;
Tags

Bursa

( 810 )

Investasi Emas Diuji Momentum

HR1 24 May 2025 Bisnis Indonesia (H)
Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan geopolitik, emas kembali menjadi instrumen investasi yang menarik, baik dalam bentuk fisik maupun melalui saham emiten tambang logam mulia. Harga emas global mencatat kenaikan signifikan, bertahan di atas US$3.300 per troy ounce, dengan kenaikan mingguan sekitar 3%—terbesar dalam lebih dari sebulan.

Miftahul Khaer, analis dari Kiwoom Sekuritas Indonesia, menilai lonjakan ini dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap defisit fiskal Amerika Serikat dan pencabutan sovereign credit rating oleh Moody’s, menjadikan emas kembali dipandang sebagai safe haven. Hal ini berdampak positif pada saham emiten tambang emas seperti ANTM, BRMS, dan MDKA.

Andy Nugraha dari Dupoin Futures menambahkan bahwa arus modal saat ini mengalir ke aset aman seperti emas, meski ia mengingatkan bahwa data ekonomi AS yang membaik dapat menekan harga emas karena mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed. Andy juga menyarankan para trader untuk mencermati sinyal teknikal harga emas dalam jangka pendek.

Sementara itu, Ariston Tjendra, Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, menyebut potensi kenaikan harga emas masih terbuka, didorong oleh kenaikan tarif impor AS dan potensi pelonggaran suku bunga. Ia merekomendasikan strategi beli saat harga koreksi dan tahan untuk jangka panjang.

Dari sisi saham, ANTM mencatat kenaikan harga luar biasa, mencapai 100% sepanjang 2025. Meski demikian, analis Muhammad Farras Farhan dari Mirae Asset Sekuritas menilai valuasi sahamnya mulai terbatas. Namun, Oktavianus Audi dari Kiwoom Sekuritas tetap optimis terhadap kinerja kuartal II/2025, seiring dengan peningkatan rata-rata harga jual emas.

Dengan kontribusi pendapatan emas mencapai Rp21,61 triliun pada kuartal I/2025, ANTM terus memperkuat bisnis logam mulia melalui kerja sama pembangunan fasilitas di Gresik, Jawa Timur.

Meskipun terdapat potensi tekanan jangka pendek akibat dinamika suku bunga dan ekonomi AS, prospek jangka panjang investasi emas dan saham-saham tambang emas tetap menjanjikan, terutama jika tensi geopolitik dan ketidakpastian fiskal global terus berlangsung.

Perbankan Tetap Cetak Laba di Tengah Tekanan

HR1 20 May 2025 Kontan
Sektor perbankan menunjukkan sinyal pemulihan di tengah ketidakpastian ekonomi pada awal tahun 2025, dengan beberapa bank besar mencatatkan perbaikan kinerja keuangan. Salah satunya adalah Bank Central Asia (BCA) yang mencetak laba bersih sebesar Rp 20,2 triliun selama Januari–April 2025, tumbuh 17,4% secara tahunan. Menurut Edi Chandren, Lead Investment Analyst Stockbit, pertumbuhan ini terutama ditopang oleh pendapatan non bunga yang melonjak 26,3%, sebagian besar berasal dari dividen anak usaha senilai Rp 2,2 triliun yang tercatat dalam laporan keuangan bank only.

Namun, Edi mengingatkan bahwa tanpa faktor dividen tersebut, pertumbuhan laba BCA hanya akan mencapai 9,6%, yang mengindikasikan bahwa kinerja fundamental mungkin tidak sekuat yang tampak secara nominal.

Sementara itu, di jajaran bank menengah, Maybank Indonesia menunjukkan kinerja positif dengan mencetak laba bersih Rp 483,7 miliar, berbalik dari rugi tahun sebelumnya. Presiden Direktur Maybank Indonesia, Steffano Ridwan, menyebut keberhasilan ini didorong oleh strategi pembiayaan berkelanjutan dan penurunan beban pencadangan secara signifikan.

Sebaliknya, Bank Mega mengalami penurunan laba hingga 19,19%, meskipun Allo Bank, sebagai afiliasinya, berhasil mencatat kenaikan laba 4,11%, berkat pertumbuhan pendapatan bunga bersih.

Namun, menurut Andry Asmoro, Kepala Ekonom Bank Mandiri, prospek laba perbankan secara keseluruhan tahun ini masih sulit diprediksi. Bank-bank perlu menjaga efisiensi, menekan biaya, dan mengembangkan kredit berbasis value chain untuk tetap kompetitif, terutama menghadapi ketatnya persaingan dalam menghimpun dana pihak ketiga.

Meskipun beberapa bank telah menunjukkan pemulihan kinerja, faktor-faktor non-operasional seperti dividen dan efisiensi beban masih memegang peranan besar, dan keberlanjutan tren positif ini sangat tergantung pada kemampuan bank menavigasi dinamika ekonomi yang kompleks.

Retail Ekspansi ke Luar Jawa Meski Tantangan Berat

HR1 20 May 2025 Kontan
PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), pengelola jaringan minimarket Alfamart dan Alfamidi, berupaya mendongkrak kinerja keuangan tahun 2025 melalui strategi ekspansi agresif. Perusahaan menargetkan pembukaan 1.200 toko baru, terutama di luar Pulau Jawa, yang dinilai memiliki potensi pertumbuhan lebih tinggi dibanding wilayah yang sudah jenuh seperti Jabodetabek.

Jessica Leonardy, Analis OCBC Sekuritas, menilai bahwa penjualan toko-toko AMRT di luar Jawa tumbuh signifikan, 15,3% yoy pada kuartal I-2025, dan menjadi pendorong utama pertumbuhan perusahaan. Jessica juga mencatat penguatan pangsa pasar AMRT di segmen ritel modern, yang kini mencapai 28,6%, dan di segmen minimarket sebesar 35,3%.

Patricia Gabriela, Senior Analis BNI Sekuritas, juga optimistis bahwa ekspansi toko dapat mendorong penjualan tumbuh 10% yoy dan laba bersih naik 12% yoy sepanjang 2025. Bukti awal terlihat dari laporan kuartal I-2025, di mana AMRT mencatatkan pendapatan Rp 32,77 triliun (naik 11,8% yoy) dan laba bersih Rp 975,12 miliar (naik 9,5% yoy).

Namun demikian, Benny Kurniawan dari JP Morgan mengingatkan bahwa beban operasional meningkat tajam, termasuk karena pembangunan dua pusat distribusi baru dan potensi kenaikan upah minimum. Ini dapat membatasi pertumbuhan laba, dengan proyeksi kenaikan margin laba kotor hanya 0,2% yoy di 2025. Meski begitu, ia tetap optimis untuk jangka menengah, memprediksi pertumbuhan laba 21% yoy di 2026.

Dengan ekspansi agresif yang dibarengi peningkatan pangsa pasar dan fokus pada efisiensi margin, AMRT berada dalam jalur pertumbuhan, meski harus tetap mewaspadai tekanan dari sisi operasional.

BI Berpeluang Potong Suku Bunga ke Level 5,5%

HR1 20 May 2025 Kontan
Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan menurunkan suku bunga acuan (BI rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5,5% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan ini. Langkah ini dinilai tepat oleh sejumlah ekonom karena kondisi makroekonomi domestik dan global yang mendukung pelonggaran moneter.

Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata, menilai inflasi domestik yang terkendali (1,95% pada April 2025) dan surplus perdagangan yang meningkat memberikan ruang bagi BI untuk mengakomodasi pertumbuhan ekonomi yang mulai melambat (hanya 4,87% di kuartal I-2025). Ia juga menyoroti membaiknya hubungan dagang AS-China dan tren penurunan inflasi AS sebagai pendorong sentimen positif di pasar global.

Andry Asmoro, Chief Economist Bank Mandiri, sepakat bahwa kondisi saat ini mendukung pemangkasan suku bunga, apalagi nilai tukar rupiah menguat dan ekspektasi The Fed akan memangkas suku bunga di semester kedua 2025. Ia menyebut bahwa "ruang pemangkasan suku bunga acuan 25 basis poin" sudah terbuka bulan ini jika stabilitas rupiah tetap terjaga.

Fakhrul Fulvian dari Trimegah Sekuritas dan Myrdal Gunarto, ekonom pasar global, juga mendukung langkah pemangkasan suku bunga untuk memacu pertumbuhan ekonomi domestik yang sedang melambat.

Namun, David Sumual, Kepala Ekonom Bank Central Asia, berpandangan berbeda. Ia menilai BI kemungkinan masih akan menahan suku bunga karena prioritas saat ini adalah menjaga stabilitas, terutama di tengah ketidakpastian global akibat kebijakan tarif resiprokal AS. David memprediksi BI baru akan memangkas suku bunga di akhir tahun.

Mayoritas ekonom memproyeksikan BI akan mulai bersikap lebih akomodatif pada RDG bulan ini, seiring kebutuhan mendukung pertumbuhan ekonomi dan sentimen pasar yang lebih kondusif. Namun, kehati-hatian tetap diperlukan mengingat faktor eksternal yang masih dinamis.

IHSG Berpotensi Menguat

KT1 19 May 2025 Investor Daily (H)
IHSG dan BEI berpotensi melanjutkan penguatan pada pekan ini, setelah naik 4,01% sepanjang minggu lalu ke posisi 7.106. Arus modal asing yang terus masuk (foreign inflow), optimisme investor terhadap perekonomian Indonesia, dan tekanan beli yang tetap kuat, membuat pergerakan IHSG di pekan ini akan dinaungi  banyak sentimen positif.  "Kami melihat IHSG memiliki peluang cukup besar untuk mengalami kenaikan dan konsistensi berada di atas 7.000. IHSG untuk bermain di level 7.000-7.120," kata Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus kepada Investor Daily. Niko melihat, asing mulai percaya dan yakin untuk masuk ke emerging market, tidak terkecuali Indonesia. Perlahan tapi pasti,  stabilnya  pasar global juga telah mendorong IHSG untuk bisa terus mengalami penguatan, meski bukan berarti  ketidakpastian sudah berkurang. Dari dalam negeri, lanjut dia, pertemuan BI pada 21 Mei mendatang, memberikan peluang untuk pemangkasan tingkat suku bunga cukup terbuka, di tengah mulai timbulnya optimisme pelaku pasar dan investor terhadap perekonomian Indonesia. (Yetede)

Potensi Keuntungan dari Dividen BSI

HR1 17 May 2025 Kontan
PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) atau BRIS memutuskan untuk membagikan dividen sebesar Rp 1,05 triliun, atau 15% dari laba bersih tahun 2024 yang mencapai Rp 7 triliun, dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) baru-baru ini. Dividen per saham meningkat tajam menjadi Rp 22,7 dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya Rp 9,24 per saham.

Bob Tyasika Ananta, Wakil Direktur Utama BSI, menyatakan bahwa pembagian dividen ini merupakan bentuk apresiasi kepada para pemegang saham atas dukungan mereka terhadap pertumbuhan BSI. Ia juga menekankan bahwa ke depan BSI akan terus mengembangkan bisnis dan layanan agar sesuai ekspektasi seluruh pemangku kepentingan.

Namun, analis pasar seperti Oktavianus Audi dari Kiwoom Sekuritas menilai yield dividen BRIS masih tergolong rendah, sehingga respons pasar terhadap keputusan ini cukup moderat. Menurutnya, harga saham BRIS cenderung bergerak sideways di kisaran Rp 2.800–3.000.

Sementara itu, Ekky Topan dari Infovesta Kapital Advisori mengakui bahwa meski yield dividen kurang maksimal, secara fundamental BSI masih menunjukkan kinerja yang solid dan berpotensi menguat hingga Rp 3.350 per saham.

Selain membagikan dividen, RUPS juga memutuskan melakukan perubahan jajaran direksi dan komisaris, dengan Anggoro Eko Cahyo ditunjuk sebagai direktur utama menggantikan Hery Gunardi.

Kebijakan dividen BSI mencerminkan kehati-hatian dalam menjaga keseimbangan antara memberikan imbal hasil kepada pemegang saham dan mempertahankan cadangan untuk pertumbuhan jangka panjang.

Tembus 7.000 IHSG Kembali Masuki Tren Bullish

KT1 16 May 2025 Investor Daily (H)
Indeks Bursa Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali memasuki trend bullish  setelah berhasil menembus level 7.000 pada penutupan perdagangan Kamis (15/5/2025). Penguatan IHSG pun diyakini  bakal terus berlanjut menuju 7.195, dengan posisi asing yang mulai mencatatkan aksi beli bersih (ney buy)) di pasar saham Indonesia. Meski, dalam perjalananya, IHSG akan diwarnai aksi ambil untung (profit taking) di akhir pekan ini. Pada perdagangan Kamis (15/5/2025), IHSG tutup menguat 0,86% ke level 7.040,16. Sebanyak 345 saham terpantau naik 257 saham turun, dan 208 saham stagnan. Adapun total nilai transaksi di bursa mencapai Rp16,94 triliun, volume perdagangan sebanyak 36,5 miliar saham, jumlah saham berpindah tangan 1,5 juta kali, dan net buy asing sebesar Rp 1,68 triliun. "Secara teknikal, posisi IHSG sedang berada di fase uptrend-nya, dan masih didominasi oleh volume pembelian," kata Head of Research Retail MNC Sekuritas Herditya Wicksana  kepada Investor Daily. Didit menjelaskan, IHSG sudah mampu break dari MA200 pada timeframe weekly. "Kami perkirakan, IHSG masih berpeluang untuk melanjutkan penguatannya, paling tidak untuk menguji 7.107-7.195. Meski, perlu dicermati akan potensi pullback dalam jangka pendek di rentang 7.013-7.037," tutur dia. (Yetede)

Ekspansi Jadi Senjata Utama 2025

HR1 16 May 2025 Kontan
Meski laba bersih PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) turun 5% yoy menjadi Rp 565 miliar pada kuartal I-2025 karena faktor non-operasional seperti beban pajak dan kontribusi asosiasi yang menurun, prospek pertumbuhan perusahaan tetap kuat berkat ekspansi bisnis dan diversifikasi usaha.

Sukarno Alatas, Analis Senior Kiwoom Sekuritas Indonesia, menilai bahwa secara operasional AKRA masih tangguh dengan pendapatan naik 4,5% yoy menjadi Rp 10,26 triliun. Pertumbuhan ini ditopang oleh peningkatan volume distribusi serta lonjakan pendapatan utilitas dari Kawasan Ekonomi Khusus Gresik (JIIPE).

Indy Naila, Investment Analyst dari Provina Visindo, menyebut tantangan eksternal seperti lemahnya PMI manufaktur dan daya beli masyarakat dapat menjadi hambatan, namun ekspansi SPBU dan diversifikasi bisnis AKRA masih menjadi penopang kinerja. Target laba bersih Rp 2,5 triliun dinilai realistis tahun ini.

Hasan Barakwan, Analis Maybank Sekuritas Indonesia, memperkirakan bahwa distribusi bahan bakar dan kimia dasar akan tetap menjadi kontributor utama pendapatan, sementara JIIPE diproyeksikan menyumbang hingga 30% dari laba bersih AKRA pada 2025–2026.

Bank Korsel di RI Bukukan Laba Kompak

HR1 15 May 2025 Kontan
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, bank-bank milik investor Korea Selatan di Indonesia berhasil menunjukkan performa positif pada kuartal I-2025. Seluruh tujuh bank yang dimiliki investor Korsel mencatatkan laba bersih, menandakan ketahanan dan keberhasilan strategi mereka dalam menghadapi tantangan ekonomi.

Capaian paling mencolok ditorehkan oleh PT Bank KB Bukopin Tbk (BBKP) yang berhasil membalikkan kondisi dari rugi Rp 6,33 miliar pada kuartal I-2024 menjadi laba bersih Rp 351,92 miliar pada kuartal I-2025. Woo Yeul Lee, Direktur Utama KB Bank, menyatakan bahwa hasil ini merupakan buah dari transformasi menyeluruh sejak bergabung dengan KB Financial Group pada 2021. Ia menegaskan bahwa dukungan induk perusahaan dan komitmen jangka panjang menjadi kunci kebangkitan KB Bank.

PT Bank Oke Indonesia Tbk (OK Bank) juga mencetak pertumbuhan laba signifikan sebesar 606,36% yoy, mencapai Rp 30,4 miliar. Efdinal Alamsyah, Direktur Kepatuhan OK Bank, menyebut pencapaian ini ditopang oleh peningkatan pendapatan bunga bersih serta efisiensi operasional. Bank ini juga mencatat kenaikan kredit sebesar 15,2% dan menargetkan pertumbuhan kredit 10% sepanjang 2025, dengan fokus pada UMKM, konsumsi, dan korporasi.

Sementara itu, Bank Nobu membukukan pertumbuhan laba 115,76% yoy, mencapai Rp 110,10 miliar pada kuartal I-2025.

Di tengah gejolak global, bank-bank milik investor Korea Selatan di Indonesia mampu mencetak kinerja impresif berkat strategi efisiensi, dukungan grup induk, transformasi organisasi, serta ekspansi penyaluran kredit yang selektif. Tokoh-tokoh seperti Woo Yeul Lee dan Efdinal Alamsyah menegaskan pentingnya visi jangka panjang dan penguatan fundamental dalam menjaga momentum pertumbuhan.

Harga Produk Turun, Marjin Laba Terancam

HR1 15 May 2025 Kontan
Meski kinerja PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) melemah pada kuartal I-2025 akibat cuaca buruk dan gangguan logistik, para analis tetap optimistis perusahaan akan mencapai target produksi 6,8 juta ton dan penjualan 6,1 juta ton batubara hingga akhir tahun. Optimisme ini ditopang oleh pemulihan operasional, perbaikan infrastruktur logistik, dan meredanya tensi perang dagang global.

Analis Ciptadana Sekuritas, Thomas Radityo, menyatakan hambatan produksi bersifat sementara dan proyeksinya akan pulih mulai kuartal II 2025, seiring rampungnya pembangunan konveyor pemuatan tongkang kedua.

Sementara itu, Iqbal Suyudi dari Edvisor Profina menyoroti faktor eksternal seperti membaiknya cuaca dan potensi peningkatan permintaan dari China yang menjadi katalis positif bagi ADMR. Ia juga menyambut baik kontribusi tambahan dari proyek smelter aluminium baru milik anak usaha ADMR, PT Kalimantan Aluminium Industry (KAI), yang dijadwalkan mulai beroperasi komersial di kuartal IV 2025.

Di sisi lain, Andhika Audrey dari Panin Sekuritas menjelaskan bahwa penurunan kinerja keuangan ADMR pada kuartal I disebabkan oleh jatuhnya harga jual rata-rata batubara metalurgi, meski volume penjualan naik. Ia menilai efisiensi yang dilakukan belum mampu menahan penurunan margin, namun tetap merekomendasikan buy untuk saham ADMR karena adanya diversifikasi ke energi hijau dan proyek smelter.