Pabrik Gliserol LDC Rampung Dua Tahun
Perusahaan perdagangan dan pemroses produk pertanian multinasional, Louis Dreyfus Company (LDC), menargetkan pembangunan pabrik pemurnian gliserol di Lampung selesai dalam kurun dua tahun ke depan. Aksi korporasi ini merupakan bagian upaya LDC untuk memperluas bisnis hilirisasi kelapa sawit. Country Head LDC Indonesia Rajat Dutt, Kamis (3/8/2023), mengatakan, di Indonesia, bisnis komoditas minyak kelapa sawit termasuk penyumbang terbesar dalam pendapatan perusahaan. Bisnis minyak kelapa sawit yang dia maksud juga telah mencakup biodiesel. (Yoga)
Australia Investasi Pabrik Rumput Laut di Jatim
Sebuah perusahaan rintisan asal Australia bakal membangun industri pengolahan rumput laut di Jatim pada 2024. Rencana itu diprediksi bisa memberikan nilai tambah signifikan bagi petambak serta turut mendorong hilirisasi perikanan nasional. Pendiri (Co Founder) ULUU, perusahaan rintisan asal Australia, Julia Reisser, mengatakan perusahaannya mengolah rumput laut menjadi material untuk menggantikan plastik. Hal itu sejalan dengan upaya menanggulangi dampak perubahan iklim global. ”Kami sedang bekerja sama untuk mendirikan pabrik di Jatim. Kami juga bersyukur dapat mempererat kerja sama dengan Koperasi Agar Makmur Sentosa, ”ujar Julia saat Pengiriman Perdana Rumput Laut Gracilaria dari Koperasi Agar Makmur Sentosa ke Australia, Jumat (4/8).
Pembangunan pabrik yang diprediksi terealisasi pada 2024 itu digadang-gadang dapat memberdayakan masyarakat, terutama petani rumput laut. Dirjen Budidaya KKP Tubagus Haeru Rahayu, yang hadir dalam acara itu, mengatakan, komoditas rumput laut Indonesia saat ini masih diekspor dalam bentuk bahan mentah. KKP menghendaki hilirisasi industri pengolah rumput laut untuk memberikan nilai tambah bagi petani. ”Dengan dukungan ULUU yang akan membangun pabrik di Indonesia, harapannya konsep hilirisasi tersebut bisa diimplementasikan,” katanya. Menurut Tubagus, konsep industri yang ditawarkan oleh ULUU sejalan dengan program ekonomi biru yang diinisiasi KKP. Adapun konsepnya adalah menjaga lingkungan laut dengan melakukan konservasi yang baik. Caranya, dengan memperluas wilayah konservasi dengan target pada tahun 2025 sebesar 30 % dari total area laut. (Yoga)
Sulut Kembangkan Pariwisata Kesehatan
Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara membuka lebar pintu investasi di bidang kesehatan demi mewujudkan tekad menjadi destinasi pariwisata kesehatan bagi warga Indonesia bagian timur. Tekad ini disampaikan Wakil Gubernur Sulut Steven Kandouw, Jumat (4/8/2023), dalam pembukaan Pameran Medis dan Pariwisata Kesehatan (Indonesia Medical Expo and Health Tourism) 2023 di atrium mal Manado Town Square 3, Manado. Sebanyak 30 badan usaha, seperti rumah sakit dan produsen alat kesehatan, membuka gerai dalam acara itu. (Yoga)
Halmahera Utara Harapkan Lisensi Rempah
Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara, berharap bisa mendapatkan lisensi pengembangan rempah sebagai sumber pendapatan asli daerah. ”Dengan mengantongi lisensi atau semacam hak paten, barulah kami bisa berharap rempah bisa mendatangkan pendapatan untuk kas daerah,” ujar Sekretaris Daerah Kabupaten Halmahera Utara Erasmus J Papilaya saat membuka Festival Kala Hara, Kamis (3/8/2023) petang. (Yoga)
Pesta Laba Besar Emiten Saham Indeks Kompas 100
Mayoritas emiten saham penghuni indeks Kompas 100 sudah merilis laporan kinerja semester I-2023. Dari hasil kinerja emiten Kompas 100, tercatat sekitar 30 emiten berhasil menorehkan hasil berkilau. Mereka bahkan berpesta laba besar karena sukses menorehkan kenaikan laba
triple digit.
Lonjakan paling kencang ditorehkan PT Gudang Garam Tbk (GGRM). Meski pendapatan tertekan, laba bersih produsen rokok berlabel Gudang Garam ini mencapai Rp 3,28 triliun di semester I-2023. Nilai ini melesat 243,9% secara tahunan atau
year on year
(yoy) dari Rp 956,14 miliar di semester I-2022.
Kenaikan laba hingga
triple digit
juga ditorehkan oleh PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang berada di peringkat kedua. Laba emiten saham milik taipan Prajogo Pangestu itu melesat 243,40% menjadi US$ 30,37 juta di paruh pertama tahun ini.
Tak mau ketinggalan, emiten properti Grup Sinarmas, PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) juga unjuk gigi dengan mencetak laba senilai Rp 1,2 triliun atau melesat 159,02% yoy dari Rp 463,83 triliun.
Terlepas dari faktor pemulihan ekonomi, Maximilianus Nico Demus,
Associate Director of Research and Investment
Pilarmas Investindo Sekuritas menyebut pencapaian para emiten properti juga ditopang upaya pengembang untuk menggaet pembeli.
Emiten bank penghuni indeks ini juga masih bertumbuh. Salah satunya adalah Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang berhasil mencetak laba bersih sebesar Rp 55,18 triliun atau bertumbuh 22,18% secara tahunan.
Senior Research Analyst
Reliance Sekuritas, Lukman Hakim menuturkan, sektor bank masih berpotensi untuk bertumbuh. Meski lambat, tetapi masih ada permintaan kredit di masyarakat.
Secara pergerakan indeks, Kompas100 masih lebih unggul dibandingkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Per Kamis (3/8), indeks Kompas100 sudah naik hingga 1,96% sementara IHSG baru meningkat 0,69%.
Siap-Siap Inflasi Melonjak Seusai Pesta Politik
Laju inflasi di tahun politik 2024 diperkirakan masih akan terjaga pada rentang target 1,5% hingga 3,5%. Namun pemerintah harus tetap waspada. Sebab, ada risiko inflasi melonjak setelah tahun politik.
Pemerintah memang cenderung menahan sejumlah harga agar tidak melonjak di tahun 2024. Terutama, harga bahan bakar minyak (BBM) maupun tarif listrik subsidi. Pemerintah juga menahan sejumlah harga agar tak naik di tahun depan. Misalnya, tarif pajak pertambahan nilai (PPN). Sebab berdasarkan Undang-Undang tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan, tarif PPN harus naik lagi menjadi 12% yang berlaku paling lambat mulai 1 Januari 2025.
Meujuk data Bank Indonesia (BI), laju inflasi meningkat di tahun berikutnya setelah pemilihan umum (pemilu) 2004 dan 2009 silam. Tahun 2004, inflasi tercatat 6,4%
year on year
(yoy) dan melonjak drastis pada tahun 2005 menjadi 17,11 yoy.
Sementara itu, inflasi tahun 2015 tercatat sebesar 3,35% yoy, turun dibandingkan tahun pemilu 2014 yang tercatat sebesar 8,36% yoy. Begitu pula dengan tahun 2020, inflasi menurun menjadi 1,68% yoy, setelah tahun pemilu 2019 inflasi tercatat 2,72% yoy.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economic (Core) Mohammad Faisal meramal, inflasi nasional tahun 2024 akan melampaui 2,5% yoy. Namun, inflasi tahun depan masih akan di bawah level 3% yoy.
Sementara Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira melihat, laju inflasi 2024 tak akan melonjak tinggi, meski ada pemilu. Sebab, harga komoditas masih dalam tren penurunan. Ini pula yang menyebabkan inflasi negara-negara lain turut melandai.
Yang jelas, pemilu berpotensi mengungkit ekonomi RI, meski hanya sesaat. Kepala Riset Grup DBS Maynard Arif mengungkapkan, dalam kampanye pasti masing-masing kandidat menggelontorkan dana. Bahkan bukan dana dengan nominal kecil.
Emiten Rokok Belum Bebas dari Batuk-Batuk
Kinerja emiten rokok semakin mengepul. Terlihat dari laporan keuangan emiten rokok yang menjadi salah satu penguasa pasar domestik.
Kinerja PT Gudang Garam Tbk misalnya. Laba bersih emiten dengan kode GGRM ini melesat dua kali lipat lebih menjadi Rp 3,28 triliun di semester I-2023. Itu adalah cuan yang diatribusikan ke pemilik GGRM.
Padahal di semester I-2022, pabrikan rokok berbasis di Kediri, Jawa Timur ini cuma mengantongi laba bersih sebesar Rp 956,14 miliar saja.
Dari sisi pendapatan GGRM di separuh pertama 2023 ini justru turun tipis 9,4% dibandingkan periode sebelumnya menjadi Rp 55,85 triliun.
Sedangkan PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP) mengalami lonjakan penjualan di semester I-2023 sebesar 4,95%. Yakni dari sebelumnya Rp 53,5 triliun menjadi Rp 56 triliun.
Head of Research
Phintraco Sekuritas, Valdy Kurniawan melihat emiten rokok masih diuntungkan dari pemulihan konsumsi masyarakat Indonesia di semester I-2023 ini. Terlihat dari data indeks keyakinan konsumen Indonesia yang berada di rata-rata 125 di semester I-2023.
Selain itu, menurut dia, faktor pendorong lain adalah upaya inovasi produk dari emiten rokok. Langkah tersebut perlu dilakukan para produsen rokok dalam negeri untuk meredam dampak masifnya kampanye dengan penempelan label peduli kesehatan di kemasan rokok.
Namun tantangan dari emiten rokok jelas tidak akan berhenti. Yang harus mendapat perhatian adalah kecenderungan kenaikan cukai rokok dalam beberapa tahun terakhir ini. Hal ini membuat produsen rokok harus mengerek harga jual untuk menjaga margin keuntungan.
Kondisi tersebut menurut Research Analyst Infovesta Kapital Advisori Arjun Ajwani sempat membuat pergerakan harga saham GGRM secara
year to date
(ytd) mencatat
return
55,14% pada penutupan perdagangan 31 Juli 2023 yang lalu.
Pemulihan Ekonomi Topang Kinerja Ritel
Meski ekonomi bergulir, emiten ritel membukukan kinerja bervariasi sepanjang semester I-2023.
Misal PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) mengalami penurunan laba bersih. Keuntungan LPPF merosot 25,53%
year on year
(YoY) menjadi Rp 683,87 miliar. Hasil ini terjadi ketika pendapatan LPPF masih bisa tumbuh 2,39% menjadi Rp 3,85 triliun.
Begitu juga PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI). Pendapatan MAPI menanjak 27,37% secara tahunan (yoy) ke posisi Rp 15,59 triliun. Tapi laba bersihnya terpangkas 5,45% menjadi Rp 1,04 triliun.
Serupa dengan PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA). Laba bersih ERAA melorot 9,62% menjadi Rp 458,66 miliar ketika penjualan neto melonjak 23,50% ke level
Rp 28,90 triliun.
Nasib lebih baik dialami Grup Alfamart & Alfamidi, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) dan PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI). Kinerja mereka tumbuh.
Analis Panin Sekuritas, Andhika Audrey menilai, secara umum kinerja emiten ritel setengah tahun ini sesuai dengan ekspektasi.
Sementara itu, Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo menjagokan saham ACES dan MAPI dengan strategi
buy on support.
Menanti Pemulihan Permintaan CPO
PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) mencatatkan kinerja kurang memuaskan di separuh pertama tahun 2023. Pendapatan dan laba emiten perkebunan kelapa sawit ini negatif karena mengalami penurunan penjualan crude palm oil (CPO). Analis Ciptadana Sekuritas, Yasmin Soulisa mencermati, penghasilan AALI yang mengecewakan karena biaya tinggi dan penjualan yang lebih rendah. Penjualan CPO alias minyak sawit mentah lesu karena harga CPO global tidak mendukung.
Pendapatan AALI secara kumulatif di semester pertama 2023 turun 14,4% YoY menjadi Rp 9,39 triliun. Sementara, laba merosot 54,6% yoy menjadi Rp 368 miliar karena semua segmen mengalami pertumbuhan negatif.
Pendapatan AALI yang melesu terutama karena harga CPO dunia yang lebih rendah dari perkiraan di semester I-2023. Rata-rata, harga CPO dunia turun 4,4% secara kuartalan menjadi RM 3.840 per ton di kuartal kedua 2023. Sehingga, harga rata-rata CPO global menjadi RM 3.929 per ton untuk periode semester I-2023, atau turun 37,8% secara tahunan.
Dari segi produksi, produksi Tandan Buah Segar (TBS) dan CPO AALI masih relatif sejalan dengan estimasi Ciptadana Sekuritas. Produksi TBS menjadi 2,11 juta ton pada semester I-2023, atau meningkat 7,9% secara tahunan. Sedangkan produksi CPO mencapai 619.000 ton atau sedikit turun 3,1% secara tahunan karena rata-rata utilisasi pabrik yang lebih rendah.
Sisi baiknya, program pencampuran biodiesel yang lebih tinggi sebesar 35% dari 30% di tahun lalu diharapkan mendukung permintaan minyak sawit dalam negeri. Peningkatan kebutuhan biodiosel dari B30 ke B35 tersebut artinya porsi CPO yang dibutuhkan juga turut meningkat. Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Muhammad Nafan Aji menyebutkan, sentimen positif untuk meningkatkan permintaan CPO adalah kehadiran China dan India untuk menyerap ketersediaan minyak sawit mentah. Prospek perekonomian yang lebih baik dari kedua negara importir terbesar CPO tersebut akan membantu penyerapan.
Dari domestik, pemilu bisa menjadi momentum untuk mengangkat permintaan minyak sawit mentah yang memiliki produk turunan salah satunya minyak goreng.
MENANGKAL RISIKO KREDIT MACET
Pembiayaan yang disalurkan industri jasa keuangan sampai dengan paruh pertama tahun ini masih berada dalam tren tumbuh. Namun, pelaku industri jasa keuangan patut waspada dengan potensi naiknya rasio kredit bermasalah. Tiga sektor utama industri jasa keuangan yang menyalurkan pinjaman kepada nasabah yakni perbankan, industri pembiayaan (multifinance), dan teknologi finansial (tekfin) berhasil menjaga performa kredit yang disalurkan. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), outstanding kredit perbankan hingga Juni 2023 senilai Rp6.656 triliun tumbuh 7,76% year-on-year (YoY). Rasio kredit bermasalah atau nonperforming loan (NPL) gross perbankan tercatat sebesar 2,44% lebih rendah dari posisi Juni 2022 sebesar 2,86%. Meski secara umum NPL turun, kredit ke lapangan usaha seperti konstruksi mencatat kenaikan NPL. Sebaliknya, beberapa lapangan usaha yang saat pandemi mencatat kenaikan NPL hingga di atas 5% seperti usaha pertambangan dan penggalian serta usaha penyediaan akomodasi dan penyediaan makan minuman, saat ini rasio NPL terus membaik. Di industri multifinance, total piutang yang disalurkan mencapai Rp444,52 triliun atau tumbuh 16,37%. Bisnis multifinance kembali ke performa apik dengan laju hingg double digit setelah selama pandemi terkontraksi sangat dalam. Hingga Juni 2023, jumlah penyelenggara tekfin P2P lending sebanyak 102 entitas. Artinya, sebanyak 23% bisnis tekfin memiliki rasio pinjaman bermasalah di atas 5% “OJK terus melakukan pemantauan untuk kualitas pendanaan perusahaan tekfin yang memiliki TWP90 hari di atas 5%. Kami meminta mereka melakukana action plan untuk perbaikan kualitas pendanaan,” ujarnya saat paparan Rapat Dewan Komisioner OJK, Kamis (3/8). Dalam kesempatan yang sama, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyatakan kualitas kredit masih terjaga dengan rasio NPL net perbankan stabil di level 0,77%. Sementara itu, pemulihan yang terus berlanjut di sektor riil, turut mendorong penurunan kredit restrukturisasi Covid-19 sebesar Rp11,03 triliun menjadi Rp361,04 triliun pada Juni 2023 dengan jumlah nasabah turun sebanyak 70.000 nasabah menjadi 1,57 juta debitur.









