Plus Minus Hadirnya Starlink
Ironi Pertanian Tanpa Petani
Cerita DPR Mengejar Tenggat Legislasi
Tambal-Sulam Peringatan Dini Bencana
Asal Perpanjang Usia Pensiun Polisi
Mengapa Akses Internet Tak Merata
Menguji Kredibilitas Anggaran Prabowo-Gibran
Potret ekonomi pemerintah baru mulai nampak. Pemerintah kemarin menyerahkan proyeksi dan asumsi makro ekonomi Indonesia 2025 ke parlemen. Ini akan jadi modal awal pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka memimpin Indonesia lima tahun ke depan, atau mulai Oktober 2024-Oktober 2029. Lewat Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-pokok Kebijakan Fiskal (KEM PPKF) 2025, ini akan menjadi acuan pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk menyusun Nota Keuangan dan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025. Merujuk dokumen yang sama, target pertumbuhan ekonomi 2025 dipatok 5,1%-5,5%. Angka jauh dari target Prabowo-Gibran yang menginginkan ekonomi tumbuh hingga 8% selama tiga tahun ke depan.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut, pertumbuhan ekonomi tahun depan akan ditopang stabilitas inflasi, kelanjutan hilirisasi sumber daya alam, pengembangan industri kendaraan listrik, hingga digitalisasi yang didukung perbaikan iklim investasi dan kualitas SDM. Untuk mencapai target ekonomi tumbuh di sasaran 5,1%-5,5%, pemerintah memproyeksikan belanja negara di kisaran 14,59%-15,18% dari produk domestik bruto (PDB). Yang menarik, untuk membiayai belanja itu, target pendapatan negara lebih rendah dari belanja atau berkisar 12,14%-12,36% PDB.
Alhasil, anggaran 2025 akan defisit 2,45%-2,82% PDB. Target ini lebih besar dari defisit APBN 2024 yang dipatok sebesar 2,29% PDB. Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan, dengan indikasi rasio pendapatan yang rendah ketimbang belanja negara, itu memperkuat argumen bahwa tahun depan pemerintah akan mengandalkan pendanaan alternatif sebagai tambahan pendanaan utama. Pada 2025, pemerintah memasang target imbal hasil surat berharga negara atau yield SBN tenor 10 tahun berkisar 6,9%-7,3%, lebih tinggi dibanding target 2024 sebesar 6,7%.
Alhasil, beban pokok sekaligus bunga utang pemerintah bakal lebih besar. Chief Economist The Indonesia Economic Intelligence (IEI) Sunarsip menyoroti target pertumbuhan ekonomi yang berkutat di level 5%. Meski realistis, angka ini belum mencerminkan perbaikan fundamental ekonomi kita. Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), Ronny P. Sasmita juga melihat, pemerintahan Prabowo-Gibran masih terjebak tren pertumbuhan era Jokowi di kisaran 5%. Jadi "Pekerjaan mencapai 8% tidak mudah," ucap dia.
Berharap Investasi dari Korea Selatan Meningkat
Pasar Obligasi Mulai Unjuk Gigi Meski Masih Dibayangi Fluktuasi
Pasar obligasi pemerintah masih bergerak volatil, meski mulai ada perbaikan. Ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh the Federal Reserves (The Fed) yang semakin tinggi menjadi pendorongnya. Ini tercermin dari imbal hasil (yield) yang melandai ke bawah 7%. Dikutip dari Bloomberg, yield Surat Utang Negara (SUN) acuan 10 tahun di level 6,93% pada Senin (20/5). Turun dari level 7,24% pada akhir April 2024. Chief Economist Pefindo, Suhindarto mengatakan, turunnya yield menandakan ada perbaikan harga obligasi. Secara jangka menengah, ada peluang yield bergerak di level yang lebih rendah, mempertimbangkan potensi pelonggaran moneter ke depan. Namun dalam satu-dua bulan ke depan, ia masih khawatir pergerakan yield masih akan volatil. Sebab, risiko geopolitik masih perlu diwaspadai. The Fed juga belum 100% yakin memangkas suku bunga dalam waktu dekat.
Belum lagi faktor geopolitik. Terbaru seperti dikutip Reuters dari kantor berita IRNA, Senin (20/5), Presiden Iran, Ebrahim Raisi, tewas setelah helikopter yang ditumpanginya jatuh dalam cuaca buruk di pegunungan dekat perbatasan Azerbaijan. Ini terjadi setelah "perang bayangan” yang panjang antara Iran dan Israel pecah bulan lalu dengan saling tembak-menembak drone dan rudal. Pada semester II, kata Darto, yield akan bergerak menurun karena ada peluang suku bunga diturunkan, baik eksternal maupun domestik. Sejauh ini, tingkat inflasi domestik terus bergerak di rentang target, yang positif untuk memulai pelonggaran. Ekonom Senior KB Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana memproyeksi, yield 10 tahun bisa lebih baik seiring ekspektasi penurunan Fed Rate yang lebih dekat. Ia memperkirakan yield 10 tahun bisa kembali ke 6,3%-6,6%. Dengan catatannya ada ruang fiskal yang berubah karena ada perubahan di pemerintahan.
Siap-Siap, Waktu Belanja Saham Segera Tiba
Usai dilanda tekanan jual, pasar saham dalam negeri kembali bergairah. Dalam tiga hari beruntun sepanjang pekan lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anteng di zona hijau. Indeks saham pun mengakumulasi kenaikan hingga 3,22% dalam sepekan dan kembali ke atas level 7.300. Apakah waktu belanja saham sudah tiba (time to buy). Sebagai gambaran, dua hari perdagangan terakhir, dana investor asing juga mulai kembali masuk ke pasar saham. Alhasil, sejumlah saham mulai berbalik arah dari tren pelemahan sebelumnya. Tak bisa dipungkiri, laju IHSG juga didongkrak dua saham emiten milik Prajogo Pangestu. Sepanjang pekan lalu saham BREN menguat 11,40% dan TPIA naik 14,11%. Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori Fajar Dwi Alfian mengatakan, salah satu agenda penting di pekan pendek ini adalah keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI) dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung 21-22 Mei 2024.
Konsensus analis memperkirakan, BI akan mempertahankan suku bunga di level 6,25%. Pidato Ketua Fed Jerome Powell akan memberikan petunjuk mengenai arah suku bunga di negara dengan ekonomi terbesar di dunia tersebut. Belum lagi, akan ada Federal Open Market Committee FOMC minutes pada Kamis (23/5) mendatang. Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee menambahkan, inflasi CPI AS yang lebih baik dari perkiraan telah menaikkan potensi pemangkasan suku bunga The Fed.
Hal inilah yang membuat IHSG menguat pada pekan lalu. Pelaku pasar pun berharap pemotongan suku bunga dua kali dapat dimulai pada September mendatang. Alhasil, Hans memperkirakan IHSG pekan ini berpeluang konsolidasi dengan kecenderungan menguat. Support ada di 7.200 sampai 7.052 dan resistance di level 7.356 hingga 7.454. Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta juga meyakini, pasar saham berpeluang melanjutkan penguatannya. Terutama jika pejabat Fed menunjukkan sikap dovish. Reza Priyambada, Investment Consultant Reliance Sekuritas memperkirakan, IHSG di pekan pendek ini akan menguji support di 7.190-7.238 dan resistance di 7.378-7.396. Selain saham-saham yang berkaitan dengan suku bunga, Reza merekomendasikan sejumlah saham yang sudah mulai berbalik arah untuk menguat. Contohnya, saham BBCA, BMRI, ASII, PGAS dan ISSP.









