UMKM
( 689 )Jakarta dalam Sepiring Gultik
Sepiring gulai tikungan alias gultik di kawasan Blok M,
Jakarta Selatan, telah merekam rupa-rupa wajah Jakarta dalam tiga dekade
terakhir. Ia melalui krisis ekonomi, pandemi Covid-19, dan meniti pemulihan pasca-krisis
sambil jadi ”media darling”. Dapur Budi Nugroho (34) mulai menunjukkan tanda
kehidupan pukul 10.00 pagi, Jumat (3/11). Ada yang memasak nasi, menggoreng
kerupuk, menyiapkan 400 tusuk sate telur puyuh, kulit ayam, bakso, dan ampela.
Ada yang merebus daging sapi sampai empuk selama sekitar 1 jam, lalu dipotong
tipis-tipis dan ditumis dengan bumbu halus yang terdiri dari bawang merah,
bawang putih, cabai merah, lengkuas, kemiri, ketumbar, dan kunyit. Setelah
bumbu meresap di daging, santan dimasukkan dan dimasak hingga mendidih. Itulah
pembuatan gulai khas Sukoharjo, Jateng. Walakin, Budi yang berasal dari
Sukoharjo ini nyaris tak menemukan warung nasi gulai di sana.
Pegiat sekaligus penulis produktif buku-buku kuliner Nusantara,
Kevindra Soemantri, menyebut gultik sebagai contoh sempurna kuliner urban sebuah
kota besar seperti Jakarta. Kuliner urban biasanya hadir sejalan dengan proses
migrasi. ”Mereka mengakui awalnya gultik dari seorang pedagang nasi gulai asal
Sukoharjo yang berjualan di sekitar Jalan Lumandau, tak jauh daritempat gultik
yang terkenal sampai sekarang,” ujar Kevindra. Budi sendiri pedagang gultik generasi
ketiga di keluarganya. Ia mewarisi usaha ini dari bapak mertuanya sejak 2016. Gultiknya
dijual di atas trotoar di persimpangan Jalan Mahakam-Bulungan, Blok M. Ia mulai
berjualan mulai jam pukul 16.00 sore hingga sekitar pukul 03.00-04.00 pagi.
Dalam sehari, mereka tidur hanya lima jam demi melayani para
warga Jakarta yang tak kunjung tidur. Jumlah porsi yang terjual pada hari biasa
dan akhir pekan pun bisa selisih hingga ratusan porsi. ”Contoh dari sate saja. Di hari biasa saya bawa 400
tusuk. Kalau malam Sabtu bisa 500-600 tusuk, dan kalau malam Minggu 750-800
tusuk,” ucap Budi. Walau jumlah konsumen gultik ratusan hingga ribuan orang, kondisi
penjualan gultik di Blok M dinilai belum kembali normal. Menurut para pedagang,
masa penjualan sebelum pandemi Covid-19 jauh lebih baik ketimbang sekarang.
Sebelum pandemi, tidak akan ada kursi kosong selama jualan. Setelah tengah
malam pun dagangan tetap diserbu konsumen. Adapun seporsi gultik dijual seharga
Rp 10.000. (Yoga)
Pembangunan Pasar UMKM di Lampung
Ekonomi Sirkular di Kampung Bandeng
Sejak pagi, sejumlah pedagang ikan bandeng hilir mudik di
lingkungan RT 017 RW 004, di Desa Kalanganyar, Sidoarjo, Jatim. Mereka
mengantarkan ikan-ikan segar kepada para ibu yang tengah berdiam di rumah
masing-masing, Minggu (29/10). Zulfa
(40), salah satu ibu rumah tangga, mengatakan sehari bisa mengerjakan jasa cabut
duri pada 25-30 ikan bandeng segar dengan upah Rp 1.500 per ekor. Jika
dikalkulasi, penghasilannya Rp 45.000 per hari. Hampir setiap hari ada pedagang
ikan yang memanfaatkan jasanya. ”Di sini ibu-ibu sudah punya pelanggan pedagang
ikan. Lumayan buat nambah uang belanja kebutuhan rumah tangga,” ujar Zulfa yang
sudah 13 tahun bekerja sebagai pencabut duri ikan di rumah.
Koordinator Kucari, akronim dari Kampung Cabut Duri Desa
Kalanganyar, Ahmad Arif Wibowo mengatakan, di lingkungan RT 017 RW 004 saja terdapat
36 usaha cabut duri dari total 40 keluarga. Usaha itu dikelola para perempuanibu rumah
tangga dengan bekerja di sela kesibukan mengurus suami, anak-anak, rumah, dan
kehidupan sosial masyarakat. ”Para ibu rumah tangga ini bisa memiliki
penghasilan sendiri dan menambah pendapatan keluarganya,” ucap Arif. Anggota
BPD Kalanganyar ini menambahkan, selain di RT 017 RW 004, usaha cabut duri juga
ditekuni sebagian besar ibu rumah tangga di desanya. Mereka tidak hanya
melayani pedagang ikan, tetapi juga para pemancing ikan di wisata kolam pemancingan.
Wisata pemancingan ikan jadi salah satu destinasi wisata unggulan di Desa
Kalanganyar. Obyek wisata ini terintegrasi dengan wisata kuliner ikan bakar dan
aneka makanan olahan bandeng, seperti otak-otak, bandeng presto, bandeng asap, sambal
bandeng asap, serta kerupuk ikan bandeng. (Yoga)
93 UMKM Binaan Bank Mandiri Unjuk Gigi di Bazaar UMKM Sarinah
NILAI TAMBAH LIMBAH KAYU DI SENTRA PRODUKSI PERAHU PULAU SEWANGI
Limbah kayu dari sisa produksi
perahu di Desa Pulau Sewangi, Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala, Kalsel,
kini diolah menjadi kriya kayu. Pemanfaatan di sentra produksi perahu atau
jukung ini berpotensi menambah pendapatan warga di kawasan Geopark Meratus.
Yunus (37), warga Pulau Sewangi, duduk beralaskan sandal di halaman balai desa,
Senin (23/10) siang. Dengan hati-hati, ia memahat sepotong kayu untuk membentuk
miniatur perahu atau jukung. ”Rasanya lebih rumit bikin miniatur daripada bikin
jukungnya sendiri,” ujar perajin jukung itu sambil tertawa. Syarifuddin alias
Anang (51), perajin jukung lainnya, yang juga duduk memahat berhadapan dengan
Yunus, menimpali, ”Benar, ini sudah tiga hari belum jadi juga.”
Senin itu adalah hari
ketiga bagi Yunus, Anang, dan kawan-kawan mengikuti pelatihan pembuatan produk
geopark di Balai Desa Pulau Sewangi. Dalam pelatihan itu, mereka diajarkan
membuat aneka produk kriya kayu dengan memanfaatkan limbah kayu dari sisa
produksi perahu. Pelatihan diadakan Badan Pengelola Geopark Meratus bekerja
sama dengan Kantor Perwakilan BI Provinsi Kalsel pada 21-23 Oktober dan 28
Oktober 2023. Warga setempat dilatih membuat produk geopark karena Pulau
Sewangi sudah ditetapkan sebagai salah satu situs dari Geopark Meratus.
”Limbah kayu seperti ini
tidak ada harganya. Kalau ada yang memerlukan untuk kayu bakar atau urukan,
kami biasanya memberikan secara cuma-cuma,” kata yunus. Selama ini, limbah kayu
dari sisa produksi perahu tidak dimanfaatkan karena warga setempat memang hanya
berfokus pada produksi dan perbaikan perahu. Jukung tersebut dijual mulai dari
harga Rp 4 juta hingga Rp 30 juta per buah, tergantung ukuran. Kebanyakan
jukung dari Pulau Sewangi dijual ke daerah Tabunganen dan Marabahan, Kabupaten
Barito Kuala, serta Aluh Aluh, Kabupaten. Sekdes Desa Pulau Sewangi Syarifah
Zakiah Mabrurah menuturkan, pelatihan pembuatan produk geopark baru kali ini
diadakan. Kegiatan ini sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat desa setempat setelah
Pulau Sewangi ditetapkan sebagai salah satu situs Geopark Meratus. (Yoga)
UMKM, Lokapasar, dan Produk Impor Murah
Membanjirnya produk impor
murah di pasar daring membuat produk dalam negeri kian tersisih dari persaingan
pasar. Segenap upaya mesti dilakukan pelaku usaha agar produk mereka tetap
dapat mencuri perhatian. Kebangkitan industri konfeksi pada 2016 sempat menjadikan
produk T-shirt lokal sebagai primadona di pasaran. Momen ini ditandai dengan
kemunculan banyak UMKM di sejumlah daerah. Hal ini setidaknya diakui oleh Ecky
Nugraha, pemilik jenama perlengkapan outdoor Ammossi. Kala itu, Ecky melihat antusiasme
pasar terhadap T-shirt lokal sebagai peluang yang menjanjikan. Terbukti,
T-shirt menjadi produk andalan dengan tingkat penjualan hampir 1.000 potong
sebulan. Cerita kemudian berbalik pada tahun 2019, saat produk T-shirt impor
murah mulai membanjiri lokapasar. T-shirt dengan harga lebih rendah dari produk
lokal mulai bermunculan. Hal ini membuat produk T-shirt lokal perlahan-lahan
tersingkir dari persaingan.
”Kalau pasar diibaratkan kue,
ini kuenya makin kecil. Pilihannya, (UMKM) mau berebutan kue dengan ikut banting
harga atau mati dengan sendirinya karena tidak sanggup memakan kue itu,” ujarnya
saat ditemui di Tangsel, Kamis (5/10). Meski mengaku memiliki segmen
tersendiri, Ecky menilai banjirnya produk impor tetap berpengaruh terhadap penjualan
produk T-shirt Ammossi. T-shirt dengan harga di atas Rp 50.000, dinilai terlalu
mahal. Padahal, harga T-shirt yang dijual Ammossi di atas Rp 100.000.
”Penginnya bisnis di marketplace bisa fair. Pemerintah sebagai wasit seharusnya
bisa kasih kartu kuning atau kartu merah kalau ada yang main curang,”
ungkapnya.
Direktur Bisnis dan
Pemasaran Lembaga Layanan Pemasaran Koperasi dan UKM (Smesco) Kementerian
Koperasi dan UKM Wientor Rah Mada menjelaskan pentingnya perlindungan pelaku
UMKM di tengah gempuran produk impor melalui platform e-commerce. Sebanyak 64
juta usaha atau 99 % populasi usaha merupakan UMKM. Sebesar 97 % angkatan kerja
ada di UMKM. ”Jadi, kalau ekosistem UMKM-nya terganggu, ini kami bicara ekonomi
domestik yang mungkin akan terganggu,” ujar Wientor. Untuk melindungi UMKM, pemerintah
menerbitkan Permendag No 31 Tahun 2023 tentang Perizinan Berusaha, Periklanan,
Pembinaan, dan Pengawasan Pelaku Usaha dalam Perdagangan melalui Sistem Elektronik,
untuk memberi perlindungan terhadap UMKM dari produk impor serta platform
e-dagang. (Yoga)
Maju Festival Angkat UMKM melalui Budaya
Merayakan Kekayaan Bahari Sulut dengan Festival Tuna
Festival Tuna Sulawesi Utara dimotori oleh jajaran kanwil Kemenkeu serta Ikatan Pengusaha Perikanan (IPP) Sulut. Acara yang dimu lai pada Jumat (20/10) malam ini berlangsung hingga Minggu (29/10) di lapangan parkir Megamall, Kota Manado. Puluhan gerai kuliner, termasuk olahan tuna, meramaikan acara ini. Pada puncak perayaan di hari terakhir, 1.000 paket rahang tuna bakar dan 1.000 dada tuna bakar, yang biasanya disajikan dengan nasi putih, tumis kangkung, serta rica bakar dan dabu-dabu, akan diberikan secara gratis kepada 2.000 orang pemilik kupon. Kupon bisa didapatkan dengan berbelanja di kawasan festival dan membayar dengan QRIS (standar kode respons cepat Indonesia). Semua olahan tuna yang dibagikan massal itu disediakan oleh 18 anggota IPP Sulut. Ketua IPP Sulut Budi Wahono mengatakan, nilai rahang dan dada tuna untuk festival itu Rp 60 juta-Rp 70 juta, dan didanai dengan anggaran tanggung jawab sosial korporasi (CSR). Budi memastikan olahan tuna tersebut telah melalui sistem manajemen keamanan pangan bersertifikasi ISO 22000 yang berstandar ekspor. Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Manado telah memastikan keamanannya. ”Jadi, kalau ambil di IPP, udah pasti kelas satu semua,” ucapnya, Jumat sore.
”Tahun lalu, kami ingin memperkenalkan sashimi, yang selama ini kita ekspor ke Jepang, sebagai makanan sehat di Sulut. Kedua, kami juga ingin mengantisipasi peluang dari KEK (Kawasan Ekonomi Khusus) Pariwisata Likupang sehingga para turis asing bisa menikmatinya dan menjadikannya buah tangan,” ujarnya. Tahun ini, fokus penyelenggara beralih untuk memperkuat pemasaran lokal dengan menggandeng pengusaha kuliner UMKM. Jika permintaan lokal kuat, kata Budi, pengusaha juga diuntungkan karena tetap dapat meraup cuan atau untung maksimal. Di samping itu, konsumen lokal pun tetap mendapatkan kualitas terbaik. Kabid Fasilitas Kepabeanan dan Cukai di Kanwil Ditjen Bea dan Cukai Sulawesi Bagian Utara (Kanwil DJBC Sulbagtara) Kemenkeu, yakin akan ada efek pengganda dari perhelatan ini, utamanya dari sisi pariwisata serta pertumbuhan investasi di bidang industri. ”Dari sisi budaya, budaya makan ikan akan menguat. Tentunya, konsumsi akan semakin banyak sehingga dapat mendukung industri perikanan. Kalau stan-stan kuliner ramai dan pengunjung banyak, perekonomian tentu akan bergerak,” ujarnya. (Yoga)
Revolusi Digital Usaha Kecil Pemuas Lidah
Usaha kuliner Moqafe menjadi bukti kesuksesan digitalisasi
melampaui masa-masa sulit saat pandemi Covid-19. Berdiri sejak 1 Maret 2020 di
sekitar daerah perkantoran di bilangan Gelora, Tanah Abang, Jakpus, usaha kecil
itu bertahan karena memanfaatkan beberapa aplikasi penjualan dan pengantaran
makanan secara daring. Pemilik usaha, Willy Ramadhan (28), bernostalgia. Ia
sempat kalut karena kasus Covid-19 pertama yang menakutkan masyarakat muncul
pada hari pertamanya membuka kedai berukuran 2 x 7 meter. Tempat yang awalnya
berkonsep kafe itu menjajakan pempek dengan aneka camilan dan minuman artisan.
Usaha luar jaringan itu dibuka setelah Willy terjun di usaha produksi pempek
yang dipasarkan di platform e-dagang sejak 2015. Pembatasan kegiatan social sempat
membuat penjualan sepi karena sebagian besar pekerja tidak pergi ke kantor dan
Moqafe tidak bisa melayani makan di tempat. Namun, Willy kembali menyesuaikan
diri dengan digitalisasi dan menggunakan beberapa aplikasi online delivery.
”Akhirnya, ada penjualan dan pada Oktober 2020 melonjak
karena ditopang online,” ucapnya kepada Kompas, Kamis (5/10). Adaptasi saat itu
membantu pengenalan usaha dan penjualan produknya hingga ke luar kotamadya.
Omzet pada 2020 menyentuh Rp 1,8 juta sehari. Sekitar 80 % omzet ditopang
penjualan daring dan sisanya dari luar jaringan. Setelah pandemi berakhir,
omzet yang rata-rata Rp 1 juta per hari berbalik didominasi penjualan di
tempat. Perluas pengenalan Willy tetap memanfaatkan digitalisasi untuk
memperluas pengenalan Moqafe. Ia juga memanfaatkan pembayaran nontunai yang
semakin populer. Upaya ini tidak lepas dari kendala terbatasnya dana pemasaran.
Penghasilan selama ini, termasuk bantuan kredit usaha rakyat (KUR) perbankan
yang ia dapat sejak 2020, masih digunakan untuk modal usaha. Ia menghindari
tren kenaikan biaya layanan dan algoritma pemasaran penyedia aplikasi online
delivery yang kurang menguntungkan dengan menggunakan aplikasi bisnis lainnya.
Aplikasi baru itu membantunya menyebarkan promosi produk ke pelanggan secara
personal. (Yoga)
50 UMKM Binaan Pertamina di Ajang MotoGP
Sebanyak 50 usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) binaan dari PT Pertamina (Persero) turut meramaikan pergelaran balap motor MotoGP di Sirkuit Mandalika, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Menurut Vice President Corporate Communication Pertamina, Fadjar Djoko Santoso, Jumat (13/10/2023), UMKM binaan tersebut akan menjual beragam produk makanan dan minuman, serta suvenir khas Lombok. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Orang Kaya Singapura Akan Dikenai Pajak
19 Feb 2022 -
Membabat Para Penentang
19 Feb 2022 -
Euforia Bank Digital Mendongkrak Kekayaan Taipan
21 Feb 2022 -
Tiga Bisnis yang Dibutuhkan Dimasa Depan
02 Feb 2022









