;

Strategi Jitu Menjaga Arus Ekspor Nasional

Hairul Rizal 10 Jun 2025 Bisnis Indonesia

Pemerintah Indonesia, melalui sejumlah tokoh kunci seperti Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri, Menteri Perdagangan Budi Santoso, dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, mengambil langkah strategis guna menahan laju penurunan kinerja ekspor nasional. Salah satu upaya konkret dilakukan Kemendag dengan menggelar misi dagang ke Jepang pada 9–13 Juni 2025 untuk memperluas pasar dan memperkuat jejaring bisnis. Selain Jepang, pemerintah juga mempercepat penyelesaian perundingan perjanjian IEU–CEPA dengan Uni Eropa untuk mendorong pertumbuhan ekspor lebih dari 50% dalam beberapa tahun ke depan.

Namun, kinerja ekspor nasional tetap menghadapi tantangan serius. Penurunan ekspor pada April 2025 sebesar 10,77% dibandingkan bulan sebelumnya dipengaruhi oleh faktor musiman (libur Lebaran) dan ketidakpastian global, terutama dari negosiasi tarif resiprokal Presiden AS Donald Trump. Menteri Budi Santoso menyoroti bahwa banyak eksportir menunggu kejelasan kebijakan tarif tersebut, yang turut memperlambat ekspor ke sejumlah negara. Sementara itu, Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal memperkirakan surplus perdagangan Indonesia akan menyusut lebih lanjut karena tekanan dari tarif tinggi dan hambatan perdagangan.

Secara keseluruhan, meskipun pemerintah aktif memperluas akses pasar dan memperkuat kemitraan global, kondisi eksternal dan faktor musiman tetap menjadi hambatan yang memerlukan strategi lanjutan dan kolaborasi lintas sektor.


Kejagung Periksa Saksi Terkait Kasus Besar

Hairul Rizal 10 Jun 2025 Bisnis Indonesia

Kejaksaan Agung (Kejagung), melalui Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Harli Siregar, mengambil langkah tegas dalam penyelidikan kasus dugaan korupsi pengadaan Chromebook di Kemendikbudristek pada periode 2019–2022 yang menelan anggaran sebesar Rp9,982 triliun. Penyidik Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) telah memanggil tiga mantan staf khusus Mendikbudristek Nadiem Makarim berinisial FH, JT, dan IA sebagai saksi. Ketiganya telah dicekal karena dua kali mangkir dari panggilan pemeriksaan. Selain itu, Kejagung telah melakukan penggeledahan di apartemen mereka dan menyita sejumlah barang bukti elektronik serta dokumen penting. Langkah ini menunjukkan keseriusan Kejagung dalam mengusut tuntas dugaan penyimpangan dalam proyek pengadaan berskala besar tersebut.

Angka Kemiskinan Naik, Pemerintah Perlu Bertindak

Hairul Rizal 10 Jun 2025 Kontan (H)
Kondisi ekonomi Indonesia menghadapi tekanan serius seiring melonjaknya angka kemiskinan berdasarkan standar baru dari World Bank. Dalam laporan June 2025 Update to the Poverty and Inequality Platform, World Bank mencatat jumlah penduduk miskin Indonesia mencapai 194,4 juta jiwa, atau 68,91% dari total populasi, setelah revisi metode penghitungan garis kemiskinan menggunakan PPP (Purchasing Power Parity) 2021.

Standar kemiskinan internasional untuk negara berpendapatan menengah, termasuk Indonesia, kini ditetapkan sebesar US$ 8,30 per orang per hari, naik dari sebelumnya US$ 6,85. Dampaknya, dua dari tiga warga Indonesia kini dikategorikan miskin secara global. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding data versi Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat hanya 8,57% penduduk Indonesia tergolong miskin per September 2024.

Perbedaan ini disebabkan oleh metodologi. World Bank menggunakan pendekatan paritas daya beli global, sementara BPS memakai pendekatan kebutuhan dasar, yang mencakup konsumsi makanan minimum (2.100 kkal per hari) dan kebutuhan nonmakanan seperti perumahan dan listrik. Menurut BPS, garis kemiskinan nasional saat ini hanya sebesar Rp 595.243 per orang per bulan.

Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Celios, menilai metode BPS sudah usang karena belum direvisi sejak 1976. Ia mendesak BPS untuk menyesuaikan standar dengan kondisi terkini agar gambaran kemiskinan lebih akurat dan cakupan bantuan sosial lebih tepat sasaran. Piter Abdullah dari Segara Institute juga mendorong revisi agar data kemiskinan bisa mencerminkan kenyataan ekonomi masyarakat.

Sementara itu, Arief Anshory, Anggota Dewan Ekonomi Nasional, mengungkapkan bahwa BPS sedang dalam proses mengkaji ulang metode penghitungan garis kemiskinan, dan revisinya ditargetkan rampung dalam satu hingga dua bulan ke depan.

Lonjakan angka kemiskinan menurut versi global mengungkap perlunya pembaruan metode nasional. Tokoh seperti Bhima Yudhistira, Piter Abdullah, dan Arief Anshory mendesak pemerintah untuk segera menyesuaikan metode BPS agar kebijakan sosial dan ekonomi dapat lebih tepat sasaran dan merefleksikan realitas lapangan.

Harga BBM Subsidi Perlu Kajian Ulang

Hairul Rizal 10 Jun 2025 Kontan
Meskipun harga minyak mentah dunia saat ini berada di bawah asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025, pemerintah belum menurunkan harga BBM bersubsidi jenis Pertalite. Padahal, penurunan harga ini dinilai memungkinkan oleh beberapa pengamat, meski juga ada alasan teknis dan fiskal yang menjadi pertimbangan pemerintah.

Saleh Abdurrahman, anggota Komite BPH Migas, menegaskan bahwa Pertalite adalah BBM penugasan sehingga penetapan harganya merupakan wewenang pemerintah. Ia menyebut harga jual saat ini masih di bawah keekonomian RON90. Hadi Ismoyo, praktisi migas, menjelaskan bahwa penentuan harga Pertalite sangat kompleks karena mempertimbangkan banyak variabel, seperti rendemen produksi, harga minyak mentah, kurs rupiah, dan biaya logistik. Berdasarkan hitungan kasarnya, bahkan dengan harga minyak saat ini, keekonomian Pertalite masih sekitar Rp 11.000 per liter, sedangkan harga jualnya Rp 10.000, sehingga pemerintah masih menanggung selisih.

Namun, Bhima Yudhistira dari Celios menilai seharusnya harga Pertalite bisa mulai diturunkan karena harga minyak global sudah jatuh ke kisaran US$ 60–64 per barel, jauh lebih rendah dari asumsi APBN sebesar US$ 82 per barel. Ia mengkritik ketimpangan, karena BBM nonsubsidi seperti Pertamax sudah turun harganya, sementara Pertalite tetap, yang dirasa tidak adil bagi masyarakat kelas menengah ke bawah.

Fahmy Radhi, pengamat energi dari UGM, menyatakan bahwa harga Pertalite tidak hanya bergantung pada harga minyak global, tetapi juga kurs rupiah dan volume konsumsi yang diperkirakan meningkat. Pelemahan nilai tukar juga bisa menjadi alasan pemerintah menahan harga Pertalite.

Sementara itu, Yayan Satyakti dari Universitas Padjadjaran mengaitkan keputusan ini dengan rencana Presiden Prabowo yang akan meluncurkan berbagai program insentif, termasuk subsidi BBM yang bersifat universal. Program ini membutuhkan dana besar, sekitar Rp 20–30 triliun, sehingga penurunan harga BBM saat ini bisa mengganggu kebijakan fiskal tersebut.

Meski ada ruang dari sisi harga minyak global untuk menurunkan harga Pertalite, sejumlah faktor teknis dan pertimbangan fiskal-politik membuat pemerintah memilih menahan harga. Tokoh-tokoh seperti Bhima Yudhistira, Fahmy Radhi, dan Yayan Satyakti menyoroti pentingnya transparansi dan keadilan dalam kebijakan harga BBM bagi masyarakat.

Dividen Tambang Masih Menggiurkan Investor

Hairul Rizal 10 Jun 2025 Kontan
Pekan ini menjadi momentum penting bagi investor yang ingin meraih keuntungan dari dividen saham emiten sektor pertambangan dan energi, karena sejumlah emiten sedang memasuki periode cum dividen—hari terakhir pembelian saham agar berhak menerima dividen.

Beberapa emiten yang tercatat membagikan dividen minggu ini antara lain PT Mitrabara Adiperdana Tbk (MBAP), PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR), PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), dan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO). MBAP akan membagikan Rp 38 per saham, ADMR sekitar Rp 47,27 per saham, dan PGEO naik dari Rp 47,77 menjadi Rp 53 per saham. Sementara itu, ADMR dan ADRO menunjukkan dividend yield yang menarik masing-masing sebesar 4,6% dan 7,4%.

Oktavianus Audi, VP di Kiwoom Sekuritas, menyatakan bahwa saham pertambangan seperti ADMR dan ADRO sangat menarik karena menawarkan yield tinggi. Namun, ia juga mengingatkan adanya potensi koreksi harga saham setelah cum date, terutama pada saham dengan yield di atas 5%, akibat aksi profit taking.

Ekky Topan, analis dari Infovesta Utama, menyoroti bahwa PGAS bahkan memberikan yield hingga 10%, mencerminkan stabilitas keuangan dan komitmen emiten dalam membagikan dividen. Ia juga menyarankan investor berburu dividen masuk setelah ex date, saat harga saham mulai stabil, khususnya pada saham seperti ADRO dan ADMR yang dianggap punya kombinasi baik antara yield, valuasi, dan kesehatan keuangan.

Praska Putrantyo, CEO Edvisor Provina Visindo, melihat fundamental ADRO menjanjikan, apalagi dengan arah transformasi menuju energi hijau. Ia juga menyarankan agar investor jangka panjang yang masuk saat musim dividen tetap meninjau prospek harga komoditas, karena itu akan memengaruhi performa emiten di sisa tahun 2025.

Pembagian dividen sektor pertambangan pekan ini menjadi peluang strategis bagi investor jangka pendek dan panjang. Namun, tokoh-tokoh seperti Oktavianus Audi, Ekky Topan, dan Praska Putrantyo menekankan pentingnya strategi masuk—baik sebelum maupun setelah ex date—dengan mempertimbangkan fundamental emiten, volatilitas harga saham, dan prospek sektor komoditas.

Strategi Emiten: Naikkan Harga, Hadirkan Inovasi

Hairul Rizal 10 Jun 2025 Kontan
PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) menerapkan strategi kenaikan harga, inovasi produk, dan ekspansi ekspor untuk menjaga pertumbuhan kinerja di tengah risiko pelemahan daya beli masyarakat. Sejak Februari 2025, ICBP menaikkan harga Indomie sebesar Rp 100 per bungkus guna meningkatkan pendapatan dari segmen mi instan yang menyumbang 71,9% dari total pendapatan kuartal I-2025.

Namun, efek kenaikan harga ini belum tercermin signifikan dalam laporan kuartal I, dengan pertumbuhan volume penjualan hanya 1% yoy. Jessica Leonardy, analis OCBC Sekuritas, memperkirakan dampak positif baru akan terlihat pada kuartal II-2025. Ia menyebut strategi harga ini, didukung efisiensi manufaktur dan pengurangan pengeluaran operasional, akan menjaga stabilitas margin. Jessica memperkirakan segmen mi instan dapat tumbuh hingga 8% yoy di 2025.

Selain strategi harga, ICBP juga meluncurkan enam produk baru di awal tahun, termasuk varian baru mi instan, yogurt, dan makanan ringan. Menurut Catherine Florencia dari MNC Sekuritas, inovasi produk ini memperkuat posisi ICBP dalam persaingan, karena menunjukkan kemampuannya merespons perubahan selera konsumen. Catherine memproyeksikan pertumbuhan segmen makanan ringan, bumbu, dan nutrisi antara 6%–7% yoy, meski segmen susu dan minuman diprediksi melemah karena persaingan ketat.

Di pasar ekspor, ICBP menunjukkan pertumbuhan yang lebih baik dibanding pasar domestik, yaitu 3,6% yoy menjadi Rp 5,5 triliun. Jessica memproyeksikan pertumbuhan ekspor akan terus kuat di Asia, Timur Tengah, dan Afrika, dengan kontribusi ekspor bisa mencapai 24% dari total pendapatan. Salah satu pendorongnya adalah ekspansi melalui jaringan ritel global seperti Walmart di AS.

Namun, Indy Naila dari Edvisor Profina Visindo mengingatkan adanya risiko fluktuasi nilai tukar dalam ekspor. Meski begitu, ia tetap merekomendasikan buy untuk saham ICBP dengan target harga Rp 11.875, didukung pula oleh Jessica (Rp 14.600) dan Catherine (Rp 13.800).

Indonesia Diharapkan Optimalkan Perdagangan Eropa

Yuniati Turjandini 10 Jun 2025 Investor Daily (H)
Indonesia diharapkan mampu mengoptimalkan keberadaan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Menyeluruh Indonesia-Uni Eropa atau Indonesia-European Union Comprehensive Ekonomi Partnership Agreement (IEU-CEPA) dengan  mendorong peningkatan ekspor sejumlah komoditas unggulan Indonesia, terutama yang selama ini mengalami hambatan tarif dan nontarif. Saat ini, Pemerintahan sedang menyelesaikan tahapan akhir perundingan IEU-CEPA. Melalui kesepakatan ini, kedua belah pihak diharapkan bisa meningkatkan peran masing-masing dalam rantai pasok pasar dunia. Oleh karena itu dibutuhkan percepatan  penyelesaian perundingan sudah dilakukan dalam 19 putaran dan memakan waktu 9 tahun. Hubungan Ekonomi Indonesia dan Uni Eropa selama ini terus menunjukkan tren  positif dengan nilai perdagangan mencapai US$ 30,1 miliar pada 2024. Uni Eropa merupakan mitra dagang terbesar kelima bagi Indonesia, sementara Indonesia menempati posisi sebagai mitra dagang ke-33 bagi Uni Eropa. Neraca perdagangan antara kedua pihak tetap surplus bagi Indonesia, dengan peningkatan signifikan dari US$ 2,5 miiar pada 2023 menjadi US$ 4,5 miliar pada 2024. (Yetede)

Maskapai Tanah Air Membutuhkan Banyak Armada

Yuniati Turjandini 10 Jun 2025 Investor Daily (H)
Maskapai operasional penerbangan di Tanah Air saat ini masih kekurangan armada pesawat, karena sejumlah pesawat yang selama ini dioperasikan berada pada masa perawatan. Meski begitu, kondisi ini masih terselamatkan karena demans atau permintaan penumpang juga belum membaik. Analis penerbangan indepen Gatot Raharjo mengatakan, kekurangan armada idealnya tidak dibebankan kepada maskapai, sebab hal itu memerlukan biaya tinggi di tengah ketidakpastian global. Sebaliknya, kebutuhan pesawat diperuntukkan untuk pemerintah dan masyarakat. Idealnya, untuk menjangkau wilayah di setiap pulau besar Indonesia, dibutuhkan setidaknya 600-700 armada. "Sebelum Covid jumlah armada kita mencapai lebih dari 500 pesawat, bahkan kebutuhan ada di 600-700 pesawat. Tapi, yang butuh pesawat itu, harusnya masyarakat dan pemerintah, bukan maskapai. Karena maskapai hanya menyesuaikan demand saja. Pemerintah punya tanggung jawab membuka rute penerbangan seluas-luasnya, sementara masyarakat di pedalaman tentu butuh angkutan pulau," ucap dia. (Yetede)

Bank Berburu Dana Non-DPK

Yuniati Turjandini 10 Jun 2025 Investor Daily (H)

LPS mencatatkan tren penguatan signifikan pada sumber dana non-dana pihak ketiga (DPK) perbankan per April 2025. Ini sejalan dengan kondisi DPK yang hanya tumbuh 4,55% secara tahunan (yoy), alhasil bank mencari sumber lain DPK. Hingga posisi April 2025, sumber danan non-DPK yang dihimpun perbankan mencapai Rp677,26 triliun, tumbuh 14,95% (yoy). Tren ini terus meningkat dibandingkan posisi Aoril 2023 yang naik 3,2% (yoy), kemudain per April 2024 tumbuh 7,89% (yoy). Peningkatan sinifikan ini membuktikan bahwa penghimpunan DOK menjadi tantangan perbankan, sebab, pertumuhan sumber dana non-DPK melesat tiga kali lipat dari DPK.

Dengan penyaluran kredit yang tumbuh 8,8% (yoy) per April 2025, tidak heran bank berburu dana segar di luar giro, tabungan, dan deposito. Berdasarkan data LPS, komposisi sumber dana non-DPK. Dengan penyaluran kredit yang tumbuh 8,8% (yoy) per April 2025, tidak heran bank berburu dana segar di luar giro, tabungan dan, deposito. Berdasarkan dana LPS komposisi sumber dana non-DPK dikontribusikan oleh pinjaman diterima sebesar Rp 413,76 triliun atau setara 61,09% dari total sumber dana segar di luar giro, tabungan, dan deposito. Berdasarkan data LPS, komposisi sumber dana non-DPK. Berikutnya, surat berharga diterbitkan sebesar Rp158,72 triliun  (23,44%) dan kewajiban bank lain sebesar Rp158,72 triliun (23,44), dan kewajiban bank lain sebesar Rp 104,77 triliun (15,47%)

Bauran Energi Harus Mencapai 34% pada 2034

Yuniati Turjandini 10 Jun 2025 Investor Daily (H)

Bauran energi harus mencapai 34% pada 2034 guna mengejar karbon netral pada 2060. Target bauran energi ini sudah ditetapkan dalam Rancangan Usaha Penyedia  Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034. Porsi bauran energi ini lebih tinggi dari target dalam Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) yang sebesar 29% pada 2034. Dalam RUPTL teranyar target penambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 gigawatt (GW) hingga 2034. Dari total ini, sekitar 76% kapasitas akan berasal dari energi  baru terbarukan (EBT) dan sistem penyimpanan energi seperti baterai dan pumped  storage.

Pada lima tahun pertama, akan dibangun  pembangkit sebesar 27,9 GW yang terdiri dari 9,2 GW berbasis gas, 12,2 GW dari EBT, 3 GW untuk sistem penyimpanan, dan 3,5 GW pembangkit batu bara yang sudah dalam  tahap penyelesaian konstruksi. Memasuki lima tahun kedua, fokus bergeser ke pengembangan EBT dan penyimpanan energi 37,7 GW atau 90% dari total kapasitas yang direncanakan. Sisanya sebesar 3,9 GW masih berasal dari pembangkit berbasis fosil seperti batu bara dan gas. Jenis pembangkit energi terbarukan yang akan dikembangkan yaitu tenaga  surya (17,1 GW). Angin (7,2 GW), panas bumi (5,2 GW), hidro (11,7 GW, dan bioenergi (0,9 GW). Selain itu, energi baru seperti nuklir mulai diperkenalkan dengan pembangunan dua unit reaktor di Sumatera dan  Kalimantan, masing-masing berkapasitas 250 MW. (Yetede)