Penumpang Pesawat Ditarget Tembus 115 Juta
Internet Kabel RI Tak Banyak Berubah pada 2023
Bertahap Melebarkan Bisnis Kargo
Nihil Pilihan Selain Melebur
Mitigasi Pendanaan JKN Perlu Disiapkan
Biaya manfaat yang dibayarkan dalam program Jaminan Kesehatan
Nasional (JKN) meningkat, sedangkan iuran yang diterima stagnan. Akibatnya,
selisih biaya JKN makin besar dengan proyeksi Rp 19 triliun pada 2024. Jika
tidak diantisipasi, potensi defisit pada dana jaminan sosial kesehatan bisa
terjadi. Berdasarkan data BPJS Kesehatan, biaya manfaat JKN, termasuk biaya
promotif dan preventif, pada 2024 diproyeksikan Rp 176,8 triliun. Di sisi lain,
biaya iuran yang diterima pada 2024 sebesar Rp 157,8 triliun, diperkirakan
selisih biaya manfaat dan iuran Rp 19 triliun. ”Defisit tahun berjalan ini akan
menggerus aset neto dari DJS (dana jaminan sosial) kesehatan,” kata Ketua Dewan
Pengawas BPJS Kesehatan Abdul Kadir dalam acara ”Kaleidoskop Jaminan Sosial:
Refleksi 1 Dekade Penyelenggaraan Jaminan Sosial di Indonesia”, di Jakarta,
Kamis (11/1/2024). Untuk itu, semua pemangku kepentingan harus memperhatikan
dan memikirkan kondisi ini.
Keuangan BPJS Kesehatan bisa defisit dan terjadi gagal bayar
kembali. Potensi defisit membayangi kondisi keuangan DJS kesehatan, karena biaya
manfaat yang dibayarkan BPJS Kesehatan terus meningkat, sementara biaya iuran
yang diterima tidak bertambah. BPJS Kesehatan melaporkan, biaya jaminan
kesehatan yang dibayarkan pada 2023 sekitar Rp 158,8 triliun, meningkat Rp 45,4
triliun dari 2022. Sementara realisasi pendapatan iuran tahun 2023 tercatat Rp
151,4 triliun yang hanya bertambah Rp 7,4 triliun dari tahun sebelumnya. Dirut
BPJS Kesehatan Ali Ghufron Mukti memaparkan, biaya manfaat yang naik bisa
disebabkan meningkatnya kepercayaan publik terhadap JKN. Jumlah warga yang memakai
layanan kesehatan JKN membesar, dimana pada 2023 sebesar 606,6 juta
pemanfaatan.
Ghufron menambahkan, kondisi keuangan DJS kesehatan yang
dikelola BPJS Kesehatan cukup baik. Keuangan DJS kesehatan dari besaran aset
neto atau aset bersih per 31 Desember 2024 ialah Rp 57,7 triliun. ”Sesuai
ketentuan, besaran aset neto saat ini mencukupi untuk 4,36 bulan dari estimasi pembayaran
klaim ke depan. Meski begitu, kendali biaya tetap kita pikirkan tanpa mengurangi
akses manfaat di masyarakat,” ujarnya. Koordinator Advokasi BPJS Watch Timboel
Siregar menilai, antisipasi harus dipikirkan terhadap potensi defisit DJS kesehatan.
Aset neto yang dikelola BPJS Kesehatan tak bisa mengatasi selisih biaya manfaat
dan iuran dalam jangka panjang. Kenaikan iuran perlu dipertimbangkan untuk
mengatasi defisit. (Yoga)
Bertemu Panglima TNI, Menpan-RB Bahas Kenaikan Tunjangan Kinerja
Tenaga Kependidikan Direkrut Jadi ASN PPPK
Pemerintah menyediakan kuota 82.717 tenaga kependidikan untuk
direkrut menjadi aparatur sipil negara berstatus pegawai pemerintah dengan
perjanjian kerja (ASN PPPK) pada 2024. Saat ini mayoritas tenaga kependidikan
di sekolah berstatus honorer yang diangkat dan dibayar sekolah atau komite.
Kepala SMK Negeri 5 Kupang Safirah Cornelia Abineno, saat dihubungi dari Jakarta,
Kamis (11/1/2024) menyambut positif pengangkatan tenaga kependidikan seperti penjaga
sekolah dan tenaga administrasi menjadi ASN PPPK. Pengangkatan tenaga
kependidikan (tendik) membantu sekolah.
Sebab, keberadaan mereka sama pentingnya seperti guru.
Sekolah memenuhi kebutuhan tendik dengan mengangkat dan menggaji sesuai
kebijakan sekolah. ”Sayangnya, yang kami dengar, tendik di dinas pendidikan
diprioritaskan untuk menjadi PPPK. Padahal, di sekolah-sekolah, banyak honorer tendik
yang sudah mengabdi belasan tahun dan sudah sepuh. Kami berharap ada kebijakan
dalam prioritas pengangkatan,” ujar Safirah.
Sekolah kejuruan dengan status SMK Pusat Keunggulan itu
memiliki 11 pegawai honorer, terdiri dari penjaga sekolah, penjaga malam, dan
petugas administrasi. Gaji awal sekitar Rp 1 juta dari dana komite sekolah. Ada
juga tenaga kependidikan yang dibantu pemda dengan gaji sesuai upah minimum daerah
sekitar Rp 2 juta. Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbudristek Nunuk
Suryani mengutarakan, formasi tendik ASN PPPK di sekolah-sekolah masuk ke
usulan tenaga teknis 2024. Pada tahun ini, selain penuntasan guru non-ASN dengan
dibukanya formasi guru PPPK sebanyak 419.146 formasi, juga untuk tendik.
”Semoga guru dan tendik semuanya beruntung dan bersiap lebih baik lagi untuk
menyiapkan diri dalam seleksi ASN PPPK yang akan datang,” kata Nunuk. (Yoga)
Bantuan Beras Tak Mampu Tekan Harga di Pasaran
Program bantuan pangan beras yang disalurkan pemerintah
sepanjang tahun 2023 belum mampu menurunkan harga beras di pasaran meski
berhasil mengontrol gejolak inflasi beras. Ada beberapa faktor yang membuat harga
beras tetap tinggi sampai awal tahun, seperti turunnya produksi di dalam negeri
dan dampak ketidakpastian ekonomi dunia. Berdasarkan catatan Perum Bulog, sejak
bantuan pangan beras tahap pertama digulirkan pada Januari-Maret 2023, inflasi
beras turun dari 2,63 % pada Februari 2023 menjadi 0,70 % pada Maret 2023, 0,50
% pada April 2023, dan 0,02 % pada Mei 2023. Demikian pula, penyaluran bantuan
cadangan beras pemerintah (CBP) tahap kedua pada September-Desember 2023 mampu
menjaga laju kenaikan harga beras di akhir tahun yang biasanya naik tinggi.
Inflasi beras saat itu turun cukup signifikan dari 5,61 %pada
September 2023 menjadi 0,43 % pada Desember 2023. Bantuan pangan beras pada
tahun 2023 diberikan sebanyak 10 kg kepada 21 juta keluarga penerima manfaat
(KPM) selama tiga bulan berturut-turut. Pada tahun 2024, bantuan tersebut
dilanjutkan dengan jumlah penerima manfaat bertambah menjadi 22 juta keluarga. Dirut
Perum Bulog Bayu Krisnamurthi mengatakan, bantuan pangan yang pada tahun 2023
telah disalurkan hingga 1,72 juta ton mampu menahan gejolak dan menahan harga
beras agar tetap terkendali. Meski demikian, bantuan pangan itu belum berhasil
menurunkan harga beras. (Yoga)
Ekspor Benih Lobster Masih Tuai Kontroversi
Pemerintah berencana menuntaskan regulasi terkait dengan
ekspor benih bening lobster pada akhir Januari 2024. Kebijakan membuka keran
ekspor benih itu sempat menuai kontroversi publik berkaitan dengan keberlanjutan
sumber daya atau plasma nutfah, serta terpukulnya budidaya lobster dalam
negeri. Salah satu program prioritas Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP)
dalam periode 2021-2024 adalah perikanan budidaya berkelanjutan dengan fokus
pada pengembangan komoditas unggulan, yakni udang, lobster, kepiting, rumput
laut, dan nila. Guru Besar Sumber Daya Perikanan Fakultas Ilmu Kelautan dan
Perikanan IPB University Luky Adrianto berpendapat, ekspor berupa benih sumber
daya ikan, termasuk di dalamnya benih bening lobster, seharusnya
memperhitungkan aspek neraca sumber daya ikan dan bukan hanya neraca ekspor
dalam perspektif ekonomi.
”Neraca sumber daya ikan sangat penting dalam perspektif
spasial dan temporal,” katanya, saat dihubungi, Kamis (11/1/2024). Benih bening
lobster memiliki karakteristik spasial berupa ruang yang terbatas serta
temporal dalam kaitan siklus hidup. Dengan demikian, stok lobster di suatu
lokasi tidak selalu berlimpah sepanjang tahun serta bergantung pula pada kualitas
ekosistem. Pengelolaan berbasis wilayah perikanan dinilai sangat penting untuk
memastikan keberlanjutan stok benih lobster. Menteri Kelautan dan Perikanan
Sakti Wahyu Trenggono, dalam konferensi pers ”Outlook dan Program Prioritas
Sektor Kelautan dan Perikanan Tahun 2024”, Rabu (10/1), memaparkan, payung
hukum terkait dengan kebijakan ekspor benih bening lobster sedang disusun agar
keran ekspor benih itu bisa dibuka dan memberikan manfaat bagi negara. ”Targetnya
akhir bulan ini aturan bisa selesai,” ujarnya.
Penasihat Himpunan Budidaya Laut Indonesia (Hibilindo) Effendy
Wong mengingatkan, sewaktu keran ekspor benih bening lobster dibuka pada 2020,
penyelundupan benih lobster itu masih tetap berlangsung. Sementara itu,
kewajiban bagi eksportir benih lobster untuk mengembangkan budidaya lobster di
dalam negeri terindikasi praktik manipulasi. Effendy meminta komitmen
pemerintah untuk mendorong hilirisasi perikanan dengan tidak mengeksploitasi
benih atau plasma nutfah untuk diekspor. Budidaya lobster sebagai komoditas
unggulan perikanan Indonesia harus didorong untuk berdaya saing dan menghasilkan
nilai tambah. Kebijakan ekspor benih merupakan langkah mundur budidaya lobster
di Indonesia dan, sebaliknya, hanya akan menguntungkan pembudidaya lobster di
Vietnam. (Yoga)
Indonesia Butuh ”Ledakan” Investasi
Dilansir dari Reuters, Kamis (11/1/2024) Deputy Chief
Economist Bank Dunia Ayhan Kose menyebutkan, fokus laporan Prospek Ekonomi
Global 2024 adalah China yang diperkirakan akan mengalami perlambatan ekspansi
ekonomi daripada 2023. ”Terdapat beberapa tantangan yang dihadapi China,
termasuk penurunan belanja konsumen, masalah struktural seperti populasi yang
menua, dan tingginya tingkat utang,” ujarnya. Kose menilai, untuk menjaga
pertumbuhan ekonomi, negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, membutuhkan ”ledakan”
investasi, termasuk penanaman modal asing (PMA). Sebab, negara-negara yang
mengalami percepatan investasi sering kali memperoleh keuntungan ekonomi tak
terduga. Di tengah perlambatan ekonomi global, negara-negara berkembang perlu
menerapkan paket kebijakan komprehensif dalam kerangka fiskal dan moneter,
untuk memperluas perdagangan lintas batas dan arus keuangan, meningkatkan iklim
investasi, dan memperkuat kualitas institusi.
Dalam laporan bertajuk ”Prospek Ekonomi Global”, Bank Dunia
memproyeksi pertumbuhan ekonomi global akan melambat ke angka 2,4 % pada 2024.
Artinya, pertumbuhan ekonomi dunia melambat selama tiga tahun beruntun. Bank
Dunia menyebutkan, perlambatan ekonomi dunia 2024 merupakan akibat kebijakan
moneter ketat yang ditempuh negara-negara maju untuk mengendalikan inflasi. Imbasnya,
aktivitas investasi global akan ikut terhambat. Proyeksi perekonomian global
pada 2024 ini menjadi alarm bagi Indonesia yang mengejar realisasi investasi
langsung senilai Rp 1.650 triliun. Investasi penting demi mencapai target pertumbuhan
ekonomi 2024 sebesar 5,1-5,7 %. Berdasarkan kajian Bappenas, Indonesia selama
lima tahun mendatang butuh investasi langsung senilai Rp 45.500 triliun.
Direktur Perencanaan Makro dan Analisis Statistik Bappenas Eka Chandra Buana
mengatakan, kebutuhan investasi senilai itu untuk merealisasikan target
rata-rata pertumbuhan ekonomi 2025-2029 sebesar 5,6-6,1 %. Target pertumbuhan
investasinya 7,2 % - 7,9 %. (Yoga)









