Bursa
( 810 )Transaksi Lebih Sepi Saat Ramadan
Bursa saham Tanah Air bakal lebih sepi pada bulan Ramadan nanti. Secara historis, rata-rata nilai dan volume transaksi selama bulan puasa cenderung menurun karena adanya kebutuhan dana investor untuk persiapan Hari Raya Idul Fitri. Selain itu, investor kini juga bakal berhati-hati karena ada sejumlah sentimen negatif dari bursa global.
Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan, pelaku pasar masih akan mencermati ancaman krisis likuditas perbankan di Amerika Serikat (AS) dan menunggu arah kebijakan moneter bank sentral AS Federal Reserve (The Fed).
Kepala Riset Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan juga menilai, pelaku pasar kemungkinan masih akan
wait and see
dalam sebulan ke depan, terlebih pada pekan pertama bulan Mei karena menunggu rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal pertama 2023.
Valdy memperkirakan, dalam sebulan ke depan, IHSG akan bergerak dalam rentang support 6.500-6.585. Sementara
resistance
ada di level 6.740-6.800.
Sedangkan menurut Herditya, saat ini level
support
IHSG yang harus diperhatikan adalah 6.542 dan 6.509.
Keputusan The Fed Jadi Sentimen IHSG
Pasar saham dalam negeri terus terombang-ambing sentimen eksternal. Sejumlah analis meramal, fluktuasi pasar saham masih akan berlanjut pada pekan ini.
Volatilitas pasar saham ini merespons kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) The Fed. Pada Selasa dan Rabu pekan ini, The Fed akan menggelar rapat
Federal Open Market Committe
(FOMC).
Financial Expert
Ajaib Sekuritas Asia Chisty Maryani memproyeksi, The Fed akan mengerek bunga acuan 25 basis points (bps) ke 4,75%-5%.
CEO Edvisor.id Praska Putrantyo sepakat, The Fed akan mendongkrak suku bunga acuan sebesar 25 bps. Sejumlah kondisi ekonomi di Negeri Paman Sam bakal menjadi pertimbangan The Fed.
Investment Specialist
Syailendra Capital Gelbi Amoretta mengestimasi, The Fed akan mengatrol bunga acuannya 25 bps ke level 5% pada 2023.Gelbi menilai, kebijakan The Fed akan jadi katalis yang diperhatikan pelaku pasar.
Siap-Siap Kinerja 2023 Merayap
Sejumlah emiten Bursa Efek Indonesia (BEI) telah merilis kinerja keuangan tahun 2022. Dari sekitar 823 emiten yang tercatat di BEI, hingga pekan lalu (17/3), sekitar 144 emiten sudah merilis laporan kinerja keuangan tahun 2022.
Dari jumlah itu, lima emiten membukukan nilai pendapatan di atas Rp 100 triliun. Salah satunya PT Astra International Tbk (ASII) yang meraup pendapatan sebesar Rp 301,38 triliun, naik 29,1% secara tahunan.
Di bawah ASII, ada dua emiten bank yang memiliki pendapatan di atas Rp 100 triliun. Yakni, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). Tahun lalu, BBRI berhasil meraup pendapatan Rp 151,87 triliun, naik 5,82% secara tahunan. Sedangkan BMRI mencetak pendapatan Rp 112,38 triliun atau melonjak 14,97% secara tahunan.
Head of Business Development
FAC Sekuritas Indonesia Kenji Putera Tjahaja menyebut, kinerja keuangan emiten-emiten tersebut masih akan ciamik tahun ini, terutama emiten perbankan. Menurut Kenji, sentimen negatif kolapsnya tiga bank di Amerika Serikat (AS) hanya bersifat sementara.
Cuma, kinerja ASII tahun ini diproyeksi tidak akan sedahsyat tahun lalu. Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Robertus Yanuar Hardy memproyeksi pertumbuhan penjualan ASII tahun ini hanya 3%-4% secara tahunan.
BEI dan Anggota Bursa Dorong Penetrasi Waran Terstruktur
Bursa Efek Indonesia (BEI) akan terus mendorong penetrasi pasar waran terstruktur. Wisnu Aditya,
Senior VP Business Innovation
Mirae Asset Sekuritas, mengatakan, ada kemungkinan BEI akan mengembangkan indeks waran terstruktur.
"Coming soon, kemungkinan ke depannya akan ada indeks untuk
structured warrant," ujarnya, Kamis (9/3).
BEI akan terus melakukan sosialisasi kepada anggota bursa (AB) non-penerbit dan investor untuk meningkatkan aktivitas perdagangan waran terstruktur. Seperti yang diketahui, BEI baru punya dua penerbit waran terstruktur, yakni RHB Sekuritas dan Maybank Sekuritas. Saat ini masih belum ada lagi AB yang bersiap menjadi penerbit waran tersetruktur.
BEI sendiri menargetkan akan ada satu hingga dua penerbit baru dengan tambahan 15 seri baru waran terstruktur sepanjang tahun ini. Per Minggu (12/3), ada 25 seri waran terstruktur.
Kasus SVB Tekan Pasar Saham dan SUN
JAKARTA, ID – Kebangkrutan Silicon Valley Bank (SVB) diprediksi menekan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dan harga surat utang negara (SUN) pekan ini. Sebelum kasus ini mencuat, pasar saham dan SUN sudah terlebih dahulu tertekan oleh sikap hawkish bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed). Pekan lalu, indeks saham turun 7% ke level 6.765. Adapun pekan ini, IHSG diprediksi bergerak di level 6.720-6.830 sebagai support dan resistance. Dari sentimen global, pergerakan IHSG masih berkaitan dengan kondisi ekonomi AS, sedangkan dari domestik, ada angin segar berupa keputusan pembagian dividen bankbank besar. “Jika data tenaga kerja dan ini asi AS bagus, ini akan positif untuk pasar ekuitas, meskipun secara keseluruhan tone cenderung melemah, karena FOMC bulan ini diproyeksikan menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis points (bps)” ujar Financial Expert Ajaib Sekuritas Ratih Mustikoningsih, akhir pekan lalu. Selain itu, dia menuturkan, perhatian pelaku pasar pekan ini akan tertuju pada hasil rapat umum pemegang saham (RUPS) tahunan bank-bank besar, seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), terutama terkait kebijakan dividen tahun buku 2022. (Yetede)
Tiga Emiten Baru Masuk Bursa
Tiga emiten baru yang masuk Bursa Efek Indonesia pada hari Rabu (8/3/2023), membukukan kenaikan harga signifikan. Ketiga emiten itu adalah PT Teknologi Karya Digital Nusa Tbk yang menyediakan solusi informasi berbasis telematika dan internet of things, PT Saptausaha Gemilangindah Tbk yang bergerak di sektor properti, serta perusahaan pertambangan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. Dengan ketiga emiten baru itu, hingga Rabu sudah ada 26 emiten baru di bursa. (Yoga)
Pasar Menanti Kebijakan Suku Bunga The Fed
JAKARTA, ID – Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) turun 0,5% ke level 6.776 pada perdagangan Selasa (7/3/2023). Ke depan, indeks cenderung tertekan, karena pelaku pasar masih menanti arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed). Sikap wait and see pemodal membuat indeks menembus level support kuat di 6.800, kemarin. Sejalan dengan itu, indeks bisa terus melemah hingga menyentuh 6.630. Kemarin, investor asing mencetak net sell Rp 377 miliar. Asing agresif melepas saham BBCA dengan net sell Rp 182 miliar, ASII Rp 84 miliar, ADRO Rp 55 miliar, ARTO Rp 44 miliar, dan TLKM Rp 35 miliar. Namun, secara year to date (ytd), asing masih net buy Rp 2,6 triliun. Sepanjang tahun ini, indeks telah turun 1,22%. Pelaku pasar kini menanti pidato Gubernur The Fed Jerome Powell di depan Kongres AS soal perkembangan ekonomi AS. Hal ini akan memberikan gambaran arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan. Sejumlah kalangan memprediksi The Fed menaikkan lagi suku bunga acuan Federal Funds Rate (FFR) sebesar 25 basis points (bps) pada FOMC Meeting, 21-22 Maret 2023, menjadi 4,75-5% dari saat ini 4,5-4,75%, karena inflasi AS masih tinggi. (Yetede)
Sektor Tambang Sulit Tumbuh Tinggi Seperti Tahun Lalu
Pertumbuhan kinerja emiten-emiten anggota indeks LQ45 di 2022 lalu memang terbilang istimewa. Emiten LQ45 yang sudah merilis kinerja di 2022 rata-rata mencetak pertumbuhan laba bersih dua digit.
Bahkan pertumbuhan laba bersih emiten LQ45 yang bergerak di sektor tambang mencapai ratusan persen. Pertumbuhan laba bersih tertinggi dicetak oleh PT Surya Esa Perkasa Tbk (ESSA).
Sepanjang 2022, emiten energi ini mencetak kenaikan laba bersih 893,31%. ESSA juga merupakan emiten LQ45 dengan kenaikan pendapatan tertinggi, mencapai 141,07%.
Di urutan kedua sampai keempat emiten dengan pertumbuhan laba tertinggi ada nama PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dan PT United Tractors Tbk (UNTR). Keempat emiten ini juga mencetak pertumbuhan pendapatan tertinggi di 2022.
Jadi, emiten sektor komoditas energi menjadi emiten dengan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih tertinggi di 2022. Ini terjadi berkat kenaikan harga komoditas energi.
"Rata-rata harga batubara sempat berada di atas level US$ 357 per ton di 2022 dan rata-rata harga minyak sempat berada di atas US$ 95 per barel di 2022," jelas Rio Febrian, Analis Phintraco Sekuritas, Senin (6/3).
Rio menilai di sektor tambang, ITMG dan UNTR masih menarik dikoleksi.
Menghitung Kerugian Bank Digital Saat Euforia Berakhir
Prinsip dasar investasi dalam semua aset sejatinya sama yaitu membandingkan nilai dan harga. Prinsip ini berlaku untuk siapa pun dan tidak lekang oleh waktu.
Investor di mana pun selalu mencari aset yang undervalued atau underpriced, yaitu yang nilainya di atas harganya. Nilai adalah what we get atau worth, sementara harga adalah what we pay atau cost.
Ada tiga pasar dalam perekonomian, yaitu pasar barang dan jasa atau sektor riil, pasar finansial dan pasar tenaga kerja. Investasi dapat dilakukan di tiga pasar itu. Ketiga pasar juga berbeda dalam variabel terpentingnya.
Di pasar tenaga kerja, variabel paling signifikan adalah upah dan gaji. Dalam pasar barang dan jasa, variabel paling menentukan adalah harga. Sementara di pasar keuangan, variabel terpenting adalah tingkat bunga dan padanannya, yaitu tingkat diskonto, yield dan return.
Di 28 April 2021 saya membandingkan PBV lima bank digital bermodal kecil dengan tiga bank yang baru masuk buku IV. Jangan kaget jika rata-rata PBV keduanya jomplang, yaitu 24,3 berbanding 0,6. Ini berarti bank kecil dihargai 40,5 kali bank berekuitas besar.
Pada 11 Oktober 2021 saya kembali membandingkan PBV delapan bank digital dengan seluruh bank buku IV. Angkanya tetap mencengangkan, yaitu 19,6 berbanding 1,6. Bank bermodal terbesar hanya dihargai 8,2% bank-bank berekuitas kecil. Saya pun tidak ragu memprediksi euforia akan segera berakhir.
Marilah kita lihat perubahan PBV tahun 2021 dan saat ini (2023), harga terendah sebelum euforia, tertingginya dan di 2023 dari delapan saham bank digital. Simak tabel yang ada.
BEI Membuka Suspensi Efek Waskita Karya (WSKT)
Bursa Efek Indonesia (BEI) membuka suspensi perdagangan efek PT Waskita Karya Tbk (WSKT) di seluruh pasar sejak sesi I perdagangan efek pada Jumat (3/3). "BEI memutuskan melakukan pencabutan penghentian sementara perdagangan efek (saham, obligasi, dan sukuk) Waskita Karya," kata BEI dalam keterbukaan informasi, kemarin.
BEI pertama kali menghentikan sementara perdagangan efek WSKT di seluruh pasar pada 16 Februari 2023. Suspensi dilakukan seiring penundaan pembayaran bunga obligasi WSKT. Sebelumnya, WSKT menyatakan menunda pembayaran bunga Obligasi Berkelanjutan III tahap IV, yang jatuh tempo pada 23 Februari 2023.
Pilihan Editor
-
Ekspor Perikanan Rp 72,8 T
10 Feb 2021 -
China Masih Dominasi Ekspor Impor RI
16 Feb 2021 -
53,6 Ton Tuna Diekspor ke As dan Jepang
08 Feb 2021









