;
Tags

Bursa

( 810 )

Dana Asing Tak Kunjung Deras Masuk

HR1 15 May 2025 Kontan (H)
Pengumuman rebalancing indeks oleh MSCI untuk periode Juni–September 2025 membawa dampak campuran bagi pasar saham Indonesia. Meski dua saham baru, yakni PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) dan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), masuk dalam MSCI Indonesia Small Cap Indexes, jumlah saham emiten Indonesia yang dikeluarkan dari indeks lebih banyak, menandakan eksposur Indonesia dalam portofolio global cenderung stagnan atau bahkan menurun.

Guntur Putra, CEO Pinnacle Investment Indonesia, menjelaskan bahwa masuknya saham ke indeks MSCI bisa menarik aliran dana asing, namun dominasi penghapusan saham dari indeks justru memberi sinyal negatif bagi investor global, terutama yang mengikuti MSCI secara ketat. Hal ini membatasi potensi foreign flow jangka pendek.

Parto Kawito, Direktur Infovesta Utama, menyoroti bahwa bobot saham Indonesia di MSCI masih kecil (sekitar 1,5%) karena faktor-faktor seperti likuiditas, prospek industri, dan regulasi. Hal ini menjadikan pasar Indonesia kurang menarik bagi investor asing.

Sementara itu, Budi Frensidy, pengamat pasar modal dari Universitas Indonesia, mengkritik banyaknya saham besar seperti PT Barito Renewables Energy (BREN) dan PT Chandra Asri Pacific (TPIA) yang tidak masuk indeks MSCI meskipun memiliki kapitalisasi pasar besar. Ia menilai ketidakjelasan regulasi, seperti penggunaan UMA dan suspensi, menjadi hambatan.

Momentum positif dari penguatan IHSG dan arus masuk dana asing, efektivitas jangka panjang bergantung pada peningkatan bobot Indonesia dalam indeks global, perbaikan regulasi bursa, dan strategi aktif menarik investor asing.

Investor Kembali Memburu Aset Berisiko

KT1 14 May 2025 Investor Daily (H)
Investor kembali memburu aset berisiko  (risk on) seperti saham, seiring kesepakatan penurunan tarif Amerika Serikat (AS) dan China dalam negosiasi yang berlangsung di Jenewa, Swiss, akhir pekan lalu. Ini terlihat pada lonjakan bursa saham dunia, mulai dari Wall Street hingga Hang Seng Hong Kong. Indeks Dow Jones melejit 2,8% Nasdaq 4,3%, dan Hang Seng sekitar 3%, pada awal pekan ini, sedangkan Nikkei 1,4%, kemarin. Pada saat yang sama, investor mengurangi pembelian aset aman (safe haven) emas, selepas negosiasi tersebut. Harga emas di pasar spot sempat rontok 3%, sebelum ditutup di level US$ 3.235 per troy ounce (oz), terpangkas 2,67% pada perdagangan Senin pekan ini. Di pasar Forex, harga emas terhadap dolar AS (XAUUSD) juga sempat terkikis 3%. Namun, kemarin, harga emas perlahan bangkit, didorong kabar AS akan mengadaptasi peraturan perbankan Basel III, yang menetapkan emas sebagai aset tingkat 1. Ini artinya, bank-bank AS dapat menghitung emas fisik sebesar 100% dari nilai pasarnya sebagai bagian dari cadangan modal inti mereka. Dorongan ke pasarr saham bertambah  kuat, menyusul potensi The Federal Reserve (The Fed) memangkas suku bunga acuan Federal Funds Rate (RRT) pada Juli 2025. Apalagi, tekanan inflasi AS ditaksir berkurang, setelah kesepakatan negara itu dengan China. (Yetede)

Penundaan Tarif Impor Bawa Dampak Tak Ringan

HR1 14 May 2025 Kontan (H)

Kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan China untuk menurunkan tarif impor menciptakan harapan meredanya ketegangan dagang global dan memicu penguatan di pasar saham dunia, termasuk peluang penguatan jangka pendek di Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Namun, prospek jangka panjang IHSG masih dibayangi ketidakpastian dan sentimen negatif.

Beberapa tokoh penting dalam artikel ini memberikan pandangan yang bernuansa hati-hati:

Liza Camelia Suryanata, Kepala Riset Kiwoom Sekuritas, menilai kesepakatan ini memang bisa mendorong investor global melirik pasar negara berkembang, tapi realokasi dana bisa saja justru terjadi ke pasar AS dan China, mengingat arus dana asing di Indonesia masih mencatat net sell hingga Rp 54 triliun sejak awal tahun. Liza juga memperingatkan bahwa IHSG berada di level resistance psikologis 6.970–7.000, yang rawan koreksi.

Ezaridho Ibnutama, Kepala Riset NH Korindo Sekuritas, menyatakan bahwa penguatan IHSG kemungkinan hanya bersifat sementara, karena fundamental ekonomi domestik masih lemah, tercermin dari pertumbuhan PDB kuartal I-2025 yang hanya 4,87% yoy. Ia juga menyoroti krisis likuiditas dan tekanan jual investor asing sebagai hambatan utama.

Budi Frensidy, pengamat pasar modal dari Universitas Indonesia, melihat peluang bahwa investor domestik akan menjadi penopang pasar jika terjadi aksi jual asing, menyusul optimisme dari kesepakatan dagang tersebut.

Meskipun ada sinyal positif dari luar negeri, pasar saham Indonesia masih menghadapi tantangan besar dari sisi arus modal dan kondisi ekonomi dalam negeri, sehingga penguatan IHSG diperkirakan bersifat terbatas dan rentan koreksi dalam waktu dekat.

Beban Operasional Ancam Kinerja Perusahaan

HR1 14 May 2025 Kontan
PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES) tengah mengandalkan strategi ekspansi ke luar Pulau Jawa dan rebranding toko menjadi AZKO untuk mendorong pertumbuhan penjualan pada 2025. Perseroan menargetkan pertumbuhan penjualan sebesar 5% yoy dan SSSG (same store sales growth) sebesar 1%.

Menurut Jocelyn Santoso, analis Maybank Sekuritas, strategi ekspansi ACES dengan pembukaan 25–30 toko baru, termasuk tiga toko di luar Jawa pada kuartal I-2025, berpotensi mendorong SSSG hingga 3%, lebih tinggi dari target internal perusahaan. Ia juga menilai ekspansi ke wilayah dengan kompetisi rendah dapat meningkatkan margin laba. Meski begitu, Jocelyn memperkirakan pertumbuhan penjualan ACES hanya akan mencapai 4,45% yoy pada akhir tahun.

Sementara itu, Indy Naila dari Edvisor Provina Visindo memperingatkan bahwa ekspansi bisa menjadi pedang bermata dua, karena dapat menaikkan beban operasional dan pemasaran. Ia menekankan pentingnya kontrol pengeluaran agar margin tetap terjaga.

ACES juga menghadapi tekanan dari proses rebranding toko menjadi AZKO. Jocelyn mencatat, beban operasional meningkat karena rebranding dan tunjangan Lebaran, yang menyebabkan penurunan laba bersih 31,1% yoy pada kuartal I-2025, meski penjualan naik 7,2% yoy menjadi Rp 2,14 triliun.

Namun, analis Kiwoom Sekuritas Abdul Azis tetap optimistis. Ia memproyeksikan pertumbuhan penjualan ACES dapat mencapai 5,6% yoy ke Rp 9,06 triliun di akhir 2025. Ia menilai valuasi saham ACES menarik, dengan sebagian besar risiko sudah tercermin dalam harga saham.

Dari sisi rekomendasi, Jocelyn dan Azis memberikan rating buy dengan target harga masing-masing Rp 750 dan Rp 645, sedangkan Indy merekomendasikan hold dengan target Rp 935.

Ekspansi dan rebranding ACES dinilai menjanjikan namun penuh tantangan. Keberhasilan strategi ini bergantung pada kemampuan perusahaan mengelola biaya dan mempertahankan margin di tengah tekanan operasional dan ketatnya persaingan ritel.

Lonjakan Likuiditas Bisa Panaskan Harga Saham

HR1 13 May 2025 Kontan (H)

Untuk meredam tekanan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Bursa Efek Indonesia (BEI) mengambil langkah strategis dengan membuka pendaftaran bagi anggota bursa yang ingin menjadi liquidity provider (LP). Menurut Jeffrey Hendrik, Direktur Pengembangan BEI, sejauh ini sudah ada sembilan anggota bursa yang siap menjadi LP, termasuk lima dari luar negeri.

Kehadiran LP, yakni institusi yang menyediakan likuiditas dengan memperdagangkan saham-saham tertentu secara aktif, diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan volume transaksi saham, khususnya saham-saham dengan likuiditas rendah seperti BDMN, BYAN, dan IMAS. Namun, peran LP ini tetap terbatas, tidak mencakup seluruh saham di pasar modal, melainkan hanya yang memenuhi kriteria tertentu.

Meski kebijakan ini mendapat dukungan sebagai langkah jangka pendek untuk menjaga likuiditas, sejumlah pengamat mengingatkan risiko yang muncul. Teguh Hidayat, Direktur Avere Investama, menyatakan bahwa LP dapat membuat harga saham bergerak tidak alami dan tidak mencerminkan fundamental emiten. Menurutnya, dominasi LP bisa menjadikan pasar seperti "mainan bandar" dan kurang berpihak pada investor ritel.

Sejalan dengan itu, Budi Frensidy, pengamat pasar modal dari Universitas Indonesia, menilai kebijakan ini bisa membuka ruang manipulasi harga oleh pihak-pihak tertentu. Oktavianus Audi dari Kiwoom Sekuritas menambahkan bahwa kehadiran LP bisa menimbulkan tiga risiko: distorsi harga, ketergantungan pasar pada LP, dan kegagalan LP berfungsi optimal pada emiten dengan free float rendah dan potensi konflik kepentingan dengan pemegang saham pengendali.

Meskipun langkah BEI menunjukan upaya aktif untuk meningkatkan likuiditas dan stabilitas IHSG, implementasi liquidity provider harus diawasi ketat agar tidak menimbulkan distorsi harga dan mengabaikan kepentingan investor ritel.

Saham Antam Melaju Rp 3.000

KT1 07 May 2025 Investor Daily (H)
Saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menjadi salah satu saham favorit pelaku pasar, dengan kenaikan agresif selama sebulan terakhir hingga 81,43% ke level Rp2.540 di penutupan perdagangan Selasa (6/5/2025). Fundamental solid dengan lonjakan laba hingga 10 kali lipat, tren bullish harga emas, serta valuasi yang murah,  membuat analis percaya, saham produsen logam mulia ini akan terus melaju hingga Rp 3.000. "Melihat pola historis, arah pergerakan (ANTM) selanjutnya secara teknikal berpotensi menguji kembali level psikologis 3.00, yang merupakan area tertinggi pada tahun 2022. Jika momentum saat ini terus terjaga, level tersebut menjadi target rasional selanjutnya dalam jangka pendek hingga menengah," kata Invesment Analyst Infovesta Kapital Advisori Ekky Topan kepada Investor Daily. Topan melihat, kenaikan harga saham ANTM dalam sebulan terakhir didorong oleh beberapa sentimen utama. Pertama, lonjakan harga emas global yang mencapai rekor US$ 3.400 per troy ounce pada April 2025. Kenaikan ini dipicu oleh ketidakpastian geopolitik dan meningkatnya risiko resesi global. Sebagai produsen emas terintegrasi, Antam secara langsung mendapatkan keuntungan dari kondisi tersebut. (Yetede)

IHSG Siap Uji Level 7.000

KT1 07 May 2025 Investor Daily (H)
IHSG semakin mendekati level psikologis 7.000, seiring dengan solidnya sentimen domestik dan dukungan dari kinerja emiten kuartal 1-2025. Meski tetap dibayangi potensi aksi ambil untung dan tekanan global, analis menilai tren positif masih akan berlanjut hingga akhir kuartal II-2025. Pada perdagangan Selasa (06/05/2025), IHSG ditutup menguat sebesar 66,24 poin (0,97%) ke level 6.898,19. Ini reli penguatan selama tujuh hari beruntun. Di saat yang sama, ada lima saham menjadi mesin cuan pemodal ini, dan masuk daftar top gainers hari ini, bahkan ada tiga yang mentok batas auto rejection atas (ARA). Berdasarkan data RTI, sebanyak 333 saham terpanntau naik, 268 saham turun, dan 205 saham stagnan. Adapun total nilai transaksi di bursa hari ini mencapai Rp 16,7 triliun. Volume perdagangan sebanyak 23,18 miliar saham dengan frekuensi sebanyak 1.249.292 kali. Mayoritas sektor saham menguat pada penutupan pasar. Penguatan terbesar terjadi pada sektor baku 3,1%. Diikuti penguatan di sektor barang energi 2%, sektor konsumsi non primer 1,2%, dan sektor infrastruktur 0,8%. Sedangkan pelemahan terjadi pada sektor teknologi 0,5%, sektor properti 0,2%, sektor transportasi 0,1%, dan sektor industrian 0,1%. (Yetede)

Grup Prajogo Terus Perluas Jejak Bisnis

HR1 05 May 2025 Bisnis Indonesia
Grup konglomerat Prajogo Pangestu terus menunjukkan perkembangan signifikan, terutama melalui PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) yang melakukan beragam aksi korporasi pada kuartal I/2025. TPIA berinvestasi besar dalam pembangunan pabrik bahan kimia Chlor Alkali dan Ethylene Dichloride (Pabrik CA-EDC) dengan nilai investasi mencapai Rp15 triliun, yang diharapkan dapat mengurangi impor soda kaustik dan menambah devisa negara melalui ekspor produk EDC. Selain itu, meski TPIA mencatatkan kerugian bersih sebesar US$23,6 juta, pendapatannya meningkat 31,8% YoY.

Sementara itu, PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN), salah satu emiten afiliasi Prajogo, melaporkan laba bersih sebesar US$34,2 juta, dengan pertumbuhan yang didorong oleh kinerja solid pada segmen energi terbarukan, khususnya panas bumi dan angin. Hendra Soetjipto Tan, CEO BREN, menekankan pentingnya pengelolaan biaya yang disiplin untuk mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan.

Grup Prajogo juga berencana melaksanakan penawaran umum perdana (IPO) untuk anak usaha TPIA, PT Chandra Daya Investasi (CDI), yang akan menargetkan dana hingga Rp2,37 triliun. Dengan langkah-langkah ini, Prajogo Pangestu terus berupaya memperkuat portofolio bisnis dan meningkatkan kontribusi sektor infrastruktur, memperlihatkan prospek cerah ke depan.

Saham Murah Tapi Risiko Masih Tinggi

HR1 25 Apr 2025 Kontan (H)
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terkoreksi 0,31% ke level 6.613,47 setelah menguat empat hari berturut-turut, dengan penurunan sejak awal 2025 mencapai 6,59%. Pelemahan rupiah yang tipis turut memberikan tekanan pada IHSG.

Meski demikian, sejumlah lembaga keuangan global memberikan sentimen positif dengan menaikkan peringkat pasar saham Indonesia, seperti UBS Group AG yang mengubah rekomendasi dari netral menjadi overweight, didorong oleh valuasi yang rendah dan fundamental domestik yang relatif defensif pasca pandemi Covid-19.

Menurut Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata, valuasi saham domestik saat ini cukup murah, dengan PER IHSG di kisaran 13-14 kali, menjadikan pasar saham Indonesia salah satu yang paling undervalued di Asia Tenggara. Namun, tekanan aksi jual investor asing dengan nilai net foreign sell yang mencapai Rp 50 triliun sejak awal tahun masih menjadi tantangan utama.

Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto menyebut valuasi saham Indonesia menyentuh level terendah sejak Covid-19, menandakan banyak saham diperdagangkan dengan harga murah. Namun, risiko volatilitas pasar tetap harus diwaspadai.

Sementara itu, beberapa sekuritas, termasuk Panin Sekuritas, menurunkan target IHSG 2025 menjadi 7.000-7.300 dari proyeksi sebelumnya yang mencapai 8.000, karena meningkatnya risiko global dan pelemahan daya beli domestik. Mirae Asset Sekuritas juga memperkirakan rupiah melemah ke level 16.700 hingga akhir 2025 dan menurunkan target IHSG menjadi 6.900.

BCA Fokus Jaga Kinerja Fundamental

KT1 24 Apr 2025 Investor Daily (H)
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menegaskan  komitmennya untuk menjaga kinerja fundamental sebagai prioritas utama di tengah gejolak pasar yang sempat menekan harga saham  emiten perbankan. Perseroan meyakini, selama performa bisnis bagus, nantinya kinerja saham pun otomomatis akan mengikuti Presiden Direktur BCA Jahja Setiaadmadja mengatakan, pada awal pembukaan perdagangan  setelah libur panjang Idulfitri, banyak saham perbankan yang anjlok. Bukan hanya terjadi pada BBCA , tetapi juga bank besar lainya seperti BBRI, BMRI, BBNI, dan bank-bank swasta lainnya. Pihaknya menilai, pada saat libur panjang ada kejutan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengumumkan tarif resiprokal kepada negara-negara yang dianggap merugikan AS, termasuk Indonesia yang dikenakan tarif 32% saat ini. Sehingga, ketika pasar modal dibuka pada 8 April 2025, terjadi koreksi besar di semua bank. Menurutnya ini hal yang wajar, lantaran naluri investor ketika mendengar berita ketidakpastian yang belum bisa dimitigasi dampaknya memberikan risiko. Alhasil, nomor satu yang dilakukan para investor adalah cepat-cepat menjual. "Nanti sampai di bottom, baru lihat bagaimana respons bank, bukan hanya bank ya, perusahaan fundamentalnya bagus itu mulai diserok (investor) lagi. Maka terjadilah rebound," tutur Jahja. (Yetede)