Bursa
( 810 )BERBURU CUAN SAHAM ANYAR
Gelombang aksi go public terus berlanjut di lantai bursa. Momentum pasar modal yang sedang menanjak membuat ‘kontes kecantikan’ emiten untuk memikat investor kian menarik. Tak ayal, kondisi tersebut diyakini dapat dimanfaatkan investor untuk mendapatkan saham-saham yang menjanjikan. Kabar terbaru, pada tanggal cantik 8 Agustus 2022 alias hari ini, empat emiten anyar melantai di Bursa Efek Indonesia. Mereka yaitu PT Mora Telematika Indonesia Tbk. (MORA) yang menggalang dana hasil initial public offering (IPO) Rp1 triliun, PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk. (ELPI) Rp222,4 miliar, PT Kusuma Kemindo Sentosa Tbk. (KKES) Rp31,5 miliar, dan PT Estee Gold Feet Tbk. (EURO) Rp35 miliar. Kehadiran mereka membuat total emiten anyar yang melantai di Bursa Efek Indonesia sejak awal tahun mencapai 38 perusahaan. Jumlah tersebut kian mendekati target otoritas bursa yang membidik tambahan 55 emiten baru pada 2022. Selain emiten baru tersebut, PT Klinko Karya Imaji Tbk. (KLIN), PT Segar Kumala Indonesia Tbk. (BUAH), dan PT Rohartindo Nusantara Luas Tbk. (TOOL) juga bakal listing pada Selasa (9/8). Menariknya, sejumlah perusahaan pendatang baru terafiliasi dengan konglomerasi atau taipan. Sebut saja MORA yang terkait dengan Grup Sinar Mas karena sebagian sahamnya digenggam oleh anak usaha PT Smartfren Telecom Tbk. (FREN).
Sebanyak 800 Emiten Tercatat di Bursa Efek Indonesia
Bursa Efek Indonesia saat ini memiliki 800 emiten yang mencatatkan sahamnya. Hari Jumat (5/8/2022) bertambah lagi satu emiten yang masuk bursa. Hingga awal Agustus ini, sudah ada 34 emiten BEI juga merupakan bursa teraktif di kawasan ASEAN. ”Sari Kreasi Boga Tbk (RAFI) adalah emiten ke-800 yang mencatatkan sahamnya. Tahun ini RAFI adalah perusahaan ke-34. Target BEI tahun ini ada 55 perusahaan (yang mencatatkan sahamnya di bursa).
Pada tahun 2020 total perusahaan yang tercatat ada 700-an perusahaan baru di BEI dibandingkan dengan bursa Asia lainnya. Kita adalah yang tertinggi,” kata Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman ketika membuka perdagangan, Jumat. Pembukaan perdagangan tersebut juga dihadiri oleh Menteri Koperasi dan UMKM Teten Masduki. (Yoga)
Mencari Saham Salim Pembagi Dividen
Empat emiten Grup Salim kompak menebar deviden dengan nilai total keseluruhan mencapai Rp 5,49 triliun, Keempatnya yaitu PT. Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT. Salim Invomas Pratama Tbk (SIMP) dan PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP). Cum dividen keempat saham ini jatuh pada awal Agustus mendatang. Head of Research Jasa Utama Capital Sekuritas Cheril Tanuwijaya menyampaikan, di antara keempat saham tersebut, dia mengunggulkan LSIP. Alasannya yield yang diberikan dividen perusahaan sawit ini menarik.
SUNTIKAN TENAGA INDEKS TERLIKUID
Kocok ulang konstituen LQ45 dan IDX30 yang dilakukan Bursa Efek Indonesia digadang-gadang mampu menyuntikkan tenaga ekstra saat performa indeks acuan lesu. Apalagi, saat ini pasar modal dibayangi risiko arus keluar modal asing akibat gejolak global. Teranyar, saham PT Bank Jago Tbk. (ARTO), PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS), dan PT Indika Energy Tbk. (INDY) menjadi penghuni baru indeks LQ45 untuk periode Agustus 2022—Januari 2023. Mereka menggantikan PT Gudang Garam Tbk. (GGRM), PT PP (Persero) Tbk. (PTPP), dan PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk. (TKIM) yang dikeluarkan dari indeks berkapitalisasi pasar lebih dari Rp5.200 triliun itu. Pada saat yang sama, indeks IDX30 kedatangan saham ARTO, PT Harum Energy Tbk. (HRUM), dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG). Adapun, saham PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN), PT XL Axiata Tbk. (EXCL), dan PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk. (MIKA) terpental dari IDX30. Rebalancing indeks yang mengukur kinerja harga saham dengan likuiditas tinggi dan kapitalisasi pasar besar, serta didukung oleh fundamental perusahaan yang baik itu, bertepatan dengan performa LQ45 dan IDX30 yang sedang underperform terhadap indeks harga saham gabungan (IHSG).
Bursa Asia Catatkan Kenaikan Indeks
Indeks saham pada beberapa bursa Asia pada umumnya mencatatkan angka terbaik dalam sepekan terakhir. Kenaikan itu terjadi menyusul kenaikan indeks di Wall Street, AS. Akan tetapi, kenaikan indeks itu bukan pertanda optimisme akan perekonomian yang menguat, melainkan hanya bersifat siklikal. Meski demikian, kenaikan itu tetap memperlihatkan sinyal kebaikan secara temporer. Tapas Strickland, seorang analis, mengatakan, data Juli 2022 tetap tergolong rapuh walau terjadi penyesuaian musiman. Tiga indeks utama di Bursa Saham New York menunjukkan kenaikan pada penutupan perdagangan, Kamis (21/7). Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup 32.036,90 poin atau naik 0,51 %. Indeks gabungan Nasdaq ditutup menjadi 12.059,62 poin atau naik 1,36 %. Indeks saham Gabungan NYSE ditutup menjadi 14.871,14 poin atau naik 0,63 %.
Indek Harga Saham Gabungan (IHSG) Jakarta naik 0,33 % menjadi 6.886,962 poin. Kenaikan serupa terjadi di bursa saham Tokyo yang ditutup menjadi 27.914,66 poin atau naik 0,40 %. Indeks Hang Seng (Hong Kong) naik 0,2 % menjadi 20.609,14 poin dan indeks STI Singapura naik 0,92 % menjadi 3.181,34 poin. Akan tetapi, kenaikan tidak terjadi di bursa saham Sydney, Wellington, Shenzen, dan Seoul. Di Eropa, bursa saham juga mencatatkan pekan terbaik dalam dua bulan pada Jumat seiring meredanya kekhawatiran akan suplai energi. Pasokan gas Rusia kembali mengalir setelah terhenti karena perawatan rutin. Investor yang khawatir tentang kenaikan suku bunga tinggi dan krisis politik di Italia sedikit tenang. (Yoga)
Positif Bagi Bursa, Negatif Bagi Rupiah
BI memilih tetap mempertahankan BI 7-day-RR di level 3,5 % selama 18 bulan berturut-turut, saat banyak negara mengerek suku bunga untuk mengatasi inflasi. Diluar dugaan, pasar saham merespon positif kebijakan ini. Kepala Riset Jasa Utama Capital Sekuritas Cheril Tanuwijaya mengatakan, respon positif ini tercermin dari koreksi IHSG yang tipis, Kamis (21/7) IHSG terkoreksi 0,15 % ke level 6.864,13. Investor asing juga masih mencatatkan net buy Rp 540 miliar.
Namun di pasar valuta, keputusan BI tersebut berdampak negatif bagi nilai tukar rupiah. Kepala Ekonom BCA David Sumual meyakini nilai tukar rupiah akan kembali melemah. Penyebabnya selisih suku bunga USD dan Rupiah semakin tipis. Analis Monex Investindo Faisyal juga melihat investor akan menjauhi Rupiah. “Bukan tidak mungkin Rupiah melemah ke Rp 15.200-Rp 15.500 per USD,” ujar Faisyal. (Yoga)
Ada 37 Perusahaan Antre Masuk Bursa
Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat ada 37 perusahaan mempersiapkan diri menawarkan sahamnya ke publik. Ada sembilan perusahaan beraset kurang dari Rp 50 miliar, 15 perusahaan beraset Rp 50 miliar-Rp 250 miliar, dan sisanya beraset di atas Rp 250 miliar. ”Terbanyak adalah perusahaan sektor konsumer non-cyclical,” ujar Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna, akhir pekan lalu. (Yoga)
Daftar Emiten yang Terancam Delisting Bertambah
Sejumlah emiten berpotensi didepak paksa dari Bursa Efek Indonesia (BEI). Teranyar, ada PT Sugih Energy Tbk (SUGI) yang berpotensi terkena penghapusan saham alias delisting.
Kepala Divisi Penilaian Perusahaan 2 BEI Vera Florida mengatakan, masa suspensi saham SUGI telah mencapai 24 bulan pada tanggal 1 Juli 2021. Hal itu bermakna, BEI telah memberikan toleransi cukup panjang. Pasalnya, batas waktu suspensi saham adalah selama dua tahun berturut-turut sebelum masuk daftar delisting. Beberapa saham lain juga tercatat sudah masuk masa suspensi lebih dari 24 bulan. Misalnya, PT. Armidian Karyatama Tbk (ARMY), PT. Panasia Indo Resources Tbk (HDTX), PT. Jakarta Kyoei Steel Works Tbk (JKSW), dan PT Eureka Prima Jakarta Tbk (LCGP).
Semua Sektor Saham Terkoreksi, IHSG Merosot 2,28%
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Bursa Efek Jakarta (BEI) melemah hingga 155,16 poin atau 2,28% ke posisi 6.639,17 pada penutupan perdagangan Senin (4/6) sore. Kali ini, pelemahan terdalam dialami saham sektor teknologi yang turun hingga 4%, kemudian sektor transportasi dan logistik 3,57%, sektor consumer non cyclicals 2,66%, sektor keuangan 2,58%, dan sektor material dasar 1,83%. Sentimen lain yang datang adalah terkoreksinya harga komoditas seperti nikel, minyak mentah, dan minyak sawit mentah (CPO). "Conference Board merilis data tingkat Indeks Keyakinan Konsumen AS tercatat menurun ke level 98,7 dari sebelumnya di level 103,3.
Penurunan angka yang merupakan titik terendah dalam 16 bulan terakhir ini menjadi katalis negatif bagi IHSG awal pekan ini," kata Financial Expert Ajaib Sekuritas M Julian Fadli dalam ulasannya di Jakarta, Senin (4/7). Chief Economist and Head of Global Markets Research Asia ex-Japan Nomura Rob Subbaraman dan Global Markets Analyst Nomura Si Ying Toh dalam catatan hasil risetn holdings perusahaan keuangan yang berbasis di Tokyo tersebut memprediksi bahwa zona uero, Inggris, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Kanada, akan terperosok dalam resesi bersama dengan Amerika. (Yetede)
Inilah Saham Pilihan Kuartal Tiga 2022
Bursa saham berfluktuasi di akhir semester pertama 2022. Kondisi ini tampak dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang melandai dalam tiga bulan terakhir. IHSG bahkan memerah empat hari beruntun di pekan terakhir bulan Juni ini, dan ditutup pada posisi 6.911,58. Sedangkan dari sisi pergerakan saham, pada periode kuartal I dan kuartal II ada rotasi sektoral meski relatif terbatas. Certified Elliott Wave Analyst Master Kanaka Hita Solvera Daniel Agustinus mengatakan, pergerakan tersebut tak lepas dari efek global lonjakan harga komoditas. Sedangkan dari dalam negeri, pengendalian pandemi Covid-19 dan pemulihan ekonomi menjadi hal yang krusial Kepala Riset Aldiracita Sekuritas Agus Pramono menjagokan sektor barang konsumsi primer, komoditas, komunikasi, dan perbankan. Saham pilihan yang bisa diperhatikan adalah PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN), PT Japfa Confeed Indonesia Tbk (JPFA), PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PTBA, dan INCO. "Untuk kuartal ketiga, saham-saham large cap dan defensive bisa dicermati. Sedangkan komoditas masih akan tetap bergerak sesuai gejolak geopolitik," ujarnya.
Pilihan Editor
-
CEO di Pentas Politik Tanah air
23 May 2020 -
LADANG STARTUP MAKIN SUBUR
19 May 2020 -
Geliat Ekonomi dari Rumah
23 May 2020 -
BANK SYARIAH TETAP SOLID
19 May 2020









