Bursa
( 810 )Menanti perubahan di Jajaran LQ45
Jajaran saham terlikuid LQ45 akan kembali berubah dalam waktu dekat. Bursa Efek Indonesia (BEI) akan melakukan evaluasi konstituen indeks LQ45, sejalan dengan masa berlaku LQ45 saat ini yang akan berakhir pada 31 Juli 2024.
Seperti diketahui, BEI telah mengubah ketentuan evaluasi mayor indeks, dari enam bulan sekali menjadi tiga bulan sekali. Biasanya, pengumuman hasil evaluasi akan disampaikan di pekan terakhir.
Kiwoom Sekuritas Indonesia memperkirakan, PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) berpotensi menyusul induk usahanya, PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) untuk masuk ke LQ45 periode Agustus-November 2024.
Head of Customer Literation and Education
Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi mengatakan, selain ADMR, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) juga berpotensi kembali ke indeks LQ45.
Berdasarkan data RTI, dalam tiga bulan terakhir frekuensi transaksi AMDR mencapai 310.019 kali dengan
free float
sebesar 14,32%. Sementara, frekuensi transaksi JPFA mencapai 240.212 kali dengan
free float
43,26%.
Di sisi lain, kinerja indeks LQ45 masih tertekan. Sepanjang tahun ini, laju indeks LQ45 turun 5,26%.
Associate Director of Research and Investment
Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus mencermati, tekanan pada indeks LQ45 disebabkan oleh rontoknya harga saham perbankan.
Senior Investment Information
Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta mengatakan, saham LQ45 juga akan dipengaruhi rilis kinerja keuangan kuartal II-2024. Dia pun merekomendasikan saham AKRA, ANTM, BBCA, BBNI, BBRI, BMRI, ICBP, INDF, ITMG, KLBF, SMGR dan TLKM.
Genjot Dana Kelolaan, MI Luncurkan Reksadana Baru
Manajer Investasi (MI) di Tanah Air tetap rajin menerbitkan produk-produk baru untuk menggenjot dana kelolaan tahun ini.
Seperti KISI Asset Management (AM) berencana meluncurkan Reksadana Global Sharia di semester kedua tahun ini. Reksadana global ini akan diinvestasikan dalam portofolio perusahaan teknologi ternama seperti Tesla, Nvidia, Google dan Apple.
Direktur Investasi KISI AM, Arfan Karniody memproyeksi, perusahaan-perusahaan teknologi tersebut akan tumbuh dengan baik dalam jangka panjang. Selain diharapkan bisa memberikan potensi tingkat pertumbuhan tinggi, produk reksadana syariah global bisa menawarkan diversifikasi investasi yang lebih luas dengan investasi ke berbagai negara dan sektor.
Direktur Utama KISI Asset Management, Mustofa mengungkapkan, akhir tahun lalu dana kelolaan KISI AM sekitar Rp 2,1 triliun. Sementara akhir tahun ini ditargetkan dana kelolaan mencapai Rp 3 triliun. Realisasi dana mencapai Rp 2,7 triliun per Juni 2024. Kontribusi dana kelolaan KISI AM umumnya disokong oleh kinerja produk reksadana campuran dan pasar uang.
Sementara Mandiri Manajemen Investasi baru saja meluncurkan reksadana berbasis aspek environmental, social and governance (ESG) bertajuk Reksadana Mandiri ETF SRI-Kehati. Kebijakan investasi dari produk ini minimum 80% dan maksimum seluruhnya dari nilai aktiva bersih (NAB) pada efek bersifat ekuitas yang diperdagangkan di BEI dan terdaftar dalam Indeks SRI-KEHATI.
Jeli Memilih Saat Terjadinya Rotasi
Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertahan usai menembus level psikologis 7.300 pada pekan lalu. Selama dua hari berturut-turut di awal pekan ini, IHSG terus mengalami koreksi.
Menutup perdagangan Selasa (16/7), IHSG kembali melemah 0,75% ke posisi 7.224,29. Di tengah tertekannya IHSG, ada secercah harapan saham-saham di sektor yang tertinggal di paruh pertama, kini mulai bangkit di semester II-2024.
Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi menyoroti tiga sentimen yang membuka potensi rotasi sektor saham. Pertama, meningkatnya ekspektasi pasar terhadap pelonggaran kebijakan moneter pasca rilis data ekonomi Amerika Serikat (AS).
Kedua, normalisasi nilai tukar rupiah, yang kembali ke level Rp 16.200 per dolar AS. Ketiga, masih kuatnya makro ekonomi Indonesia. Terlihat dari surplus neraca dagang dan terjaganya tingkat inflasi.
Certified Elliott Wave Analyst Master
Kanaka Hita Solvera, Daniel Agustinus turut melihat, potensi rotasi sektor di tengah ekspektasi penurunan suku bunga The Fed pada September mendatang.
Pengamat Pasar Modal & Founder WH-Project William Hartanto menilai, rotasi akan tergantung pada minat pasar serta sentimen pendukung atau penghambat dari masing-masing sektor.
Berharap Indeks Baru Bisa Menjadi Acuan
Bursa Efek Indonesia (BEI) meluncurkan indeks baru bernama IDX Cyclical Economy 30 atau IDX Economy30. Indeks ini berisi saham-saham dari berbagai sektor siklikal ( cyclical ) yang kinerja keuangannya dipengaruhi siklus ekonomi. Indeks tersebut mengukur kinerja harga dari 30 saham siklikal yang diambil dari subsektor dari IDX Industrial Classification (IDXIC). Sebanyak 30 saham yang dipilih memiliki likuiditas tinggi dan kapitalisasi pasar besar, serta didukung fundamental perusahaan yang baik. Pada tahap awal, penentuan konstituen IDX Cyclical Economy 30 mengecualikan saham yang tercatat pada Papan Pemantauan Khusus. Kemudian, 30 saham ini punya kriteria telah diperdagangkan selama 12 bulan.
Penghitungan indeks IDX Cyclical Economy 30 menggunakan metode
adjusted market capitalization weighted
yang disesuaikan berdasarkan rasio
free float
dan menerapkan pembatasan bobot saham (
cap
) paling tinggi sebesar 25%.
Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia, Jeffrey Hendrik menjelaskan, hasil kajian BEI menunjukan bahwa sektor
cyclical
dapat memberikan imbal hasil atau
return
yang lebih baik.
Reza Fahmi,
Head of Retail, Product Research & Distribution Division
Henan Putihrai Asset Management mengatakan, pihaknya dapat mempertimbangkan indeks baru ini sebagai referensi atau
benchmark
produk reksadana.
Direktur Infovesta, Edbert Suryajaya mengatakan, dengan kondisi ekonomi terkini, indeks baru Economy30 cukup menarik. Sebab, secara makro, siklus ekonomi dan investasi akan masuk ke zona ekspansi.
Head of Research
Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas mengatakan, semua saham yang masuk dalam ke indeks ini menarik untuk dicermati, khususnya saham perbankan dan properti.
Adu Kuat Emiten Grup Konglomerat
Jumlah perusahaan milik konglomerat di Tanah Air yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) semakin bejibun. Terbaru, melalui PT Tancorp Investama Mulia, konglomerat asal Surabaya, Hermanto Tanoko sukses membawa PT Superior Prima Sukses Tbk (BLES) melakukan initial public offering (IPO) pada Senin (8/7). Mengutip data RTI, hingga penutupan pasar saham Jumat (12/7), nilai market cap atau kapitalisasi pasar BLES di BEI mencapai Rp 2,29 triliun. Nilai market cap ddelapan emiten Tancorp itu mencapai Rp 63,75 triliun. Kapitalisasi pasar emiten Grup Tancorp itu berpotensi bertambah. Ini seiring rencana Hermanto Tanoko yang bakal membawa dua perusahaan lagi untuk IPO. Kedua perusahaan itu paling telat dijadwalkan akan IPO di kuartal IV-2024. Bila ditotal, kapitalisasi pasar lima emiten Grup Barito itu menembus Rp 2.303,37 triliun. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menjadi emiten penyumbang market cap terbesar Grup Barito, yakni Rp 1.264,28 triliun. Nilai ini lebih dari 50% total market cap emiten Grup Barito. Tempat kedua diduduki konglomerat Michael Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono. Lewat Grup Djarum, Hartono bersaudara ini memiliki sejumlah kepemilikan saham di enam emiten. Total market cap emiten Grup Djarum sekitar Rp 1.392,58 triliun. PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menguasai market cap emiten Grup Djarum, dengan nilai Rp 1.242 triliun. Founder & CEO Finvesol Consulting Fendi Susiyanto mengamati, kepemilikan saham konglomerat di sebuah emiten bisa menambah daya tarik yang mengangkat prospek sahamnya. Apalagi jika sang konglomerat punya reputasi dan rekam jejak apik, serta menguasai jejaring grup bisnis besar. Salah satu saham emiten milik konglomerat yang sempat membetot perhatian publik adalah PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN).
Pemilik
market cap
terbesar di BEI ini sempat jadi 'tahanan' papan pemantauan khusus skema full periodic call auction (FCA) BEI pada 29 Mei 2024.Pasca masuk papan khusus, harga saham BREN langsung anjlok 10% ke level Rp 10.125 atau membentur batas auto reject bawah (ARB) pada perdagangan Rabu (29/5). Beruntung, saham BREN tak lama masuk papan khusus.
Nafan Aji Gusta, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas menambahkan, bagi investor yang ingin melirik saham-saham emiten konglomerat bisa mencermati pergerakan sahamnya dalam jangka panjang. Terutama, emiten yang punya fundamental bisnis kuat.
Associate Director of Research and Investment
Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menambahkan, grup konglomerasi memiliki keunggulan bisnis terdiversifikasi dengan baik. Ini bisa memberikan keuntungan saat salah satu sektor bisnis lainnya tertekan.
Founder Stocknow.id, Hendra Wardana melihat, saham grup Barito punya portofolio menonjol. Selain lonjakan harga saham yang signifikan, Grup Barito juga punya prospek kinerja menarik.
Pengamat & Praktisi Pasar Modal, Agus Pramono memandang, emiten milik konglomerat yang bisnisnya di sektor konsumsi primer dan batubara bisa menjadi pilihan menarik. Tapi, perlu diingat, performa saham dipengaruhi faktor fundamental emiten dibanding pada pemiliknya.
Lolos Jerat Papan Pemantauan Khusus
Jumlah emiten yang lolos dari papan pemantauan khusus semakin banyak. Ini terjadi seusai Bursa Efek Indonesia (BEI) merevisi Peraturan Bursa Nomor I-X tentang Penempatan Pencatatan Efek Bersifat Ekuitas pada Papan Pemantauan Khusus.
Ada 12 emiten yang berhasil lepas dari tato X sejak 21 Juni 2024 lalu. Dari 12 saham tersebut, mayoritas tersandung kriteria 10. Adapun kriteria 10 adalah saham yang disuspensi selama lebih dari satu hari bursa karena aktivitas perdagangan.
Direktur Pengembangan BEI Jeffrey Hendrik mengatakan, saat ini fokus utama BEI adalah mendorong agar lebih banyak saham keluar dari papan pemantauan khusus. Menurut dia, pada saat yang sama, banyak emiten yang mulai memperbaiki diri agar bisa keluar dari papan pemantauan khusus.
BEI juga menambahkan syarat tambahan seperti pada kriteria 1 dan 7 yang berkaitan dengan likuiditas. Untuk kriteria 1 setelah direvisi adlah mencakup saham dengan harga rata-rata dalam tiga bulan terakhir kurang dari Rp 51 dan dalam kondisi likuiditas yang rendah. Lalu, kriteria 7 adalah saham-saham dengan nilai rata-rata transaksi harian kurang dari Rp 5 juta dan volume transaksi rata-rata harian saham kurang dari 10.000.
Iman Rachman, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia menimpali, sebagian besar saham yang masuk ke papan pemantauan khusus disebabkan oleh kriteria 1 tersebut. Karena itu, BEI merevisi periode saham menjadi tiga bulan dengan syarat lolos adalah jika emiten memiliki rencana membagi dividen.
Nafan Aji Gusta,
Senior Investment Information
Mirae Asset Sekuritas mengatakan, saham-saham yang telah keluar dari papan pemantauan khusus harus bisa bangkit dulu dari sisi likuiditasnya.
Lebih Agresif Jaring Dana di Semester Dua
Emiten masih gencar menjaring dana segar di pasar modal. Salah satunya melalui penerbitan surat utang atau obligasi. Dana yang terhimpun umumnya dipakai untuk refinancing utang, serta untuk keperluan modal kerja atau ekspansi. Catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), masih ada rencana penerbitan efek bersifat utang dan atau sukuk (EBUS) dalam pipeline senilai Rp 7,76 triliun. Emiten yang sedang menawarkan obligasi di antaranya PT Barito Pacific Tbk (BRPT). BRPT menerbitkan Obligasi Berkelanjutan III Tahap III-2024 Rp 1 triliun. Masa penawaran umum berlangsung pada 9 Juli - 11 Juli dan dijadwalkan akan mencatatkan obligasi pda 17 Juli 2024. Seluruh dana yang terhimpun akan dipakai BRPT untuk membayar tiga obligasi sebelumnya dan sebagian atas dua utang bank. Sebelumnya, PT Jasa Marga Tbk (JSMR) baru saja mencatatkan Obligasi Berkelanjutan III Tahap I-2024 pada 8 Juli 2024. Jumlahnya sebesar Rp 932,35 miliar, yang akan dipakai sebagai modal kerja. Sebanyak 70% untuk pengoperasian jalan tol, dan 30% untuk pemeliharaan jalan tol.
PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) juga menebitkan obligasi, dengan nilai sebesar Rp 200 miliar. Emiten lain yang menerbitkan obligasi ialah PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) sebesar Rp 600 miliar, PT Sumber Global Energy Tbk (SGER) sebesar Rp 500 miliar, dan PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP) senilai Rp 1 triliun, dan PT Bank Victoria International Tbk (BVIC) sebesar Rp 500 miliar. Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi memprediksi, penggalangan dana oleh emiten melalui penerbitan obligasi masih akan ramai pada semester II-2024. Di samping aksi korporasi lain berupa rights issue maupun private placement. Research Analyst Phintraco Sekuritas, Aditya Prayoga punya pandangan serupa. Dengan suku bunga yang masih tinggi, emiten cenderung lebih tertarik menggalang dana melalui penerbitan obligasi atau sukuk dibandingkan pinjaman bank. Sebab, obligasi menawarkan yield yang lebih menarik bagi investor.
Terancam Delisitng 50 Emiten
KATALIS PELECUT IHSG
Kendati merevisi target indeks harga saham gabungan (IHSG) pada 2024, sejumlah analis masih optimistis indeks komposit mampu menembus rekor tertingginya pada tahun ini. Dus, investor pun dapat ancang-ancang dengan memilah saham-saham potensi cuan dari sektor-sektor prospektif penopang indeks komposit. Jika ditengok, IHSG sempat mencapai rekor penutupan tertinggi sepanjang masa di level 7.433,15 pada 14 Maret 2024. Namun, proyeksi positif IHSG cenderung berbalik hingga mencapai level terendah tahun ini di posisi 6.726,91 pada 19 Juni 2024. Pada akhir semester I/2024, IHSG berhasil mengakhiri perdagangan di atas level 7.000, tepatnya 7.063,58. IHSG melorot 2,88% secara year-to-date (YtD). Mengutip data dari DataIndonesia.id, rapor IHSG menjadi kedua yang terburuk di Asia Tenggara, setelah Bursa Thailand yakni SETi yang mencetak penurunan terdalam hingga 8,05% ke level 1.301,94 pada semester I/2024. Terkini pada Senin (8/7), IHSG berada di level 7.250,97, terkoreksi 0,30% YtD. Kendati demikian, Head of Retail Research Sinarmas Sekuritas Ike Widiawati memperkirakan pada semester II/2024 IHSG akan mendapat sentimen yang seimbang dari segi domestik dan global. Dari segi domestik, faktor stabilitas politik pelantikan Presiden terpilih dan penetapan nama dalam jajaran kabinet, hingga perbaikan ekonomi seperti nilai tukar rupiah, cadangan devisa, dan inflasi bakal mengungkit IHSG.
Setali tiga uang, Direktur Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan IHSG semester II/2024 bakal ditopang potensi pemangkasan suku bunga Federal Reserve, pelantikan Presiden terpilih dan kabinet baru, hingga kebijakan Bursa yang berpihak ke pelaku pasar. Dia memprediksi IHSG di level 7.350—7.460 pada akhir 2024 dengan rekomendasi saham BBCA dengan target harga (target price/ TP) Rp11.000, BBNI Rp6.000, BMRI Rp7.400, BBRI Rp5.900, BRIS Rp2.900, CTRA Rp1.500, BSDE Rp1.300, INDF Rp7.600, ICBP Rp13.000, MYOR Rp3.000, AMRT Rp3.300, ACES Rp1.000, JSMR Rp6.300, AUTO Rp2.900. Sementara itu, Head of Research Ciptadana Sekuritas Asia Arief Budiman menyampaikan kinerja IHSG membaik mulai Juni 2024, dengan kenaikan 1,3% month-on-month (MoM). Laju IHSG ditopang pemulihan saham perbankan seperti BBRI-BBCA dan infrastruktur TLKM-BREN.
Ciptadana Sekuritas pun merevisi target IHSG 2024 menjadi 7.580 dari estimasi sebelumnya 7.700. Laju indeks ditopang ekspektasi pergeseran kebijakan moneter The Fed sehingga investor asing Kembali masuk ke pasar saham Indonesia. Di sisi lain, laba per saham (earning per share/ EPS) emiten yang dipantau Ciptadana diperkirakan tumbuh moderat 6%-8%. Adapun, Rekomendasi saham pilihan Ciptadana Sekuritas ialah BBCA TP Rp10.900, BBTN Rp1.975, MYOR Rp3.000, EXCL Rp3.000, ADMR Rp2.000, SMGR Rp6.000, PGAS Rp1.800, MEDC Rp1.850, SILO Rp3.070. Chief Economist & Head of Research Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto mengatakan, prediksi IHSG tersebut terutama karena didasari pertimbangan makroekonomi terkini terkait ruang penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang lebih terbatas dan posisi nilai tukar rupiah. Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi menyampaikan rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) saham diharapkan meningkat ke depannya.
Kinerja Membaik di Paruh Kedua 2024
Penguatan harga minyak sawit mentah alias crude palm oil (CPO) dapat memberikan sentimen positif terhadap prospek saham emiten CPO. Melansir Bloomberg, harga CPO naik 1,7% dalam sebulan terakhir dan menguat 1,58% dalam sepekan terakhir ke harga RM 4.042 per ton, Senin (8/7). Sementara melansir Kementerian Perdagangan, harga referensi produk CPO untuk bulan ini ditetapkan sebesar US$ 800,75 per ton. Nilai ini lebih tinggi 2,82% atau US$ 21,93 per ton dari harga acuan untuk Juni 2024, yaitu US$ 778,82 per ton. PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) menilai, kinerja harga CPO pada tahun 2024 masih berada pada level yang cukup tinggi. Sekretaris Perusahaan TAPG Joni Tjeng mengatakan, pasokan minyak nabati global belum naik signifikan, khususnya minyak kedelai. Di sisi lain, harga minyak mentah masih cukup tinggi akibat kondisi geopolitik.
Sentimen tersebut menjaga harga CPO di semester pertama 2024. Sementara itu, PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) mencatatkan harga rata-rata CPO sebesar Rp 11.856 per kg di kuartal I-2024. "Proyeksi harga jual rata-rata sangat tergantung ke mekanisme pasar serta juga fluktuasi harga komoditas dunia, ujar Investor Relations SGRO Stefanus Darmagiri. Analis Phillip Sekuritas, Marvin Lievincent menilai, kenaikan harga CPO membawa dampak positif terhadap industri. Namun, Marvin mengingatkan, penguatan harga CPO harus diimbangi dengan upaya emiten untuk menjaga biaya operasional agar tidak ikut naik. Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo bilang, kenaikan harga CPO memang berpotensi menaikkan harga jual emiten sektor ini. Tapi, belum tentu kenaikan harga ini berdampak signifikan terhadap kinerja semua emiten sawit.
Pilihan Editor
-
Rencana Riset dan Inovasi 2022 Disiapkan
14 Dec 2021 -
Tujuh Kantor Pajak Besar Penuhi Target Setoran
14 Dec 2021 -
Yuk, Menggali Utang di Negeri Sendiri
14 Dec 2021









