Bursa
( 810 )Dilema Stimulus: Menghidupkan Kembali Bursa Saham
Bursa Kripto Butuh Stimulus Segera untuk Bangkit
Indonesia menghadapi tantangan dalam mencapai ambisinya untuk menjadi pusat kripto Asia. Meskipun industri kripto pernah mencatatkan transaksi tinggi pada tahun 2021, yaitu Rp859,4 triliun, nilainya terus menurun hingga Rp149 triliun pada 2023. Tantangan ini diperparah oleh ketatnya persyaratan yang ditetapkan Bappebti untuk Pedagang Fisik Aset Kripto (PFAK), termasuk modal yang besar dan sistem keamanan yang tinggi, yang menurut Chief Marketing Officer Tokocrypto, Wan Iqbal, menghambat pertumbuhan jumlah PFAK. Wakil Ketua Aspakrindo Yudhono Rawis menyarankan adanya insentif untuk merangsang minat usaha, sementara CEO Reku Jesse Choi menekankan pentingnya edukasi masyarakat untuk menghindari platform ilegal.
Kepala Bappebti, Kasan, optimistis bahwa nilai transaksi kripto dapat pulih hingga 300-400% pada tahun 2024, meskipun crypto winter baru-baru ini menekan aktivitas perdagangan. General Counsel PINTU Malikulkusno Utomo menambahkan bahwa tren positif seperti Bitcoin Halving dan suku bunga rendah mendukung potensi pertumbuhan pasar kripto di tahun 2024. Selain itu, faktor eksternal seperti suku bunga Federal Reserve AS dan hasil Pemilu AS juga diprediksi mempengaruhi prospek perdagangan aset kripto di Indonesia.
Musim Hujan Berkah untuk Produksi Sido Muncul
Emiten Rumah Sakit Diversifikasi ke Bisnis Suplemen Kesehatan
Akuisisi Sebagai Langkah Strategis untuk Mengendalikan Bisnis
Susahnya Mencapai Target Penerbitan Saham Perdana
Membenahi Tata Kelola Bursa Karbon
Memasuki tahun pertama operasinya, Bursa Karbon Indonesia (IDX Carbon) telah membukukan pencapaian yang cukup baik, namun masih jauh dari potensinya. Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman tetap optimis, meskipun transaksi karbon IDX Carbon hingga Agustus 2024 hanya mencapai Rp6,14 miliar, jauh lebih rendah dari 2023 yang sebesar Rp30,9 miliar. Iman menyebut IDX Carbon masih lebih baik dibandingkan bursa karbon di Malaysia dan Jepang, serta berencana menambah jumlah partisipan dan meningkatkan likuiditas pasar melalui edukasi dan koordinasi dengan OJK dan kementerian terkait.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Inarno Djajadi, juga melihat potensi IDX Carbon yang besar, terutama dengan adanya ribuan calon partisipan terdaftar di Sistem Registri Nasional Pengendalian Perubahan Iklim (SRN PPI). Ia menekankan pentingnya penguatan regulasi untuk meningkatkan volume transaksi karbon.
Namun, pengamat pasar modal Teguh Hidayat dan Guru Besar FEB UI Budi Frensidy mengkritik lambatnya pertumbuhan IDX Carbon akibat kurangnya ketegasan pemerintah untuk mewajibkan korporasi membeli kredit karbon. Budi menilai BEI perlu lebih aktif melakukan sosialisasi mengenai aturan karbon dan proses verifikasi emisi. Direktur Eksekutif Indonesian Mining Association, Hendra Sinadia, menambahkan bahwa Bursa Karbon adalah opsi positif bagi sektor usaha, terutama pertambangan, dalam dekarbonisasi, namun masih membutuhkan kepastian dan sosialisasi terkait pajak karbon dari pemerintah.
Kenaikan Permintaan Jadi Harapan Baru
Kucuran stimulus Pemerintah China untuk mendongkrak ekonomi negaranya berpotensi menggerakkan pasar dan harga komoditas tambang mineral-logam. Ini sekaligus jadi sentimen positif bagi emiten pertambangan nikel di Tanah Air untuk memoles kinerja. Sejumlah emiten nikel sudah berancang-ancang untuk mengoptimalkan peluang efek stimulus ekonomi China. Contoh PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA). Dua emiten nikel ini melihat stimulus China sebagai katalis tambahan yang bisa mengerek prospek kinerja di sisa tahun ini. Apalagi, berkaca pada kinerja keuangan semester I-2024, performa Grup Merdeka ikut terdongkrak kontribusi yang lebih besar dari MBMA. Sejalan dengan peningkatan produksi di tambang nikel maupun pada hilirisasi, yakni rotary kiln electric furnace (RKEF) dan nikel matte. Head of Corporate Communications MDKA, Tom Malik optimistis, prospek kinerja emiten ini di semester II-2024 akan membaik. "Target produksi MDKA dan MBMA masih on the track. Ditambah dengan outlook harga mineral dan logam yang optimis merespons stimulus ekonomi China," kata Tom Malik kepada KONTAN, Selasa (1/10). Analis Yuanta Sekuritas, Alditya Galih Ramadhan mengamati, performa emiten nikel masih cenderung melemah. Kondisi ini lantaran permintaan stainless steel. Kucuran stimulus ekonomi China diharapkan mendongkrak outlook permintaan stainless steel dan bahan material lain yang berkaitan dengan properti.
Founder
Stocknow.id Hendra Wardana melihat, pasar berharap efek stimulus di China bisa mendongkrak permintaan nikel global. Ini akan kembali mendongkrak harga nikel, yang bakal jadi faktor kunci bagi profitabilitas emiten di sektor ini.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Miftahul Khaer mencermati, dalam beberapa hari ini sejumlah saham emiten nikel terpapar sentimen positif dari stimulus ekonomi China. Apalagi, dalam beberapa pekan terakhir, harga nikel global sudah menanjak.
Analis BCA Sekuritas, Achmad Yaki sepakat, stimulus ekonomi di China akan berimbas positif pada saham sektor komoditas. Hanya saja, Yaki mengingatkan defisit pasokan di China belum cukup mengerek harga komoditas
Pelaku pasar juga perlu mencermati potensi kelebihan pasokan di dalam negeri. Ini setelah pemerintah menyetujui sebagian besar kuota produksi pertambangan. Dus, investor perlu selektif memilah saham nikel.
Volatilitas yang Tinggi Berimbas ke Pergerakan IHSG
Infrastruktur Menanti Perubahan di Tengah Transisi
Kinerja sektor infrastruktur diproyeksi masih akan berat di sisa tahun 2024. Sejumlah indikasi itu sudah tercermin dari kinerja indeks IDX Infrastruktur yang masih berada di zona merah. Pada Selasa (1/10), IDX Infrastruktur bertengger di posisi 1.546,80. Secara harian, indeks yang berisi 66 saham emiten di sektor infrastruktur jalan tol, telekomunikasi, tower dan infrastruktur lainnya ini mengalami koreksi 0,19%. Jika diakumulasi sejak awal tahun ini, indeks infrastruktur sudah longsor 1,48%. Research Analyst Phintraco Sekuritas, Muhamad Heru Mustofa melihat, terkoreksinya kinerja IDX Infrastruktur dipicu sentimen jelang peralihan kepemimpinan nasional pada Oktober ini. Kondisi itu menyebabkan pasar cenderung menunda investasi di sektor infrastruktur. Terlebih, berdasarkan RAPBN 2025, anggaran belanja negara untuk pembangunan infrastruktur merosot 5,5% secara tahunan menjadi Rp 400 triliun, dari Rp 423 triliun pada APBN 2024. Dus, proyek pembangunan infrastruktur pada 2025 diproyeksi menyusut. Meski begitu, kata dia, kinerja emiten infrastruktur berpotensi membaik seiring pelonggaran kebijakan moneter atau pemangkasan suku bunga di sisa paruh kedua tahun ini. Kebijakan ini berpotensi mengurangi beban bunga emiten infrastruktur.
Pasalnya, mayoritas emiten infrastruktur memiliki beban bunga tinggi akibat tumpukan utang. Heru memperkirakan, di sisa tahun ini, emiten telekomunikasi akan menopang kinerja indeks infrastruktur.
Terutama jika rencana merger PT XL Axiata Tbk (EXCL) dan PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) terealisasi. Ini membuat persaingan usaha semakin sehat. Dus, kondisi tersebut berpotensi mendorong kinerja keuangan emiten telko.
Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta Utama mencermati, penurunan kinerja IDX Infrastruktur dipicu beberapa faktor. Di antaranya, penurunan kinerja keuangan dan saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM).
Dalam evaluasi minor BEI terhadap IDX Infrastruktur, bobot TLKM pada indeks tercatat turun dari 9,28% menjadi 9%. Jumlah saham TLKM untuk indeks juga turun jadi 2,97 miliar. "Selain itu, investasi TLKM di PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) juga masih merugi," ujar Nafan.
Untuk
trading, Nafan merekomendasi akumulasi beli saham TLKM, EXCL, dan WIKA dengan target harga masing-masing Rp 3.150, Rp 2.340, dan Rp 416 per saham.
Pilihan Editor
-
Awasi Distribusi Pupuk
31 Jan 2022 -
Waspada Robot Trading Berbasis MLM dan Ponzi
31 Jan 2022 -
BUMN Garap Ekosistem Kopi
31 Jan 2022 -
Pusat Data Kecerdasan Buatan Diluncurkan
04 Jan 2022









