;

Protes Kian Marak, Kebijakan FCA Dievaluasi

Yuniati Turjandini 11 Jun 2024 Investor Daily (H)

Bursa Efek Indonesia (BEI)  tengah mengevaluasi skema perdagangan  full periodic call auction (FCA) yang diberlakukan untuk saham penghuni papan pemantau khusus (PPK). Hal ini bertujuan memastikan peraturan pasar modal terus relevan dan mendukung perkembangan  investasi yang hebat. Evaluasi kebijakan ini dijadwalkan  selesai mendekati 25 Agustus 2024 yang telah menuai kontroversi  serta 'korban' sejumlah saham, lantaran harganya terus turun sejak masuk PPK. Tak ayal lagi, protes keras terhadap aturan FCA dari kalangan restor  hingga emiten kian marak. Kini, muncul seruan terhadap investor untuk mogok trading  saham sebagai bentuk protes kebijakan FCA.

Adapun dua emiten Group MNC Asia Holding Tbk (BHIT) secara tegas mengaku dirugikan oleh implementasi PPK dengan mekanisme FCA. Di sisi lain kalangan analis sepakat, FCA merupakan salah satu faktor yang menekan IHSG BEI. Sebab BEI malah memasukkan saham dengan  market cap terbesar PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) ke PKK, yang membuat sahamnya tergelincir dan menyeret IHSG hingga dibawah 7.000. Saham BREN terkena autorejection bawah berjilid-jilid begitu masuk PPK pada 29 Mei 2024. Dalam sebulan saham BREN turun 32% ke level Rp 6.650. 

Rugikan Industri, Permendag 8/2024 Layak Dicabut

Yuniati Turjandini 11 Jun 2024 Investor Daily (H)
Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 8 tahun 2024 tentang Perubahan Ketiga atas Peraturan Menteri Perdagangan No 36/2023 tentang Kebijakan dan Pengaturan Impor Merugikan Industri manufaktur. Untuk itu, aturan tersebut layak dicabut agar tidak membuat industri semakin tertekan. Ketua Asosiasi Pertekstilan (API) Jemmy Kartiwa Sastraatmadja menerangkan, Permendag 8/2024 merupakan sektor industri tekstil dan produk tekstil (TPT). Dia mengungkapkan, dampak Permendag 8/2024 adalah relaksasi untuk impor pakaian jadi, sehingga pakaian jadi yang tertahan di pelabuhan sekarang banyak membanjiri pasar dalam negeri. Hal ini membuat utilitasi industri tekstil semakin rendah. Kondisi ini membuat order-order IKM atau garmen pakaian jadi ditunda atau dibatalkan. Selain itu, banyak produk kalah asing dari produk impor yang menawarkan harga murah. (Yetede)

NPL Naik, CKPN Kredit UMKM Capai Rp85,5 Triliun

Yuniati Turjandini 11 Jun 2024 Investor Daily (H)

Segmen UMKM di perbankan mengalami kenaikan rasio kredit macet (non performing loan/NPL) usai restrukturisasi kredit dampak Covid-19 dicabut OJK. Meskipun NPL kredit UMKM naik, namun perbankan telah mengalokasikan pencadangan yang memadai. Kepala Eksekutif Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, kualitas kredit secara keseluruhan tetap terjaga  meski ada peningkatan NPL, dimana NPL gross per April 2024 perbankan sebesar 2,33% angka ini lebih tinggi dibandingkan posisi Maret 2024 di level 2,25%. Sementara, NPL net April 2024 sebesar 0,81%, yang baik juga dari bulan sebelum 0,77%.

Adapun, NPL gross UMKM di April 2024 mencatat 4,26%, menanjak dibandingkan bulan sebelumnya 0,777%. "Peningkatan NPL gross UMKM utamanya pada segmen kredit kecil dan mikro yang naik menjadi 3,89%di April 2024, dari Maret 2024 3,65%. Walaupun demikian, perbankan telah menggantikan kenaikan NPL UMKM tersebut dengan membentuk CKPN kredit UMKM sebesar Rp 85,5 triliun, dengan perbandingan antara total CKPN UMKM terhadap total NPL UMKM," urai Dian. (Yetede)

Saham Banking Kembali Bangkit

Yuniati Turjandini 11 Jun 2024 Investor Daily (H)
Saham-saham perbankan diyakini segera bangkit setelah mengalami penurunan cukup dalam selama beberapa pekan terakhir. Peningkatan harga saham juga diyakini kembali berlanjut kedepannya sejalan dengan kinerja yang sesuai ekspektasi pada empat bulan pertama 2024. BRI Danareksa Sekuritas mencatat, emitan perbankan mencatatkan kinerja yang baik pada empat bulan 2024, dengan hasil memuaskan diraih oleh PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank OCBN NISP Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN), PT Bank CIMP Niaga  Tbk (BNGA), dan PT bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS). BBCA dan NISP menduduki peringkat teratas, yang didukung oleh net internet margin (NIM) yang tangguh karena sedikitnya tekanan biaya dana (cost of fund), pertumbuhan laba kuat, dan likuiditas yang baik," kata Analis BRI Danareksa Sekuritas Viktor dan Naura Reyhan Muchlis  dalam risetnya yang dipublikasikan Senin (10/6/2024)

Mengapa Produksi Batu Bara Rendah

Yuniati Turjandini 11 Jun 2024 Tempo
MENJELANG semester kedua 2024, produksi batu bara nasional belum mencapai separuh target. Minerba One Data Indonesia, yang dikelola Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, menunjukkan total produksi baru sebesar 329,49 juta ton atau 35 persen dari target sebesar 922,14 juta ton. Pelaksana tugas Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI), Gita Mahyarani, menyebutkan realisasi itu sesuai dengan ekspektasi. Asosiasi memproyeksikan produksi baru 35 persen pada akhir Mei 2024. Pasalnya, sejumlah perusahaan baru mendapatkan persetujuan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) pada kuartal pertama tahun ini. 

Jika dibanding periode yang sama tahun lalu, realisasi hingga 10 Juni 2024 lebih tinggi 9 juta ton atau 3 persen. Melihat data tersebut, Gita memperkirakan tingkat produksi batu bara pada akhir tahun ini pun tak terpaut jauh dengan realisasi pada 2023 yang mencapai 775 juta ton. Itulah sebabnya, APBI menilai target tahun ini tak akan terealisasi sepenuhnya. "Estimasi kami mungkin hanya sekitar 800 juta ton," tuturnya kepada Tempo, kemarin. Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Rizal Kasli pun memperkirakan target RKAB tidak terpenuhi setelah melihat realisasi produksi hingga kemarin. "Perkiraan kami di level 775 juta ton saja pada 2024," katanya. 

Minimnya realisasi tersebut, selain karena keterlambatan persetujuan RKAB, dipengaruhi oleh harga batu bara. Kebutuhan batu bara dari negara utama pengimpor batu bara, yaitu Cina, mengalami peningkatan. Namun negara tersebut memilih mengimpor batu bara Australia yang lebih bagus kualitasnya dibanding Indonesia karena harga yang relatif murah. (Yetede)

Kian Deras Penolakan Izin Tambang Ormas

Yuniati Turjandini 11 Jun 2024 Tempo
Sejumlah organisasi masyarakat (ormas) keagamaan menolak pemberian izin usaha pertambangan (IUP) batu bara dari Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal. Pembagian izin tambang tanpa lelang ini dianggap tak sesuai dengan mandat ormas keagamaan. Beberapa ormas mengimbau agar ormas keagamaan tetap berfokus pada pembinaan umat. Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) merupakan salah satu ormas yang menolak pemberian izin tambang. Ketua Umum PGI Gomar Gultom mengatakan bisnis tambang betul-betul di luar bidang pelayanan PGI. "Dunia usaha tambang ini sangat kompleks, memiliki konsekuensi yang sangat luas, dan diliputi ragam kontroversi di dalamnya," ujarnya kepada Tempo, kemarin, 10 Juni 2024. 

Kekhawatiran akan kerusakan alam yang ditimbulkan dari pertambangan batu bara juga menjadi alasan PGI tak menerima izin pengelolaan tambang. Terlebih, ujar Gultom, selama ini PGI aktif mendampingi korban-korban kebijakan pembangunan, termasuk korban usaha tambang. Dengan menjadi bagian dari pelaku usaha tambang, ia menilai PGI akan sangat rentan kehilangan legitimasi moral. Pemberian izin pengelolaan tambang tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 70 Tahun 2023 tentang Pengalokasian Lahan bagi Penataan Investasi. Berdasarkan aturan yang terbit pada 16 Oktober 2023 itu, pemerintah secara spesifik menyebutkan ormas, usaha kecil dan menengah, serta koperasi mendapat kesempatan menerima wilayah IUP (WIUP). 

Pada 30 Mei lalu, Presiden Joko Widodo menandatangani Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2024 tentang perubahan atas PP Nomor 96 Tahun 2021 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batu Bara. Penawaran WIUP kepada badan usaha ormas keagamaan berlaku terbatas, yaitu lima tahun sejak PP Nomor 25 Tahun 2024 berlaku. Dengan demikian, tawaran itu hanya berlaku sampai 30 Mei 2029. Awalnya, izin kelola yang ditawarkan kepada ormas keagamaan merupakan IUP yang telah dicabut oleh Satuan Tugas Penataan Penggunaan Lahan dan Penataan Investasi pada periode 2022-2024 akibat tidak melaksanakan rencana kegiatan dan anggaran biaya. Namun ormas memilih lahan bekas perjanjian karya pengusahaan batu bara (BPKP2B) yang diciutkan. Kini pemerintah telah menyiapkan enam izin usaha pertambangan operasi produksi di bekas lahan PKP2B untuk enam ormas keagamaan. (Yetede)


Transaksi Saham Sepi Akibat Investor Tak Hepi

Hairul Rizal 11 Jun 2024 Kontan (H)

Nilai transaksi harian saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai sepi. Investor mengerem transaksi saham di bursa, salah satunya karena tak hepi dengan sentimen negatif penerapan papan pemantauan khusus dengan skema full call auction (FCA).  Kemarin (10/6), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di level 6.921,54 atau naik 0,34%. Nilai transaksi harian saham kembali di kisaran Rp 8,88 triliun. Alhasil, nilai transaksi harian saham secara beruntun berada di angka Rp 8 triliun per hari dalam tiga hari terakhir perdagangan saham. Khusus pada perdagangan saham kemarin, nilai transaksi saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) mencapai Rp 411 miliar. Saham yang terkena tato X dan ditransaksikan dengan skema FCA itu menopang 5% perdagangan harian di BEI. 

"Penambahan kepemilikan saham Bapak Prajogo ini merupakan bentuk dari kepercayaan beliau sebagai Chairman Grup Barito atas langkah-langkah strategis pengembangan dan ekspansi usaha yang telah dilakukan oleh Barito Renewables bersama anak usaha, Star Energy Geothermal dan Barito Wind Energy," tulis Merly, Direktur dan Corporate Secretary BREN dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (10/6). Sebagai gambaran, berdasarkan  data terakhir Statistik Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK), rata-rata transaksi harian saham pada April 2024 senilai Rp 14,01 triliun. Pada pekan lalu, rata-rata transaksi harian di bursa sekitar Rp 10,38 triliun.  Alhasil, rata-rata transaksi harian saham dalam tiga hari terakhir turun 40%. 

Irvan Susandy, Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota BEI mengatakan, memang dalam tiga hari terakhir nilai transaksi harian di bursa di bawah Rp 10 triliun. Tapi, kata dia, secara year to date (ytd) masih tumbuh 12,06%. "Terlalu dini untuk menilai faktor penyebab penurunan nilai transaksi," katanya kepada KONTAN, Senin (10/6). Head of Equity Research Bahana Sekuritas Satria Sambijantoro menilai sepinya transaksi di bursa saham belakangan ini dipengaruhi perginya dana investor asing ke negara lain. Kemarin, investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp 296,06 miliar. Sepekan terakhir net sell asing mencapai Rp 2,34 triliun. Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia (UI) Budi Frensidy juga menandaskan, sepinya transaksi bursa beberapa hari terakhir merupakan efek dari papan pemantauan khusus. Oleh karena itu, Budi menyarankan BEI lebih transparan menjelaskan manfaat dan mudarat FCA. Salah satu investor di pasar saham yang enggan disebutkan namanya menilai BEI seharusnya memberikan wadah bagi setiap tipe investor. Sebab, jika hanya mengandalkan investor fundamental transaksi di bursa akan sepi. 

Biaya Hidup Menekan Konsumsi Masyarakat

Hairul Rizal 11 Jun 2024 Kontan

Indikasi konsumsi rumah tangga akan tumbuh melambat pasca Ramadan dan Idul Fitri, makin menguat. Hal ini tecermin dari menurunnya sejumlah indikator dini konsumsi masyarakat. Terbaru, Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) berdasarkan Survei Konsumen yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI) bulan Mei 2024 turun 2,5 poin ke level 125,2. Dari data tersebut pula, IKK hanya mencatat kenaikan pada bulan Maret dan April 2024, yang bertepatan dengan momentum puasa dan Lebaran. Penurunan IKK disebabkan oleh pelemahan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) sebesar 4 poin ke level 115,4. Baik karena penurunan indeks penghasilan saat ini, ketersediaan lapangan kerja, dan pembelian barang tahan lama (durable goods). Dari survei itu, rata-rata proporsi pendapatan konsumen untuk konsumsi turun dari 73,6% menjadi 73,0%. Sementara proporsi pembayaran cicilan/utang naik dari 9,7% menjadi 10,3%. Sedangkan proporsi pendapatan konsumen yang disimpan relatif stabil, yaitu sebesar 16,6%.

Selain itu, indikator dini konsumsi masyarakat yang lain, yakni Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur RI pada bulan Mei juga tercatat turun dari 52,9 menjadi 52,1. Penurunan memang disebabkan oleh melemahnya permintaan luar negeri. Namun, pertumbuhan permintaan dalam negeri cenderung terbatas. Bahkan perusahaan khawatir dengan tanda-tanda penurunan permintaan pasar akan semakin intensif dalam 12 bulan ke depan. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai, turunnya keyakinan konsumen sejalan dengan berakhirnya Lebaran dan mudik yang menjadi pendorong kenaikan belanja konsumen di April. Di saat bersamaan, biaya hidup masyarakat cenderung naik karena beberapa hal. Belum lagi, "(Rencana) potongan Tapera yang mempengaruhi keputusan konsumen untuk menahan belanja terutama belanja barang tahan lama," kata Josua kepada KONTAN, Senin (10/6). Kondisi tersebut akan berdampak terhadap kinerja penjualan. Senada, Chief Economist Bank Syariah Indonesia (BSI) Banjaran Surya Indrastomo juga berharap pada semester II 2024 ini, pemerintah bisa mendorong realisasi belanjanya agar daya beli masyarakat kembali meningkat. 

Kinerja Lesu, Saham Industri Masih Layu

Hairul Rizal 11 Jun 2024 Kontan

Industri masih belum berenergi. Tampak dari indeks sektoral yang terjun sedalam 14,8% secara tahunan atau year to date (ytd) hingga perdagangan Senin (10/6). IDX Industrials menjadi sektor dengan penurunan terdalam ketiga setelah sektor teknologi dan sektor transportasi & logistik. Kedua sektor itu masing-masing mengakumulasi penurunan 27,63% dan 21,23% sejak awal 2024. Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi mengamati, emiten di sektor industri relatif sensitif terhadap sentimen makro ekonomi, kebijakan moneter dan pergerakan nilai tukar rupiah. Nah, sentimen yang ada sejauh ini cenderung menekan sebagian emiten di sektor industri. Tekanan itu cukup tergambar dari kinerja kuartal I-2024 sejumlah emiten di sektor ini. Audi mencontohkan PT Astra International Tbk (ASII), PT United Tractors Tbk (UNTR), PT Arwana Citramulia Tbk (ARNA) dan PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) yang laba bersih mereka menyusut hingga double digits. Toh,

Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia juga tengah melandai. Meski masih bertahan di zona ekspansi, PMI Manufaktur per Mei 2024 menyusut 0,8 poin secara bulanan dari 52,9 menjadi 52,1. Di sisi lain, secara pembobotan saham ASII masih menopang sektor industri. Tapi kinerja emiten holding multi-industri tersebut sedang tertekan. Secara ytd, saham ASII mengakumulasi pelemahan 20,18%,  di jajaran atas saham laggard penggerus indeks. Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menambahkan, secara teknikal sektor industri masih  downtrend dan masih didominasi volume penjualan. Herditya menyarankan buy on weakness ASII dengan estimasi target harga di Rp 4.720 - Rp 4.860. Lalu speculative buy UNTR dengan target harga Rp 22.850 - Rp 23.350 dan MARK  target Rp 965 - Rp 1.020.

Siap-Siap di Atas Rp 16.300

Hairul Rizal 11 Jun 2024 Kontan
Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (10/6). Rupiah di pasar spot turun 0,54% ke posisi Rp 16.282 per dolar AS. Sedangkan di Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah juga melemah 0,44% ke level Rp 16.290 per dolar AS. Direktur Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi menyampaikan, pasar fokus pada pertemuan The Fed mendatang, dengan keputusan suku bunga yang akan dirilis pada Rabu (12/6). Bank sentral diperkirakan akan mempertahankan suku bunga. Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures, Nanang Wahyudin menjelaskan, sebentar lagi rupiah bisa menjebol Rp 16.300 per dolar AS. "Ini level psikologis terlemah baru," kata Nanang, Senin (10/6). Dengan faktor-faktor tersebut, Nanang memproyeksi rupiah bergerak di rentang Rp 16.220–Rp 16.355 per dolar AS. Ibrahim memprediksi, rupiah ditutup melemah di rentang Rp 16.270–Rp 16.330 per dolar AS, pada Selasa (11/6).

Pilihan Editor