf Kepresidenan (KSP).

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyatakan belum menerima salinan resmi dari gugatan uji materiil yang dilayangkan ke Mahkamah Agung (MA) tersebut. 

Namun, dia menegaskan bahwa desain kelembagaan antara PCO dan KSP telah dirancang sejak awal agar tidak saling bertabrakan kewenangannya. 

“Saya belum terima kopian gugatan tersebut, tapi apapun nanti coba kita pelajari, tapi rasa-rasanya semangatnya sih bukan itu ya,” ujarnya di kompleks Istana Kepresidenan, Senin (21/4).

BI Siapkan Kolaborasi QRIS-AS

HR1 22 Apr 2025 Bisnis Indonesia
Tanggapan Amerika Serikat terhadap penerapan QRIS dan Gerbang Pembayaran Nasional (GPN) di Indonesia disikapi secara terbuka oleh Bank Indonesia. Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menegaskan bahwa Indonesia tidak membeda-bedakan negara mana pun untuk kerja sama sistem pembayaran, termasuk jika AS ingin bergabung dalam penggunaan QRIS atau BI-Fast. Ia juga menepis anggapan diskriminasi dengan menyebut bahwa Visa dan MasterCard—dua jaringan asal AS—masih mendominasi sistem pembayaran di Indonesia.

Meski USTR dalam laporannya menyatakan kekhawatiran atas potensi pembatasan sistem pembayaran AS, BI tetap melanjutkan perluasan kerja sama QRIS dengan berbagai negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan sejumlah negara ASEAN.

Di sisi lain, ekonom dalam negeri seperti Piter Abdullah Redjalam dan Achmad Nur Hidayat mendukung kuat keberlanjutan QRIS dan GPN demi menjaga kedaulatan dan memperkuat ekonomi digital Indonesia. Mereka menilai kritik dari AS sebagai hal yang wajar dalam konteks global, namun tidak boleh menjadi alasan untuk menghentikan agenda strategis nasional dalam penguatan sistem pembayaran.

Pertumbuhan Dana Valas Semakin Agresif

HR1 22 Apr 2025 Kontan
Di tengah tekanan nilai tukar rupiah, industri perbankan mencatat kenaikan signifikan Dana Pihak Ketiga (DPK) dalam bentuk valuta asing (valas). Berdasarkan data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), simpanan valas perbankan tumbuh 10,5% secara tahunan per Maret 2025, meningkat tajam dibanding bulan-bulan sebelumnya.

Bank CIMB Niaga, melalui Presiden Direktur Lani Darmawan, mencatat pertumbuhan DPK valas sebesar 12% secara tahunan, yang menurutnya disesuaikan dengan kebutuhan kredit valas agar likuiditas tetap terjaga.

Sementara itu, Bank Mandiri menunjukkan performa yang lebih kuat dengan peningkatan DPK valas sebesar 22% yang bersumber dari Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA). Direktur Utama Darmawan Junaidi menekankan pentingnya layanan terintegrasi kepada eksportir dan mencatat bahwa trade finance dan treasury adalah penyumbang terbesar transaksi valas di Bank Mandiri. Ia juga menyoroti penguatan layanan digital melalui superapp Kopra untuk mendukung nasabah korporasi.

Untuk menjaga likuiditas valas, Sekretaris Perusahaan Ashidiq Iswara menyebut Bank Mandiri telah melakukan diversifikasi sumber pendanaan, termasuk melalui penerbitan surat utang senilai US$ 800 juta.

Menurut analis dari LPPI, Trioksa Siahaan, kenaikan DPK valas ini merupakan dampak kebijakan wajib penempatan 100% DHE SDA ke sistem keuangan domestik sejak Maret 2025 serta intervensi Bank Indonesia. Ia juga mengingatkan agar bank berhati-hati dalam penyaluran kredit valas demi menjaga stabilitas dan likuiditas menghadapi ketidakpastian rupiah.

Secara keseluruhan, pertumbuhan DPK valas mencerminkan kepercayaan terhadap sistem perbankan nasional dan keberhasilan kebijakan pemerintah dalam mengamankan likuiditas valas, namun tetap menuntut kehati-hatian dalam pengelolaan kredit dan risiko mata uang.

Masa Depan QRIS dan GPN Bergantung pada Hasil Negosiasi

HR1 21 Apr 2025 Kontan
Negosiasi tarif antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) kini merambah sektor keuangan, khususnya terkait kebijakan sistem pembayaran domestik Indonesia seperti Gerbang Pembayaran Nasional (GPN) dan QRIS. Dalam laporan Kantor Perwakilan Dagang AS (USTR), kedua sistem ini dinilai sebagai hambatan perdagangan karena membatasi peran penyedia layanan pembayaran asing seperti Visa dan Mastercard, terutama akibat batas kepemilikan asing maksimal 20% di lembaga switching domestik.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa pemerintah akan menindaklanjuti keluhan dari pihak AS dengan berkoordinasi dengan OJK dan Bank Indonesia (BI), terutama mengenai isu-isu di sektor pembayaran digital.

Namun dari dalam negeri, tokoh industri keuangan seperti Santoso Liem (Direktur BCA dan Ketua ASPI) menilai bahwa Visa dan Mastercard masih sangat dominan, terutama untuk transaksi internasional, meski penggunaan QRIS makin meluas karena lebih murah bagi konsumen. Ia menekankan bahwa pada akhirnya, pilihan sistem pembayaran ditentukan oleh preferensi konsumen.

Agus Hendra Purnama dari Bank Mandiri dan Grace Situmeang dari BNI juga menyampaikan bahwa transaksi menggunakan Visa dan Mastercard tetap tumbuh di kuartal I-2025, meski secara paralel transaksi QRIS juga meningkat.

Secara keseluruhan, meskipun tekanan dari AS terkait GPN dan QRIS menyoroti aspek pembatasan bagi perusahaan asing, para pelaku industri domestik melihat bahwa sistem ini justru memberikan efisiensi dan inklusi bagi masyarakat. Pemerintah Indonesia berada dalam posisi menjaga kedaulatan sistem pembayaran nasional sambil tetap menjaga hubungan dagang strategis dengan AS.

BSI dan Penggadaian Panen Transaksi Emas

KT1 21 Apr 2025 Investor Daily H
Ketidakpastian ekonomi global mendorong masyarakat mencari perlindungan nilai. Ini menyebabkan dana dari tabungan maupun pasar modal sedikit demi sedikit beralih ke intrusmen emas. Fenomena ini tercermin jelas dalam lonjakan bisnis emas milik PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) dan PT penggadaian, yang keduanya menikmati pertumbuhan signifikan dalam transaksi dan saldo emas yang dikelola. BSI misalnya emas mengalami kenaikan yang signifikan, didorong oleh tren pembelian emas dan kesiapan produk  emas BSI. Dengan diresmikannya BSI sebagai bullion bank, telah mendorong pertumbuhan yang signifikan dari sisi penjualan emas dan saldo emas kelolaan perseroan. Total emas mencapai 715 kg. Sementara itu, penjualan emas tercatat 107 kg per 13 April dan diperkirakan pada akhir bulan ini penjualan mencapai 230 kg. Plt. Direktur Utama BSI Bob T. Ananta mengungkapkan, kenaikan harga emas menjadi drastis dan menjadi safe haven bagi para investor. Bahkan, emas dianggap menjadi 'jalan keluar' bagi para investor. Beberapa dampak yang terjadi dikarenakan oleh kebijakan  Donald Trump yang memperlakukan peningkatan tarif terhadap berbagai negara, termasuk Indonesia, yaitu dolar AS menguat karena dianggap sebagai aset aman. Sedangkan rupiah melemah drastis. (Yetede)

Bertaruh di Jalur Energi Hijau

HR1 21 Apr 2025 Bisnis Indonesia (H)
Mundurnya Amerika Serikat dari kemitraan Just Energy Transition Partnership (JETP) menciptakan kekosongan pendanaan miliaran dolar AS bagi transisi energi di Indonesia, memaksa sektor keuangan nasional untuk mengambil peran utama dalam pembiayaan proyek energi hijau. Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) serta para pemangku kepentingan di sektor keuangan kini dihadapkan pada tantangan besar, seperti risiko investasi tinggi, rendahnya kesiapan proyek, dan kurangnya kesadaran pelaku usaha terhadap ekonomi rendah karbon.

Namun, kolaborasi lintas sektor mulai membentuk arah positif, didukung oleh kerangka Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI). Penurunan emisi selama 2024 menjadi indikasi bahwa target Net Zero Emission masih mungkin dicapai melalui pembiayaan domestik yang terstruktur dan strategis. Dalam kondisi ini, sektor keuangan tidak hanya memainkan peran bisnis, tetapi juga mendorong masa depan berkelanjutan, menjadikan Indonesia tetap bergerak maju meski tanpa dukungan negara besar seperti AS.

Transisi Energi: Perjalanan Masih Panjang

HR1 21 Apr 2025 Bisnis Indonesia
Keputusan Amerika Serikat untuk mundur dari skema pendanaan Just Energy Transition Partnership (JETP) menegaskan pentingnya kemandirian pembiayaan domestik bagi transisi energi Indonesia. Meski kontribusi AS hanya sebagian kecil dari kebutuhan dana transisi senilai US$235 miliar, langkah tersebut menjadi pengingat bahwa komitmen luar negeri tidak bisa selalu diandalkan. Tokoh-tokoh penting seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia, dan Kementerian ESDM kini memiliki peran krusial dalam memperkuat ekosistem pembiayaan hijau nasional.

Tokoh utama dalam dunia perbankan seperti Bank Mandiri, BRI, BNI, CIMB Niaga, BCA, dan OCBC NISP telah menunjukkan komitmen awal melalui penyaluran pembiayaan untuk proyek-proyek energi hijau, namun masih terbentur minimnya proyek yang layak dibiayai. Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, melalui inisiatif Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI), menjadi figur kunci dalam mendorong implementasi kebijakan yang mendukung akselerasi investasi hijau.

Kesuksesan transisi energi bergantung pada sinergi lintas sektor: pemerintah mempercepat penyediaan proyek yang bankable dan menghadirkan insentif fiskal, perbankan memperluas portofolio pembiayaan hijau, dan pelaku usaha merubah persepsi bahwa ekonomi rendah karbon bukan beban, melainkan peluang. Jika semua pihak—termasuk regulator seperti OJK dan Bank Indonesia—bergerak serempak, Indonesia tak hanya mampu mewujudkan transisi energi, tapi juga menjadi pemain utama dalam peta ekonomi hijau global.

Politik Uang Terbongkar oleh Gakkumdu

HR1 21 Apr 2025 Bisnis Indonesia
Tim Gabungan Penegakan Hukum Terpadu (Gakkumdu) Banten berhasil mengungkap kasus politik uang dalam Pemungutan Suara Ulang (PSU) Kabupaten Serang dengan menangkap dua pelaku berinisial ND (30) dan MH (31). Koordinator Penyidik Gakkumdu, Kompol Endang Sugiarto, menyampaikan bahwa keduanya merupakan tim sukses pasangan calon nomor urut 1 dan kedapatan membawa uang sebesar Rp9.550.000 yang diduga akan dibagikan kepada pemilih. Modus operandi mereka adalah mengumpulkan Kartu Keluarga pemilih untuk menerima imbalan Rp50.000 per orang guna memenangkan paslon tertentu. Meski demikian, para pelaku mengaku bahwa dana tersebut berasal dari seseorang bernama Alex, bukan langsung dari paslon nomor urut 1. Temuan ini menunjukkan pentingnya pengawasan ketat dalam proses pemilu untuk menjaga integritas demokrasi.

PPATK Prediksi Transaksi Mencapai Rp 1.200 T

HR1 19 Apr 2025 Bisnis Indonesia

Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), Ivan Yustiavandana, memperkirakan bahwa perputaran uang dari transaksi judi online di Indonesia akan meningkat signifikan pada tahun 2025, mencapai Rp1.200 triliun, naik dari Rp981 triliun pada tahun 2024. Dalam peringatan Gerakan Nasional Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (APU PPT) ke-23, Ivan menyampaikan bahwa Indonesia tengah menghadapi tantangan besar terkait maraknya judi online. Ia juga menyoroti perkembangan teknologi dan metode transaksi baru, termasuk penggunaan aset kripto dan platform digital lainnya, yang semakin mempersulit upaya pemberantasan tindak pidana keuangan. Menurutnya, penanganan isu ini harus menjadi bagian dari langkah bersama ke depan dalam memperkuat rezim APUPPT dan pencegahan pendanaan terorisme.




Bank Bersaing Tekan Biaya Dana Murah

KT1 17 Apr 2025 Investor Daily (H)
Perbankan terus mendorong penghimpunan dana murah (current account saving account/CASA) di tengah tren pengetatan likuiditas yang masih terjadi saat ini. Sejumlah jurus dilakukan bank guna menjaring dana murah untuk menekan biaya. Seperti PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI yang kembali menghadirkan program Undian Rezeki Wondr BNI  sebagai bentuk apresiasi kepada nasabah setia dan menjaring nasabah baru. Direktur Consumer Banking BNI Corina Leyla Karnalies mengatakan, program undian ini berlangsung sejak April 2025 hingga 31 Januari 2026 dan terbuka bagi nasabah BNI di seluruh Indonesia. Nasabah dapat mengumpulkan kupon undian selama periode program melalui aktivitas perbankan seperti pembukaan rekening, aktivasi Wondr, peningkatan saldo tabungan, serta transaksi finansial melalui aplikasi Wondr by BNI. "Kalau kuartal 1 ini tabungan kami tumbuhnya 4,5% (yoy) dan menurut saya target tabungan BNI tumbuh 16,7% (yoy) hingga akhir tahun ini adaah sesuatu yang achievable," tutur Corina. Adapun, per Februari 2025, tabungan BNI tercatat 2025, sebesar Rp251,1 triliun, tumbuh 9,91% (yoy) menjadi Rp298,62 triliun, dan deposito yang dihimpun senilai Rp 225,2 triliun, turun 2,65% (yoy). Sehingga, total dana pihak ketiga (DPK) BNI sebesar Rp774,92 triliun, naik 1,03% (yoy). Ahasil, porsi CASA BNI dibandingkan total DPK sebesar 70,94%. (Yetede)