;

Reformasi Fiskal Didorong Ciptakan Lapangan Kerja

Yoga 13 Jan 2022 Kompas

Kepala Kebijakan Fiskal Kemekeu Febrio N Kacaribu memastikan, pada 2022 reformasi fiskal terus berlanjut melalui reformasi perpajakan, kebijakan pengelolaan belanja yang lebih optimal, dan manajemen kas negara yang lebih baik. Reformasi juga dilakukan dengan memperbanyak pembiayaan inovatif guna mendorong penciptaan lapangan pekerjaan dengan memberdayakan peran swasta hingga Lembaga Pengelola Investasi. Reformasi akan disertai rumusan kebijakan fiskal yang komprehensif agar dampaknya pada penciptaan lapangan kerja semakin kuat.

Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, meyakini bahwa normalisasi atau tapering yang akan dilakukan otoritas moneter AS tidak akan berdampak seperti pada 2013, dimana terjadi pelarian dana asing besar-besaran sehingga kurs rupiah terpuruk. ”Neraca transaksi berjalan, inflasi, likuiditas pasar keuangan, dan sisi fiskal Indonesia saat ini lebih baik dari kondisi 2013,” ujarnya. (Yoga)


KoinWorks Disuntik Modal Rp 1,6 Triliun

Yoga 13 Jan 2022 Kompas

Penyedia layanan pinjam-meminjam uang berbasis teknologi informasi KoinWorks mendapat suntikan pendanaan baru sebesar 108 juta USD atau Rp 1,6 triliun, untuk teknologi dan menambah karyawan. Putaran pendanaan ini dipimpin oleh MDI Ventures, perusahaan modal ventura milik Telkom Indonesia, dan partisipasi investor sebelumnya. Benedicto Haryono, CEO dan Co-founder KoinWorks (12/1) mengatakan, pendanaan 108 juta USD itu terdiri dari ekuitas 43 juta USD dan modal utang 65 juta USD. (Yoga)


Pedagang Kecil Perlu Mengenal Ekosistem Digital

Yoga 13 Jan 2022 Kompas

Standar Kode Respons Cepat Indonesia (QRIS) diluncurkan BI pada 17 Agustus 2019 dan berlaku efektif pada 1 Januari 2020. Setengah tahun setelah di implementasikan, BI mencatat 3,67 juta pengguna QRIS, menjadi 6,55 juta pengguna atau naik 80 % per 19 Maret 2021. Target BI mencapai 12 juta pengguna tercapai pada November 2021. Mayoritas pengguna QRIS ternyata berasal dari pengusaha mikro. Kesadaran publik mengurangi interaksi fisik dalam penerapan protokol kesehatan turut andil dalam penciptaan ekosistem pembayaran digital. Pergeseran preferensi publik inilah yang perlu juga ditangkap oleh pelaku usaha mikro dan ultra mikro.

Sepanjang masa pandemi, harian Kompas mencatat langkah perusahaan digital untuk menumbuhkan ekonomi pelaku usaha kecil. Misalnya GoFood yang mengadakan Hari Kuliner Nasional (Harkulnas) untuk UMKM, melibatkan 74.000 mitra usaha dengan pendapatan rata-rata naik 12 % per hari. Kajian Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI turut melaporkan keberhasilan ekonomi di ranah digital. Pendapatan mitra GoFood tahun 2021 tumbuh Rp 66 triliun dibandingkan 2020. Pengusaha pemula yang memanfaatkan GoFood naik 47 % ditopang teknologi dan akses luas ke pelanggan. (Yoga)


Bunga Kredit Tinggi, Bank Digital Nikmati Margin Tebal

Hairul Rizal 13 Jan 2022 Kontan

Anomali terjadi di industri perbankan. Semarak bank digital seharusnya membikin biaya bank semakin murah, sehingga bunga kredit turun. Nyatanya, bunga kredit bank digital malah tinggi. Bandingkan saja, ketika bank konvensional sudah mengenakan bunga kredit single digit, bank digital mengenakan bunga kredit setinggi langit  Tingginya bunga kredit ini tak lepas dari bank digital yang "nebeng" aplikasi lain. Dengan alasan baru berdiri, bank digital menggandeng financial technology (fintech). Meski menggunakan embel-embel digital, praktik bank digital Indonesia berbeda dengan luar negeri. Nubank Brasil, misalnya, bekerja keras menciptakan credit score sendiri. Sehingga bisa memberikan bunga lebih murah.

Di Indonesia, bank digital dengan strategi nebeng, menikmati margin tinggi, Bank Jago, misalnya, di kuartal III 2021 mencetak net interest margin (NIM) 6,1% atau di atas rata-rata NIM industri yang sebesar 4,52%. Tingginya bunga kredit itu juga akibat bank digital jorjoran memasang bunga simpanan tinggi dengan alasan promosi. Bank Neo Commerce (BNC) menawarkan bunga hingga 8% per tahun untuk pengguna baru. Sebagai acuan, bunga simpanan yang dijamin Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) saat ini hanya 3,5%.


Dibayangi Rilis Inflasi AS

Hairul Rizal 13 Jan 2022 Kontan

Kurs rupiah berpotensi kembali melemah pada perdagangan Kamis (13/1). Sentimen eksternal yang kurang mendukung rupiah akan jadi pemicu koreksi. Ekonom Samuel Sekuritas Fikri C. Permana mengatakan, pasar akan mencermati rilis data consumer price index Amerika Serikat (AS). Jika inflasi AS ternyata sesuai konsensus proyeksi analis atau lebih tinggi, rupiah bisa tertekan. "Desember adalah periode liburan, sehingga inflasi relatif lebih tinggi," ujarnya, Rabu (12/1).


Bank Sentral Jadi Tumpuan

Hairul Rizal 13 Jan 2022 Bisnis Indonesia

Di tengah beban berat yang ditanggung pemerintah dalam menangkal ketidakpastian global, Bank Indonesia menjadi tumpuan dengan dilibatkan dalam pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara di pasar Surat Berharga Syariah Negara valuta asing. Bank Indonesia (BI) berperan sebagai penata usaha dan pembayar imbalan dan/atau nilai nominal Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) valuta asing (Valas). Adapun biaya yang timbul dari kegiatan tersebut berasal dari anggaran operasional bank sentral. Direktur Pembiayaan Syariah Ditjen Pembiayaan Pengelolaan Risiko Kementerian Keuangan Dwi Irianti Hadiningdyah menuturkan keteribatan bank sentral dalam SBSN Valas merupakan tindak lanjut dari fungsi bank sentral di pasar Surat Utang Negara (SUN) Valas atau global bond. “Semua biaya terkait dengan pelaksanaan tugas penata usaha ditanggung oleh BI. Jadi bukan membiayai penerbitan,” katanya kepada Bisnis, Rabu (12/1).

SBSN Valas atau sukuk global menjadi salah satu sumber pembiayaan pemerintah, termasuk dalam rangka merespons pandemi Covid-19 sejak 2 tahun lalu. Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo menuturkan bank sentral tetap berkomitmen untuk menjalankan fungsinya sebagai penata usaha dan pembayar imbalan SBSN. Berdasarkan data Kementerian Keuangan, nilai penerbitan sukuk global negara pada tahun lalu mencapai US$3 miliar, meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang hanya US$2,5 miliar. Kendati mengokohkan postur fiskal, kebijakan ini berisiko menggerus anggaran internal BI yang sejak 2020 membantu pemerintah dalam memenuhi pembiayaan APBN melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) I dan SKB II.



Mengeruk Untung Saham Batu Bara

Hairul Rizal 13 Jan 2022 Bisnis Indonesia

Pemerintah telah mencabut kebijakan larangan ekspor batu bara sejak Senin (10/1). Mulai kemarin, Rabu (12/1), aktivitas ekspor batu bara sudah kembali bisa dilakukan secara bertahap. Pencabutan larangan ekspor batu bara tersebut memberikan katalis ke sejumlah saham perusahaan penambang emas hitam. Sejak awal pekan, pelaku pasar merespons positif kebijakan tersebut sehingga mendorong pertumbuhan ke beberapa saham emiten seperti PT Bayan Resources Tbk. (BYAN), PT Barito Pacific Tbk. (BRPT), dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG).

Berdasarkan data Bloomberg, sejak pengumuman larangan ekspor dicabut, saham BYAN telah melejit 9,14%. Hingga penutupan pasar kemarin, BYAN diperdagangkan seharga Rp28.650 per lembar. Saham Barito Pacific juga mendapatkan keuntungan dari kebijakan itu. BRPT dalam 3 hari terakhir telah tumbuh 4,14% ke level Rp880 per lembar. Begitu juga dengan Indo Tambangraya. Sahamnya naik 0,6% ke level Rp20.175 per lembar. Saham anak usaha PT Adaro Energy Tbk. (ADRO) yakni PT Adaro Minerals Indonesia Tbk. (ADMR) mencetak pertumbuhan paling tinggi. Sejak Senin hingga penutupan perdagangan kemarin, saham ADMR membumbung hingga 93,4%. Jika diteliti, kami menilai bahwa pelaku pasar menaruh ekspektasi terhadap saham-saham emiten yang memproduksi batu bara kalori tinggi. Dengan tren harga yang sedang tinggi, produsen batu bara kalori tinggi mengeruk keuntungan paling besar dari pasar ekspor.


Kepatuhan Pajak dan Rekonsiliasi Kala Pandemi

Hairul Rizal 13 Jan 2022 Bisnis Indonesia

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati baru saja mengumumkan tercapainya target penerimaan pajak dalam realisasi sementara Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun lalu sebesar 103,9%, karena sampai dengan 31 Desember 2021 jumlah neto penerimaan pajak yang berhasil dihimpun mencapai Rp1.277,5 triliun melebihi target yang ditetapkan sebesar Rp1.229,6 triliun. Publik telah menantikan keberhasilan ini selama 12 tahun lamanya. Lebih dari satu dekade berbagai terobosan dilakukan untuk mendongkrak penerimaan pajak, termasuk reinventing policy, pengenaan pajak final atas penghasilan usaha kecil dan menengah, serta pengampunan pajak. Namun hasil yang diharapkan tak kunjung datang, sehingga pemerintah terpaksa membiayai defisit belanja tahunan dengan pinjaman serta penerbitan surat utang baru yang jumlahnya secara akumulasi mencapai Rp6.711,5 triliun pada September 2021.

Jika diamati cermat, terdapat dua pesan moral utama yang ingin disampaikan oleh otoritas fiskal dalam memulai tahun yang baru. Pertama, tetap optimistis dan tangguh dalam menghadapi masa-masa sulit. Kedua, semangat rekonsiliasi dan gotong-royong dalam membiayai pemulihan ekonomi. Pandemi tentunya membawa dampak negatif bagi kehidupan masyarakat secara multidimensi. Oleh karenanya, diperlukan upaya rekonsiliasi untuk mengembalikan rasa keadilan di masyarakat sekaligus menyediakan ruang bagi semua pihak untuk bergotong-royong membayar ‘ongkos’ penanganan pandemi. Semoga semangat optimisme dan rekonsiliasi membuat khalayak menemukan sisi terbaik dalam membayar pajak serta semua aspek lain di kehidupan bernegara.

Tatap Muka Penuh

Hairul Rizal 13 Jan 2022 Bisnis Indonesia

Pembelajaran tatap muka secara penuh sudah dimulai dalam beberapa pekan terakhir, menandai era baru interaksi anak didik yang sempat mengikuti kegiatan belajar jarak jauh atau daring dalam waktu yang cukup lama akibat pandemi Covid-19. Sempat pula diterapkan uji coba kegiatan belajar secara hibrida beberapa waktu lalu sebagai persiapan pembelajaran normal. Sebenarnya bukan era baru juga karena apa yang baru saja berja-lan ini adalah bentuk kelaziman pendidikan yang kita kenal.

Peta Industri Tekstil, Pasar Domestik Bakal Lebih Solid

Hairul Rizal 13 Jan 2022 Bisnis Indonesia

Geliat industri tekstil nasional pada tahun ini diperkirakan lebih kencang sejalan dengan makin kondusifnya pasar dalam negeri. Peluang ekspor juga kian terbuka meski tantangannya juga penuh dinamika. Pemerintah juga percaya diri dengan memproyeksikan pertumbuhan 5% untuk industri tekstil dan produk tekstil (TPT) pada 2022 setelah sebelumnya tak bisa mengoptimalkan ekspansi, karena pandemi dan pembatasan ketat. Alhasil, sejumlah pemain di industri ini juga menyiapkan langkah ekspansi meskipun masih terbatas guna mengantisipasi kebutuhan pasar. Sekjen Asosiasi Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta mengatakan industri tekstil hulu sebenarnya memiliki peluang besar untuk mensubstitusi bahan baku impor untuk tujuan ekspor. Namun, bahan baku dari luar negeri memperoleh fasilitas kemudahan impor tujuan ekspor (KITE). Hal serupa tidak berlaku untuk produk dalam negeri.

Ekspektasi itu didukung oleh sejumlah perkembangan positif seperti pasar domestik yang sudah mulai bergeliat dengan mobilitas yang lebih longgar dibandingkan dengan tahun lalu. Di sisi lain tantangan yang dihadapi pebisnis juga tidak kecil, seperti kemungkinan naiknya biaya energi pada tahun ini, sehingga harus ditempuh strategi jitu untuk menghasilkan produk yang tetap berdaya saing.  Sementara itu, kalangan pelaku industri juga siap mengarungi tahun ini dengan harapan yang lebih kuat. Sekretaris Perusahaan PT Trisula Textile Industries Tbk. (BELL) R. Nurwulan Kusumawati mengatakan arah perbaikan pasar domestik sudah mulai dirasakan pada kuartal terakhir tahun lalu yang disambut dengan menggencarkan produk ritel dan customized order.



Pilihan Editor